SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Usaha Menghapus Dendam


__ADS_3

Di kamar Azka, adik kandung itu terus menanyai hubungan Rio dengan Ratna. Ia seperti wartawan amatir yang tengah mengorek berita dari narasumber.


Rio pun dengan senang hati meladeni obrolan sahabatnya. Ia menceritakan tentang bagaimana Via dan Farhan menembaknya di depan Ratna.


"Jadi, Mas Farhan dan Mbak Via yang nembak kamu? Bukan kamu yang nembak Ratna? Ish...ish...ish...." Azka mengomentari kisah Rio dengan diakhiri style Upin-Ipin.


"Memang kenapa? Aku seneng, kok. Aku nggak usah pusing merangkai kata untuk mengungkapkan isi hati. Kan aku bukan pujangga," kilah Rio.


Azka terbahak-bahak mendengar alasan Rio. Ia menganggap sahabatnya itu begitu lugu.


"Kalau nggak didesak Mas Farhan, aku belum berani melamar Ratna. Aku belum punya cukup modal. Kakakmu memang baik. Mereka yang menyiapkan semua pernak-pernik lamaran. Aku nggak tahu sama sekali. Via bilang pokoknya beres. Aku tinggal berangkat. Bu Aminah, pengasuh panti, juga tidak tahu-menahu."


Azka terkekeh. Ia ingat prosesi lamaran Meli dan Mira. Semua diurus oleh Via. Tentu saja Via dibantu oleh lainnya.


"Hhhmmm, siapa dulu adiknya?" Azka menepuk dadanya.


"Cih, nggak ada hubungannya dengan adik," cibir Rio.


"Eh, tentu ada. Adiknya ganteng dan baik maksimal gini, pastinya berimbas ke kakaknya," ujar Azka


Rio kembali mencibirkan bibirnya. Sudah cukup lama mereka tidak terlibat adu mulut.


"Ga kebalik?"


Azka terkekeh mendengar pertanyaan Rio.


Keduanya terus mengobrol hingga lupa waktu. Jelang tengah malam mereka baru tersadar. Mereka pun segera beranjak tidur.


Saat sarapan, Pak Candra menyinggung tentang permasalahan yang sedang Via dan Farhan hadapi. Apalagi kalau bukan masalah dengan Rahardian.


"Kamu sudah tahu kondisi perusahaan milik Rahardian, bukan? Apa kalian akan bertindak sekarang?" tanya Pak Candra setelah meneguk air putih.


"Maksud Om Candra bagaimana?" tanya Via balik.


"Dengan kondisi yang tidak menguntungkan seperti saat ini, kalian bisa menekan Rahardian agar mengikuti kemauan kalian," jawab Pak Candra.


"Via khawatir kondisi ini hanya sebentar. Kalau langsung ditekan, begitu posisi mereka kembali, mereka balik menekan. Via lihat situasi dulu, Om," jawab Via.


Pak Candra tersenyum. Ia mengeluarkan aura kepemimpinan yang lekat.


"Kalian tak perlu khawatir. Om jamin kondisi Jaya Sakti Persada tidak akan bangkit dengan cepat. Manfaatkan kesempatan ini!" kata Pak Candra.


Via dan Farhan saling tatap. Keduanya mengangguk bersamaan.


"Kalian membicarakan apa, sih? Tante nggak paham," keluh Bu Lena.


Pak Candra beserta Via dan Farhan tertawa. Mereka baru menyadari kalau obrolan itu hanya dipahami mereka bertiga.


"Iya, Tante. Saya juga nggak paham," sambung Azka.


"Ya sudah, kita ngobrol tentang ini nanti saja Via. Hanya kita bertiga agar tidak mengganggu yang lain. O ya, kalian jadi berangkat ke lapas pagi ini?" Pak Candra mengalihkan topik pembicaraan.


"Jadi, Om. Tapi, apa bisa? Ini masih sangat pagi," ucap Rio ragu.

