
Via fokus menatap layar monitor laptop-nya. Sesekali tangan kanannya membuat tanda di buku yang ada di samping laptop. Setelah setengah jam, ia baru berhenti. Ia menoleh ke Ratna.
"Masya Allah, ni anak malah molor. Kirain lagi ngecek orderan. Hufff... dasar Putri Tidur," gerutu Via begitu melihat Ratna tertidur dalam posisi duduk di lantai. Sementara kepala Ratna bersandar di tempat tidur.
"Ratna, bangun! Kirain lagi ngrekap order. Ternyata malah tidur. Udah selesai belum? Rat, Ratna!."
Via menepuk bahu Ratna. Namun, gadis itu tetap diam. Via menguncang-guncang tubuh Ratna dengan sedikit keras. Ternyata, gadis itu tidak bereaksi sama sekali.
"Kebakaran... kebakaran!" teriak Via ke telinga Ratna.
Ratna meloncat kaget. Begitu cepatnya, ia sampai menubruk Via yang ada di dekatnya. Via terjerembab.
"Telpon Damkar, Vi! Cepattt! Viaaa! Ya Allah, ke mana Via? Kamu nggak kebakar, kan? Viaaa!!!" Ratna mulai panik.
"Hemmm, singkirkan kakimu dari perutku. Berat, tahu?!"
Ratna terlonjak lagi. Ia tidak menyadari kalau kaki kanannya menginjak Via.
"Kenapa kamu malah tidur di sini? Ayo, keluar selamatkan diri," kata Ratna sambil menarik tangan Via.
"Haish, apaan sih?" gerutu Via kesal.
"Via, ada kebakaran. Ayo, selamatkan diri kita. Aku nggak mau mati terpanggang. Aku kan belum jadi sarjana."
Via menutup mulutnya menahan tawa melihat kepanikan Ratna.
"Ratna, sadar woi! Nggak ada kebakaran. Kamu tuh tidurnya nggak kira-kira. Dibangunin susah banget."
Ratna celingukan. Hidungnya mengendus mencari bau gosong.
"Udah, ah! Duduk sini!" perintah Via.
"Beneran gak ada kebakaran, Vi? Terus tadi siapa yang bilang ada kebakaran?" tanya Ratna kebingungan.
Via masih menahan tawanya. Ia menarik tangan Ratna lalu mendudukkan ke tempat tidur.
"Kamu tuh dari tadi aku bangunin susah banget. Makanya aku teriak ada kebakaran," kata Via.
"Ih, kamu jahat banget! Kalau aku jantungan, gimana?" sungut Ratna.
"Ganti pakai jantung pisang," sahut Via asal.
"Kamu nggak tahu, betapa kejamnya dirimu. Aku tadi lagi mimpi ketemu cowok ganteng nan tajir. Dia nembak aku. Sebagai cewek, aku malu langsung mengiyakan. Baru mau jawab, eh ada kebakaran," sesal Ratna.
Via tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia terpingkal-pingkal sambil memukul Ratna dengan bantal.
"Udah, ah, aku mau lanjut mimpi. Siapa tahu cowok itu masih nunggu aku," kata Ratna sambil merebahkan diri.
"Eh, Ferguso! Enak aja tidur. Pangeranmu udah pergi dijemput petugas damkar tuh. Tugasmu sudah selesai belum?"
__ADS_1
"Tugas? Tugas apaan? Besok kan Sabtu. Kita libur, Markonah."
"Bukan tugas kuliah. Bukannya kamu tadi ngrekap orderan yang masuk hari ini?"
"Astaghfirullah, belum. Tadi baru sampai 20 tiba-tiba ada suara merdu manggil aku. Terus..."
"Sudah, sudah. Nggak usah dilanjutin cerita cowok dalam mimpimu itu. Kamu kebanyakan ngayal deh. Mending sekarang selesaikan biar besok kita bisa menikmati weekend."
Ratna bangun dari posisi nyamannya. Dengan gerakan lambat ia mengambil buku dan pulpen yang berserakan di lantai.
"Cuci muka dulu biar seger. Ntar sambil merem ngeceknya."
Meski sambil ogah-ogahan, Ratna menuruti yang dikatakan Via. Ia ke kamar mandi untuk cuci muka lalu kembali ke kantor kecil mereka.
"Alhamdulillah, omset penjualan kita naik terus, Rat."
