
Aroma masakan tercium dari dapur. Azka yang baru pulang dari masjid bergegas menuju sumber aroma. Sesampai di pintu dapur ia melihat Via tengah menumis sayuran.
"Masak apa, Vi? Baunya menggoda, nih," ucap Azka.
"Cuma tumis kangkung, kok. Siapa yang tergoda?" balas Via.
"Kok cuma. Tumis kangkung pakai udang itu kan yummy. Eits, aku tambah tergoda jadinya. Maghrib masih lama, ya?"
Via melotot ke Azka. Ia gemas dengan tingkah cowok yang masih mengenakan baju koko itu.
"Kayak anak kecil aja," cibir Via.
"Biarin. Salah kamu menggoda pakai aroma masakan."
"Kalau aku nggak masak sekarang, ntar buka makan apa?"
"Hehehe.... Iya, deh. Eh, masak apa lagi? Cumi?"
"Kok tahu?"
"Tuh, ada cumi-cumi," sahut Azka sambil menunjuk cumi-cumi yang akan Via bersihkan.
"Oh, iya. Mau masak cumi saus tiram. Mas Azka suka seafood, kan?"
Azka tersenyum dan mengangguk. Ia mengambil cumi-cumi lalu dibersihkan.
"Udah, biar Via aja. Mas Azka ntar kotor tuh baju kokonya."
"Tinggal mandi lagi, beres. Baju koko tinggal cuci. Ga ada masalah. Udah, sini aku bantuin. Apa yang perlu dikerjakan? Kupas bawang?"
"Emang bisa?" tanya Via tak percaya.
"Eh, jangan salah! Aku ni asisten Chef Aisyah lo."
"Siapa Chef Aisyah?"
"Istrinya dokter Haris," jawab Azka cuek.
"Ya elah. Bunda, to?"
Azka cengengesan karena berhasil membuat Via bingung.
"Mas Azka bisa masak juga?" tanya Via.
"Jelas bisa. Masak air? Kecil...." kata Azka sambil menjentikkan jari.
"Huuu...itu sih anak kecil juga bisa. Masak sayur dan lauk?" tantang Via.
"Bisa. Nggak banyak, sih. Kalau cuma goreng tempe, ayam, biasa. Tumis? Gampang."
"O ya? Sambal goreng, rendang, opor, ...."
"Stop! Itu rumit. Aku cuma bisa yang simpel."
Via tertawa. Ia merasa lucu ketika Azka terlihat muram setelah menunjukkan kepedean tingkat tinggi.
__ADS_1
"Bikin sop buah, dong!" pinta Azka.
"Boleh. Coba Mas Azka lihat ada buah apa saja di kulkas."
Azka menurut. Ia membuka pintu kulkas untuk mengecek ketersediaan buah.
"Apel, pir, melon, dan buah naga. Tapi buah naga cuma satu, melon tinggal setengah. Apel dan pir masih lumayan banyak," kata Azka.
"Cukup, kok. Tolong dikeluarkan, Mas."
"Siap, Bu Boss."
Via cuma tertawa kecil. Ia kembali memperhatikan cumi-cuminya dan bersiap memasak cumi saus tiram.
"Sekalian dikupas, ya?" tanya Azka.
"Boleh. Dipotong-potong sekalian lebih bagus."
Azka pun menurut. Ia mulai mengupas buah pir. Sementara itu, Via yang sedang memasak cumi-cumi tidak memperhatikan yang dilakukan Azka. Ia tidak tahu kalau cowok itu tengah mengupas buah-buahan karena maksudnya menyuruh hanya bercanda.
"Sekarang kamu pinter masak ya, Vi? Padahal, waktu kamu baru datang ke sini kan nggak bisa apa-apa. Jangankan masak, beres-beres saja bingung."
Via tertawa kecil. Ia teringat masa-masa ia kursus kilat pekerjaan rumah tangga kepada Ratna.
"Soal masak, ini diajari Chef Aisyah. Berkat kursus gratis dari beliau, aku bisa masak. Kalau soal cuci-mencuci, Ratna yang ngajari," kata Via.
"Sudah pantas jadi ibu rumah tangga," ledek Azka.
Lagi-lagi Via tertawa kecil. Kali ini pipinya bersemu merah.
