SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Berbagi Tugas


__ADS_3

Bu Aisyah berjalan cepat menuju teras. Melihat bundanya begitu khawatir, Via berjalan mengekor sang bunda. Bu Aisyah segera mendekati Farhan dan dokter Haris yang tengah ngobrol di teras.


“Ayah, Farhan, ada kabar buruk dari Medan. Azka ….” perkataan Bu Aisyah terputus karena nafasnya terengah-engah.


“Azka kenapa, Bun? Coba, Bunda tenangkan diri dulu,” ujar Pak Haris dengan sabar.


Bu Aisyah menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan diri.


“Azka sakit, sekarang dirawat di rumah sakit. Sementara Pak Candra dan istrinya sedang ke Singapura. Ardi dan Dini kan kuliah, tidak ada yang di rumah. Jadi, Azka hanya ditemani ART Pak Candra,” kata Bu Aisyah.


“Sejak kapan anak itu masuk rumah sakit? Sakit apa memangnya?” tanya Farhan.


“Tadi sore. Satpam dan ART Pak Candra yang mengantar Azka bersama sopir keluarga. Soal sakitnya, Bunda tidak sempat tanya tadi.”


“Ya sudah, besok kita ke sana. Kasihan Azka kalau tidak ada yang menemani,” ujar Pak Haris.


“Via kan sedang hamil. Farhan khawatir kenapa-kenapa. Bagaimana kalau Ayah dan Bunda saja yang berangkat ke sana?” usul Farhan.


Bu Aisyah menggeleng tanda tak setuju.


“Kamu harus ikut. Perkebunan sedang ada masalah. Sepertinya ada oknum yang berbuat curang, menggelapkan upah buruh. Kamu kan biasa mengurusi karyawan. Kamu dibutuhkan di sana, Han. Bunda tidak yakin kalau ayahmu bisa menangani masalah ini,” tukas Bu Aisyah.


Farhan menatap Via yang berdiri di dekat pintu. Perempuan yang tengah hamil 28 minggu itu tersenyum sambil mengangguk tanda tak keberatan. Farhan masih menatap lekat sang istri.


“Berangkatlah. Via nggak apa-apa, kok. Dek Azka dan perkebunan kakek membutuhkanmu. Via insya Allah bisa menghandle perusahaan. Mas Edi tak lama lagi juga kembali. Mas Farhan nggak usah khawatir,” kata Via meyakinkan Farhan. Ia mengambil posisi duduk di samping Farhan.


“Baiklah. Aku pesan tiket sekarang. Semoga dapat penerbangan pagi,” ujar Farhan. Ia segera mengeluarkan benda pipih yang cerdas dari saku celananya.


“Drrrt…drrttt…” Ponsel di saku celana Pak Haris bergetar. Dokter spesialis penyakit dalam itu ikut mengeluarkan ponselnya. Rupanya ada panggilan masuk.


“Assalamualaikum,” ucap Pak Haris.


….


“Kapan? Kata dokter bagaimana?” suara Pak Haris terdengar cemas.


….


“Baik, kami akan segera ke situ sebentar lagi.”


….


“Iya, terima kasih atas informasi Bapak.”


….


“Waalaikumsalam,” jawab Pak Haris.


Setelah menutup pembicaraan, Pak Haris meletakkan ponsel ke atas meja. Wajahnya menunjukkan ia sedang resah. Disugarnya rambut yang sebagian mulai memutih.


“Ada apa, Yah?” tanya Bu Aisyah penasaran.


“Ayah.Tadi sopir ayah memberi tahu kalau ayah juga masuk rumah sakit. Tekanan darahnya melonjak. Kata sopir ayah 180/90. Saat ini masih di IGD,” papar Pak Haris lirih.


Semua orang terkejut sekaligus khawatir. Dua orang anggota keluarga mereka masuk rumah sakit hampir bersamaan.

__ADS_1


“Eyang sakit? Kok bersamaan Azka?” gumam Bu Aisyah.


“Kita ke rumah sakit sekarang untuk menengok Eyang,” usul Farhan.


“Baik. Ayo!” ajak Pak Haris.


Bu Aisyah bergegas ke dalam mengambil tasnya. Via bermaksud mengikuti bundanya. Namun, langkahnya tertahan karena tangannya ditarik Farhan.


“Mau ke mana?” tanya Farhan.


“Ambil tas,” jawab Via.


“Tidak usah ikut, ya. Mas nggak mau kamu kenapa-kenapa. Ini sudah malam. Kasihan dedek kalau bundanya kelelahan,” ujar Farhan seraya mengusap perut Via dengan lembut.


Via terdiam sejenak memikirkan permintaan Farhan. Akhirnya, ia mengangguk setuju. Farhan tersenyum lega.


“Tapi, tolong segera kabari Via tentang kondisi Eyang Probo, ya! Via nggak akan bisa tenang kalau belum tahu kabar eyang,” pinta Via.


“Insya Allah nanti begitu dapat penjelasan dari dokter, Mas telpon Cinta,” bisik Farhan.


Tak lama kemudian, Pak Haris, Bu Aisyah, dan Farhan menuju rumah sakit. Pak Yudi mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.


Via bergegas masuk setelah mobil tidak tampak lagi. Sahabat-sahabatnya memberondong dengan banyak pertanyaan. Via pun menjelaskan apa yang terjadi.


“Aku ikut prihatin, Mbak. Kok ya Eyang Probo dan Mas Azka kayak janjian? Apa ada ikatan batin antara kakek dan cucu, ya?” kata Salsa.


