SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Prosesi Pemakaman


__ADS_3

Mendung tampak menggelayut. Matahari pun memilih bersembunyi di baliknya. Cuaca seakan menyelaraskan dengan suasana di rumah Via.


Sebagian tetangga telah berdatangan. Tenda pun sudah dipasang di halaman sejak pagi. Kursi-kursi telah berjajar di bawah tenda.


Di dalam rumah, keluarga Via telah berkumpul. Kakek Via, Pak Adi Wijaya, pun telah datang. Mereka Datang begitu mendengar berita meninggalnya Farhan.


Via masih di kamarnya ditemani Ratna dan Bu Aisyah. Mereka menghibur bumil muda yang tengah berduka. Sejak malam, air mata Via terus mengalir. Ia tidak menangis. Namun, ia merintih dalam diamnya. Hatinya pedih teriris-iris.


Bu Aisyah sendiri tentu merasakan duka yang mendalam. Ibu mana yang tidak sedih ditinggalkan putra tercinta dengan cara tragis. Begitu mendengar kabar kepastian Farhan meninggal, ia sempat pingsan. Pak Harislah yang menguatkan istrinya.


“Bunda, Ayah tahu Bunda sangat terpukul dengan kabar ini. Namun, ingatlah bahwa semua makhluk pasti akan mati, semua akan kembali kepada-Nya. Anak hanya titipan. Kita hanya mendapat amanah. Allah pemilik mereka. Maka, ketika Allah memanggil anak-anak kita, saudara kita, pasangan kita, kita tidak bisa menolak. Itu hak Allah,” kata Pak Haris panjang lebar.


“Bunda—Bunda shock dengan kepergian Farhan. Rasanya tidak mungkin dia pergi secepat ini. Dia masih muda, dia sedang menantikan moment menjadi ayah. Kasihan Via. Mengapa cobaan datang bertubi-tubi? Dia menjadi yatim piatu belum ada lima tahun. Dia baru saja mendapat kebahagiaan bersama Farhan,” ratap Bu Aisyah.


“Bunda, kita kan tidak tahu berapa lama kontrak hidup kita di dunia. Kita juga tidak tahu dengan cara apa Allah memanggil kita. Ujian Via memang berat. Namun, bukankah Allah tidak akan menguji seseorang di luar kemampuannya? Ujian hidup berat Via menunjukkan kalau dia memiliki tingkatan yang tinggi.”


Bu Aisyah meresapi kata-kata suaminya. Berkali-kali ia mengusap air mata yang terus saja meluncur begitu saja menelusuri pipinya.


“Bunda, saat ini Via sedang mengandung. Kondisi psikologisnya kan labil. Bunda harus bisa menguatkan anak itu. Bunda harus tegar di hadapan Via. Kalau mau menangis, menangislah sekarang sepuas hati. Namun, jangan tampakkan kerapuhan hati Bunda di depan Via,” tutur Pak Haris lembut.


Bu Aisyah menghambur ke pelukan suaminya. Ia menangis tersedu-sedu hingga membasahi kemeja Pak Haris. Pria setengah baya itu membelai kepala istrinya yang tertutup jilbab.


Seperempat jam berlalu, Bu Aisyah sudah mulai tenang. Ia tidak lagi menangis. Hanya isaknya yang sesekali terdengar. Ia sudah mulai bisa menata hati, berdamai dengan takdir.


“Bagaimana, sudah baikan?”


“Sedikit. Setidaknya, dadaku tidak lagi sesak.” kata Bu Aisyah sambil terus mengelap wajahnya.


“Tidak hanya kita yang kehilangan. Sahabat baik Via juga. Banyak yang merasa kehilanagan Farhan. Semoga Farhan tenang di sana, mendapat ampunan dari Allah hingga lapang kuburnya, dijauhkn dari siksa kubur dan api neraka,” kata Pak Haris.


“Aamin,” bisik Bu Aisyah. Ia sudah mulai bisa menguasai diri.


Setelah tenang, Bu Aisyah mendampingi Via terus-menerus. Ia hampir setiap saat di dekat Via yang tengah terpuruk.


Sejak tersadar dari pingsan, bumil muda itu hanya diam. Ia hampir tidak tidur. Matanya bengkak da nada lingkaran hitam di sana.


Ketika perjalanan mentari hampir sampai puncak, terdengar sirine ambulans meraung-raung memasuki pelataran rumah Via. Orang-orang sudah berdiri menantikankedatangan mobil jenazah begitu suaranya terdengar. Beberapa mobil mengikuti di belakang mobil jenazah tersebut.

__ADS_1


Tangis para wanita pecah tatkala peti dibawa memasuki rumah. Via menjerit histeris.


“Hubbiy, kenapa Hubbiy tega meninggalkan Via? Apa Hubbiy tidak ingin melihat anak kita lahir? Apa yang harus Via katakana kalau ia menanyakan ayahnya?” ratap Via menyayat hati.


Sesaat kemudian, Via terkulai lemas. Ununglah, Ratna dengan sigap menangkap tubuh sahabatnya. Dengan dibantu orang-orang di sekitarnya, ia membawa Via ke kamar terdekat.


Sementara tangis Bu Aisyah kembali pecah saat bertemu putra keduanya. Azka yang masih tampak pucat memaksa ikut mengawal jenazah sang kakak bersama keluarga Pak Candra.