__ADS_1


Pak Candra tersenyum. Ia memaklumi pertanyaan Rio karena sahabat Azka itu belum mengenalnya.


"Tenang saja, Nak Rio. Om sudah menghubungi pengacara Om untuk mengurus izin khusus. Kalian berangkat saja ke lapas," jelas Pak Candra.


"Kamu mau ikut, Dek?" tanya Farhan kepada adiknya.


"Tentu saja. Aku ingin mendampingi Rio. Kasihan dia kalau sendirian menyaksikan kemesraan Mas Farhan dan Mbak Via," ujar Azka seraya tersenyum.


"Memangnya kami mau mesra-mesraan sepanjang perjalanan? Sembarangan saja kamu," gerutu Farhan.


"Yah, siapa tahu gitu? Pokoknya aku akan mendampingi Rio selama di sini," kata Azka.


"Thanks, Bro," ucap Rio tulus.


Lima belas menit kemudian mereka diantar sopir keluarga Candra Wijaya menuju lapas. Rio sudah tak sabar bertemu Aurelia, adik angkatnya.


Rio sempat tertegun melihat penampilan Lia. Gadis yang dulu Rio kenal suka memakai baju seksi dan tak lepas dari make up, kini tampak beda. Aurelia memakai baju tahanan lengan panjang dilengkapi jilbab sederhana. Wajahnya polos tanpa make up. Namun, Lia justru tampak anggun.


"Lia? Beneran ini kamu?" desis Rio sambil menatap lekat wajah sang adik angkat.


"Mas Rio, Lia kangen. Lia nggak punya siapa-siapa yang menjenguk Lia."


Gadis itu tiba-tiba memeluk Rio. Yang dipeluk pun membalas pelukan itu dengan kasih sayang seorang kakak.


"Maaf, maafkan kakakmu yang nggak pernah menjengukku. Bukan aku tak sayang, tapi Jogja-Medan bukan jarak yang dekat," kata Rio.


"Maafkan Lia, maafkan mamah juga. Kami sudah begitu jahat mencampakkan Mas Rio," isak Lia.


"Sudahlah, lupakan itu! Mungkin waktu itu kalian sedang kalut. Lagi pula, aku saat ini baik-baik saja." Rio melepaskan pelukannya, mendudukkan Lia ke kursi.


Rio memaksakan senyum di bibirnya. Sebetulnya, ia belum bisa melupakan kegetiran saat dirinya dicampakkan keluarga yang telah mengasuhnya bertahun-tahun.


"Jangan mengungkit lagi kenangan pahit itu, Lia. Sekarang, fokus ke masa depan," ucap Rio tenang.


"Tadinya, Lia menganggap sudah nggak punya masa depan. Makanya, Lia pernah mencoba bunuh diri. Lia merasa sendirian menghadapi masalah yang menghimpit ini. Untunglah Via dan Mas Farhan menyadarkan Lia."


Rio menoleh ke Via dan Farhan. Tatapannya mengisyaratkan ucapan terima kasih yang dalam atas apa yang telah Via dan Farhan lakukan untuk Lia.


"Di saat Lia terpuruk, mereka mengulurkan tangan untukku. Padahal, aku berulang kali berbuat jahat. Mereka masih mau peduli padaku. Bahkan, mamaku sendiri malah tidak memedulikan aku," ratap Lia yang kembali berlinang air mata.


"Mungkin ini jalan yang Allah pilihkan untukmu menuju kebaikan. Jalani dengan sabar, ya!" Rio menasihati Lia.


"Iya. Tadinya sulit sekali menerima kenyataan ini. Sekarang, Lia sudah bisa berlapang dada meski kadang rasa sakit itu hadir."


"Bagaimana kabar papah dan mamah sebelum kamu masuk ke sini?" tanya Rio.


Lia menarik nafas panjang. Ia menata hati terlebih dahulu. Ia tak bisa memungkiri sakit hati terhadap mamahnya.


