
Birunya langit di ufuk barat mulai memudar. Semburat merah kekuningan mulai menggantikan biru yang cerah. Teriknya mentari pun tak terasa lagi.
Rumah Via agak ramai. Beberapa orang berkumpul di kediaman Via. Pak Haris, Bu Aisyah, Eyang Probo, Pak Kuncoro, juga Pak Arman berkumpul menantikan kabar tentang Farhan. Eyang Probo yang baru keluar dari rumah sakit memaksakan diri hadir demi dapat segera mengetahui kabar tentang cucu pertama yang amat disayangi.
Mereka duduk di ruang tengah yang cukup luas. Hidangan yang disajikan Bu Inah masih utuh belum tersentuh. Mereka tengah diliputi ketegangan.
Via menyandarkan kepalanya ke bahu bundanya. Air mata berkali-kali meluncur menghiasi wajahnya yang kepucatan. Bu Aisyah terus-menerus menenangkan menantunya dengan memeluk dan mengusap kepala Via.
“Bagaimana kabar terakhir, Ed?” tanya Eyang Probo dengan wajah gelisah.
“Pak Candra turun tangan langsung. Beliau sekarang di lokasi kecelakaan mobil untuk memastikan Mas Farhan menjadi korban atau tidak,” jawab Edi.
“Kondisi mobil bagaimana?” Pak Haris ganti yang bertanya.
“Ringsek dan hangus terbakar. Kemungkinan mengalami benturan keras karena menabrak sesuatu, terguling ke parit yang dalam, dan terbakar. “
Orang-orang yang ada di ruangan itu semakin tegang mendengar penjelasan Edi. Dugaan buruk akan nasib Farhan terbayang di benak mereka.
“Lalu, adakah orang di dalamnya?” Pak Arman menyambung pembicaraan.
“Masih proses pendinginan bangkai mobil. Mereka belum bisa mengetahui.”
Mereka terdiam saat terdengar nada dering panggilan dari ponsel Edi. Semua memperhatikan Edi. zDialah sumber informasi saat ini karena setiap ada perkembangan, anak buah Pak Candra menghubungi Edi. Pak Candra pun demikian. Ia tidak berani menghubungi Via karena khawatir Via shock.
“Bagaimana perkembangan terakhir?” Edi bertanya tanpa basa-basi.
….
“Coba tunjukkan kepadaku!” Edi memberi perintah. “Sepertinya benar. Apa tidak ada yang membawa power bank?”
….
“Segera sambungkan, lalu hidupkan! Aku tunggu kabar selanjutnya!” Edi menutup pembicaraan dengan gaya dingin.
Semua orang menatap Edi. Mereka seperti satu tujuan, meminta penjelasan Edi.
Edi yang paham kemauan semua orang pun angkat bicara, “ Ditemukan sebuah HP. Tadi ditunjukkan kepada saya. Dari ciri-cirinya, HP itu memang milik Mas Farhan.
Via terkesiap. Dadanya berdenyut nyeri.
“Apa HP itu dalam kondisi mati?” Pak Kuncoro bertanya.
“Iya, Pak. Sepertinya karena kehabisan daya. Kebetulan ada yang membawa power bank. Kita akan mengetahui beberapa saat nanti.”
Orang-orang terdiam. Mereka begitu tegang menanti kabar. Masing-masing tenggelam dalam lamunan.
Saat terdengar ponsel Edi berbunyi, pandangan mereka tertuju ke Edi. Tatapan penuh harap tampak jelas di mata mereka.
"Sudah dapat dinyalakan?" tanya Edi.
....
"Tunjukkan padaku!"
....
"Berapa orang? Bagaimana kondisinya?"
....
__ADS_1
"Ok. Terima kasih." Edi mengucapkan kalimat terakhir dengan suara lemah tak bersemangat.
"Bagaimana? Ada perkembangan?" Eyang Probo tak sabar.
Edi mengangguk lesu. Ia menyugar rambutnya dengan kasar.
"Iya, Tuan. HP itu milik Mas Farhan meski tidak bisa terbuka. Namun, dari ciri-ciri tampilan layarnya, saya yakin itu benar milik Mas Farhan," jawab Edi.
Jantung Via semakin berdetak kencang. Tanpa disadari, tangannya mencengkram erat paha bundanya.
"Ada kabar lain?" tanya Pak Arman.
Edi mengangguk dan menjawab, "Ditemukan sesosok jenazah di bagian kemudi."
"A--apa itu Farhan?" tanya Bu Aisyah gemetar.
"Kondisi jenazah tidak dapat dikenali karena gosong terbakar. Saat ini sedang proses evakuasi jenazah," jawab Edi sambil menunduk.
"Tidak... tidak mungkin Mas Farhan. Itu bukan Mas Farhan, kan?" ucap Via sambil menatap Bu Aisyah.
"Kita belum tahu. Kita tunggu saja info dari sana sambil berharap suamimu selamat," ujar Bu Aisyah lembut.
Perempuan setengah baya itu berusaha tetap tenang di depan menantunya. Padahal, dalam hati ia sedang menangis cemas.
"Mas Farhan... Mas Farhan kan sendiri waktu itu. Oh tidak!" Via terkulai pingsan.
Semua orang menoleh ke Via. Calon ibu itu bersandar di sofa dengan mata terpejam.
Dengan sigap Pak Haris membawa Via ke kamar terdekat di lantai 1. Bu Aisyah mengekor dari belakang. Yang lain pun ikut bangkit dari duduknya dan mengikuti ke kamar.