“Maafkan Azka, Bunda. Andai Mas Farhan tidak ke menengok Azka, mungkin ini tidak terjadi,” keluh Azka.


Pak Haris mendekati keduanya. Ia menepuk punggung Azka seraya berkata, Nggak boleh seperti itu, Ka. Semua sudah diatur Yang Mahakuasa. Kamu duduklah dulu. Kamu kan baru sakit.”


Azka membimbing bundanya duduk di kursi dekat peti jenazah. Mata Bu Aisyah tampak nanar menatap peti itu.


“Bolehkah melihat putraku untuk terakhir kalinya?” pinta Bu Aisyah dengan suara parau.


Pak Haris mengangguk,”Iya. Tapi, tunggulah Via! Kita buka peti bersama-sama nanti. Bunda sabar, ya! Tenangkan hati Bunda dulu! Di mana Via?”


“Tadi pingsan lalu dibawa ke kamar,” jawab Bu Aisyah lirih.


“Kasihan anak itu. Kita harus bisa setenang mungkin saat bersamanya agar tidak membuatnya semakin terpuruk. Bagaimana pun yang namanya sedang hamil, emosinya cenderrung labil,” gumam Pak Haris.


“Sebentar lagi masuk waktu zuhur. Nanti setelah zuhur kita laksanakan upacara pemberangkatan jenazah,” jawab Pak Haris.


Pembicaraan mereka terhenti. Tampak Via dengan dipapah Ratna mendekati peti jenazah. Ia tidak lagi menangis.


“Bolehkah Via melihat Mas Farhan?” tanya Via memelas.


Pak Haris, Bu Aisyah, dan Azka bangkit dari duduknya lalu mendekat. Pak Haris memberi kode kepada seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari mereka.


“Mas minta tolong ajak Eyang Probo ke sini!” kata Pak Haris pelan.


Lelaki itu mengangguk. Tak lama kemudian, ia datang bersama Eyang Probo. Kakek itu memeluk Azka begitu melihat cucu keduanya.


“Ayo, kita bukapeti untuk melihat Farhan terakhir kalinya,” ajak Pak Haris.


Perlahan tutup peti dibuka. Tampak sesosok tubuh yang sudah terbujur kaku terbaring di dalamnya. Wajahnya tidak dapat dikenali karena hangus.

__ADS_1


Bu Aisyah melingkarkan tangannya ke bahu Via. Mereka sama-sama melihat jenazah dalam peti itu dengan perasaan berkecamuk. Tidak ada kata-kata yang terucap dari mulut mereka.


Pak Haris kembali menutup peti jenazah perlahan. Mereka kembali duduk di kursi dekat peti.


“Sudah masuk waktu zuhur. Kita salat lalu bersiap-siap untuk pemakaman jenazah,” ucap Pak Haris.


“Bolehkah nanti Via ikut ke makam?” tanya Via lirih.


“Kamu yakin kalau kamu kuat? Ingat, di makam tidak boleh meratapi jenazah,” jawab Pak Haris.


“Insya Allah Via kuat,” jawab Via mantap.


Usai salat zuhur, mereka ganti menyalati jenazah. Karena banyaknya orang yang ingin menyalati jenazah, salat dilaksanakan beberapa gelombang.


Pukul 13.00 jenazah diberangkatkan ke pemakaman. Puluhan bahkan mungkin ratusan orang berjalan mengiringi. Via berjalan didampingi Ratna dan Bu Aisyah.


Saat iring-iringan pengantar jenazah memasuki gerbang makam, awan tak kuasa menahan air hujan. Titik-titik gerimis berjatuhan. Prosesi pemakaman tetap dilanjutkan karena tidak deras.


Ini adalah kali ketiga bagi Via datang ke pemakaman untuk mengantarkan orang yang ia sayang ke peristirahatan terakhir. Tentu saja berbagai macam perasaan berkecamuk di hatinya.


Via berusaha menguatkan hati saat peti jenazah dimasukkan liang lahat. Tak lama kemudian, peti itu sudah tertutup tanah yang mulai basah. Bunga pun ditaburkan di atas gundukan tanah merah itu.


Usai doa untuk almarhum dipanjatkan, pelayatpun berangsur meninggalkan area pemakaman. Hanya keluarga yang masih di sana.


Via bersimpuh di depan makam. Tangannya memegang kayu bertuliskan Farhan Alfarizi.


“Hubbiy, Via janji akan menjaga anak kita baik-baik insya Allah. Semoga ia bisa seperti ayahnya yang saleh,” bisik Via.


“”Semoga kau tenang di sana, Nak. Bunda hanya bisa mendoakan kamu,” ucap Bu Aisyah lirih.


Rintik gerimis bertambah deras. Pakaian mereka pun mulai basah. Namun, tak berapa lama tubuh Via telah terlindung dari air hujan. Sebuah payung terbuka melindunginya dari tetesan air yang terus berjatuhan. Si pemegang payung dengan sabar menunggu Via bangkit. Ia tidak memedulikan tubuh kekarnya mulai basah.


***


Siapa yang memegang payung?


Temukan jawabannya di episode selanjutnya.

__ADS_1


Readers pada minta Farhan jangan meninggal. Kalau sandaran Via beralih, gimana?


__ADS_2