
Baru saja Via dan Dini selesai salat, salah seorang ART mendekat. Ia memberi tahu pesan Pak Adi.
"Non Dini dan Non Via, Tuan Adi sudah menunggu di ruang makan."
"Iya, Bi. Kami ke sana sekarang. Makasih, ya," sahut Dini.
Dini menarik tangan Via menuju ruang makan. Karena Dini sudah sering ke rumah tersebut, ia tahu letak ruangan yang ada.
Di ruang makan, Pak Adi sudah di sana. Ia duduk berhadapan dengan Farhan.
"Kita hanya berempat, Kek?" tanya Via.
"Iya. Kan papah mamah Dini belum sampai. Jadi, mari kita mulai makan," jawab Pak Adi santai.
Via mengambilkan nasi untuk suami dan kakeknya. Setelah itu, dia mengambilkan untuknya dan Dini.
"Kak, biar aku ambil sendiri! Masa Kakak melayani aku yang lebih muda," protes Dini.
Via hanya tersenyum. Ia menyodorkan piring yang sudah berisi nasi kepada Dini.
"Ayo, kita makan, tidak usah berdebat!" ucap Pak Adi.
Mereka pun makan dengan tenang. Tak ada yang bersuara sedikit pun saat makan. Via selesai paling awal.
"Kek, boleh Via tanya?" Via kelihatan sedikit ragu.
Pak Adi mengangguk. Ia meneguk air putih yang telah tersedia di depannya.
"Kalau tidak ada kami, apa Kakek makan sendiri di rumah ini?"
"Tentu saja. Sama siapa lagi?" ucap Pak Adi sambil tersenyum lebar.
"Memang enak makan sendirian? Bukannya lebih enak makan bersama?" tanya Via lagi.
"Memangnya kalian mau tinggal di sini menemani Kakek?" balas Pak Adi.
"Bukan begitu, Kek. Di sini kan banyak ART, sopir juga. Semua ada berapa orang?"
"Maksud Kak Via apa, sih? Kok pakai nanya jumlah ART segala?" batin Dini.
"Ada 8 orang yang bekerja di rumah ini. Kenapa?" Pak Adi pun tak mengerti arah pembicaraan Via.
"Kenapa mereka tidak diajak makan bersama di sini? Coba kalau makan bareng mereka. Pasti lebih enak dibanding sendirian," tegas Via.
"Mana mungkin, Nak? Mereka itu pembantu, sopir, satpam. Masa makan satu meja dengan majikan," kilah Pak Adi.
"Mereka sederajat dengan kita karena sama-sama makhluk Allah. Yang membedakan di hadapan Allah adalah derajat keimanan. Jadi, nggak ada salahnya kita makan bareng mereka. Via dan Mas Farhan juga gitu, Kek."
__ADS_1
Farhan mengulum senyum mendengar penuturan istrinya. Dia baru tahu sisi lain seorang Via.
"Aku bangga sama ku, Cinta. Ternyata kamu bukan orang yang pendiam, yang tidak berani meluruskan hal yang bengkok. Aku makin sayang jadinya" kata Farhan dalam hati.
Pak Adi dan Dini tersentak. Mereka tidak mengira Via mengutarakan hal seperti itu.
"Apa pola pikirku membedakan majikan dan pembantu merupakan kekeliruan? Aku pikir yang dikatakan cucuku betul juga. Majikan dan pembantu sama-sama manusia. Lagian kalau aku makan bersama mereka kan malah jadi ada teman. Mungkin bisa dicoba," pikir Pak Adi.
"Via salah ngomong, ya? Maafkan Via, Kek," ucap Via lirih sambil menunduk.
"Enggak. Justru Kakek sedang merenungi ucapanmu. Mungkin makan malam nanti bisa dicoba makan bersama mereka. O ya, Din, papah mamah kamu landing jam berapa?"
Dini masih memikirkan ucapan Via. Ia tidak mendengar pertanyaan kakeknya.
"Dini, kamu melamun?" tegur Pak Adi.
"Eh, iya. Bagaimana, Kek?" Dini tersentak dari lamunannya.
"Jadwal landing pesawat orang tuamu jam berapa? Kamu mau jemput apa cukup sopir?" Pak Adi mengulang pertanyaannya.
"Jam 3 sore, Kek. Dini mau ikut jemput, ya," ucap Dini.
"Kamu saja, ya. Kakek di rumah saja bersama Via dan Farhan."
Dini mengangguk setuju.
Sorenya, anak, menantu, juga cucu Pak Adi sudah berkumpul. Pak Adi terlihat bahagia.
"Via dan Farhan baru pertama kali bertemu Ardi. Kalian nanti bisa ngobrol berempat di taman belakang," tambah Pak Candra.
