
Azka membimbing Meli masuk ke kamar yang bertabur bunga. Hiasan-hiasan menarik khas kamar pengantin mewarnai kamar tersebut.
Meli menyapu pandangan ke sekeliling kamar. Ia tampak mengagumi dekorasi kamar tersebut. Azka tersenyum melihat Meli yang terkagum-kagum.
“Ayolah, masuk! Masa dari tadi berdiri di dekat pintu begini. Memang mau jadi penjaga pintu?” seloroh Azka.
Meli tersenyum malu. Ia baru menyadari kalau sedari tadi hanya berdiri terpaku. Dengan langkah perlahan, ia mendekati ranjang lalu duduk di tepinya.
“Sayang, kamu nggak gerah? Nggak ingin mandi? Atau ingin aku mandiin?” Azka mengedipkan matanya.
“Ih, apaan sih? Aku mandi dulu. Tapi, baju gantiku di mana?” Meli tampak kebingungan.
Azka celingukan. Dia sendiri tidak tahu-menahu soal baju. Baru saja akan menghubungi seseorang, matanya tertumbuk pada lipatan kain di sofa.
“Mungkin itu. Sebentar aku ambikan.” Azka melangkah ke sofa. Diambilnya lipatan kain warna pink. “Aku kira ini baju untukmu.”
Meli menerimanya lalu dengan cepat masuk ke kamar mandi. Azka merebahkan tubuhnya ke ranjang. Ia membayangkan sebentar lagi Meli keluar tanpa hijabnya.
Sepuluh menit, lima belas menit, tiga puluh menit sudah Meli di kamar mandi. Azka mulai gelisah. Namun, ia masih menahan diri. Ketika jam di pergelangan tangan menunjukkan kalau ia sendirian di atas ranjang selama satu jam, Azka bangkit. Dilepasnya jas berwarna keperakan itu. Ia juga melepaskan jam yang melingkar di pergelangan tangan.
“Mel, kamu masih di dalam? Lama amat mandinya? Ayolah, aku juga ingin mandi," kata Azka sembari menggedor pintu kamar mandi.
“Sebentar!” seru Meli dari dalam.
Azka pun berdiri di depan kamar mandi. Sudah lima menit berlalu, pintu belum juga terbuka. Azka melepaskan kemeja dan celana panjangnya, hingga menyisakan kaos singlet dan boxer.
“Meli! Kamu tidur?” Azka menggedor pintu kamar mandi lagi.
“Eng—enggak. I—ini mau keluar.” Suara Meli terdengar gugup.
Pintu kamar mandi dibuka. Tampak Meli mengenakan night gown berbahan satin warna pink dihias renda di bagian leher dan lengan. Ia menundukkan kepala.
Azka ternganga Meli tapak begitu cantik. Tapi, ....
“Kenapa pakai jilbab lusuh begitu?” tanya Azka heran.
“A—adanya ini,” jawab Meli gugup. Ia tak berani menatap Azka.
“Buat apa dipakai? Lepas saja! Aku mandi dulu,” ucap Azka sambil melangkah masuk kamar mandi.
Bukannya segera mandi, Azka justru menatap cermin. Ia senyum-senyum tak jelas.
Saat keluar kamar mandi dengan wajah segar, Azka mendapati Meli tengah duduk termenung.
“Kok melamun?” tegur Azka.
Meli menoleh. Ia kaget melihat Azka.
“Kok Mas Azka nggak pakai baju?”
“Baju yang tadi kan kotor. Aku hanya menemukan boxer di bawah bajumu tadi. Ya sudah, aku cuma pakai boxer sama jubah mandi. Ini pasti kerjaan Mas Farhan,” jawab Azka santai.
“Kok jadi suuzon sama Mas Farhan?”
__ADS_1
“Hehe... Kakakku kadang suka jail. Eh, kamu kok masih pakai jilbab gini? Kita kan sudah sah. Jadi, aku boleh melihat aurat kamu. Aku buka, ya,” kata Azka sambil mendekat.
