
Sebagian siswa yang tidak mengisi acara mengambil gambar menggunakan ponsel untuk kenang-kenangan. Via pun ikut berfoto setelah mencuci muka yang sembab akibat menangis.
"Eh, kalian merasa ada yang nggak hadir?" tanya Mita.
"Setahuku 36 anak kelas kita hadir semua. Kamu kan yang ke sini terakhir bareng Doni?" jawab Ratna.
"Bukan kelas kita, tapi kelas XII IPA-3."
"Memang ada yang nggak hadir? Aku nggak banyak yang kenal sama anak IPA-3, sih," kata Via.
"Aku tahu siapa yang nggak hadir hari ini," Dina menimpali.
"Siapa, Din?" tanya Ratna penasaran.
"Yang kamu juluki ubur-ubur, Aurelia," jawab Dina cepat.
"Kenapa lagi anak itu? Apa mau bikin sensasi?" gumam Ratna.
"Aku dengar kabar dia kecelakaan," kata Mita.
Ratna terbelalak. Via pun menampakkan ekspresi sama dengan Ratna.
"Kapan? Trus gimana kondisi ubur-ubur?"
Ratna tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Kemarin siang. Ia mengemudikan mobil sendiri, nabrak pohon di tepi jalan," kata Mita lagi.
"Kok bisa?"
"Dengar-dengar sih pecah ban. Sementara ia melajukan mobil dengan kecepatan lumayan tinggi. Kata orang yang nglihat, kecepatannya kemungkinan di atas 80. Kondisi jalan agak licin lagi," imbuh Dina.
"Kalian tahu dari siapa?"
"Sepupu kami yang jadi perawat. Dia ditempatkan di IGD. Kebetulan dia piket siang. Dia ikut menangani si Lia. Katanya kondisi Lia cukup parah. Luka luar lumayan banyak karena terkena pecahan kaca. Tangan kanannya retak."
"Teman-teman sudah pada tahu belum?"
"Kalau IPA-3 mungkin sudah."
"Bagaimana kalau habis ini kita ke rumah sakit nengok Lia?" usul Via.
"Kamu nggak sebel sama tu anak, Vi?" tanya Mita.
"Emang kelakuan dia menyebalkan. Tapi, saat ini dia kan sedang dapat musibah. Apa salahnya kita nengok?"
"Jujur saja, Vi, aku males. Lihat mukanya saja aku enek. Apalagi nginget kelakuannya. Rasanya pengin nonjok muka dia sampai bonyok," sahut Ratna berapi-api.
"Jangan gitu, Rat! Gak baik nyimpan dendam."
__ADS_1
"Aduh, Vi. Sekarang omongan kamu jadi kayak peri budiman, sih?" Ratna mulai kesal.
"Aku banyak belajar dari Bunda. Selain itu, aku juga berkaca dari pengalaman aku kemarin. Saat aku kecelakaan dan dirawat di rumah sakit, banyak yang nengokin aku. Nggak cuma kelas kita. Kelas lain juga. Bahkan, ada anak kelas X dan XI juga. Kedatangan kalian dan lainnya sangat berarti bagiku. Aku lebih semangat untuk sembuh."
"Itu karena kamu orang baik. Makanya banyak yang empati sama kamu, nengokin kamu," gerutu Ratna.
"Lagian, emang si Lia bezuk kamu? Aku yakin enggak," sambar Dina.
"Memang enggak, sih. Mungkin dia tidak sempat, atau..."
"Atau mungkin juga dia takut," potong Mita.
"Takut? Takut kenapa? Memangnya aku menakutkan? Mukaku kan nggak luka."
"Dia takut rahasianya terbongkar, Marimar," kata Ratna.
"Rahasia apa?" Via bingung.
"Aku curiga dia ada hubungan dengan orang yang nabrak kamu waktu itu. Bisa saja si ubur-ubur orang di balik peristiwa kecelakaan yang menimpa kamu. Dia kan nggak suka sama kamu."
"Ratna, selama tidak ada bukti kita nggak bisa nuduh."
"Ratna nggak nuduh, tapi curiga. Kecurigaan Ratna masuk akal menurutku," bela Dina.
"Mungkin saja Lia dapat karma atas kejahatannya. Via ikhlas kasus itu ditutup karena pelaku tidak dikenali dan sulit diungkap. Satu-satunya saksi, Doni, juga tidak melihat dengan jelas orang itu karena melaju dengan kecepatan tinggi. CCTV nggak ada. Aku yakin Allah memberi petunjuk kepada kita," Mita menambahkan.
