
Dapur minimalis Bu Aisyah yang biasanya sepi, kali ini begitu hangat. Usai salat subuh, empat wanita berkutat menyiapkan menu sarapan.Tiga orang yang berusia tak jauh berbeda mengikuti komando sang senior sekaligus pemilik dapur.
Karena dikerjakan bersama dengan riang gembira, jam 5.30 hidangan pun telah siap. Bu Aisyah menyuruh ketiganya segera mandi dan bersiap sarapan.
Saat keluar kamar, Meli mengernyitkan kenik melihat Azka menyeret koper berwarna merah dan kardus yang sudah terikat rapi.
“Mas Azka mau ke mana?” tanya Meli yang tak kuasa menahan keponya.
“Lempuyangan,” jawab Azka singkat.
“Ngapain?” Meli bertanya lagi.
“Anterin kamulah. Masa jualan. Memang aku pedagang asongan?” Nada Azka sedikit ketus.
“Oh, Meli kira mau jadi kuli panggul di stasiun.” Meli tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya.
“Boleh juga. Sini, kamu aku panggul!” Azka mendekati Meli seraya membentangkan tangannya.
Meli mundur ketakutan. Ia mengira Azka sungguh-sungguh akan mengangkat tubuhnya.
“Aww! Kamu apa-apaan, sih? Kok pakai jalan mundur sampai nabrak aku!” teriak Ratna kesakitan.
“Maaf, maafkan aku. Itu, Mas Azka ....” kalimat Meli tak dilanjutkan karena melihat Bu Aisyah mendekat.
“Sudah kau siapkan, Ka?” tanya Bu Aisyah.
Azka mengangguk. Ia menunjuk koper dan kardus di dekatnya.
“Tinggal baju Meli yang kumal paling,” ucapnya.
“Ish, sembarangan. Emang itu koper siapa?” tanya Meli.
Bu Aisyah tersenyum, lalu berkata lembut, “Oleh-olehmu kan banyak. Tas, baju dan lainnya Azka masukkan ke koper. Bunda yang suruh. Kalau masih muat, tas pakaianmu sekalian dimasukkan biar kamu lebih mudah membawanya. Yang di kardusitu isinya bakpia patok dan yangko. Nanti kamu bagikan untuk keluarga, saudara, juga teman-temanmu.
“Wah, kapan Bunda eh Ibu beli bakpia?” tanya Meli heran.
“Kan Bunda udah bilang punya kenalan pedagang makanan khas Jogja. O ya, kau boleh penggil bunda seperti Azka dan Via, kok. Ratna juga. Seneng rasanya punya banyak anak kalau lagi kumpul begini. Tapi, sebentar lagi kesepian, deh,” keluh Bu Aisyah.
“Udah, kita sarapan, yuk! Ntar telat, lo!” ucap Azka.
Mereka berempat menuju meja makan. Di saat bersamaan, Via berjalan bersama Farhan sambil menggendong Zan. Di depan mereka, Pak Haris melangkah mantap menuruni tangga.
Sarapan pagi itu terasa hangat karena banyak orang berkumpul di ruang makan. Usai sarapan, Azka menyuruh Meli membereskan barang-barangnya, mengemasnya dalam koper yang ia siapkan.
Setelah semua beres, Meli berpamitan. Suasana pun berubah menjadi penuh keharuan. Tidak hanya berjabat tangan, Meli memeluk Via dan Bu Aisyah begitu erat.
“Kalau memang betah di sini, kuliahmu pindah saja ke sini. UGM, UNY, jelas bukan perguruan tinggi sembarangan,” celetuk Azka.
Meli melepaskan pelukannya. Ia menatap Azka dengan muka cemberut. Azka memasang wajah datarnya.
“Ya sudah, berangkatlah! Hati-hati, ya! Salam buat kedua orang tuamu,” ucap Bu Aisyah lembut.
“Kalau libur panjang, main lagi ke Jogja, ya! Ajak Anjani biar seru. O ya, kalau mau belajar jadi reseller, tinggal hubungi Ratna. Okey?” Via menambahkan.
__ADS_1
Meli mengangguk. Ia menyusut air mata yang menggenang di kelopak.
:Azka, antar Meli! Pastikan dia duduk sesuai nomor kursinya. Barang-barangnya juga kau atur, jangan sampai ada yang tertinggal!” perintah Pak Haris.
“Meli berangkat sekarang, ya. Maafin salah Meli. Assalamualaikum
Kedua pasang suami istri menjawab salam Meli serempak. Langkah Meli terayun gontai seperti tak bertenaga.
Meli bersama Ratna masuk mobil. Setelah mereka berdua duduk di jok belakang, Azka masuk, duduk di belakang kemudi. Mobil melaju perlahan membelah lalu lintas Kota Jogjakarta.
Usai memarkir mobilnya, Azka mengeluarkan koper dan kardus dari bagasi. Ia mengikuti langkah kedua gadi itu.
Meli melanjutkan obrolannya dengan Ratna tentang olshop. Gadis itu begitu tertarik dengan olshop. Sementar Azka hanya diam sambil memainkan game.
Untunglah, kereta api datang sesuai jadwal, Azka mengangkat koper dan kardus. Azka memastikan Meli sudah duduk nyama. Ia pun berpamitan.
“Hati-hati sama barang bawaanmu! Kalau mau ilang, lambaikan bendera putih, ya!” pesan Azka terengar aneh.
“Ish, memang lagi ngapain pakai melambaikan bendera putih? Perang-perangan?” cibir Meli.
“Terserahlah. Kasih kabar kalau sudah sampai. O iya, biar nggak kasus lagi. Nih,” kata Azka seraya menyodorkan kotak kecil sebesar telapak tangan.
