SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Malam Pertama


__ADS_3

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI UNTUK READERS MUSLIM MUSLIMAH. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.


SELAMAT MEMBACA 🙏


🌱🌱🌱🌱🌱


Setelah menikmati hidangan, mereka berbincang-bincang mengenai masa depan PT Wijaya Kusuma. Pak Arman juga menjelaskan kepada Farhan hal-hal yang perlu diperhatikan saat bertemu calon investor.


Pembicaraan mereka terhenti saat terdengar azan asar. Eyang Probo meminta agar mereka salat berjamaah di musholla dokter Haris. Alasannya, kalau mereka berjamaah di masjid bisa memancing perhatian.


Selesai salat, mereka berpamitan. Sementara Pak Haris bersiap untuk praktik setelah mengantar tamu-tamunya.


Malamnya, Via langsung masuk kamar usai salat isya. Ia tidak segera tidur, tetapi masih membolak-balik album foto di pangkuannya.


Ia menatap foto-foto keluarganya. Hatinya terasa perih melihat foto keharmonisan papa mamanya.


"Pa, Ma, hari ini Via menikah. Via sudah menjadi istri orang. Seandainya Papa Mama masih hidup, tentu momen ini menjadi momen yang membahagiakan. Papa yang jadi waliku, yang menikahkan aku, bukan wali hakim. Papa Mama merestui Via, kan?" bisik Via.


Angan Via tenggelam dalam kesedihan. Ia tidak menyadari seseorang berdiri di dekat ranjang.


"Teringat papa dan mama?"


Via tidak menjawab karena tidak mendengarnya. Ia masih belum menyadari kehadiran seseorang di kamarnya.


"Boleh duduk di sini?" tanyanya lagi dengan lembut.


Karena tidak ada jawaban dari Via, si penanya nekad duduk di tepi ranjang, tepat di samping kiri Via.


"Aku tahu saat ini perasaan Dek Via sedang kacau. Dek Via merasa sedih karena tidak ada papa mama di samping Dek Via di saat yang penting ini. Tapi, yakinlah kalau papa mama lebih bahagia jika Dek Via tidak bersedih, menjadi perempuan salihah yang senantiasa mengirimkan doa untuk mereka," nasihat pria itu lembut sambil mengusap kepala Via.


Usapan di kepala membuat Via tersadar akan kehadiran orang lain di kamarnya. Ia sangat terkejut.


"Mmm---mas Farhan? Se---sejak kapan di sini? tanya Via terbata-bata.


"Beberapa detik yang lalu," jawab Farhan sambil senyum, lalu melanjutkan, "Maaf, tadi Mas sudah salam sepertinya Dek Via tidak mendengar. Bahkan, sampai Mas tanya juga tidak dengar."


Via menunduk malu. Ia tidak menyangka Farhan akan masuk kamarnya.


"Dek, ada yang ingin kukatakan. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi kita."


Via menatap Farhan bingung.


"Aduh, dia mau apa, ya? Jangan-jangan dia mau menyuruhku tidur di kamarnya atau dia mau tidur di sini. Aku mesti bagaimana?"

__ADS_1


"Kok malah melamun? Dek, Dek Via," suara panggilan Farhan akhirnya membuat Via tersentak.


"Iya, Mas."


"Dek Via kok melamun? Kenapa? Canggung, ya?"


"Sudah tahu pakai nanya," gerutu Via dalam hati.


"Aku boleh jujur, nggak?"


"Lah, memang selama ini tukang bohong apa?"


"Iya. Memang Mas mau bicara apa?"


"Aku juga canggung di dekatmu. Tapi, nggak mungkin kita berjauh-jauhan, kan? Selama ini kita memang tidak akrab. Bagaimana kalau mulai sekarang kita belajar saling mengenal?"


Via masih diam. Dia bingung harus menjawab apa.


"Dek, kita kan sudah sah menjadi suami istri. Bagi Mas, pernikahan bukan suatu permainan dan tidak boleh bermain-main dengan pernikahan. Mas ingin menikah sekali saja."


Farhan diam sejenak. Ia menunggu reaksi Via. Namun, gadis itu tetap diam.