Meli hanya mengangguk. Ia kembali menunduk.
“Sini, jangan nunduk gitu! Aku susah buka peniti nanti.” Azka meraih dagu Meli, lalu ditengadahkan.
Melihat wajah Meli begitu dekat, Azka tak dapat menahan diri. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Meli dan menyatukan bibir mereka.
Untuk beberapa detik, mereka larut dalam penyatuan dua pasang organ tak bertulang. Setelah puas, Azka melepas. Ia tersenyum puas. Barulah tangannya bergerak melepas kain yang menutup kepala Meli.
“Ternyata rambutmu panjang. Hmm, wangi sekali,” ucap Azka sambil mencium rambut Meli.
Meli tidak menanggapi dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum malu.
“Kamu sudah siap? Sudah tahu doanya?” bisik Azka.
Meli mengangguk mantap. Ia menatap Azka sesaat.
“Boleh aku dengar bagaimana doanya?”
“Bismika Allahuma ahya wa bismika amut,” jawab Meli cepat.
Azka kaget. Ia lupa kalau duduk di tepi ranjang. Karena gerakan spontan yang cepat, ia jatuh terduduk di lantai.
“Aw, sakit,” desis Azka sambil mengusap pantatnya.
“Mas Azka kenapa duduk di bawah. Jatuh, Mas?”
“Sudah jelas-jelas aku jatuh, masih nanya. Eh, kenapa suaranya berubah? Kok kamar juga jadi remang-remang gini?” batin Azka.
“Mel, kamu kok kuat banget?” tanya Azka.
“Mel? Saya Edi, Mas. Mas Azka mimpiin Mbak Meli, ya?”
Azka terkejut. Matanya terbelalak saat lampu kamar menyala terang. Wajah Edi yang ia lihat, bukan Meli.
“Ah, ternyata beneran Mas Edi,” keluh Azka lirih.
Edi tak dapat menahan tawanya. Ia memegang perutnya yang terguncang.
“Sudah nggak sabar, ya? Baru lamaran beberapa jam yang lalu. Seminggu lagi, Mas, ijabnya. Nggak lama, kok,” canda Edi yang sudah kehilangan kantuknya.
“Aaah, aku juga tahu. Tapi mimpi itu tiba-tiba hadir,” keluh Azka.
“Memang tadi mimpi apa?” tanya Edi kepo.
“I—itu, aku di kamar bersama Meli. Aaah, sudahlah!” Azka menelungkupkan badannya ke ranjang, menyembunyikan wajahnya ke bantal.
Edi tertawa lagi. Ia baru tahu kalau orang jatuh cinta bisa konyol. Ia tersenyum mengingat waktu jatuh menimpa Mira setelah makan bakso.
“Ya sudah, kalau begitu Mas Azka tidur lagi. Besok kita kembali ke Jogja. Habis itu, Mas Azka harus menyiapkan segala sesuatu buat pernikahan. Sudah dekat, Mas.” Edi memberi saran.
Azka membalikkan tubuhnya dengan cepat. Ia menatap Edi lekat.
__ADS_1
“Bukannya anak buah Mas Edi yang mengurus surat-suratnya?” tanya Azka.
“Untuk surat-surat memang saya sudah menyuruh anak buah saya. Nanti dia yang mengurus baik yang di Jogja maupun yang di Jember. Pokoknya, Mas Azka serahkan urusan pencatatan sampai terbitnya buku nikah kepada Sarno. Dia bisa diandalkan.”
“Syukurlah kalau begitu. Aku tidak pusing memikirkannya. Lalu, kenapa Mas Edi menyuruh aku mempersiapkan pernikahan kalau Sarno bisa diandalkan?”
“Memangnya urusan menikah hanya sebatas surat? Besok Mas Azka tanyakan kepada bunda Mas Azka!” Edi mengulum senyum.
