SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Aksi yang Gagal


__ADS_3

“Nyonya! Kalau


Nyonya tidak membuka pintu, saya tidak mau disalahkan jika terjadi sesuatu


terhadap suami Nyonya. Suntikan antibiotik ini penting untuk mencegah infeksi


pada lengan suami Nyonya.”


Akhirnya, Via


membuka pintu dengan gugup. Ia terkejut kala pria yang berpakaian perawat dan


bermasker itu menerobos masuk dengan cepat. Pria itu memegang slang infus yang


terhubung dengan lengan kanan Farhan dan bersiap menyuntikkan cairan yang ada


pada jarum yang ia pegang.


Via merasa aneh.


Cara pria itu akan menyuntik tidak seperti perawat yang biasa ia lihat. Pria


itu membawa jarum suntik di dalam saku. Dia tidak membawa apa pun selain jarum


suntik.


“Tunggu! Kok cara


menyuntiknya seperti itu?” cegah Via.


“Nyonya jangan


menghambat tugas saya! Saya sudah kehilangan banyak waktu menunggu Nyonya


membuka pintu.” Pria itu menatap Via tajam.


Via gemetar


ketakutan. Ia yakin kalau pria itu bukan perawat asli. Namun, ia tidak tahu


bagaimana menghentikan tindakan perawat itu.


“Aaaah...tolong!


Ada...!” Via mendadak berteriak sambil mengibaskan gamisnya.


“Nyonya, tolong


jangan ganggu konsentrasiku!” bentak pria itu geram.


“Ta—tapi itu a—ada


kecoa tadi,” kilah Via sambil begidik.


Pria itu kembali


memberikan tatapan tajam kepada Via. Otak Via pun berpikir keras untuk menemukan


cara mencegah tindakan lelaki asing itu.


Pria itu kembali


memegang tangan Farhan yang ditancapi slang infus dengan tangan kirinya. Tangan


kanan pria itu bersiap menusukkan jarum yang ia pegang.


“Plak!”


“Brugg!”


Lelaki yang


bersiap menyuntik Farhan mendadak tumbang. Jarum suntiknya terlepas.


Via menatap orang


asing yang baru saja datang dan memukul “perawat”. Ia berpakaian serba hitam


dan mengenakan masker hingga Via tidak dapat mengenali wajahnya.


Untuk beberapa


saat, Via terpaku menyaksikan para pria yang ada di depannya. Dua pria tidak sadarkan


diri dan satu pria tegap menundukkan kepalanya.


“Maaf, Nyonya.


Apa Nyonya baik-baik saja?” tanya pria yang baru membuat “perawat” kehilangan


kesadaran.


Via hanya mampu


menganggukkan kepalanya. Ia masih shock dengan peristiwa yang baru saja terjadi


di depan matanya.


Terdengar langkah


kaki yang bergerak cepat menuju ruangan tersebut. Sebelum pemilik langkah


sampai, pria berpakaian serba hitam itu bergerak dengan cepat keluar ruangan.


“Nyonya, Nyo—nyonya


Via bagaimana? Apa yang baru terjadi?” tanya seorang perempuan berusia sekitar


30 tahun dengan gugup.


Via tersentak. Ia


menoleh ke orang yang baru bertanya.


“Aa—apa dia ini


perawat?” Via menunjuk lelaki yang tergeletak di lantai.


Seorang pria


berseragam satpam yang datang bersama wanita itu bergerak sigap membalikkan


tubuh yang tersungkur. Ia mengamati dengan cermat.


“Bukan, dia bukan


perawat. Apa dia akan mencelakai Nyonya atau Tuan Farhan?” tanya satpam dengan


posisi masih berjongkok.


Via mengangguk.


Ia menunjuk jarum suntik yang berada di ranjang dekat lengan Farhan.


“Dia

__ADS_1


hampir...menyuntik Mas Farhan dengan itu,” jelas Via dengan suara terbata-bata.


Dengan hati-hati


wanita yang datang bersama satpam membungkus jarum suntik itu dengan tisu lalu


menyimpannya.


“Bagaimana


kondisi Nyonya Via?”


“Sa—saa nggak


apa-apa. Mas Farhan juga. Lelaki itu belum sampai menyuntik Mas Farhan. Saya cu—cuma


masih agak shock,” sahut Via.


Satpam


mengeluarkan handy talky. Dia berbicara dengan seseorang. Tak lama kemudian,


dua orang yang berpakaian sama datang bersama dokter Haris.


“Via, apa yang


terjadi?” tanya dokter Haris khawatir.


“I—itu, Yah. Ada


orang yang mau menyuntik M—mas Farhan. Untung ada orang yang menolong kami,”


jawab Via masih dengan terbata-bata.


“Bawa ke ruang


belakang! Pastikan dia tidak lolos! Nanti akan saya beri instruksi selanjutnya!


Pakai brankar saja biar tidak mengundang perhatian banyak orang!” perintah


dokter Haris tegas.


Wanita berpakaian


krem yang datang bersama satpam segera menghubungi kantor perawat meminta


brankar. Tidak lebih dari 5 menit, dua perawat datang mendorong brankar. Dengan


dibantu satpam, perawat itu mengangkat tubuh lelaki yang pingsan ke atas


brankar lalu membawanya pergi diiringi dua satpam.


“Sekarang,


duduklah! Tenangkan dirimu dulu!” Pak Haris membimbing Via duduk di sofa.


Wanita yang berseragam krem menyodorkan gelas yang baru ia isi dengan air


putih. Via meminumnya sebanyak tiga teguk.


“Bagaimana, sudah


merasa tenang?” tanya dokter Haris.


Via mengangguk.


