
Sebuah mobil sedan hitam metalik memasuki area kafe. Si pengemudi keluar lalu mengunci pintu mobil. Sejenak ia melayangkan pandangan ke sekeliling area.
Dengan langkahnya yang panjang, sebentar saja cowok itu sudah berada di dalam kafe. Pandangannya di arahkan ke sisi kirinya.
"Selamat siang. Selamat datang di Kafe SS," sapa seorang gadis berpakaian seragam kafe dengan ramah.
"Saya ada janji di meja 17, Mbak," kata cowok itu.
"Oh, mari saya antar."
Cowok itu mengikuti langkah si gadis. Baru beberapa langkah, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya melambaikan tangan.
"Duduk, Han. Kau mau pesan apa?"
"Ayah sudah pesan?"
"Sudah. Sekalian buat bundamu. Tinggal kamu yang belum."
Farhan segera melihat daftar menu dan membuat pesanan.
"Kita hanya berdua, Yah?"
"Bertiga. Bunda sedang otewe. Tunggu sebentar lagi."
"Cuma bertiga? Kok Dek Via dan Azka nggak diajak?"
"Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan dengan kamu. Nah, itu bundamu datang."
Seorang wanita setengah baya berjalan mendekati meja 17. Jilbab yang dikenakan tidak bisa menutupi garis-garis kecantikannya meski usia tak lagi muda. Blouse batik yang dikenakan membuat penampilannya elegan.
"Assalamualaikum. Maaf, terlambat," kata wanita itu.
"Waalaikumsalam. Nggak, kok. Farhan juga baru datang. Makanan belum disajikan. Duduk sini." Pak Haris menarik kursi di sampingnya.
Baru saja Bu Aisyah duduk, dua orang waiters menyajikan hidangan yang mereka pesan.
"Yuk dimakan dulu!" ajak Pak Haris.
Mereka berdoa lalu menikmati menu yang telah tersaji. Karena sudah lapar, mereka makan dengan lahap.
"Sebenarnya ada apa, sih? Apa yang hendak Ayah Bunda bicarakan dengan Farhan?"
Pak Haris meneguk air putih di dekatnya.
"Han, kamu ingat maksud kedatangan Om Andi waktu itu ke rumah kita?"
"Bersama Surya?" tanya Farhan memastikan.
"Bukan, yang sebelumnya. Kamu dan Azka baru pulang dari rumah Eyang Probo, ketemu Om Andi sebentar."
"Oh, yang membicarakan masalah perusahaan almarhum Pak Wirawan? Dek Via harus menikah agar dapat menjadi pemegang saham mayoritas?"
Pak Haris tersenyum dan mengangguk.
"Bukannya Ayah dan Om Andi berencana menikahkan dengan Surya?"
Pak Haris dan Bu Aisyah menggeleng.
__ADS_1
"Baik Via maupun Surya tidak tertarik."
"O ya? Ba..." ucapan Farhan terhenti.
"Ups, hampir saja aku keceplosan mengungkapkan kelegaanku. Hufff.... Bisa gawat kalau ayah dan bunda tahu. Aku pasti bakalan diinterogasi."
"Kamu kenapa, Han?" tanya Bu Aisyah heran.
"Nggak ada apa-apa, kok. Lalu, Dek Via akan tetap menikah dalam waktu dekat atau dibatalkan?"
"Via sudah setuju untuk menikah," jawab Pak Haris.
"Dengan siapa?" tanya Farhan tak sabar.
"Itu dia. Via sendiri belum punya calon. Alhamdulillah, dia tidak mau pacaran. Jadi, dia menyerahkan kepada Bunda."
" Bunda sudah menentukan calon suami buat Dek Via?" tanya Farhan tak semangat.
"Belum," jawab Bu Aisyah sambil menggeleng, "Mungkin kau punya usul, Han? Kau kan punya banyak teman yang berkecimpung di dunia bisnis. Ada nggak yang kira-kira cocok untuk Via?"
"Dek Via punya kriteria tertentu, Bun?"
Bu Aisyah tersenyum lalu menjelaskan, "Kriteria Via standar seorang muslimah. Intinya yang bisa menjadi imam untuk keluarga, yang menyayangi, bertanggung jawab, begitu."
"Kenapa nggak nawari aku saja? Aku insya Allah memenuhi kriteria itu. Tapi, aku kan nggak mungkin menawarkan diriku sendiri," batin Farhan.
"Bagaimana, Han? Kok malah melamun?" tanya Pak Haris.
"Aaa--- Farhan sedang berpikir, Yah, mengingat-ingat teman-teman Farhan," jawab Farhan sedikit gugup.
"Ya sudah bagaimana, Bun? Apa Bunda punya usul? Bunda punya calon?" tanya Farhan lesu.
"Iya, ada."
"Si---siapa, Bun?"
