
“Nyonya! Kalau
Nyonya tidak membuka pintu, saya tidak mau disalahkan jika terjadi sesuatu
terhadap suami Nyonya. Suntikan antibiotik ini penting untuk mencegah infeksi
pada lengan suami Nyonya.”
Akhirnya, Via
membuka pintu dengan gugup. Ia terkejut kala pria yang berpakaian perawat dan
bermasker itu menerobos masuk dengan cepat. Pria itu memegang slang infus yang
terhubung dengan lengan kanan Farhan dan bersiap menyuntikkan cairan yang ada
pada jarum yang ia pegang.
Via merasa aneh.
Cara pria itu akan menyuntik tidak seperti perawat yang biasa ia lihat. Pria
itu membawa jarum suntik di dalam saku. Dia tidak membawa apa pun selain jarum
suntik.
“Tunggu! Kok cara
menyuntiknya seperti itu?” cegah Via.
“Nyonya jangan
menghambat tugas saya! Saya sudah kehilangan banyak waktu menunggu Nyonya
membuka pintu.” Pria itu menatap Via tajam.
Via gemetar
ketakutan. Ia yakin kalau pria itu bukan perawat asli. Namun, ia tidak tahu
bagaimana menghentikan tindakan perawat itu.
“Aaaah...tolong!
Ada...!” Via mendadak berteriak sambil mengibaskan gamisnya.
“Nyonya, tolong
jangan ganggu konsentrasiku!” bentak pria itu geram.
“Ta—tapi itu a—ada
kecoa tadi,” kilah Via sambil begidik.
Pria itu kembali
memberikan tatapan tajam kepada Via. Otak Via pun berpikir keras untuk menemukan
cara mencegah tindakan lelaki asing itu.
Pria itu kembali
memegang tangan Farhan yang ditancapi slang infus dengan tangan kirinya. Tangan
kanan pria itu bersiap menusukkan jarum yang ia pegang.
“Plak!”
“Brugg!”
Lelaki yang
bersiap menyuntik Farhan mendadak tumbang. Jarum suntiknya terlepas.
Via menatap orang
asing yang baru saja datang dan memukul “perawat”. Ia berpakaian serba hitam
dan mengenakan masker hingga Via tidak dapat mengenali wajahnya.
Untuk beberapa
saat, Via terpaku menyaksikan para pria yang ada di depannya. Dua pria tidak sadarkan
diri dan satu pria tegap menundukkan kepalanya.
“Maaf, Nyonya.
Apa Nyonya baik-baik saja?” tanya pria yang baru membuat “perawat” kehilangan
kesadaran.
Via hanya mampu
menganggukkan kepalanya. Ia masih shock dengan peristiwa yang baru saja terjadi
di depan matanya.
Terdengar langkah
kaki yang bergerak cepat menuju ruangan tersebut. Sebelum pemilik langkah
sampai, pria berpakaian serba hitam itu bergerak dengan cepat keluar ruangan.
“Nyonya, Nyo—nyonya
Via bagaimana? Apa yang baru terjadi?” tanya seorang perempuan berusia sekitar
30 tahun dengan gugup.
Via tersentak. Ia
menoleh ke orang yang baru bertanya.
“Aa—apa dia ini
perawat?” Via menunjuk lelaki yang tergeletak di lantai.
Seorang pria
berseragam satpam yang datang bersama wanita itu bergerak sigap membalikkan
tubuh yang tersungkur. Ia mengamati dengan cermat.
“Bukan, dia bukan
perawat. Apa dia akan mencelakai Nyonya atau Tuan Farhan?” tanya satpam dengan
posisi masih berjongkok.
Via mengangguk.
Ia menunjuk jarum suntik yang berada di ranjang dekat lengan Farhan.
“Dia
__ADS_1
hampir...menyuntik Mas Farhan dengan itu,” jelas Via dengan suara terbata-bata.
Dengan hati-hati
wanita yang datang bersama satpam membungkus jarum suntik itu dengan tisu lalu
menyimpannya.
“Bagaimana
kondisi Nyonya Via?”
“Sa—saa nggak
apa-apa. Mas Farhan juga. Lelaki itu belum sampai menyuntik Mas Farhan. Saya cu—cuma
masih agak shock,” sahut Via.
Satpam
mengeluarkan handy talky. Dia berbicara dengan seseorang. Tak lama kemudian,
dua orang yang berpakaian sama datang bersama dokter Haris.
“Via, apa yang
terjadi?” tanya dokter Haris khawatir.
“I—itu, Yah. Ada
orang yang mau menyuntik M—mas Farhan. Untung ada orang yang menolong kami,”
jawab Via masih dengan terbata-bata.
“Bawa ke ruang
belakang! Pastikan dia tidak lolos! Nanti akan saya beri instruksi selanjutnya!
Pakai brankar saja biar tidak mengundang perhatian banyak orang!” perintah
dokter Haris tegas.
Wanita berpakaian
krem yang datang bersama satpam segera menghubungi kantor perawat meminta
brankar. Tidak lebih dari 5 menit, dua perawat datang mendorong brankar. Dengan
dibantu satpam, perawat itu mengangkat tubuh lelaki yang pingsan ke atas
brankar lalu membawanya pergi diiringi dua satpam.
“Sekarang,
duduklah! Tenangkan dirimu dulu!” Pak Haris membimbing Via duduk di sofa.
Wanita yang berseragam krem menyodorkan gelas yang baru ia isi dengan air
putih. Via meminumnya sebanyak tiga teguk.
“Bagaimana, sudah
merasa tenang?” tanya dokter Haris.
Via mengangguk.