"Omset nggak terlalu penting. Profitnya gimana?" tanya Ratna dengan nada tak acuh.
"Berbanding lurus lah. Jangan khawatir!"
"Vi, kayaknya untuk tren sekarang cenderung kembali ke square scarf deh. Order yang banyak produk jilbab segi empat bahan saten silk."
"O ya? Berarti kita perhatikan perkembangan motif jilbab model itu."
Mereka kembali serius dengan pekerjaan. Tak terasa mereka bekerja sampai hampir tengah malam.
Ritual QL pun rutin ia jalankan. Semenjak setahun yang lalu ia hampir tidak pernah melewatkan. Ia mencontoh kebiasaan keluarga angkatnya.
Begitulah kehidupan yang selalu berputar. Via yang tadinya anak konglomerat, hidupnya bergelimang harta menjadi gadis yatim piatu yang gigih berjuang mencari uang. Via yang tadinya tidak pernah berpikir sulitnya mencari uang, menjadi sosok yang sangat menghargai usaha mendapatkan uang. Via yang jarang sholat, ilmu agamanya minim, menjadi gadis yang taat beragama.
Keesokan harinya, Via pulang ke kediaman dokter Haris. Saat itu keluarga dokter Haris sedang berkumpul.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Eh, Ratna ikut juga. Sini, masuk," jawab Pak Haris melihat kedatangan Via dan Ratna.
"Iya, tadi Via maunya naik bus kota. Padahal, dia belum pernah naik bus kota sendiri. Saya khawatir dia nyasar."
"Masuk, sini. Sudah sarapan?"
"Sudah, Yah. Bunda di mana?"
"Bunda di dapur. Sana, ke dalam."
Via masuk ke dapur. Saat melintas ruang keluarga, Azka dan Farhan tengah menonton televisi.
"Hai anak kost. Apa kabar?" sapa Azka.
"Sehat, Mas. Via ketemu Bunda dulu, ya. O iya, Ratna, kamu nonton tivi bareng Mas Azka dan Mas Farhan aja, ya!"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Ratna, Via melanjutkan langkahnya ke dapur.
"Rat, sini!" Azka melambaikan tangan.
Ratna mengikuti isyarat Azka. Diaduduk di kursi samping Azka.
"Sstt, ini rahasia. Tolong kamu jawab pertanyaanku dengan jujur."
"Ada apa, sih? Kok serius banget?" tanya Ratna sedikit gugup.
"Mumpung nggak ada Via nih. Via pernah nggak curhat sama kamu?"
"Ya sering, Mas."
"Pernah nggak dia cerita alasan dia kost selain karena bisnis kecil-kecilan sama kamu?
Ratna terdiam. Ia ragu-ragu menjawab pertanyaan Azka.
"Ayolah, ini juga demi Via, kok. Aku nggak akan bilang-bilang. Mas Farhan juga, ya! Kalau Mas Farhan nggak bisa tutup mulut, sana menjauh!"
"Iya, aku tutup mulut deh," kata Farhan.
"Emmm...ini ada kaitannya dengan kakeknya Mas Azka."
"Eyang Probo maksud kamu?" Azka menegaskan.
"Iya. Kata Via, Eyang Probo tidak suka Via di sini karena papa Via musuh bisnis Eyang Probo. Menurut Eyang Probo, almarhum Pak Wirawan licik orangnya."
Azka dan Farhan terperangah. Mereka tidak menduga eyang mereka di balik itu.
"Mas, kamu kan dekat sama Eyang. Mas Farhan juga terjun di dunia bisnis. Coba cari info soal ini. Siapa tahu Eyang salah paham," usul Azka.
Farhan mengangguk setuju. Ia pun tidak ingin ada permusuhan di antara keluarganya dan Via. Ia ingin gadis itu kembali tinggal di rumahnya.
"Ada apa nih? Kok kalian bertiga bisik-bisik?" tegur Bu Aisyah.
"Nggak ada apa-apa, kok. Tadi Ratna cerita Via yang baru pertama naik bus kota," jawab Ratna.
"Oh, begitu. Nih, Bunda baru bikin puding coklat. Habiskan!"
Tanpa disuruh kedua kalinya, mereka menyerbu puding yang baru diletakkan di meja. Dalam sekejap puding itu sudah berpindah ke perut.
***
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar untuk author, ya! Biar tetep semangat up terus.
Makasih tetap setia mengikuti kisah ini.🙏
__ADS_1