SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Pemeriksaan Farhan


__ADS_3

Farhan berusaha turun dari ranjang. Kemudian, perlahan-lahan dia berdiri. Namun, mendadak tubuhnya limbung dan dia terduduk lagi di atas ranjang.


Via memegangi suaminya. Ia mengkhawatirkan kondisi Faarhan.


“Bagaimana, Ayah?” tanya Via khawatir.


“Jangan dipaksakan duduk, Nak! Biar Ayah minta perawat untuk membawakan brankar ke sini.”


Pak Haris pun tampak menghubungi seseorang menggunakan telepon internal. Edi tampak berdiri siaga.


“Saya setuju kalau Mas Farhan dibawa oleh perawat. Dengan demikian, evakuasi Mas Farhan ke instalasi radiologi tidak mencolok yang bisa mengundang kecurigaan orang. Mas Farhan sebaiknya menggunakan masker agar tidak terlihat wajahnya.”


Pak Haris mengangguk-angguk. Ia sendiri tidak berpikir sejauh pemikiran Edi. Pak Haris hanya mengkhawatirkan kondisi Farhan.


Tak berapa lama, dua orang perawat datang mendorong brankar. Mereka segera memindahkan tubuh Farhan ke atas brankar. Setelah siap, mereka kembali mendorong ke luar.


Via dan Bu Aisyah bermaksud mengikuti. Namun, dokter Haris memberi isyarat agar keduanya tetap berada di ruangan.


“Memangnya kenapa? Via ingin mendampingi Mas Farhan, Ayah,” protes Via.


Edi ikut menghaangi langkah Via. Ia memberi isyarat agar dokter Haris segera mengikuti brankar yang membawa Farhan.


“Maaf, bukannya saya lancang melarang Ibu dan Mbak Via. Kondisi sepertinya kurang kondusif. Kita berusaha tidak memancing perhatian orang lain. Instalasi radiologi diisolasi saja bisa memancing kecurigaan kalau ada anggota Kelelawar Hitam di sini. Apalagi kalau Mbak Via ikut,” kata Edi sopan.


“Memangnya mereka mengenal Via?” protes Via.


“Kemungkinan foto Mbak Via sudah mereka punyai,” sahut Edi.


“Apa mungkin mereka ada di sini?” tanya Bu Aisyah.


“Sangat mungkin. Anak buah saya mencium pergerakan yang mencurigakan. Makanya, kita jangan membuat hal yang mengundang kecurigaan mereka. Saya mohon Ibu dan Mbak Via tetap di sini.”


Bu Aisyah dan Via tampak khawatir. Mereka menatap Edi penuh tanda tanya.


“Lalu, bagaimana dengan Mas Edi dan bayiku? Mungkinkah mereka mencelakai mereka?” desis Via


cemas.


“Kami belum bisa memastikan benar tidaknya kelompok Kelelawar Hitam ada di sini. Namun, anak buah saya terus mengawasi pergerakan yang mencurigakan. Mbak Via nggak usah khawatir! Saya sudah menambah pengawal yang berjaga di rumah sakit ini. Ruang peristi dan instalasi radiologi sudah dijaga ketat.”


“Apa hal itu tidak membuat mereka curiga?” tanya Via.


Edi tersenyum. Ia tetap tenang meski kondisi gawat.


“Insya Allah tidak. Mereka tidak memakai seragam khusus. Alat komunikasi yang mereka gunakan


pun tersembunyi. Mereka menyamar sebagai pasien, pengunjung, dan petugas. Untuk


yang petugas, saya sudah berkoordinasi dengan Pak dokter Haris.”


“Memang Nak Edi bisa mengenali mereka?” tanya Bu Aisyah.


“Saya tetap bisa mengenali. Ada tanda khusus yang hanya orang tertentu yang tahu,” terang Edi.


Bu Aisyah dan Via terlihat sedikit tenang. Mereka pun duduk kembali dan terdiam. Pikiran mereka


berkelana sendiri-sendiri.


Beberapa saat kemudian, Bu Aisyah bangkit dari duduknya. Ia menuju ke kamar mandi.


“Bunda salat duha dulu, ya! Nak Edi, tolong tetap pantau sikon!” perintah Bu Aisyah.