"Tapi, kalian dengarkan dulu yang akan Kakek sampaikan," lanjut Pak Adi.
Ruangan menjadi hening. Tak satu pun di antara mereka yang bersuara. Semua menanti yang akan disampaikan oleh Pak Adi seperti patih menunggu titah raja.
"Perlu kamu ketahui, Via. Keluarga Wijaya itu besar. Sebagian besar, mereka adalah pengusaha. Kita tetap menjalin silaturahmi, saling menolong."
Pak Adi berhenti sejenak untuk mengambil nafas panjang. Sepertinya ada beban dalam pikirannya.
"Sebenarnya, kalau almarhum papamu tetap menggunakan nama Wijaya, Kakek yakin ada keturunan Wijaya yang membantu saat perusahaannya bermasalah."
"Sudahlah, Kek. Jangan mengungkit yang sudah berlalu," ujar Via lembut.
"Iya, Nak. Kakek lanjutkan. Perusahaan Kakek cukup besar. Farhan yang sudah terjun ke dunia bisnis mungkin tahu."
Farhan tersenyum dan mengangguk.
"Karena Kakek memiliki dua anak, perusahaan Kakek diwariskan kepada Beni dan Candra. Berhubung Beni sudah tiada, kamu, Via, yang menjadi penggantinya."
__ADS_1
"Kek, maaf Via menyela. Kakek kan belum meninggal, masih sehat. Kenapa membahas warisan? Lagi pula, Via sudah repot mengurus Wijaya Kusuma.
Pak Candra menatap keponakannya. Ada senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Separo dari perusahaan Kakek sudah diserahkan kepada Candra untuk dikelola. Nantinya, kamu akan dapat yang Kakek kelola saat ini. Kalian paham?"
Pak Adi menatap semua orang yang ada. Semuanya mengangguk.
"Bagus. Kakek tidak mau kalian berebut harta Kakek. O ya, Via, Farhan. Saat ini adikmu, Azka, tidak hanya kuliah. Ia juga diserahi tugas mengelola perkebunan," lanjut Pak Adi.
"Perkebunan? Milik siapa perkebunan itu?" tanya Farhan
"Iya. Itu milikku. Candra tetap mengawasi, kok."
"Tenang, adikmu cukup bagus kinerjanya. Sesuai bidangnya, kan, dia mengelola bisnis yang berkaitan dengan pertanian?" Pak Candra menambahkan.
"Terima kasih atas dukungan Kakek dan Om kepada adik saya. Om Candra memberikan tumpangan tempat tinggal saja kami sudah sangat berterima kasih," ucap Farhan.
"Kamu jangan sungkan begitu! Kita keluarga," kata Pak Adi. "O iya, jangan lupa besok kita ke ulang tahun perusahaan punya Alza."
"Kapan dia nikah? Ah, kakaknya juga belum, ya?" Ardi menyela.
Dini menatap kakaknya. Ia mencebikkan bibirnya.
"Kelamaan di Amerika sampai nggak tahu perkembangan terbaru. Kak Alza sudah nikah. Nama istrinya Tiara. Dia gadis desa. Cantik dan polos. Sebenarnya orangnya asyik. Cuma, kayaknya latar pendidikannya yang rendah membuatnya minder. Eh, ngapain Kakak menanyakan Kak Alza nikah atau belum? Sudah kepengin nikah?" ledek Dini setelah memberi penjelasan.
"Ish, Kakak cuma pengin tahu aja," kilah Ardi.
Orang-orang tertawa melihat reaksi Ardi. Mukanya memerah karena malu.
"Kalau memang mau nikah, nggak apa-apa. Sekarang nikah dadakan nggak ribet. Kita bisa pakai jasa WO," mamanya menimpali.
"Ah, mama benar. Putri Pak Mayoko Mahendra, teman Papah, kan bekerja di perusahaan yang mengurusi wedding organizer. Namanya Keyra Angelista Mahendra. Anaknya cantik, ramah juga," ucap Pak Candra.
"Tuh, Kak. Mamah dan papah udah kasih lampu hijau. Tancap gas! Eh, calon pengantin wanita ada apa belum?" ledek Dini lagi.
Semua orang tergelak mendengar kalimat terakhir Dini. Suasana benar-benar akrab.
***
Bersambung
Tetap dukung author ya dengan klik like dan komen. Yang belum klik rate, mohon klik 5 bintang, ya. Vote-nya yang banyak hehe...
Bagi yang penasaran siapa Alza dan Tiara, silakan baca
__ADS_1
Yang mau tahu kisah Keyra, silakan baca karya teman author yang ini