Ia mengambil nafas panjang.
“Sekarang, coba
kamu ceritakan peristiwa yang baru terjadi!” pinta dokter Haris lembut.
masih agak bergetar, Via menceritakan kronologi peristiwa yang baru terjadi.
Pak Haris dan dua lainnya menyimak dengan saksama.
“Lalu, di mana
jarum suntik itu?” tanya Pak Haris.
“Ini, Dok. Saya yang
mengamankannya,” jawab si wanita berbaju krem sambil mengeluarkan jarum suntik
yang ia bungkus tisu.
Pak Haris
mengambil bungkusan itu. Ia mengamati jarum suntik itu sebentar. Kemudian, ia
meletakkan kembali tanpa menyentuhnya. Ayah kandung Farhan itu mengeluarkan
alat komunikasi cerdasnya.
Sesaat Pak Haris
memainkan jemarinya di layar ponsel. Setelah terhubung, ia tampak berbicara
dengan serius. Sekitar tiga menit, pembicaraan itu berakhir. Pak Haris
menyimpan kembali ponselnya.
“Di mana Azka? Apa dari tadi kamu menjaga
Farhan sendirian? “ tanya Pak Haris yang baru menyadari ketiadaan putra
bungsunya.
“Dek Azka
berpamitan ke ruang sebelah. Tadinya Via menunggu Mas Farhan bersama Bunda.
Tapi, sepertinya Bunda harus ke sekolah setelah menerima telepon,” tutur Via.
“Lalu, dari mana
kalian tahu ada orang asing masuk ke sini sehingga segera datang?” dokter Haris
menatap dua orang pegawainya.
“Saat itu saya
baru melayani seorang pengunjung yang menanyakan ruang rawat inap. Saya
menerima panggilan dari ruangan ini. Saya bertanya tapi tidak ada jawaban. Yang
saya tangkap justru suara Nyonya Via
yang terdengar ketakutan. Lalu, saya
mengajak Pak Satpam ke sini,” jawab wanita berbaju krem.
Pak Haris menoleh
ke Via. Ibu muda itu mengangguk membenarkan penuturan resepsionis itu.
__ADS_1
“Assalamualaikum.
Eh, Ayah sudah datang. Sudah selesai memeriksa pasien, Yah?” ucap Azka yang
baru datang sambil menenteng tas plastik.
“Waalaikumsalam.
Dari mana kamu?” tanya Pak Haris datar.
“Dari mini
market, Yah. Beli camilan,” jawab Azka.
Sebenarnya Azka
hampir mengeluarkan celetukan konyol. Namun, ia segera menelan kembali kalimat
yang hampir terlontar. Ia baru menyadari sikap dingin ayahnya.
“Ada apa ini? Kok
ayah dingin banget? Mbak Via dan dua orang itu kayaknya tegang gitu?” batin
Azka.
“Tolong kau jaga
kakakmu! Jangan keluyuran terus!” perintah dokter Haris sambil menatap tajam
putra bungsunya.
“Kan Azka sudah
bilang kalau ke mini market. Lagian mini marketnya kan di dalam kompleks rumah
sakit. Nggak lama, kok. Nggak sampai setengah jam. Suer!” kata Azka sembari
mengacungkan dua jarinya.
“Ya sudah.
Pokoknya, jangan pergi jauh-jauh kalau nggak penting!” Pak Haris menegaskan
perintahnya.
“Iya, Ayah. Tapi,
sebenarny ada apa? Kok kelihatannya begitu serius?” tanya Azka.
“Seseorang hendak
mencelakai kakakmu. Alhamdulillah, Allah masih melindunginya. Kakakmu tidak
apa-apa,” sahut dokter Haris.
Azka menatap Via.
Ia seperti sedang meneliti kakak iparnya itu.
“Mbak Via juga
tidak apa-apa, kan? Atau ada yang terluka?” tanya Azka khawatir.
Via menggeleng.
Ia menunjuk Farhan, memberi isyarat bahwa Farhan yang diincar orang asing tadi.
“Orang itu hendak
membunuh Mas Farhan?” Azka kembali bertanya.
“Iya. Dia
bermaksud menyuntik kakakmu menggnakan cairan itu.” Pak Haris menjawab
pertanyaan Azka.
“Memangnya itu
caran apa?” tanya Azka penasaran.
“Entahlah. Nanti
akan diuji di lab. Ada kemungkinan potasium klorida. Tapi, ini baru dugaan
Ayah.
Azka terdiam. Ia
begidik ngeri.
“Kalau benar
potasium klorida, berarti orang itu berniat menghabisi nyawa Mas Farhan.”
“Lalu, apa yang
akan Ayah lakukan terhadap orang itu?”
“Sementara, orang
itu telah dia,ankan di ruang belakang. Nanti akan Ayah diskusikan tindakan
selanjutnya. O ya, kalian boleh kembali ke tempat kalian. Terima kasih telah
bekerja dengan baik,” kata Pak Haris dengan menatap dua pegawainya bergantian.
Kedua orang itu
pun undur diri. Mereka keluar setelah berpamitan dengan sopan.
“Ayah akan
menahan orang itu?” Azka kembali bertanya.
“Tentu tidak.
Nantilah, tunggu Nak Edi. Dia cukup paham dunia bawah,” jawab Pak Haris.
Azka mengangguk
paham.
Via terus mendengarkan penjelasan ayah angkatnya.
Berkali-kali ia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.
***
Bersambung
Terima kasih atas
dukungan Kakak semua. Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada Kakak. Insya
__ADS_1
Allah aku akan mengunjungi balik karya Kakak yang koment. Salam manis untuk
Kakak.