"Papah sudah tak bisa bangun tanpa bantuan. Ia seperti mayat hidup. Mamah sudah tidak lagi memeriksakan papah ke dokter syaraf. Biaya untuk itu tidak ada. Om dan tante tidak mau lagi dibebani biaya pengobatan. Yah, mereka mau menanggung biaya hidup kami saja sudah bagus," tutur Lia getir.


"Bisa minta alamat mereka?" tanya Rio lagi.


"Buat apa? Mas Rio mau ke sana? Mas Rio mau menemui papah mamah? Nggak takut mamah memarahi Mas Rio lagi?" Lia mencecar Rio dengan pertanyaan bertubi-tubi.

__ADS_1


"Lia, bagaimana pun mereka orang yang berjasa dalam hidupku. Aku bisa jadi sarjana karena mereka. Menjelang momen penting dalam hidupku, aku mesti meminta restu kepada mamah dan papah."


Lia menautkan kedua alisnya. Ia menatap tajam kakak angkatnya.


"Mas Rio mau melamar Ratna, Lia," ucap Via.


Lia tersentak. Ia masih memberi tatapan tajam kepada Rio.


"Beneran, Mas?"


"Iya," jawab Rio singkat.


"Ratna yang kamu maksud Ratna teman karibmu?" Lia menoleh ke Via.


"Iya." Via juga menjawab dengan singkat.


"Sejak kapan kalian pacaran?" Lia kembali bertanya.


"Nggak pakai pacaran. Kami mau langsung menikah kalau orang tua Ratna setuju," jawab Rio mantap.


"Tanpa pacaran? Kalau ternyata watak kalian nggak cocok, bagaimana?"


"Kakakmu tentu sudah memohon petunjuk kepada Allah melalu salat istikharah. Bukan begitu, Rio?" ucap Farhan.


Rio mengangguk. Senyum mengembang di bibirnya, tanda dia memang sudah mantap dengan pilihannya.


Lia tak habis pikir. Bagaimana bisa orang menikah, bisa mengerti satu sama lain tanpa pacaran?


"Besok kamu tanya sama pendamping rohanimu. Kami akan ke menemui papah dan mamahmu. Bisa kamu berikan alamat tempat tinggal Om Danu?" desak Via.


Lia menulis alamat pada kertas yang Via sodorkan. Ia juga menjelaskan rute menuju ke sana.


"Mas Rio beneran yakin ketemu mamah? Mas Rio nggak takut ditolak mamah?" Lia tampak ragu.


"Aku memang kecewa, terapi aku tidak benci apalagi dendam. Aku pun akan berusaha mengikis kecewa ini. Semoga mamah juga bisa menghapus dendamnya kepadaku juga keluarga Via. Kamu mau menitipkan pesan untuk mamah dan papah?"


"Boleh? Kalau aku ngomong lalu Mas Rio rekam, bisa? Nanti Mas Rio tunjukkan kepada mamah dan papah,' ucap Lia semangat.


Rio mengangguk. Ia mengeluarkan gawainya. Kemudian, Rio merekam ucapan Lia.


Setelah dirasa cukup, rombongan Via berpamitan. Dengan berat hati, Lia melepas kepergian mereka. Itu artinya, dia kembali tanpa kerabat.


Lia masih menatap punggung Rio. Ia merasa bersalah kepada pria itu, kakak angkat yang menyayangi dirinya tetapi sering ia abaikan.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, rombongan Via sampai ke alamat yang Lia berikan. Rumah itu tampak sepi.


Mereka bergegas turun. Rio berada di depan. Ia memencet bel di dekat pintu.


Setelah tiga kali memencet bel, pintu terbuka. Seorang wanita berusia sekitar 50 tahun terbelalak melihat Rio.


***


Bersambung

__ADS_1


Bagaimana tanggapan Danu dan istrinya, ya? Apa mereka masih menyimpan dendam? Ikuti kelanjutannya! Jangan lewatkan juga sosok istri Azka di novel kece CS1 karya Kak Indri Hapsari.



__ADS_2