Ia mengambil nafas panjang.


“Sekarang, coba


kamu ceritakan peristiwa yang baru terjadi!” pinta dokter Haris lembut.


masih agak bergetar, Via menceritakan kronologi peristiwa yang baru terjadi.


Pak Haris dan dua lainnya menyimak dengan saksama.


“Lalu, di mana


jarum suntik itu?” tanya Pak Haris.


“Ini, Dok. Saya yang


mengamankannya,” jawab si wanita berbaju krem sambil mengeluarkan jarum suntik


yang ia bungkus tisu.


Pak Haris


mengambil bungkusan itu. Ia mengamati jarum suntik itu sebentar. Kemudian, ia


meletakkan kembali tanpa menyentuhnya. Ayah kandung Farhan itu mengeluarkan


alat komunikasi cerdasnya.


Sesaat Pak Haris


memainkan jemarinya di layar ponsel. Setelah terhubung, ia tampak berbicara


dengan serius. Sekitar tiga menit, pembicaraan itu berakhir. Pak Haris


menyimpan kembali ponselnya.


“Di mana Azka? Apa dari tadi kamu menjaga


Farhan sendirian? “ tanya Pak Haris yang baru menyadari ketiadaan putra


bungsunya.


“Dek Azka


berpamitan ke ruang sebelah. Tadinya Via menunggu Mas Farhan bersama Bunda.


Tapi, sepertinya Bunda harus ke sekolah setelah menerima telepon,” tutur Via.


“Lalu, dari mana


kalian tahu ada orang asing masuk ke sini sehingga segera datang?” dokter Haris


menatap dua orang pegawainya.


“Saat itu saya


baru melayani seorang pengunjung yang menanyakan ruang rawat inap. Saya


menerima panggilan dari ruangan ini. Saya bertanya tapi tidak ada jawaban. Yang


saya tangkap  justru suara Nyonya Via


yang  terdengar ketakutan. Lalu, saya


mengajak Pak Satpam ke sini,” jawab wanita  berbaju krem.


Pak Haris menoleh


ke Via. Ibu muda itu mengangguk membenarkan penuturan resepsionis itu.

__ADS_1


“Assalamualaikum.


Eh, Ayah sudah datang. Sudah selesai memeriksa pasien, Yah?” ucap Azka yang


baru datang sambil menenteng tas plastik.


“Waalaikumsalam.


Dari mana kamu?” tanya Pak Haris datar.


“Dari mini


market, Yah. Beli camilan,” jawab Azka.


Sebenarnya Azka


hampir mengeluarkan celetukan konyol. Namun, ia segera menelan kembali kalimat


yang hampir terlontar. Ia baru menyadari sikap dingin ayahnya.


“Ada apa ini? Kok


ayah dingin banget? Mbak Via dan dua orang itu kayaknya tegang gitu?” batin


Azka.


“Tolong kau jaga


kakakmu! Jangan keluyuran terus!” perintah dokter Haris sambil menatap tajam


putra bungsunya.


“Kan Azka sudah


bilang kalau ke mini market. Lagian mini marketnya kan di dalam kompleks rumah


sakit. Nggak lama, kok. Nggak sampai setengah jam. Suer!” kata Azka sembari


mengacungkan dua jarinya.


“Ya sudah.


Pokoknya, jangan pergi jauh-jauh kalau nggak penting!” Pak Haris menegaskan


perintahnya.


“Iya, Ayah. Tapi,


sebenarny ada apa? Kok kelihatannya begitu serius?” tanya Azka.


“Seseorang hendak


mencelakai kakakmu. Alhamdulillah, Allah masih melindunginya. Kakakmu tidak


apa-apa,” sahut dokter Haris.


Azka menatap Via.


Ia seperti sedang meneliti kakak iparnya itu.


“Mbak Via juga


tidak apa-apa, kan? Atau ada yang terluka?” tanya Azka khawatir.


Via menggeleng.


Ia menunjuk Farhan, memberi isyarat bahwa Farhan yang diincar orang asing tadi.


“Orang itu hendak


membunuh Mas Farhan?” Azka kembali bertanya.


“Iya. Dia


bermaksud menyuntik kakakmu menggnakan cairan itu.” Pak Haris menjawab


pertanyaan Azka.


“Memangnya itu


caran apa?” tanya Azka penasaran.


“Entahlah. Nanti


akan diuji di lab. Ada kemungkinan potasium klorida. Tapi, ini baru dugaan


Ayah.


Azka terdiam. Ia


begidik ngeri.


“Kalau benar


potasium klorida, berarti orang itu berniat menghabisi nyawa Mas Farhan.”


“Lalu, apa yang


akan Ayah lakukan terhadap orang itu?”


“Sementara, orang


itu telah dia,ankan di ruang belakang. Nanti akan Ayah diskusikan tindakan


selanjutnya. O ya, kalian boleh kembali ke tempat kalian. Terima kasih telah


bekerja dengan baik,” kata Pak Haris dengan menatap dua pegawainya bergantian.


Kedua orang itu


pun undur diri. Mereka keluar setelah berpamitan dengan sopan.


“Ayah akan


menahan orang itu?” Azka kembali bertanya.


“Tentu tidak.


Nantilah, tunggu Nak Edi. Dia cukup paham dunia bawah,” jawab Pak Haris.


Azka mengangguk


paham.


Via terus  mendengarkan penjelasan ayah angkatnya.


Berkali-kali ia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.


***


Bersambung


Terima kasih atas


dukungan Kakak semua. Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada Kakak. Insya

__ADS_1


Allah aku akan mengunjungi balik karya Kakak yang koment. Salam manis untuk


Kakak.


__ADS_2