
Mid semester telah usai. Via dan Ratna sedikit lega. Setidaknya beban belajar berkurang.
Seperti biasa, Ratna kembali sering tenggelam dalam keasyikan membaca komik. Ia sedang tergila-gila dengan tokoh pada novel Tentang Hati karya Aldekha Depe. Setelah salat dhuha, ia mulai membuka aplikasi noveltoon.
"Ngapain pagi-pagi senyum-senyum sendiri gitu?" tegur Via yang melihat Ratna sering tersenyum sambil menatap layar ponselnya.
"Ada nggak ya, orang yang bucin kayak Dion, Aryan, dan Rud? Aku pengin punya cowok kayak mereka, luar biasa totalitas mencintai seorang cewek."
"Siapa sih mereka?" Via tak paham maksud Ratna.
"Ini, tokoh novel karya Aldekha Depe."
Via menepuk keningnya. Mendadak Mira datang dan menyambung,"Kalau aku bayangin punya suami dingin macam Rey."
"Ah, itu pasti tokoh novel My Husband is Cuek karya Mimi Dhava. Iya, kan?" celetuk Ratna.
"Hehehe, tahu aja."
"Ratna, gitu loh! Tiap hari bisa baca lebih dari 10 novel," komentar Via.
"Biar otak fresh, Vi. Kemarin aku kan ga pernah baca novel. Boleh dong rapel. Nih novel Anggen Terlambat Mencintaimu ternyata udah banyak episode yang belum kubaca."
Via geleng-geleng kepala karena ulah sahabatnya.
"Aku pamit pulang dulu. Nanti siang atau sore aku balik insya Allah."
"Mbak Mira nitip salam buat Mas Farhan yang dingin kayak Rey nggak?" ledek Ratna.
"Apaan, sih? Enggak, Dek! Udah, berangkat saja! Jangan lupa bawa oleh-oleh ntar, ya," sahut Mira.
"Aku pergi dulu. Taksi udah datang kayaknya. Assalamualaikum," ucap Via.
"Waalaikumsalam," jawab Ratna dan Mira.
Sebenarnya Via ada janji dengan Farhan. Suami Via itu mengajak ke suatu tempat.
Tadinya, Farhan akan menjemput Via. Namun, adanya dugaan Mira menyukai Farhan membuat Via tidak enak. Ia memilih janjian dengan Farhan, bertemu di taman kota tempat keluarga mereka biasa bersantai ketika jogging.
Baru saja turun dari taksi, Via sudah disambut senyum manis suaminya.
"Assalamualaikum," ucap Farhan sambil mengulurkan tangannya.
"Waalaikumsalam," jawab Via menyambut uluran tangan Farhan lalu menciumnya.
Farhan menarik tangan Via, membimbing Via masuk mobil.
"Kita seperti remaja pacaran, kencan sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan, ya?" kata Farhan sambil menstater mobil.
__ADS_1
Via tersenyum geli. Ia membayangkan kejadian di novel romantis yang pernah ia baca.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Via saat mobil mulai melaju perlahan.
"Ada, deh," jawab Farhan sambil melirik sekilas gadis di sampingnya.
Selama perjalanan mereka hanya diam. Masing-masing sibuk dengan pemikirannya. Kadang-kadang Via mengecek pesan yang masuk.
"Sudah sampai. Yuk, turun," ajak Farhan.
Via tersenyum. Ia memang sudah pernah ke situ. Namun, pemandangan tebing yang terpahat indah tetap membuatnya terpesona.
"Suka nggak?" tanya Farhan.
"Suka, tempatnya indah. Kita jalan ke sana, yuk!"
Farhan menggandeng tangan Via menyusuri lokasi. Sesekali mereka mengambil gambar menggunakan ponsel.
"Kita duduk di sana, yuk!" ajak Farhan sambil menarik tangan Via. Via pun hanya menurut.
"Dek, Mas mau ngomong jujur tentang perasaan Mas dan pernikahan kita."
Via menoleh sebentar, menatap Farhan beberapa detik. Kemudian, pandangannya dialihkan ke depan lagi.
"Dek Via boleh percaya boleh tidak. Sebenarnya, Mas mulai tertarik ketika pertama bertemu denganmu. Masih ingat kita sama-sama kaget malam itu karena Mas nggak tahu Dek Via tidur di kamar Mas?"
"Tapi, Mas berusaha menepisnya. Mas nggak mau terjebak dalam zina hati. Tapi, Mas nggak bisa menutupi kalau Mas cemburu saat lihat Dek Via dekat dengan cowok. Makanya, Mas nggak suka sama Doni. Dia pernah nembak Dek Via, kan?"
