
Sebelumnya Author minta maaf kalau ada yang merasa tidak nyaman membaca bagian ini. Memang sengaja Author sisipkan sisi Islami dalam novel ini.
Selamat membaca π
π±π±π±π±
Kehangatan Minggu pagi begitu terasa di kediaman dr. Haris. Setelah beberapa hari mereka lebih sering di rumah sakit menunggui Via, sejak kemarin sore mereka berkumpul di rumah.
Ya, Via sudah pulang. Namun, ia masih harus banyak beristirahat. Oleh karena itu, untuk sementara Via menempati kamar tamu yang ada di lantai satu.
"Bunda ikut jalan-jalan?" tanya Azka dengan teriakan nyaringnya dari teras depan.
"Em... kalau Bunda ikut, siapa yang jagain Via?" Bu Aisyah terlihat ragu.
"Udah, Bunda jalan-jalan saja. Kan mau belanja di pasar pagi? Farhan saja yang jagain Dek Via. Lagian Farhan masih pengin istirahat."
"Beneran kamu mau jagain Via?"
"Iya, Bun. Farhan nitip belikan getuk, ya," pintanya.
Setelah ayah, bunda, dan adiknya pergi jalan-jalan, Farhan rebahan di depan televisi. Volume TV sengaja tidak terlalu keras, agar ia bisa mendengar kalau Via membutuhkan sesuatu.
"Sudah pada pergi jalan-jalan, ya?"
Farhan menoleh. Via berjalan perlahan mendekatinya.
"Sudah. Kenapa Dek Via keluar? Istirahat saja di kamar!"
"Bosan, Mas. Lagian sejak tadi malam aku nggak merasa pusing, kok. Mungkin karena tidur di rumah jadi bisa nyenyak."
"Beneran gak papa?" Farhan tampak begitu khawatir.
"Iya, nggak papa. Di kamar malah nggak enak."
"Tapi Dek Via mesti hati-hati. Kalau merasa pusing, langsung duduk atau berbaring. Harus banyak istirahat!"
Via hanya mengangguk. Dalam hati ia menjawab," Iya. Ni kulkas kenapa jadi kayak emak-emak, ya? Jangan-jangan beneran ada yang nggak beres."
Satu jam kemudian, Bu Aisyah pulang naik becak. Barang belanjaan sangat banyak, tidak seperti biasanya.
Pak Haris dan Azka ikut membantu membawa belanjaan ke dapur.
"Bunda tumben belanja segitu banyak?" tanya Via heran.
"Nanti ada acara arisan dan pengajian. Bunda mau sekalian syukuran karena kamu udah sembuh."
__ADS_1
Mendadak mata Via berkaca-kaca. Ia merasa trenyuh mendapat perhatian tulus dari keluarga dr. Haris.
"Kamu kenapa? Sakit lagi? Istirahat di kamar, ya! Jangan memaksakan diri beraktivitas kalau belum kuat," Bu Aisyah panik.
"Nggak sakit, kok. Via... Via cuma terharu atas ketulusan Bunda dan yang lain."
"Masya Allah, kirain kepalamu sakit. Udah, jangan lagi merasa sungkan. Ingat, kita keluarga! Kamu adalah anak Bunda." Bu Aisyah merengkuh Via erat.
"Acaranya jam berapa, Bun?"
"Sekitar jam 1 siang."
"Via boleh bantu?"
"Enggak. Kamu masih harus banyak istirahat. Nanti Bunda dibantu Bu Ani, tetangga belakang rumah. Kamu boleh keluar kamar, tapi jangan keluar rumah dan jangan melakukan banyak aktivitas!"
Via pun menurut. Ia kembali ke kamar.
Setelah sholat dhuhur, Via ke dapur. Dilihatnya hidangan yang sudah siap saji.
"Via kok nggak istirahat?" tegur Bu Aisyah.
"Bosan di kamar. Sejak semalam kepala Via udah enakan, kok. Via boleh duduk di sini?"
"Kamu kalau mau ikut mendengarkan pengajian, boleh. Tapi kalau kepalamu terasa pusing, langsung ke kamar, ya! Sekarang ganti baju dulu. Ayo, Bunda bantu."
Menjelang pukul 13, ibu-ibu warga kompleks sudah mulai berdatangan. Sepuluh menit dari waktu yang direncanakan, acara dimulai.
Via duduk di dekat Bu Aisyah. Ia hanya duduk mengikuti acara tanpa melakukan apa-apa. Itu karena tidak diizinkan Bu Aisyah.