"Kalau anak Bunda saja, bagaimana?" tanya Bu Aisyah dengan lembut.
"Hah? Si---siapa maksud ... Bunda? Azka atau ...."
"Ya kamu, Han. Siapa lagi? PT Wijaya Kusuma tidak hanya butuh investor, tapi juga butuh orang yang handal. Bagaimana? Kamu bersedia?" sahut Pak Haris cepat.
"Tttten---t..." Farhan menahan ucapannya.
"Aduuuh...kok jadi gini? Aku hampir tidak bisa menahan kegembiraan. Aku ingin teriak. Ya Allah, aku seneng banget."
"Farhan, kau kenapa? Kalau kamu keberatan, kami tidak memaksa, kok," ujar Bu Aisyah.
"Enggak, enggak apa-apa, kok. Mmmm... Farhan ... mau," jawab Farhan sambil menunduk, menyembunyikan mukanya yang memerah.
Pak Haris dan Bu Aisyah saling pandang. Mereka tersenyum geli melihat tingkah putra sulung mereka. Pak Haris mengedipkan matanya diikuti anggukan kepala Bu Aisyah.
"Beneran kamu setuju? Kamu tidak terpaksa?" tanya Bu Aisyah.
"Iya, Bun. Farhan ikhlas," jawab Farhan lirih. Kepalanya masih menunduk.
"Tapi kamu kok menunduk terus?" Ganti Pak Haris yang bertanya.
__ADS_1
Farhan mengangkat kepalanya. Namun, ia tidak berani menatap mata kedua orang tuanya.
"Kamu memang menyukai Via, Han?"
"Iii---iya, Bun."
Pak Haris dan Bu Aisyah tertawa mendengar pengakuan Farhan.
"Tapi, ada hal yang perlu Bunda sampaikan yang mungkin perlu kamu pertimbangkan sebelum Bunda bicara dengan Via."
"Maksud Bunda?" tanya Farhan bingung.
"Via sebenarnya belum ingin menikah. Namun, ia juga tidak ingin perusahaan almarhum terpuruk. Ia ingin perusahaan itu kembali bisa bangkit. Di samping untuk mengenang perjuangan papanya, Via juga ingin agar para karyawan di sana bisa sejahtera. Dia tidak punya pilihan lain, harus menikah agar bisa melobi calon investor itu."
Bu Aisyah terdiam sesaat. Ia menatap putra sulungnya yang masih menyimak pembicaraan dengan penuh perhatian.
"Via tidak ingin berhenti kuliah. Dia kan baru semester 3. Ia ingin melanjutkan kuliahnya, minimal lulus S-1. Seandainya kamu jadi menikah dengan Via, apa kamu akan mengizinkan?"
"Kenapa Bunda menanyakan hal itu? Bukankah masalah kuliah Dek Via menjadi tanggung jawab Bunda juga Ayah?"
"Kalau Via menikah denganmu, kamu yang lebih berhak atas Via. Kami tidak keberatan membiayai kuliah Via asal kamu mengizinkan. Ingat, seorang istri menjadi tanggungan suami," sahut Pak Haris.
"Insya Allah Farhan tidak keberatan kalau Dek Via akan melanjutkan kuliah," kata Farhan mantap.
"Masih ada lagi yang perlu kamu pertimbangkan," sambung Bu Aisyah.
Farhan terhenyak. Jantungnya terasa berdetak kencang lagi.
"Apa lagi, Bun?"
"Masalah hubungan suami istri."
Farhan menatap bundanya bingung.
"Seorang istri wajib mematuhi semua perintah suami asal tidak bertentangan dengan syariat. Ada hal yang masih mengganjal di hati Via saat ini, yang membuat dia agak ragu untuk menikah. Makanya, dia harus tahu sikap calon suaminya."
"Farhan tidak mengerti yang Bunda maksud."
"Via masih sangat muda. Usianya belum genap 20 tahun. Ia masih takut menjalani kehidupan berumah tangga berdua dengan suaminya. Ia masih ingin bergaul dengan teman-temannya. Apakah kamu tidak keberatan?"
Farhan tersenyum dan menarik nafas lega.
"Masalah itu? Tentu saja Farhan nggak keberatan. Farhan tahu bagaimana pergaulan Dek Via. Dia bukan gadis yang suka hura-hura. Teman-temannya insya Allah juga anak-anak yang baik."
"Masih ada lagi, Han," sambung Bu Aisyah.
Farhan terdiam menunggu penjelasan dari bundanya.
****
**Bersambung
Apa lagi yang akan dikatakan oleh Bu Aisyah? Apa Farhan bisa menerima? Kalau Farhan mau, apa Via mau?
Ikuti terus cerita ini, ya!
Terima kasih atas dukungan pembaca tercinta 😘😘😘**
__ADS_1