SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Mengikis Kebencian


__ADS_3

"Assalamualaikum, Mah," ucap Rio diiringi anggukan tanda hormat.


"Ka--kamu? Untuk apa kamu ke sini? Mau mengejek kami?" Istri Danu tampak kaget dan marah.


"Kedatangan kami yang utama untuk silaturahim, Tante," sahut Farhan.


"Siapa kamu? Kamu pasti teman pengkhianat ini. Kamu membantunya menjatuhkan kami. Pergi, kalian!" Nyonya Danu makin marah.


Rio tampak berkaca-kaca. Hatinya kembali sakit.


Farhan menepuk bahu Rio untuk menguatkan. Ia mengubah posisinya ke samping Rio.


"Tante, bisakah kita bicara baik-baik? Bisakah kita bicara sambil duduk? Kalau Tante tidak mengizinkan kami masuk, izinkan kami bicara dengan Tante di teras, pinta Farhan.


"Buat apa bicara dengan para pengkhianat? Kalian mau menghina aku yang sekarang miskin?" Nada bicara Nyonya Danu masih tinggi.


Rio menunduk. Ia kelihatan sangat terpukul.


"Tante, saya mohon beri kami kesempatan untuk bicara baik-baik. Bisa kita duduk di situ?" Farhan mengulang kembali permintaannya.


Nyonya Danu mendengus kesal. Dengan terpaksa, ia duduk di kursi teras.


"Terima kasih, Tante," ucap Farhan.


Farhan memberi isyarat kepada Via dan Rio agar mengikuti langkah Nyonya Danu.


"Mah, Rio minta maaf nggak pernah mengunjungi Mamah dan papah. Rio nggak tahu ...." kalimat yang diucapkan dengan suara serak Rio terpotong.


"Tidak usah bertele-tele! Waktu kalian tidak banyak," ucap Nyonya Danu masih ketus.


Rio menarik nafas panjang. Dadanya terasa sesak.


"Begini, Mah. Rio ke sini untuk memohon doa restu dari Mamah dan papah. Insya Allah minggu depan Rio akan meminang seorang gadis."


Nyonya Danu tampak kaget. Namun, sebentar kemudian dia memasang ekspresi biasa.


"Hemmm, memang ada gadis yang mau dengan pemuda kere macam kamu?" ejek Nyonya Danu.


Via tampak menahan geram. Sebenarnya, ia sudah kesal sejak awal berhadapan dengan Nyonya Danu. Farhan mengusap tangan Via lalu menggenggam telapak tangan sang istri.


"Alhamdulillah, saat ini Rio bekerja di perusahaan milik Mas Farhan. Tepatnya di kantor cabangnya, yang tidak jauh dari panti, " kata Rio menjelaskan.


"Oh, jadi benar ini antek keturunan Wirawan? Orang yang telah merampok perusahaan suamiku?" ucap Nyonya Danu seraya menatap Farhan sinis.


Via tentu meradang. Kemarahannya hampir meledak. Farhan segera meremas telapak tangan Via dengan lembut.


Sementara Rio pun tampak gelisah. Di satu sisi ia masih ingin bicara dengan mamah angkatnya, di sisi lain ia merasa tak enak dengan Via dan Farhan.

__ADS_1


Suasana tak mengenakkan itu sedikit cair saat seorang pria keluar dari rumah.


"Ada tamu rupanya. Kenapa tak kau suruh masuk, Kak? Tak enak kalau begini. Namanya tak menghargai tamu. Ayo semuanya, mari masuk!"


Nyonya Danu menatap orang itu dengan tatapan bingung. Sementara Via, Farhan, dan Rio pun ragu karena Nyonya Danu masih tak bergeming.


"Ah, aku belum memperkenalkan diri. Namaku David. Aku adik iparnya istri Kak Danu ini. Ayo masuk! Kita ngobrol di dalam," ajak pria itu lagi.


Farhan mengajak Via dan Rio mengikuti ajakan Pak David. Nyonya Danu pun akhirnya mengikuti.


