
Bu Aisyah sudah bersiap ke sekolah. Setelah berpamitan kepada anak-anak, ia keluar diikuti suaminya.
"Berangkat dulu, Yang."
"Hati-hati, Ayang Bunda."
Kemudian, Bu Aisyah mendekati Pak Haris dan berbisik, "Jangan lupa telepon eyang. Eh, apa sebaiknya kita bicarakan di luar?"
Pak Haris tersenyum. Ia balas berbisik ke telinga istrinya, "Ayang terima beres rencanaku nanti. Okey?"
Bu Aisyah mengangguk. Lalu, ia meraih tangan suaminya.
"Assalamualaikum," kata Bu Aisyah sambil mencium tangan Pak Haris.
"Waalaikumsalam."
Pak Haris kembali ke dalam. Ia pun bersiap ke rumah sakit. Biasanya jam 7.15 ia baru berangkat.
"Farhan, kamu hari ini sibuk?" tanya Pak Haris kepada Farhan yang tengah membaca koran.
"Nggak, kok. Kenapa, Yah?" tanya Farhan balik sambil melipat koran.
"Nggak ada apa-apa. Azka, kamu ke kampus?" Pak Haris ganti menanyai anak keduanya.
"Ih, Ayah meledek. Azka ngapain ke kampus? Kan tinggal wisuda."
"Siapa tahu kamu pengin cuci mata," ujar Pak Haris.
"Cuci mata mending di mall," sahut Azka.
"Itu kan kalau cewek. Biasanya cewek suka barang diskonan."
"Ayah kok tahu? Kan Bunda nggak suka belanja, berburu diskonan?" tanya Farhan heran.
"Sebenarnya bundamu tetep suka diskonan. Tapi, bundamu itu bukan perempuan yang suka menghamburkan uang. Dia bisa menahan keinginannya. Itu salah satu yang Ayah suka dari Bunda."
"Salah lainnya apa, Yah?" Azka menggoda ayahnya.
"Kepo! Sudahlah, Ayah mau bersiap-siap," kata Pak Haris sambil berlalu ke kamar.
"Cie...cie...." ledek Farhan dan Azka kompak.
Mereka berdua pun tertawa karena berhasil meledek ayah mereka. Begitulah di keluarga dokter Haris. Meski terkesan orangnya serius, tetapi sebenarnya suka becanda. Memang, Azka yang paling konyol di antara anggota keluarga yang lain.
"Mas, aku rasa memang benar yang dikatakan ayah," kata Azka.
"Maksudmu?"
"Bunda itu tetep kayak perempuan pada umumnya, suka barang bagus dan murah. Yang membedakan, bunda bisa mengerem nafsu belanja. So, bunda nggak terjebak beli barang nggak berguna."
"Terus, kamu pengin punya istri kayak bunda? Yang nggak matre, pengertian, pinter ngatur keuangan? Begitu?" ledek Farhan.
__ADS_1
"Kok Mas Farhan sampai ke situ? Tapi, emang bagus, sih. Coba kalau punya istri boros, hobi shopping, beli barang-barang branded yang kadang nggak penting, apa nggak bikin stress suami, tuh? Eh, Mas Farhan sudah kepengin punya istri, ya?" balas Azka.
Farhan tergelak. Ia merasa lucu saat membahas tentang istri.
"Uh, sampai sekarang juga belum punya calon istri. Kapan, bisa meminta ayah dan bunda melamar seorang gadis, ya? Ah, kok jadi ngelantur begini. Gara-gara anak tengil itu, pikiranku jadi ngaco," batin Farhan.
"Udah, ah. Siap-siap berangkat dulu, takut telat. Ntar bonusku dipotong bos besar." Farhan bangkit dari duduknya.
"Ah, masa eyang setega itu sama cucu kesayangan?"
"Haish, bukan masalah tega, tahu? Professional, Bro."
Farhan meninggalkan adiknya yang masih enggan meninggalkan sofa.
****
Di ruangan pimpinan tertinggi PT Surya Kencana, seorang lelaki yang telah berumur tetapi masih tampak gagah sedang duduk mencermati berkas-berkas di mejanya. Begitu konsentrasi hingga tidak mendengar ponselnya berbunyi.