Via tertawa. Ia masih ingat saat Doni mengungkapkan perasaan sukanya pada saat perpisahan. Baru saja mengatakan, Farhan datang dan mengajak Via pulang.
"Oh, jadi Mas Farhan mengajak Via pulang karena cemburu?"
Farhan ikut tertawa. Ia baru merasa kalau dirinya berlaku konyol.
"Aku konyol, ya? Bahkan, aku juga cemburu sama adikku sendiri. Aku nggak suka Dek Via dekat dengan Azka. Aku kadang ngintip waktu kalian bersama."
"O ya? Kenapa nggak gabung sekalian?" tanya Via.
Farhan menarik nafas dalam-dalam. Ia mengulum senyumnya.
"Aku merasa canggung di dekatmu. Tapi, aku juga ingin berada di dekatmu. Lucu, ya?"
Via tertawa lirih. Ia baru tahu betapa konyolnya Farhan.
"Aku sebenarnya tersiksa. Di satu sisi aku tak ingin dekat denganmu agar terhindar dari zina, sementara di sisi lain hati kecil Mas menginginkan kamu. Bahkan, Mas sempat frustasi."
Via kaget. Ia menatap Farhan meminta penjelasan.
__ADS_1
"Waktu Om Andi menyampaikan bahwa syarat Dek Via menggantikan posisi almarhum papa adalah menikah. Mereka berencana menjodohkan keponakannya Om Andi, si Surya, denganmu. Untunglah, dia tidak mau dan Dek Via juga tidak tertarik."
"Sebentar, Mas tadi bilang mereka berencana menjodohkan Via dengan keponakan Om Andi. Siapa yang Mas maksud dengan mereka?"
"Om Andi, ayah, dan bunda. Tapi, mereka sudah sepakat tidak ada pemaksaan."
"Oh, begitu. Via baru tahu," desis Via.
"Mas merasa sangat lega ketika tahu kalian tidak tertarik. Padahal, sebelumnya Mas begitu sebel sama yang namanya Surya."
"Pantesan, waktu Mas Surya datang, Mas Farhan pasang wajah sangar, nada bicaranya ketus banget," ujar Via dilanjutkan tawa lirih.
Farhan ikut tertawa. Ia menertawakan diri sendiri.
"Dan, Mas merasa bahagia saat ayah dan bunda menawari Mas menikahimu. Mas mesti berterima kasih kepada eyang dalam hal ini."
"Kok eyang?" tanya Via tak mengerti.
"Karena eyang yang menyuruh ayah dan bunda untuk menjodohkan kita. Mas yakin Eyang Probo tahu yang Mas inginkan."
"Bukan Mas Farhan yang memengaruhi eyang, nih?"
"Bukan. Mas sama sekali tidak tahu rencana eyang, ayah dan bunda saat itu. Tahu-tahu Mas disuruh ke kafe dan ditanya kesediaan Mas menikahimu."
"Mas Farhan langsung bilang mau?"
"Ish, nggaklah. Mas malu kalau langsung bilang mau. Lagi pula Mas ragu, Dek Via apa mau menikah dengan Mas? Setelah ayah dan bunda meyakinkan Mas, baru Mas jawab mau. Rasanya seperti mimpi menikah dengan seorang gadis yang Mas impikan."
Farhan menggenggam tangan Via. Ia meremas dengan lembut. Via membiarkan Farhan melakukan hal itu.
"Memang Mas Farhan bahagia menikah dengan Via?" tanya Via ragu.
"Mas bahagia, sangat bahagia. Gadis yang Mas hindari tapi sebenarnya Mas sukai, akhirnya menjadi kekasih halal."
"Meski kita hidup terpisah? Via tidak berlaku sebagaimana seorang istri yang seharusnya melayani suami?"
Farhan tersenyum dan mengangguk mantap. Ia menjawab,"Tidak masalah bagiku. Setidaknya untuk saat ini. Mas menyadari sikon saat ini memang belum memungkinkan kita bersama. Semua demi kebaikan bersama. Saat ayah dan bunda menjelaskan tentang latar belakang pernikahan kita, Mas tahu kalau kita memang belum bisa hidup sebagaimana suami istri pada umumnya. Karena Mas bersedia menikah dengan Dek Via, tentu Mas harus mau menerima konsekuensi hal ini."
Mendengar pengakuan Farhan, mata Via berkaca-kaca. Ia tidak mengira sebegitu besar pengertian Farhan.
***
**Bersambung
Jangan lupa untuk terus dukung author dengan memberi like, komentar, juga vote!
O ya, mampir juga ke novel yang disukai Ratna dan Mira, ya! Semua bagus, kok**😍
__ADS_1