Mereka dipersilakan duduk, sementara Pak David ke dalam. Tak lama, ia keluar lagi.


"Kalian ini siapa? Rasanya aku baru lihat. Kecuali, Rio ini. Kamu anaknya Kak Danu kan?" Pak David memecah kekakuan.


"Iya, Om. Ini Via, teman sekolah Aurelia dulu dan sebelahnya Mas Farhan, suaminya," jawab Rio sopan.


Pak David menatap Farhan. Ia seperti mengingat sesuatu.


Sementara Nyonya Danu menatap tajam ke Via. Ia pun sepertinya sedang mengingat siapa Via.


"Ka--kka--mu anak Wirawan, kan? Beraninya kamu menunjukkan mukamu ke hadapanku!" bentak Nyonya Danu dengan suara bergetar.


Semua orang terkejut dengan reaksi Nyonya Danu. Mereka tidak mengira wanita itu begitu marah setelah menyadari siapa Via.


"Kak, tenanglah! Kau tak perlu marah begitu. Aku tak suka dengan sikap aroganmu!" bentak Pak David.


Nyonya Danu tampak menahan geram. Namun, sepertinya ia tak berani membantah adik iparnya.


"Benar, Om. Kita pernah ketemu di acara Tuan Andika, CEO Sari Bumi. Kita sempat membicarakan potensi kerja sama waktu itu. Saya kira Om lupa. O ya, panggil saya Farhan saja tanpa tuan, seperti waktu itu," jawab Farhan sopan.


"Oh, ya ya. Nak Farhan ini memang rendah hati. Saya salut dengan pengusaha muda yang sukses tetapi tetap rendah hati," puji Pak David.


Nyonya Danu tampak gelisah. Ia meremas jemari tangannya, menunjukkan kalau ia sedang menahan kemarahan. Ia tak mungkin kasar kepada Farhan maupun Via setelah mengetahui posisi Farhan di mata adik iparnya.


"O ya, boleh aku tahu maksud kedatangan kalian?" tanya Pak David.


"Iya, Om. Selain silaturahim, saya bermaksud memohon doa restu kepada mamah, papah, Om juga, karena saya akan melamar seorang gadis," jawab Rio.


"Oh, begitu. Tentu saja Om merestui. Kau juga kan, Kak? Kamu kan orang tuanya. Meski kau tak pernah mengandungnya, dia tetap menunjukkan baktinya."


Nyonya Danu tidak menjawab. Dadanya masih bergemuruh oleh amarah yang membakar.


Suasana kembali kaku. Namun, hanya sebentar. Tak lama kekakuan itu pecah dengan kehadiran pelayan yang menyuguhkan minuman dan makanan ringan.


"Ayo, diminum dulu! Dan kau, Kak, bersikaplah dewasa! Masa kau kalah dengan anak-anak muda ini?" ucap Pak David.


Nyonya Danu mendengus kesal. Sebenarnya, ia ingin mencakar-cakar wajah Via. Ia sangat membenci Via, orang yang dianggap penyebab runtuhnya kejayaan keluarganya.

__ADS_1


"O ya, saya juga akan menyampaikan pesan dari Lia untuk mamah dan papah," ucap Rio.


"Lia? Kapan kau menemuinya?" tanya Pak David terkejut.


"Tadi, sebelum ke sini. Izinkan saya memutar rekaman berisi pesan dari Lia," ucap Rio sambil mengeluarkan gawainya.


"Iya, Nak. Putar sekarang! Aku juga ingin tahu kondisi anak itu sekarang."


Rio membuka pengunci layar. Kemudian, ia mencari file rekaman video ucapan Lia dan memutarnya. Pak David memperhatikan betul layar yang menampilkan gambar gadis berpakaian seragam napi.


"Assalamualaikum, Mah, Pah. Apa kabar? Lia harap Mamah dan Papah baik. Lia di sini sehat. Mah, Pah, Lia kangen. Lia sangat ingin bertemu. Lia tahu kalau Lia tak pantas disebut anak berbakti. Tindakan Lia justru mencemarkan nama baik keluarga."