"Vi, kamu jadi nikah sama Surya, keponakan Om Andi?" tanya Azka.
"Cuma ditanya gitu, kagetnya kayak lihat pocong. Gimana kalo lihat Kunti?" gumam Azka.
Via membalikkan badannya. Ia terkejut lagi melihat Azka tengah mengupas pir.
"Eh, beneran dikupas? Padahal, Via tadi cuman bercanda lo."
"Cuma ngupas gini sih, kecil. Lagian aku yang kepengin sop buah, kok. Eh, pertanyaanku tadi belum dijawab."
"Yang mana?"
"Ah, dasar pelupa! Itu, soal Surya. Kamu jadi nikah sama dia?"
Dahi Via mengerut. Ia merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Azka.
"Jadi nikah? Memang ada rencana menikahkan aku dengan cowok itu?" tanya Via balik.
Azka gelagapan. Ia lupa kalau Via tidak diberi tahu masalah perjodohan.
"Eh, itu. Aku dengar kamu mesti nikah agar bisa menjadi pemegang saham mayoritas milik papamu. Kemarin, tahu-tahu Surya datang. Siapa tahu dia nglamar kamu?" jawab Azka mencoba berkelit.
Via membelalakkan matanya. Sesaat kemudian, ia tertawa geli.
"Bisa-bisanya Mas Azka berpikir begitu. Kan Mas Surya kemarin kebetulan saja ikut omnya. Kita baru saja kenal masa main ngelamar aja?"
__ADS_1
"Siapa tahu? Kan bisa saja Om Andi melamar buat keponakannya."
"Hhmm... tapi enggak, kok."
"Kalau iya, kamu mau nerima lamarannya?"
"Kan enggak. Kalau iya, pasti Bunda cerita."
"Aku kan bilang kalau iya. Mungkin saja minggu depan tahu-tahu orang tuanya ke sini melamarmu."
"Ih, Mas Azka bawel. Seandainya iya, Via nggak maulah."
"Kenapa?" Kurang ganteng?"
Via memajukan bibirnya. Ia membuat ekspresi kesal.
"Apaan, sih? Masa yang diutamakan masalah wajah? Bukan itu."
"Lalu?" kejar Azka.
"Kesan yang Via dapat kemarin kok kurang baik, ya? Dari penampilan saja, Via udah nggak sreg. Mas Azka kan tahu, rambut Mas Surya panjang dan dicat. Yang lebih nggak Via sukai, dia bertatto. Memang, tak selamanya penampilan mencerminkan kepribadian, tapi---pokoknya Via nggak sreg. Obrolannya juga kurang seru. Mungkin karena baru kenal. Yah, intinya Via nggak tertarik. Eh, ini kok jadi ghibah, ya?"
Azka mengangguk-angguk. Seulas senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Kok senyum-senyum?" tanya Via curiga.
"Nggak ada apa-apa, kok. Eh, buahnya segini cukup?" Azka menunjukkan potongan buah untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kebanyakan malah. Nanti Mas Azka harus menghabiskan!"
"Hah? Sendirian? Jangan kejam padaku, Vi! Kamu tega kalau aku sakit perut?"
"Kalau nggak habis kan mubazir, Mas."
"Bantuin, dong!" pinta Azka memelas.
Via mencebik lalu menjawab, "Yang kepingin siapa, yang ngupas siapa?"
"Kan aku nggak tahu seberapa banyak yang dibutuhkan."
"Salah sendiri nggak nanya," sahut Via cepat.
"Tega bener. Kan aku sudah bantu kamu."
Via melirik Azka lalu tertawa begitu melihat muka cowok itu.
"Iya deh. Tapi bantuin beres-beres dapur, ya!"
"Siap, boss!" seru Azka sambil tersenyum lebar.
Mereka pun melanjutkan pekerjaan menyiapkan hidangan buka puasa. Begitu asyiknya, baik Via maupun Azka tidak menyadari ada yang memperhatikan keakraban mereka. Sepasang mata yang menatap dengan tatapan tidak suka.
****
**BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan like, komentar, rate 5! Apalagi vote 😍
Pokoknya author berterima kasih atas dukungan pembaca**. 😘😘