“Siap, Bu!” jawab Edi. Ia keluar lalu duduk di kursi yang tersedia di teras.


Via sendirian di dalam kamar. Bu Aisyah sudah masuk ke ruang kecil yang biasa digunakan untuk


salat.


Waktu dirasa Via berjalan begitu lamban. Ia menyalakan televisi. Namun, pikirannya tidak tertuju ke


televisi. Ia gelisah menunggu suaminya yang tengah menjalani serangkaian pemeriksaan.


Ketika azan zuhur berkumandang, lamunan Via buyar. Ia mengusap wajahnya.


“Mbak Via, saya ke musala dulu, ya. Ada pengawal yang berjaga di luar, kok,” pamit Edi.

__ADS_1


“Iya, Mas. Silakan,” jawab Via.


Baru saja Edi meninggalkan ruangan, brankar yang membawa Farhan masuk. Via segera berdiri


menyambut sang suami. Ia bersabar untuk menanyakan hasil pemeriksaan Farhan.


Setelah memindahkan Farhan ke ranjang, kedua perawat berpamitan. Via mendekati suaminya


yang masih terpejam. Diusapnya wajah suaminya. Lama-kelamaan, Via tak tahan untuk tidak mengecup wajah tampan di dekatnya.


Via mendekatkan wajahnya ke wajah Farhan. Dengan lembut, ia mengecup kening Farhan. Saat


mengangkat kembali kepalanya, Via kaget karena tengkuknya terasa berat. Via tidak bisa


menegakkan kepalanya. Bibirnya menempel ke bibir Farhan. Bersatunya dua pasang alat pengucapan itu membuat desiran di dada. Kenyalnya benda yang saling melekat mendorong hasrat lebih. Lidah Farhan mulai menjelajah rongga mulut sang istri. Nafas mereka pun terengah-engah.


Via menegakkan kepala saat tangan yang menekan tengkuknya dirasa kendur. Ia tersenyum malu.


“Hubbiy nakal, ih!”


Farhan terkekeh melihat pipi yang merona. Ia mencubit pelan pipi yang merona itu.


“Habis nggemesin, sih! Mas nggak tahan,” ucap Farhan.


Via menatap wajah Farhan. Tidak tampak ada kesakitan terlukis di sana. Wajah yang pucat pun tidak


ia jumpai.


“Hubbiy baik-baik saja? Kepala Hubbiy nggak sakit?” tanya Via.


“Cinta bisa lihat sendiri, Mas baik-baik saja. Alhamdulillah, sekarang rasa nyerinya melarikan


diri dari kepala Mas,” jawab Farhan sambil tersenyum.


“Alhamdulillah,” ucap Via lega.


Farhan bangkit dan duduk di ranjang. Ia terdiam sebentar. Kemudian, perlahan ia turun dari


ranjang.


cegah Via.


“Mau salat, Sayang,” jawab Farhan.


Via tersenyum malu. Beberapa detik kemudian, wajah Via berubah menjadi khawatir.


“Hub—biy mau ke musala?” tanya Via.


“Enggak. Di sini saja. Kondisi Mas belum stabil. Kadang nyeri menyerang tiba-tiba. Kalau di


musala ntar malah ngrepotin orang lain.”


Via benarik nafas lega dan bergumam,”Lagian takut ada anggota Kelelawar Hitam gentayangan di


sana.”


Farhan masih dapat menangkap kata-kata Via. Ia tersenyum. Lalu, perlahan ia pergi menyucikan


diri.


Saat Farhan berada di kamar mandi, Bu Aisyah keluar. Ia baru saja selesai salat.


“Farhan sudah kembali? Bagaimana hasil pemeriksaannya?” tanya Bu Aisyah.


“Iya, sekarang sedang di kamar mandi. Via belum menanyakan soal itu. Biar Mas Farhan salat


dulu. Atau nanti kalau ayah datang, kita bisa tanya kepada ayah,” kata Via.


Bu Aisyah mengangguk. Ia memperhatikan wajah anak sulungnya ketika Farhan keluar dari kamar mandi.


Ada kelegaan terpancar di wajah Bu Aisyah mendapati kondisi Farhan yang terlihat baik.


Sepuluh menit kemudian, dokter Haris datang bersama Edi, Rupanya, mereka bertemu di musala rumah sakit.