Meskipun di tengah ibu-ibu, Via begitu antusias mendengarkan ceramah. Yang mengisi seorang ibu muda berusia sekitar 30 tahun. Penampilannya sederhana dengan jilbab yang terjulur hingga menutup sebagian area perut. Walau sederhana, penampilannya tidak dapat menutupi aura keanggunan wanita itu. Diam-diam Via mengaguminya.
"Ibu-ibu, jilbab bukanlah sekadar trend. Sebagai seorang muslimah, kita diwajibkan mengenakan yang menutup aurat saat keluar rumah atau berada di lingkungan yang memungkinkan adanya lelaki yang bukan mahram. Ini bukan hanya disunnahkan oleh rasulullah melainkan diperintahkan oleh Allah. Dalam Surat An Nuur ayat 31 dan Al Ahzab ayat 59. Di situ jelas Allah memerintahkan agar wanita beriman menahan pandangan dan penglihatan, serta mengulurkan kain hingga ke dada.
Pakaian yang dikenakan seorang muslimah tidak hanya menutup seluruh aurat. Ibu-ibu tahu aurat wanita, kan? Yaitu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.
..........................................
..........................................
..........................................
Jadi, sekali lagi saya sampaikan bahwa mengenakan jilbab bukan semata-mata mengikuti trend fashion ya, Ibu-ibu. Kita berpakaian mengikuti syariat."
Deg! Dada Via terasa seperti dihantam batu besar. Ia baru menyadari kesalahannya. Ia ingin berubah tetapi ia juga bingung.
__ADS_1
Selesai acara, Via meminta bundanya menemani di kamar.
"Ada apa, Via? Apa yang kamu rasakan? Obatmu sudah diminum?"
"Bunda tenang. Ini tidak berhubungan dengan kesehatan Via. Bun, pengajian tadi membuat Via seperti disentil. Via merasa berdosa. Ternyata begitu banyak kekurangan Via."
"Maksud kamu?"
"Via... Via ingin berhijrah. Tapi, Via bingung."
"Alhamdulillah, Bunda seneng dengar niat kamu. Lalu apa yang membuat kamu bingung?"
"Via bingung juga kalau nggak bisa konsisten. Kadang pakai kadang nggak. Via penginnya kalau pakai jilbab ya seterusnya pakai."
"Ya memang harusnya begitu."
"Tapi baju-baju Via kebanyakan pendek. Via cuma punya beberapa yang bisa nutup aurat."
Bu Aisyah tersenyum lembut. Ia terharu mendengar penuturan putri angkatnya. Reflek tangan Bu Aisyah membelai rambut Via.
"Soal itu tidak usah menyurutkan niatmu berhijrah. Bunda sangat bahagia Via punya niat memperbaiki diri. Bunda akan bantu."
"Maksud Bunda? Bunda mau membelikan baju-baju buat Via? Enggak... Via nggak mau Bunda terbebani."
"Via, Bunda sudah bilang kalau kamu putri Bunda. Kamu nggak boleh sungkan. Apa salahnya Bunda membelikan baju buat anaknya? Lagi pula, Bunda ingat ada beberapa potong pakaian punya Sifa yang ditinggal di sini. Kamu bisa memakainya."
"Sifa? Siapa dia?"
"Keponakan Bunda, sepupu Farhan dan Azka. Dia sesekali main ke sini waktu masih gadis meski sudah tinggal di Bandung. Sekarang dia sudah menikah, jarang sekali berkunjung."
"Kalau dia berkunjung ke sini, mau pakai bajunya, gimana?"
"Ukurannya sudah tidak sesuai. Dia jadi gemuk setelah punya anak. Dia juga sudah pernah berpesan, kalau ada yang memerlukan bajunya, berikan saja. Bunda belum sempat beres-beres. Baju-bajunya ada di lemari itu."
"Benarkah? Tapi, apa nggak sebaiknya Via minta izin?"
"Itu lebih baik. Nanti Bunda menelponnya. Tapi kamu harus memulihkan kondisimu dulu. Ingat, jangan sampai kelelahan! Masalah baju Sifa, besok saja kamu melihatnya. Kamu pilih yang cocok. Sekarang mandi, sholat, lalu istirahat lagi."
"Ya, Bun. Terima kasih."
Via merasa sangat senang. Begitu mudahnya jalan baginya memperbaiki diri.
***
Mohon kritik dari pembaca yang budimanπ
__ADS_1
Ikuti terus, ya!
Terima kasih atas dukungan semua pembaca. πππ