“Apaan ini?” tanya Meli sambil menerima benda dari Azka.
“Power bank, Mel. Kau tak perlu bingung kalau HP kamu lowbatt.”
“Oh, terima kasih, Mas,” ucap Meli tulus. Ia menyimpan power bank dari Azka ke sling bagnya.
“Hati-hati, ya. Assalamualaikum.” Azka buru-buru turun karena sudah ada peringatan bahwa kereta akan berangkat.
Roda-roda kereta mulai berputar perlahan. Putarannya semakin cepat, menggilas rel. Sekejap, kereta hampir tak terlihat. Azka masih berdiri terpaku. Ia masih menatap kereta yang membawa Meli semakin menjauh.
“Hati Mas Azka terbawa ke Jember, nih?” ledek Ratna.
“Ish, apaan kamu? Kalau terbawa Meli, aku mati dong,” sahut Azka sambil melangkah menuju tempat parkir.
Ratna bergegas mengikuti langkah Azka. Ia khawatir cowok yang suka usil itu meninggalkannya di stasiun.
*
Waktu akan dirasa berlalu begitu cepat jika tak tengah menanti. Sebaliknya, seseorang merasakan waktu bergerak lamban saat menantikan sesuatu atau seseorang. Padahal, sang waktu melaju tetap, sehari 24 jam, seminggu 7 hari.
Via dan Farhan menikmati berjalannya waktu dengan mengamati pertumbuhan dan perkembangan Baby Zayn. Bayi yang dulu begitu kecil dan lemah, kini tumbuh sehat. Ia tak beda jauh dengan bayi seusianya yang terlahir cukup bulan.
Zayn sudah bisa tengkurap, bahkan berguling. Suaranya lucu menggemaskan. Pipinya mulai chubby.
__ADS_1
Via pun sudah bisa beraktivitas di kantor meski belum penuh. Ia sering memimpin rapat dengan direksi, atau bertemu klien penting. Jika masih bisa dikerjakan di rumah, ia lebih banyak mengerjakannya di rumah.
Farhan pun demikian. Ia sudah kembali menggantikan Eyang Probo. Apalagi tangan kirinya sudah pulih dari cidera. Hanya, dia belum diizinkan mengemudikan mobil sendiri. Dokter masih mengkhawatirkan kondisi kepala Farhan.
Siang itu, mereka mendapat kabar bahagia. Sepupu Via, Ardi, telah lulus S-1. Keluarga Pak Candra bermaksud mengadakan tasyakuran. Pak Candra meminta Farhan dan Via datang.
Ternyata, tidak hanya Via dan Farhan. Keluarga besar Farhan pun diundang. Jadilah mereka bersama-sama berangkat ke Medan.
“Hubbiy, masih ingat rencana Hubbiy untuk Agus?” tanya Via saat menyaipkan keperluan Baby Zayn.
“Astaghfirullahaladziim, hampir lupa. Terima kasih, Sayang. Istriku memang bisa diandalkan. Aku minta Mas Edi untuk menyiapkan. O ya, Cinta punya kontak Doni, kan? Bisa hubungi dia untuk minta alamat Agus di Medan?” ucap Farhan.
“Bukankah Hubbiy pernah tinggal di sana? Buat apa tanya ke Dony?” Via menatap Farhan bingung.
“Kau lupa, daya ingatku belum stabil? Waktu itu kepalaku juga sering sakit,” jawab Farhan.
“Hubbiy nggak cemburu, nih? Bukannya Hubbiy biasanya cemburu kalau menyangkut Doni?” tanya Via lagi.
Farhan tertawa. Ia teringat hal konyol yang ia lakukan terdorong cemburu kepada Doni.
“Semenjak aku bertemu Doni di rumah Agus, aku jadi mengenal karakter Doni. Dia cowok yang baik, kata Farhan.
“Baiklah, Via kirim pesan ke Doni untuk meminta alamat Agus.”
Via mengambil gawainya. Jemarinya dengan lincah menari di atas layar sentuh. Tak sampai semenit, ia kembali meletakkan benda cerdas itu. Via kembali menyiapkan keperluan bayinya.
Selesai mempersiapkan keperluan baby Zayn, Via mengecek ponselnya. Senyum tipis tersungging di bibir cantiknya. Ia menyerahkan gawai itu kepada Farhan.
“Itu alamat Agus. Kita kapan ke sana?”
“Setelah acara di rumah Om Candra selesai. Semoga semua berjalan lancar. Cinta sudah selesai packing keperluan Dedek?” Farhan balik bertanya.
“Sudah, semua sudah siap,” jawab Via mantap.
“Popok jangan sampai lupa! Nanti nyuruh Dek Azka malam-malam untuk beli popok.”
Via tertawa kecil mengingat peristiwa saat resepsi pernikahan Edi dan Mira.
“Tapi ada berkah di balik itu, lo. Dia jadi hero untuk Meli,” sahut Via.
“Iya juga. Eh, apa mereka cocok kalau dijodohkan, ya?” gumam Farhan.
“Kayaknya ngga k usah, deh,” kata Via.
“Memang kenapa?” Farhan menautkan alisnya.
“Biarkan berjalan alami. Via rasa sudah ada magnet dengan kutub berbeda di antar mereka. Seiring waktu, daya magnetnya akan semakin besar. Kita tunggu saja. Mereka belum selesai kuliah,” jawab Via.
Fahan mengangguk setuju. Ia segera bangkit dari duduknya menuju kamar Zayn begitu terdengar suara tangis si bayi.
***
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa klik like dan koment ya! Terima kasih.