Edi memberi isyarat agar yang lain tetap berada di tempat. Ia tidak ingin Via makin tertekan. Akhirnya, tiga pria dewasa itu kembali duduk.
"Ada apa? Rekaman apa?" tanya Pak Kuncoro.
"Rekaman video call Mbak Via dan Mas Farhan tadi pagi. Saat dalam perjalanan menuju rumah Tuan Candra, Mas Farhan sempat menelepon Mbak Via," jawab Edi.
"Apa hubungannya dengan kecelakaan mobil itu?" Eyang Probo bertanya sambil menatap tajam.
"Saat itu Mas Farhan sedang di bengkel tambal ban karena dua ban mobilnya kempes tertusuk paku. Ia memberi tahu kalau tadinya ia berdua. Tetapi, si sopir pamitan mendahului karena ada kepentingan. Jadi, setelah dari bengkel Mas Farhan mengemudikan sendiri." Edi menyampaikan dengan suara bergetar.
"Kalau itu mobil yang ditemukan di parit benar mobil yang dikemudikan Farhan, berarti jenazah itu anakku? Begitu?" Pak Haris tiba-tiba menyahut dari belakang Edi.
Edi mengangguk lesu. Yang lain pun terdiam.
"Kita salat magrib dulu. Mari kita berdoa agar Farhan selamat," ajak Pak Haris.
Usai salat magrib, mereka kembali ke tempat semula. Ponsel Edi yang berada di meja selalu mereka tatap. Benda itu yang menjadi sumber informasi yang mereka harapkan.
"Via sudah sadar, Bun?" Pak Haris menyempatkan diri untuk menengok Via.
"Sudah. Tadi juga sudah salat meski sambil duduk," jawab Bu Aisyah lirih.
"Bunda tunggui dia. Ayah yang memantau perkembangan."
Bu Aisyah mengangguk. Ia kembali ke tepi ranjang.
Via tetap terbaring lemah. Tatapan matanya kosong.
"Berzikir terus, ya! Semua sudah memiliki garis takdir masing-masing," bisik Bu Aisyah.
__ADS_1
Sementara di ruang tengah para pria duduk gelisah. Kali ini, Pak Nono dan Pak Yudi ikut bergabung.
Hingga azan isya berkumandang, ponsel Edi hanya berbunyi sekali, notifikasi pesan masuk. Itu pun bukan dari Pak Candra maupun anak buahnya.
Malam mulai larut. Jam digital di ponsel menunjukkan pukul 09.15 malam.
"Ayah, sebaiknya istirahat di kamar tamu. Ayah kan baru sembuh," saran Pak Haris.
Kali ini, Eyang Probo menurut. Ia mengingat tidak enaknya dirawat di rumah sakit.
"Segera kabari aku kalau sudah ada kepastian tentang Farhan!" pinta Eyang Probo sebelum masuk kamar.
Pak Haris hanya mengangguk. Ia kembali ke ruang tengah.
Lima belas menit kemudian, ponsel Edi berbunyi. Pria berusia 30-an tahun itu segera menyambar ponselnya.
"Sudah ada kabar soal jenazah dan mobil itu?"
....
"Tuan Candra ada di situ?"
....
"Iya, baik."
Edi menutup pembicaraan setelah berbicara sekitar lima menit.
"Mobil yang kecelakaan itu betul mobil milik Tuan Candra. Dari hasil autopsi jenazah disimpulkan bahwa itu adalah laki-laki dengan tinggi badan sekitar 175 cm, usia sekitar 30 tahun," kata Edi lesu.
Semua orang yang mendengar penjelasan Edi tertunduk. Ciri-ciri jenazah yang Edi sampaikan mirip Farhan.
Tak lama kemudian, ponsel Pak Haris bergetar. Dokter senior itu segera membuka ponselnya. Di layar tertera kalau Pak Candra yang melakukan panggilan. Pak Haris pun menggeser tombol untuk menerima panggilan.
"Assalamualaikum." Pak Haris menyapa terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam. Mohon maaf saya baru menelepon. Apa Edi sudah memberi kabar tentang jenazah yang ditemukan dalam mobil?"
"Sudah. Ciri-cirinya memang mengarah ke Farhan," jawab Pak Haris lesu.
"Tapi kata Azka, Farhan ditemani sopir, namanya Tedi. Usianya sedikit lebih tua dibandingkan Farhan. Seharusnya, kalau itu Farhan, Tedi kan juga ada," tutur Pak Candra.
"Kata Edi, Farhan tadi pagi memberi tahu Via kalau dari bengkel tambal ban, dia sendiri. Sopir yang bersamanya pulang ke rumah karena ada hal penting. Jadi, kemungkinan besar jenazah itu memang Farhan," kata Pak Haris dengan suara parau.
Percakapan terhenti sesaat.
"Saya ikut prihatin. Maafkan saya yang tidak bisa menjaga Farhan dengan baik. Apa akan dilakukan tes DNA untuk memastikan?"
"Saya rasa tidak perlu. Waktu yang dibutuhkan cukup lama. Kasihan almarhum kalau tidak segera dimakamkan."
Suasana berubah hening. Pembicaraan Pak Haris dan Pak Candra pun telah berakhir.
Pak Haris segera ke kamar untuk memberi tahu keluarganya kabar duka itu. Ia berusaha tetap tegar untuk menguatkan hati orang-orang yang ia sayangi.
***
Bersambung
Terima kasih atas dukungan Kakak semua 🙏
__ADS_1
Tetap dukung author ya. Silakan kasih krisan di koment untuk karya recehan ini.