"Meski pernikahan kita terkesan terburu-buru, ada tujuan lain di balik pernikahan kita, aku tidak ragu-ragu memutuskan menikahimu. Tujuan utamaku tetap membina keluarga yang sakinah mawadah warahmah sesuai tuntunan Rasulullah. Mas memang bukan lelaki sempurna, bukan imam yang terbaik. Namun, Mas berjanji untuk memperbaiki kekurangan Mas, insya Allah. Mas ingin kita terbuka satu sama lain. Mmm---maksud Mas nantinya. Untuk sekarang, kita belajar saling mengenal dan memahami. Bagaimana?"


"O ya, besok kita ke Jakarta pagi-pagi, ya. Penerbangan jam 8. Dek Via sudah mempersiapkan?"


Via menggeleng.


"Mas kembali ke kamar sebentar."


Farhan berdiri lalu berjalan keluar dari kamar Via. Gadis itu mengikuti langkah lewat sudut matanya.


"Hufff, akhirnya dia keluar. Eh, tadi dia bilang kembali ke kamar sebentar? Berarti nanti balik lagi? Aduh!"


Benar saja. Tidak sampai 10 menit Farhan kembali ke kamar Via sambil menyeret koper kecil berwarna biru.


"Baju kita dijadikan satu saja. Toh kita tidak lama. Bawa dua stel saja," kata Farhan sambil meletakkan koper dan beberapa potong pakaian.


"Bukannya kita kembali sorenya? Kita nggak nginap, kan?"


"Mas belum tahu. Kata Pak Arman, kita belum tentu kembali besok sore."


"Memang pembicaraan seperti itu memakan waktu lama?"

__ADS_1


"Tidak selalu. Tapi, ini jumlahnya sangat besar. Bisa jadi kita harus menjelaskan program kita sampai detail. Itu butuh waktu lama. Belum lagi kalau sananya tidak tepat waktu."


Via mengangguk tanda paham.


"Kalau begitu, aku kembali ke kamar. Setelah selesai menyiapkan keperluan untuk besok, Dek Via istirahat, ya! Met bocan. Assalamualaikum," kata Farhan.


"Waalaikumsalam," jawab Via.


Via bernafas lega. Ia segera mengunci pintu kamar. Kemudian, ia mengeluarkan beberapa potong pakaian. Ia pun menata pakaiannya di koper yang ditinggalkan Farhan. Selesai memasukan pakaiannya, ia mengambil pakaian Farhan yang diletakkan di atas ranjang.


"Eh, ini kan pakaian dalam. Aduh, geli rasanya pegang segi tiga Mas Farhan. Haish, aku kok jadi konyol."


Setelah menutup koper, Via merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Angan-angannya menerawang ke mana-mana.


Sementara itu, Farhan masuk kamar sambil memegang dadanya.


"Kok masih deg-degan, ya? Begitu dahsyatkah pengaruh Dek Via terhadapku? Ah, andaikan ini pernikahan yang dipersiapkan dengan matang, tentu lebih menyenangkan."


Farhan duduk di ranjangnya yang masih penuh hiasan. Ia tersenyum membayangkan berduaan dengan Via.


"Betapa indahnya kalau saat ini dia di sini, menikmati kamar yang sudah dihias begini. Sekarang, seperti apa Dek Via kalau tidak berjilbab? Ah, pasti tambah cantik. "


Farhan mengambil sekuntum bunga mawar. Ia cium dalam-dalam aromanya.


"Semoga mimpi bertemu Dek Via," doa Farhan dalam hati.


Ia pun merebahkan tubuhnya. Namun, ia tidak segera memejamkan matanya.


Farhan justru bangkit lagi mengambil ponselnya. Setelah ia matikan lampu kamar, ia kembali ke tempat tidur.


Dibukanya galeri dalam ponselnya. Ternyata, sebagian besar galeri ponselnya berisi gambar Via.


Farhan tersenyum menatap foto Via dalam berbagai pose. Rupanya, Farhan diam-diam sering mengambil foto Via. Ia juga download dari media sosial milik Via.


Di matanya, Via begitu cantik dan menggemaskan. Ia terus menatap foto-foto Via semenjak SMA.


Sudah setengah jam lebih Farhan hanya membolak-balikkan badannya.


"Aaah, kenapa aku gak bisa tidur? Aku bisa bangun kesiangan kalau gini. Dek Via, kamu sudah tidur? Kenapa bayangmu membuntuti Mas, sih? Tadi waktu kamu tersenyum, betapa menggemaskan. Sikap grogimu juga. Kenapa kamu begitu imut?" bisik Farhan.


***


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dengan memberi like, rate 5 juga vote. Terima kasih atas dukungan semua pembaca 🙏🙏


__ADS_2