“Ayah, bagaimana hasil pemeriksaan Farhan tadi? Ada masalah serius?” tanya Bu Aisyah tak sabar.

__ADS_1


Yang ditanya membalas dengan senyuman. Keteduhan terpancar dari wajah pria yang usianya sudah lewat dari 50 tahun itu.


“Sebentar, Bunda. Farhan ada dimana? Tadi saat ia dimasukkan ke sini, Ayah tinggal ke musala,” jawab Pak Haris.


“Mas Farhan sedang salat, Ayah,” sahut Via.


“Oh, begitu. Alhamdulillah dia langsung bisa salat. Hasil pemeriksaan tangan menunjukkan adanya patah pada lengan bawah. Untuk memulihkan, perlu dipasang pelat logam dengan sekrup,” jelas dokter Haris.


“Berarti operasi?” tanya Bu Aisyah.


“Iya, perlu intervensi pembedahan. Rencananya tindakan pemasangan pelat besok pagi,” terang dokter Haris.


“Lalu, bagaimana dengan cedera kepalanya?” Via ganti bertanya.


“Sebenarnya, jenis cederanya ringan. Namun, penanganan yang tidak tepat membuat Farhan lebih parah. Seandainya dari awal diobati dengan benar, mungkin sekarang sudah sembuh.”


“Ya sudah, yang penting anak kita sudah berkumpul bersama kita dan kita juga bisa memberikan


yang terbaik untuk Farhan.


“Benar, Bun. Lagi pula, kita belum sepenuhnya terlambat. Yang penting, sekarang Farhan segera


mendapat penanganan yang tepat agar cederanya segera sembuh.”


“Krek!”


Terdengar suara pintu dibuka. Mereka menoleh ke sumber suara. Ternyata Farhan yang membuka


pintu penghubung kamar dar ruang salat.


“Butuh berapa hari pengobatan di rumah sakit, Ayah?” tanya Farhan.


“Paling 2 hari. Semoga tidak ada masalah. O iya, Bunda sudah pesan makan siang belum?” Pak Haris menoleh ke istrinya.


“Ah, iya. Bunda lupa. Sebentar, Bunda pesan yang delivery  order saja. Kalian ingin makan apa?” Bu Aisyah


menawari.


“Maaf, Bu, Mbok Marsih baru saja memberi kabar kalau dia dan Pak Nono sedang ke sini membawa makan siang juga baju ganti dan keperluan lain buat Mas Farhan. Sekalian mereka ingin bertemu Mas Farhan.” Edi menyela.


“Ah, iya. Mereka tentu penasaran, ingin bertemu langsung dengan Mas Farhan,” sahut Via.


Benar saja. Hanya berselang 15 menit Pak Nono dan Mbok Marsih sudah muncul di depan pintu. Mereka


melongo melihat sosok Farhan yang tengah duduk di tepi ranjang.


“Ini beneran Mas Farhan? Yudi nggak bohong, ya?” desis Mbok Marsih.


Farhan dan Via kompak tertawa. Pak Haris, Bu Aisyah, dan Edi tersenyum lebar.


Pak Nono mendekati Farhan. Ia memegang tangan Farhan untuk meyakinkan diri.


“Ya Allah, beneran ini Mas Farhan? Beneran masih hidup, ya?”


Pak Nono memeluk Farhan. Ia sampai tidak memperhatikan lengan kiri Farhan. Ketika terdengar


suara kesakitan, ia melepaskan pelukan.


“Maaf, maafkan saya. Ini sakit, ya?” tanya Pak Nono merasa bersalah.


“Tangan Mas Farhan cedera, Pak. Besok mau dioperasi, dipasang pelat,” jelas Via.


“Maafkan saya. Saya nggak sengaja,” kata Pak Nono lagi.


“Sudah, nggak apa-apa,” kata Farhan menenangkan.


Bu Aisyah menata hidangan di atas karpet bersama Mbok Marsih. Setelah semua siap, mereka pun menyantap


masakan mbok Marsih dan Bu Inah.


***


Bersambung


Mohon tetap dukung aku dengan klik like, bintang 5, tinggalkan koment, juga vote. Terima kasih atas dukungan Kakak. Insya Allah aku siap dukung balik karya Kakak.

__ADS_1


__ADS_2