
Baru saja Rio menyantap makanannya, ekor matanya menangkapsosok yang sangat ia kenal. Ia sedang bersama seorang gadis. Rio merasa asing dengan gadis itu.
“Azka...” gumam Rio.
“Kenapa, Mas?” tanya Ratna.
“Eh, enggak. Lanjutin saja makanmu.”
Ratna melanjutkan makannya. Ia merasa ada sesuatu yang Rio sembunyikan. Namun, ia tidak berani bertanya lebih jauh.
Sambil melanjutkan makannya Rio berkali-kali mencuri pandang ke gadis di depannya. Ia baru menyadari ternyata Ratna begitu menggemaskan saat makan.
Merasa ada yang memperhatikan, Ratna menengadahkan kepalanya. Untuk beberapa detik pandangan meraka beradu. Ada getar-getar aneh yang menyusup begitu saja. Ratna sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dadanya yang terasa bergemuruh.
Karena kepergok mencuri pandang, Rio pun harus menebar senyum. Lengkungan di bibir yang dibentuk dengan
alasan untuk menutupi malu.
“Mas Rio kenapa?” tanya Ratna lirih.
“Kenapa apanya?” Rio pura-pura tidak tahu.
“Kok nglihatin Ratna gitu?” Ratna memperjelas pertanyaan.
Rio masih pura-pura tidak mengerti maksud Ratna. Ia memasang wajah bingung.
“Gitu gimana?”
“Ah, sudahlah.” Ratna mengurungkan niatnya meminta penjelasan.
Rio tersenyum lagi. Ia merasa semakin gemas menatap gadis di depannya.
“Rat, habis nikah si Mira kan ikut Mas Edi. Terus, kamu di ruko sendirian, dong. Nggak takut?” Rio mencari topik pembicaraan.
“Masih ada yang lainnya, kok. Rencananya, mereka tidur di ruko bergantian. Memang kenapa? Mas Rio mau nemenin?”
Ratna terkejut dengan ucapannya barusan. Ia buru-buru menutup mulutnya Rona merah mewarnai pipinya. Rio pun tertawa melihat Ratna salah tingkah.
“Memang boleh kalau aku nemenin kamu?” goda Rio.
“Enggak,” jawab Ratna singkat.
Entahlah ke mana jurus-jurus kocaknya pergi. Ratna seperti sedang menghadapi dosen killer yang memberikan ujian lisan.
“Maaf, Mas Rio. Aku mau menemui Salsa dulu. Kasihan dia kutinggal cukup lama. Assalamualaikum,” ucap Ratna sambil beranjak dari kursinya.
“Waalaikumsalam. Iya, terima kasih telah menemaniku.” Rio pun ikut berdiri. Tatapannya mengikuti langkah Ratna.
“Gadis yang lucu. Ekspresinya begitu menggemaskan. Kok aku baru menyadari sekarang, ya? Eh, ada apa ini? Kenapa pikiranku ngelantur ke mana-mana? Cari Azka, ah. Siapa cewek yang bersamanya tadi, ya?”
Rio mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Namun, matanya belum juga menangkap sosok yang
__ADS_1
tengah dicarinya,
Di loby hotel, Azka tengah berbicara dengan seorang gadis yang memakai gamis warna maroon. Azka sepertinya meminta gadis itu mengikutinya.
“Ayolah, aku cuma sewakan kamar untuk kamu, kok. Aku nggak akan macam-macam. Kamu tidur sendiri saja!” desak Azka.
“Tapi...tapi u—uangku pas-pasan, Mas.” Gadis itu tampak gugup.
Azka melukis senyum tulus. Wajahnya menunjukkan kalau ia benar-benar ingin menolong gadis itu.
“Tidak usah kau pikirkan! Aku yang bertanggung jawab. Tadi itu keluargaku yang ada di dalam. Sebagian juga menginap di sini. Tenanglah!”
Gadis di depan Azka masih tampak ragu. Ujung jilbab menjadi sasaran remasan jemarinya demi menghilangkan resah yang melanda.
“Sekarang sudah malam. Tak baik gadis ada di jalan sendirian. Kalau nggak mau menginap di sini, kamu mau menginap di mana?” ucap Azka lagi.
Akhirnya gadis itu mengangguk. Ia mengikuti saran Azka.
Cowok berbaju batik biru itu mengajak si gadis ke resepsionis. Setelah berbicara sekitar 5 menit, Azka mengajak gadis gamis maroon ke lantai 2.
“Maaf, ini bukan kamar VIP. Nggak apa-apa, kan?” tanya Azka sambil menoleh ke gadis yang berjalan di sampingnya.
“Tentu saja tak masalah. Mas Azka sudah begitu baik menolongku. Aku juga bukan anak orang kaya, mana masih kuliah lagi,” jawab gadis itu.
Sesampai kamar yang dituju, Azka berhenti. Kunci masih ada di tangannya.
“Kau sudah menyimpan kontakku?” tanya Azka lagi.
Gadis itu mengangguk dan menjawab, “Sudah.”
Si gadis menerima kunci seraya menjawab salam Azka. Ia tidak mengikuti perintah Azka untuk masuk kamar tetapi masih berdiri mematung di depan pintu. Tatapannya terarah menuju punggung Azka yang terus menjauh.
Setelah Azka tak terlihat, barulah ia masuk kamar. Ia membanting tubuhnya ke kasur empuk. Senyum lebar menghiasi bibir mungil si gadis.
