SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Penculikan


__ADS_3

Sepulang kajian, Ratna dan Via mampir ke toko alat tulis membeli kebutuhan untuk packing.


"Sampai jam 12 tadi ada berapa orderan, Rat?" tanya Via.


"Yang belum dikerjakan ada 10. Per orderan sekitar 2-3 kg."


"Alhamdulillah," ucap Via.


Selesai berbelanja, mereka bergegas pulang ke ruko. Mira dan Salsa tengah memilah barang-barang yang baru datang.


"Assalamualaikum," ucap Via dan Ratna bersama.


"Waalaikumsalam. Bawa apa itu?" balas Mira.


"Kami baru beli peralatan tempur buat packing," jawab Via.


"Oh, kebetulan kami tadi sudah selesai memilah barang yang mau dikirim. Lakban dan plastik ternyata habis." Salsa menjelaskan.


"Makanya kami mampir beli. Kamu sudah mengetik alamat konsumen, Sa?" Ratna menatap Salsa.


"Sudah, Mbak. Mau kita bungkus sekarang?"


"Iya, mumpung ga ada pembeli. Yuk!" ajak Via.


Mereka dengan cekatan membungkus tumpukan barang yang sudah dipilah Mira dan Salsa. Dalam waktu kurang dari setengah jam semua sudah rapi dan siap dikirim.


Usai salat asar, Mira sudah bersiap pulang. Ia memang sengaja agak awal karena dua minggu sebelumnya ia kesulitan mendapatkan bus kota. Untuk sampai ke rumah, Mira harus naik bus kota 2 kali.


"Hati-hati, Mbak. Salam buat keluarga," kata Via.


"Iya. Aku pulang dulu, ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab yang lain serempak.


Menjelang pukul 17.00 toko sudah tutup. Salsa pun sudah pulang ke rumahnya. Tinggal Via dan Ratna berdua di ruko.


***


Setelah maghrib, Via dan Ratna menambah hafalan lalu bersantai. Mereka sengaja tidak membuka aplikasi toko online karena ingin beristirahat.


“Alhamdulillah, mid semester sudah selesai, ya. Huff, plong rasanya. Seminggu ini kepalaku serasa berputar. Soal nilai, bodo amatlah. Yang penting lulus.” Ratna merebahkan tubuhnya ke sofa.


“Sstt, nggak boleh gitu, Rat! Kamu ingat penjelasan Kak Azizah saat kajian minggu yang lalu?” Via mengingatkan.


“Yang mana? Kok aku nggak ingat, ya?”


“Ah, kamu ni. Apa yang kamu ingat, sih?” gerutu Via.


“Hehe…judul novel. Aku baru buka I Love You Mr. Mafia. Karakter Caca kayaknya mirip ma kamu deh. NI ada lagi yang bagus, Back to Yesterday dan I Hate You Tuan Muda.”


“Eh, kemajuan. Kamu bisa mengikuti cerita semua novel itu?” tanya Via heran.


“Bisa, dong. Kalau lupa, baca episode sebelumnya.”


“Beneran paham?”


“Kamu nggak percaya?”


“Maaf, selama ini setahuku kan kamu nggak suka bahasa Inggris, kan?”


“Apa hubungannya?”tanya Ratna balik.


Wajahnya menunjukkan kebingungan.


“Lha itu tadi kamu menyebutkan tiga judul novel berbahasa Inggris, kan? Kamu beneran paham?”


“Kalau hanya love, hate, back, yesterday, aku tahu, dong!”


“Lalu, bagaimana isinya?” tanya Via penasaran.

__ADS_1


“Kan pakai bahasa Indonesia,” jawab Ratna santai.


Via kaget. Tawanya meledak tiba-tiba.


“Hahaha, kirain kamu bisa lancar pakai bahasa Inggris. Nggak tahunya cuma judulnya yang pakai bahasa Inggris.”


“Eh, orang baca novel yang pertama diperhatikan pasti judul. Kalau judulnya nggak menarik, pasti males, kan? Makanya, author pilih judul yang menarik. Ya, kan?”


“Iya, iya. Kamu emang paling paham soal itu. Kembali soal kajian. Beneran kamu nggak inget yang dikatakan Kak Azizah?"


Ratna menggeleng. Ia memang benar-benar tidak ingat yang Via maksud.


“Itu, bahwa setiap kata yang diucapkan adalah doa. Ketika kamu berucap dengan sebuah kata, seolah kamu membuat cita-citamu sendiri di masa yang akan datang.”


“Terus, apa hubungannya sama aku?”


“Bukannya tadi kamu mengucapkan hal yang kurang baik?” Via mengingatkan.


“Yang mana, ya?” tanya Ratna bingung.


Via menepuk jidatnya lalu berkata, ”Itu lo, kamu bilang soal nilai bodo amat asal lulus.”


“Memang kenapa?”


“Kamu hanya berharap nilai pas-pasan? Kenapa kamu nggak berharap nilai yang tinggi? Mungkin selama ini kamu nggak pernah mengucapkan harapan yang lebih baik, makanya nilaimu pas-pasan.”


“Masa, sih?”