Nada panggilan telah berhenti. Ponsel milik lelaki itu masih tergeletak di meja. Beberapa detik kemudian, nada panggilan kembali terdengar. Lagi-lagi lelaki itu mengabaikannya.
Setelah diam lebih dari lima menit, kembali ponsel yang tergeletak di meja kembali berdering. Di layar tampak tulisan "anak lanang memanggil". Lelaki itu seperti tersadar lalu segera menggeser gambar telepon berwarna hijau.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Ayah di mana? Ayah sehat?" tanya orang yang menelepon dengan suara khawatir.
"Di kantor. Tentu saja sehat. Memang kenapa?"
"Oh, maaf. Aku sedang mempelajari kontrak. Ada apa, Ris?"
"Haris butuh bicara dengan Farhan, Yah. Bisa tidak Ayah mengizinkannya menemui Haris dan Aisyah di kafe?"
"Lho, Farhan kan anakmu. Kenapa minta izin kepadaku?"
"Begini, Yah, kami akan menawari Farhan menikah dengan Via."
"Via sudah bilang kalau dia siap menikah?"
"Sudah, Yah. Tadi malam ngomongnya dan Via bersedia menikah dalam waktu dekat."
Eyang Probo mengangguk-angguk. Seulas senyum menghiasi bibirnya.
"Bagus, bagus. Ayah senang mendengarnya. O ya, kenapa nggak kalian bicarakan di rumah?"
"Haris khawatir ada yang dengar, terutama Via. Iya kalau Farhan mau. Kalau nggak?"a
Eyang Probo terdiam sejenak. Dalam hati ia mengakui kebijaksanaan anak tunggalnya. Bahkan, ia mengakui kalau Haris lebih tenang dibandingkan dirinya.
"Jam berapa dan di mana kalian akan membicarakan tentang hal ini?"
"Tadinya jam 2. Haris majukan jam 1 saja, ya."
__ADS_1
"Berarti setelah istirahat makan siang. Oke, aku mengizinkan."
"Terima kasih, Yah."
"Nanti cuma kalian bertiga?"
"Iya, Yah."
"Aku boleh ikut?"
"...."
"Tok...tok...tok...."
Eyang Probo terpaksa sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Sebentar, Ris. Ada yang mau ketemu Ayah, nih."
"Ya, sudah, Haris tutup dulu. Terima kasih atas dukungan Ayah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Eyang Probo meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dan berkata, "Masuk!"
Tak lama kemudian, seorang cowok berkaca mata masuk sambil membawa map.
"Eh, ni anak panjang umur. Baru dibicarakan sudah nongol," batin Eyang Probo.
"Kamu, Han? Sini, duduk!" perintah Eyang Probo.
Yang diperintah pun menurut. Ia meletakkan map ke atas meja lalu duduk.
Ia kemudian menyampaikan keperluannya. Sekitar 10 menit mereka membicarakan hal yang serius.
"Ya sudah, Yang. Farhan mau kembali ke ruangan Farhan," pamit Farhan.
"Ya. Eh, sebentar! Tadi ayahmu bilang mau ajak kamu makan siang. Pergilah menemani orang tuamu!" Eyang Probo memerintah.
Kening Farhan berkerut. Ia sedang kebingungan.
"Ayah nggak ngasih tahu Farhan, kok. Memang ada acara apa? Eyang diajak?"
Eyang Probo hanya mengangkat bahu. Ia tersenyum untuk menetralkan kecurigaan Farhan.
"Eyang nggak tahu. Nanti mungkin ayahmu telepon. Nanti Eyang ada acara. Pokoknya, Eyang mengizinkan kamu pergi. Kalau kamu tidak kembali ke kantor juga nggak apa-apa. Sekarang kamu kembali kerja sana!"
Farhan keluar dari ruangan eyangnya dengan berbagai pertanyaan. Sementara, Eyang Probo hanya senyum-senyum melihat kebingungan cucunya.
***
Bersambung
__ADS_1
Tinggal nunggu hasil pembicaraan di kantin nih. Jangan lupa ikuti terus, ya! Author berusaha untuk bisa up setiap pagi. Makanya, dukung author dengan memberi like, rate 5, juga vote 😍😍💪