Ingatannya segera melayang saat ia baru menginjakkan kakinya ke Kota Gudheg, Ini bukan pertama kalinya datang ke kota ini. Namun, ini pertama baginya datang sendiri.
Dulu, ia naik kereta, sekarang naik bus. Dulu, dia sampai di Jogja masih siang, tadi dia turun dari bus setelah maghrib.
Usai salat magrib, ia bermaksud bertanya tentang alamat yang akan ia tuju kepada orang yang di situ. Sialnya, dia baru tahu kertas berisi catatan alamat yang disimpat di dompet telah hilang. Ya, raib bersama dompetnya.
Tentu saja ia panik. Tidak hanya kehilangan kertas, ia juga kehilangan isi dompet lainnya. Uang beserta kartu sakti juga tak ada. Di tasnya hanya tertinggal uang beberapa lembar.
Ia sudah hampir menangis kebingungan.Kekonyolannya tak tampak sedikit pun. Yang tertinggal hanya kepanikan dan ketakutan.
Saat itulah, sang dewa penolong datang. Azka yang baru keluar dari mini market dengan menenteng tas berisi popok dan minyak telon menghampirinya. Cowok itu tidak menaruh curiga meski baru kenal. Dirinya juga percaya kepada Azka. Hati kecilnya mengatakan kalau Azka orang baik.
Jadilah ia terdampar di hotel. Azka yang pengertian mengajaknya menikmati hidangan. Perut laparnya membuat ia menepiskan gengsi dan malu. Ia pun memuaskan hasratnya dengan menghabiskan banyak makanan lezat.
***
Malam pun terus merangkak mendekati puncaknya. Kemeriahan di lantai dasar telah usai. Tinggal para petugas yang masih sibuk membereskan ruangan itu.
__ADS_1
Di kamar pengantin, Edi dan Mira sudah di dalamnya. Mereka dibuat takjub dengan pemandangan yang tersaji. Mereka tak membayangkan kamar pengantin mereka begitu indah.
Pernikahan yang mereka jalani memang melebihi ekspetasi mereka. Gambaran pernikahan sederhana dengan tamu tak lebih dari 200 orang sudah terkubur sejak Gayatri datang.
Mereka pun hanya pasrah saat keluarga diminta fitting baju. Ternyata tidak hanya untuk mereka selaku pengantin. Keluarga juga dibuatkan seragam. Ulah siapa? Tentu saja Via.
Edi juga kembali menyimpan uangnya yang dianggarkan untuk membeli tiket. Farhan sudah menyiapkannya.
Kali ini, mereka dibuat terkejut kesekian kalinya. Mereka tak memiliki baju ganti selain yang tersedia di kamar. Untuk Mira, sebuah lingerie warna hitam membuatnya malu bukan main ketika keluar dari kamar mandi.
Wajar mereka masih canggung. Tidak aneh jika mereka masih malu-malu. Karena, itu pertama bagi mereka.
Di kamar lain, Via dibuat terkejut. Tak beda dengan Mira, ia melihat dekorasi kamar yang ia masuki seperti kamar pengantin. Ia membalik badan, merasa salah kamar.
“Kenapa? Kok balik kanan? Kasihan tuh Dedek udah lelah,” kata Farhan yang berdiri di belakangnya.
“Kita salah kamar. Ini kamar buat Mas Edi dan Mbak Mira,” jawab Via.
Farhan tertawa. Ia memaksa Via masuk kamar.
“Ini memang kamar untuk kita. Aku yang memesannya. Kamar Mas Edi dan Mbak Mira ada di sana. Mana
ada di kamar pengantin kok disediakan boks bayi,” ucap Farhan menjelaskan.
“Kok dekorasinya kayak kamar pengantin, banyak bunga di sini?” tanya Via.
“Sudah, letakkan Dedek di boksnya! Biarkan dia beristirahat!” perintah Farhan.
Via menurut. Perlahan ia meletakkan bayinya yang masih terlelap ke boks. Setelah itu, dia bermaksud mengganti gamisnya. Namun, ia terhenti karena tangan milik Farhan melilit pinggangnya. Ia merasakan detak jantung Farhan karena dada bidang suaminya menempel di punggung.
“Mas ingin mengulang malam pertama kita setelah resepsi. Cinta sudah suci, kan?” bisik Farhan.
Via hanya mengangguk. Ia mulai paham alur pemikiran suaminya.
“Boleh buka puasa, ya? Mas sudah kangen,” bisik Farhan lagi.
Begitu Via mengangguk lagi, tangan Farhan segera berpindah. Ia melucuti jilbab yang dikenakan Via.
“Nggak hanya Mas Edi dan Mira yang melewati malam pengantin ini. Kita juga, Sayang,” kata Farhan.
“Eh, pengantin kok sudah punya anak?” celetuk Via.
Farhan tertawa lirih sambil melihat anaknya yang tidur nyenyak di boksnya.
“Tetap bobo, ya! Ayah ingin mengulangi malam pengantin bersama Bunda,” kata Farhan.
Akhirnya, malam itu menjadi malam yang indah bagi dua pasang insan. Yang satu pengantin baru dan satunya lagi pengantin ulangan.
***
Bersambung
__ADS_1
Masih penasaran dengan gadis yang bersama Azka? Tunggu dengan sabar, ya! Jangan lupa tinggalkan
like dan koment biar aku selalu semangat.