“Gitu, ya? Ya sudah besok aku tanyakan ke bunda,” kata Azka.
“Sekarang Mas Azka tidur lagi saja! Masih jam 1. Besok butuh stamina untuk menempuh 500 kilometer. Siapa tahu saya atau Pak Nono, atau Pak Yudi butuh diganti,” ucap Edi.
Azka mengangguk. Ia mematikan lampu kamar dan merebahkan kembali tubuhnya di ranjang. Ia memang meminta Edi memesan kamar doble bed untuk mereka berdua. Sebelum tidur, Azka ngobrol banyak hal tentang pernikahan dengan Edi.
“Bisa nggak ya, mimpi yang tadi berlanjut? Ah, sayang sekali mimpinya baru sampai buka jilbab. Aku pakai jatuh, sih. Ini gara-gara kamu, Mel. Kamu kok malah ngucapin doa mau tidur, sih? Dua kali aku jatuh dari ranjang karena Meli,” gumam Azka dalam hati.
Dipejamkannya mata yang mulai memberat. Sayangnya, mimpi itu tak kembali hadir. Azka terlelap hingga jam 3.
Esoknya, mereka bersiap pulang kembali ke Jogja. Koper-koper mereka masukkan ke bagasi.
“Ka, tadi malam kamu makan donatnya, nggak?” tanya Bu Aisyah sambil menata oleh-oleh dari keluarga Meli.
“Enggak. Memang kenapa, Bun?” tanya Azka tanpa menoleh.
“Wah, rugi nggak makan donat buatan calon istri,” seloroh Pak Haris.
“Hah? Iyakah? Itu donat Meli yang buat?” tanya Azka sambil menatap Bu Aisyah.
“Lho, memangnya kamu nggak dengar ucapan ibunya Meli, Dek?” Farhan menimpali.
"Bukannya kamu habis banyak tu donat, Dek? Lupa?" celetuk Via.
Azka hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia mengingat peristiwa lamaran semalam. Waktu baru datang, ia memang grogi setengah mati. Ia belum bisa menata hati. Ternyata calon mertua tak menakutkan seperti yang ia bayangkan. Ayah Meli 11-12 dengan putri tunggalnya, membuat Azka bisa menyesuaikan diri.
"Kayaknya perkataan dan perbuatan gak sejalan. Tadi malam bilang istriku bisa masak-masakan sama bunda. Lupa kalau calon istri pintar bikin kue," kata Farhan sambil melirik adiknya.
“Ya sudah, besok kalau sudah sah kamu bisa minta Meli buatkan donat tiap hari,” kata Via.
“Ya nggak tiap hari juga kali,” gumam Azka sambil menutup pintu belakang mobil.
“Siap-siap dalam lima hari ke depan. Stamina harus kuat, Mas!” Pak Yudi ikut meledek calon pengantin.
Ke mana Ratna? Dia sedang berdiri sambil merangkai gambar dalam khayalan. Di benaknya, bayangan Salsa muncul dengan wajah sendu khas patah hati. Lalu, bayangan berganti dengan wajah Rio yang melamar dengan setangkai mawar. Lamunan yang silih berganti membuatnya tak sadar kalau hanya diam mematung.
“Ratna, kamu masih betah di Jember? Atau sekalian kamu nginap di sini sampai minggu depan, bantu-bantu keluarga Meli?” tegur Via sambil menepuk bahu Ratna.
Ratna tersentak. Ia menoleh sambil tersenyum malu. Ia pun masuk ke mobil, bergabung bersama calon pengantin.
*
Bersambung
Keseruan lamaran keluarga Azka ke keluarga Meli bisa Kakak baca di Cinta Strata 1 karya Kak Indri, ya! Jangan lupa tinggalkan like dan komen di setiap episode karya kolaborasi kami. Terima kasih Kakak.
__ADS_1
Barakallahu fiik