“Eh, nggak percaya? Bukannya Kak Azizah waktu itu nyebutin dalilnya juga? Sesungguhnya seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang diridhai Allah ’Azza wa Jalla tanpa berpikir panjang, Allah akan mengangkatnya beberapa derajat dengan kata-katanya itu. Dan seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang dimurkai Allah tanpa berpikir panjang, Allah akan menjerumuskannya ke neraka jahanam dengan kata-katanya itu. Inget, nggak?”


Ratna hanya nyengir Dalam hati ia menyesali ucapannya selama ini.


Saat sedang merenung, ponsel Ratna bordering tanda panggilan masuk. Dengan sedikit malas, gadis itu meraih benda pipih yang sebelumnya tergeletak di meja.


“Assalamualaikum.”


….


….


“Apa? Lalu gimana kondisinya?”


….


“Terus…terus dirawat di mana?”


….


“Oh, begitu. Ya, ya, Ratna ke sana sekarang.”


….


“Waalaikumsalam.”


Via menatap Ratna penuh tanda tanya. Ia merasa ada hal yang serius dari pembicaraan di telepon itu.


“Ada apa, Rat? Siapa yang telepon? Kelihatannya kamu panik banget?”


“Tanteku, Vi. Tanteku kecelakaan. Saat ini dokter sedang mengobservasi tanteku. Aku disuruh ke rumah sakit sekarang.”


“Ya sudah, kan kamu sedang dibutuhkan keluarga tantemu. Pergilah! Pakai taksi saja!”


“Om sudah menyuruh sopir menjemputku. Tapi kalau aku pergi, kamu sama siapa?”


“Kamu nggak usah khawatir. Aku bisa jaga diri, kok. Pergilah!”


Baru saja Ratna mengambil tas, terdengar suara klakson mobil dari luar. Ratna berlari menuruni tangga. Saat membuka pintu, ia terkejut.


“Assalamualaikum.”

__ADS_1


“Waalaikumsalam. Mbak Ratna? Kok balik lagi?” tanya Ratna.


“Rumahku kosong. Aku nggak buka pesen dari adikku. Ternyata mereka sedang ke rumah nenek di Jember. Daripada sendirian di rumah, mendingan aku ke sini. Kamu mau ke mana?”


“Ke rumah sakit. Itu, sudah ditunggu. Aku pergi dulu. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Setelah mengunci pintu, Mira menapaki tangga ke lantai 2. Kedatangannya membuat Via kaget.


“Mbak Mira? Kok kembali?”


“Ternyata keluargaku ke Jember. Aku nggak membuka chatt dari adikku sebelum pulang.”


“Kalau gitu, aku nggak jadi pulang.”


Via meraih ponselnya lalu mengetik pesan.


“Memang tadinya Dek Via mau pulang?”


“Iya. Aku nggak boleh sendirian di ruko. Tadinya ada yang mau jemput. Aku batalin, deh.”


“Oh, gitu.”


“Mbak Mira naik apa tadi?”


“Taksol. Itu yang paling aman.”


Setelah salat isya, kedua gadis itu berniat untuk beristirahat. Baru saja keluar dari kamar mandi, Via melihat ada notifikasi pesan masuk. Setelah membaca, Via mengembalikan ponselnya ke tempat semula lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang.


Saat jarum jam pendek menunjuk angka 2, suasana benar-benar sunyi. Ruko dan sekitarnya pun begitu senyap. Namun, mendadak kesunyian itu pecah oleh teriakan dan suara gedoran di rolling door.


"Via...via...bukain!"


Via terbangun dari tidurnya. Ia kaget karena kerasnya gedoran.


"Bukannya itu suara Ratna? Kenapa dia kembali jam segini? Bukankah ia bawa kunci? Apa dia lupa, ya?"


Tak lama kemudian, pintu ruko terbuka. Seorang gadis muncul dari dalam ruko.


"Ngapain ged ...."


Suara gadis itu seketika berhenti ketika mulutnya dibekap tangan yang kokoh. Hanya dalam hitungan detik, tubuhnya lemas. Sebelum jatuh, orang yang membekap mulutnya menangkap tubuh ramping itu.


"Tutup pintu!" bisik lelaki itu.


Ternyata ada tiga lelaki berbaju serba hitam dan memakai penutup kepala yang juga berwarna hitam berdiri di depan pintu ruko. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil.


Mobil minibus itu meluncur cepat meninggalkan ruko yang didiami Via dan kawan-kawan. Karena jalanan lengang, sang sopir bisa melajukan dengan kecepatan tinggi tanpa kesulitan.


Satu jam kemudian, mereka telah sampai di sebuah rumah terpencil. Mereka pun masuk ke rumah yang terkesan angker itu.


Salah seorang dari lelaki berpenutup kepala menghubungi seseorang melalui telepon.


"Malam, Bos. Saya mau melapor kalau kami sudah berhasil menculik gadis itu."


....


"Iya, dia saya bawa ke markas di luar kota."


....


"Baik, saya tunggu. Bonusnya jangan lupa, Bos! Hehehe...."


****


**Bersambung


Terima kasih kepada readers yang setia mengikuti kisah ini dan memberi support kepada author.

__ADS_1


Dukung terus karyaku ya! Aku siap dukung balik authors yang mendukung novelku, insya Allah 🙏**


__ADS_2