Suara Lia terdengar bergetar. Di layar tampak gadis itu menyusut air matanya.


"Mah, Pah, tindakan Lia didorong oleh keinginan membalas dendam yang Papah ajaran kepada Lia. Lia ingin menghabisi orang yang telah menyengsarakan keluarga kita. Begitu kan yang Papah ajarkan? Mamah juga mendukungnya. Namun, upaya Lia gagal dan berujung dimasukannya Lia ke hotel prodeo ini."


Lia kembali menjeda ucapannya. Ia tampak menata emosinya.


"Lia sekarang bersyukur menjadi penghuni lapas. Kenapa? Karena, setelah Lia di sini, Lia jadi sadar akan kesalahan Lia. Selain itu, Lia juga jadi dekat dengan Sang Pencipta yang selama ini tak pernah Lia hiraukan. Di lapas ini Lia belajar mengenal Allah. Dan tahukah siapa yang membuat Lia begini?"


Gadis itu kembali diam sesaat. Setelah menarik nafas panjang, ia kembali melanjutkan ucapannya.


"Yang berjasa meluruskan jalan Lia adalah Via dan suaminya. Orang yang selama ini Lia sakiti, bahkan Lia incar kematiannya. Mereka justru membalas seperti ini. Mereka tidak dendam, Mah, Pah. Di saat Lia hampir mati karena bunuh diri, mereka datang menyadarkan Lia. Mereka menunjukkan tempat bersandar yang sesungguhnya. Sekarang, Lia lebih tenang menjalani hari-hari Lia di sini. Lia menyandarkan semuanya kepada Allah, Sang Pemilik hidup kita. Lia berharap Mamah dan Papah juga bisa menemukan jalan kebenaran. Hilangkan dendam yang selama ini dipupuk terus-menerus! Kikis kebencian kepada orang-orang yang selama ini kita musuhi! Lia juga berharap Mamah bisa mengunjungi Lia. Selama ini Lia hanya bisa menjumpai kalian dalam mimpi. Sudah ya, Mah, Pah. Assalamualaikum."


Nyonya Danu tampak berkaca-kaca. Sementara Pak David mengusap wajahnya yang memerah.


Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening. Masing-masing terhanyut dalam angan.


"Kak, kau sudah dengar sendiri pesan anakmu. Sekarang kelihatannya anakmu sudah berubah. Apa kau tak mau berubah? Apa kau tetap memelihara kebencianmu? Bahkan, kepada anakmu sendiri kau juga menanam kebencian." Pak David menatap kakak iparnya.


Nyonya Danu menundukkan kepalanya. Sesekali ia menyusut air matanya.


Tiba-tiba, ia berlari ke dalam. Pak David hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Nyonya Danu.


"Begitulah kelakuan kakak iparku. Mereka keras kepala. Dendam mereka begitu kuat hingga menutupi nuraninya. Ia membenci Lia, anak kandungnya sendiri. Penyebabnya kegagalan Lia membunuh orang yang dianggap penyebab mereka jatuh miskin, bahkan Lia malah masuk penjara. Om sendiri juga malu dengan kelakuan Lia. Tapi, melihat video tadi, Om terharu. Anak itu sepertinya sudah berubah. Didikan yang salah dari kedua orang tuanya yang menyebabkan anak itu salah jalan. Om ingin bertemu dengan orang yang menyebabkan Lia bisa berubah. Om ingin berterima kasih."


Rio tersenyum. Ia melirik Via dan Farhan.


"Om David, orang yang membuat Lia berubah ada di sini. Via dan Mas Farhan yang menyadarkan Lia. Dan, Mas Farhan ini orang yang dicelakai Lia hingga hampir kehilangan nyawanya," tutur Rio.


Pak David terperangah. Ia menatap Via dan Farhan bergantian.


***


Bersambung


Nantikan kelanjutan ceritanya, ya! Terima kasih telah setia mengikuti cerita ini. Ikuti juga cerita tentang Nyonya Azka di novel Kak Indri Hapsari, CS1! Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like dan komentar.

__ADS_1


Barakallahu fiik.



__ADS_2