“Hush, masa janjian. Emang mau kencan?” sanggah Ratna sambil menyentil kening Salsa.


“Auw, sakit! Mbak Ratna gak pakai kira-kira, nih,” gerutu Salsa sambil mengusap keningnya.


Mereka mengangguk setuju. Sambil menunggu telepon dari Farhan, mereka mengobrol berbagai hal.


Setelah hampir satu jam, telepon yang mereka tunggu pun masuk. Via segera menerima panggilan dari Farhan.


“Assalamualaikum. Bagaimana kondisi eyang?” Via sudah tak sabar.


Via tampak mendengarkan penjelasan melalui telepon dengan baik. Tak sampai lima menit percakapan mereka selesai. Sahabat-sahabat Via menatap dengan penuh tanda tanya.


"Eyang hipertensi. Nafasnya sesak. Kemungkinan jantungnya bermasalah. Kepastiannya menunggu dokter spesialis jantung besok. Mas Farhan sebentar lagi pulang," kata Via menjelaskan.


"Mas Farhan nggak nunggu Eyang Probo di rumah sakit?" Ratna heran.


"Mas Farhan besok pagi-pagi sekali berangkat ke Medan. Ayah dan bunda tidak jadi ke Medan besok, nunggu perkembangan eyang. Berbagi tugas."


Ketiganya saling tatap lalu mengangguk-angguk. Mereka prihatin dengan kondisi yang sedang dialami keluarga Via.


"Aku pamit ke kamar untuk menyiapkan keperluan Mas Farhan. Kalau besok, takut terburu-buru, malah ada yang tertinggal," ucap Via.


"Iya, pergilah! Habis beres-beres langsung istirahat. Bumil jangan kelelahan. Kasihan debay," sahut Mira.


Via beranjak dari duduknya menuju ke kamar. Ia segera mengambil koper lalu memasukkan pakaian Farhan ke dalamnya.


Baru saja selesai, Farhan sudah kembali. Setelah salamnya dijawab, ia mendekati istrinya yang sedang menarik koper.


"Cinta nggak apa-apa ditinggal sendirian?" tanya Farhan. Ada nada khawatir terselip dalam nada bicaranya.

__ADS_1


"Siapa bilang sendiri? Ada Mbok Marsih, Bu Inah, Pak Nono, dan Pak Yudi. Besok atau lusa Mas Edi kemungkinan sudah kembali. Hubbiy tak perlu khawatir. Pastikan kondisi Dek Azka juga perkebunan kakek. Tolong, ya!" ucap Via menenangkan.


Farhan memeluk erat istrinya. Berat baginya meninggalkan wanita yang ia cintai. Apalagi saat ini sedang mengandung buah hati mereka.


"Jaga anak kita baik-baik! Cinta jangan kelelahan, ya!" bisik Farhan.


"Iya, insya Allah dedek baik-baik saja di sini," sahut Via sambil mengelus perut buncitnya.


"Boleh jenguk? Kan mau ditinggal beberapa hari. Boleh, ya?" pinta Farhan penuh harap.


Via tertawa kecil melihat ekspresi Farhan. Ia mengangguk.


Farhan tersenyum lebar mendapat lampu hijau dari Via. Ia pun segera mengangkat tubuh Via dan membaringkan di ranjang. Selanjutnya, mereka melakukan ibadah yang hanya boleh dilakukan pasangan halal.


Paginya setelah pulang dari masjid, Farhan segera bersiap berangkat. Via yang sudah mandi terlebih dahulu mengecek kembali keperluan sang suami.


"Cinta kok sudah rapi? Mau ikut ngantar sampai bandara?" tanya Farhan.


"Iya. Habis dari bandara langsung ke kantor. Boleh, ya?" Via mengerjapkan matanya membuat Farhan gemas.


"Jangan begitu! Mas jadi malas pergi, nih," tegur Farhan.


"Eh, nggak boleh enggak. Hubbiy harus berangkat. Emang nggak kasihan sama Dek Azka?"


"Iya, iya. Yuk, kita sarapan dulu!" ajak Farhan.


Mereka keluar dari kamar menuju ruang makan. Mereka sekalian membawa koper dan tas.


"Mas sudah menghubungi Pak Hasan, sekretaris Mas sekarang. Nanti Mas kirimi kontaknya. Kalau ada yang urgen, tolong Cinta yang menangani Kencana Grup, ya!" pinta Farhan selesai sarapan.


"Iya. Insya Allah Via bisa. Hubbiy tenang saja, selesaikan masalah di Medan!"


"Siap, Nyonya Farhan! Kemungkinan nggak sampai seminggu Mas di sana kalau Dek Azka tidak parah," kata Farhan.


Mereka keluar setelah berpamitan kepada para ART.


"Kalau masalah perkebunan rumit, bagaimana?" tanya Via khawatir.


"Om Candra tiga hari lagi pulang. Kalau Dek Azka sudah membaik, Mas tetap pulang. Biar nanti perkebunan diselesaikan Om Candra.


"O begitu."


Perjalanan ke bandara sangat lancar karena jalanan masih lengang. Pesawat pun tidak delay. Via menunggu hingga pesawat take off. Ada perasaan yang ikut terbang bersama terbangnya pesawat.


***


Bersambung


Terima kasih atas dukungan Kakak readers yang setia memberikan like, komentar, juga vote. Barakallahu fiikum 🙏.


Sambil menunggu Via hadir lagi, baca novel bagus ini, yuk!



__ADS_1


__ADS_2