"Sudah... sudah. O ya, kalian mau kuliah di mana?" Via mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ratna terdiam sejenak. Dengan agak terbata ia berkata, "Aku sebenarnya...ingin S-1 kedokteran gigi. Tapi, aku mesti realistis. Biayanya terlalu mahal. Mungkin aku ambil D3 saja. Kau gimana, Vi? Ah, aku lupa, kau mau masuk kedokteran."
Via hanya tersenyum. Entah mengapa mendadak ada kebimbangan meracuni pikirannya.
Saat Via dan teman-temannya ngobrol, sebagian orang tua dan wali siswa sudah keluar. Mereka pun bersiap menyambut orang tua mereka untuk mengetahui nilai UN mereka. Via tentu saja tidak.
"Aku pinjam Via, sebentar. Ada yang mau aku omongin. Bisa?" Tahu-tahu Doni sudah berdiri di samping Via.
"Lama juga nggak papa. Silakan, nggak usah sungkan," jawab Ratna santai.
Doni memberi isyarat kepada Via agar menjauh. Gadis itu menuruti kemauan Doni.
"Maaf, Vi. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Sebentar lagi kan kita menentukan pilihan kuliah. Aku nggak tahu kita masih bareng apa nggak. Sebelum kita berpisah, ada yang perlu kamu tahu."
Via menatap Doni heran.
"Kamu kenapa, Don? Kok ribet amat kalimatmu. Biasanya kamu kan tes...tes...gitu kalau ngomong.
Doni terdiam sejenak. Ia mengambil nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Ia memalingkan wajahnya.
"Via, aku...aku sebenarnya sudah lama tertarik sama kamu. Aku mengagumi semua yang ada padamu. Tapi, selama ini aku takut mengungkapkan ini semua. Aku takut kamu marah. Hari ini, aku bulatkan tekad untuk mengatakan terus terang kepadamu. Kalaupun kau menolak, tolong jangan benci aku."
__ADS_1
Lagi-lagi Doni membuang nafas dengan kasar seolah ia sedang melepaskan bebannya.
Via tersenyum melihat Doni yang terlihat grogi.
"Terima kasih, Don. Kamu memang salah satu sahabat terbaikku. Kamu sering menolongku. Bagaimana aku bisa membencimu?"
Doni menatap Via seolah tak percaya.
"La...lalu bagaimana jawabanmu?"
"Jawaban? Memangnya kamu tanya apa?"
Doni terbelalak. Ia sedikit frustasi.
"Bisa-bisanya dia malah bersikap begini? Aku sudah mengumpulkan segenap keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, masih saja diuji," gerutu Doni dalam hati.
"Maukah kau menjadi pendampingku, menjadi kekasihku? Aku bukan orang yang romantis, yang mengungkapkan isi hati menggunakan puisi atau memberi bunga. Inilah aku. Aku hanya ingin tahu kau punya perasaan yang sama atau tidak."
"Maafkan aku, Don. Aku banyak berhutang budi sama kamu. Kamu begitu baik padaku. Namun, yang jelas saat ini aku ingin konsentrasi pada pendidikanku. Aku tidak memiliki perasaan spesial terhadap seorang cowok. Sekali lagi, aku minta maaf mengecewakan kamu. Kamu jangan marah, ya!" jawab Via.
Doni mengangguk. Hatinya terasa hampa. Sebenarnya ia ingin meluapkan kekecewaannya. Namun, tidak mungkin dia menangis.
"Nggak apa-apa, Vi. Yang penting aku lega karena sudah mengucapkan perasaanku kepadamu. Kamu juga tetap menganggap aku sahabat, kan?"
"Tentu saja. Kita sudah saling mengenal. Masa kita harus bermusuhan?"
Tiba-tiba seorang cowok berkaca mata telah berdiri di dekat mereka dan menatap Doni tajam.
"Dek Via dicari bunda. Bisa kita pulang sekarang?"
"Mas Farhan? Kok ada di sini?"
"Tentu saja karena bunda menyuruhku menjemput. Bukankah tadi pagi diantar ayah?"
"O iya. Aku juga sudah selesai, kok. Aku pulang dulu, Don."
"Hati-hati, Via."
"Tidak perlu menyuruhnya begitu. Aku akan menjaganya, kok," sahut Farhan dingin. Tatapan Farhan sulit diartikan.
Doni bingung. Ia tidak tahu kenapa Farhan bersikap seperti itu.
***
Weh...Weh... Kenapa sikap Mamas begini sih? Terus, akankah Doni menjauh dari Via?
Terus ikuti, ya!
Jangan lupa kasih like, koment, juga bintang 5 biar tambah semangat.😃
__ADS_1
Author sangat berterima kasih atas dukungan pembaca yang budiman.🙏🙏