SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Hari H (2)


__ADS_3

Jelang pukul 2 siang tamu-tamu yang hadir bertambah banyak. Di antara rombongan tamu yang baru datang, ada 5 orang yang sangat Ratna kenal.


Toni, Miko, Dina, Mita, dan Fani, teman sekelas Ratna dan Via datang bersama.


"Ah, kalian datang juga. Aku kangen," rengek Ratna sambil membentangkan kedua tangan.


Mita yang berjalan paling depan mendadak berhanti lalu mundur selangkah.


"Eit, tunggu! Kamu siapa mau main peluk-pelukan. Nggak enak pelukan sama orang tak dikenal," ujar Mita dengan wajah sinis.


"Aku Ratna. Masa kalian nggak kenal?"


Ekspresi Ratna seketika berubah. Senyum yang tadinya menghiasi bibirnya mendadak lenyap.


"Hahaha...lihat mukanya jadi lucu. Aih, jadi pengin nonjok," ledek Miko.


"Kalian jahat! Sana, balik aja!" hardik Ratna.


Kelima orang yang dihardik tertawa lepas. Mereka dengan santai meninggalkan Ratna yang masih cemberut.


"Selamat, ya Vi. Moga langgeng, jadi keluarga samara," ucap Toni. Tangannya yang terulur segera ditarik, ditakupkan ke dada mengikuti Via


"Aamiin. Makasih, ya," jawab Via.


Saat giliran Dina dan Mita tentu tidak hanya bersalaman. Mereka berpelukan erat.


"O ya, Doni nggak bisa datang. Dia nitip kado buatmu. Tadi aku taruh di meja depan," kata Dina. Ia memang kuliah di kampus yang sama dengan Doni.


"Kayaknya Doni belum bisa move on deh, Vi," sambung Mita.


Seketika itu Via menginjak kaki Mita dan menarik tangannya hingga mukanya mendekat ke Via.


"Nggak enak sama Mas Farhan. Jangan sebut Doni!" bisik Via geregetan.


Mita hanya mengangguk. Sikapnya berubah canggung kala melihat muka Farhan yang berubah menjadi dingin. Setelah foto bersama, mereka turun.


"Eh, muka Mas Farhan serem deh," kata Mita saat mengambil minuman.


"Serem gimana? Cakep gitu, kok," sahut Dina.


"Tatapannya tajem banget. Kayak mau nguliti aku hidup-hidup." Mira begidik ngeri.


Dina tertawa melihat tingkah Mita. Ia juga heran mengapa Mita seperti itu.


"Perasaan tadi waktu aku ngucapin selamat, dia tersenyum ramah. Kamu ngajak salaman, ya? Aku kan nggak lihat karena kamu di belakang aku."


Mita menggeleng. Diteguknya minuman bersoda warna merah.


"Aku tadi bilang sama Via kalau Doni belum move on. Via bisikin aku biar nggak nyinggung soal Doni. Aku amggukin aja. Bukannya suami Via nggak tahu soal Doni?


Dina tertawa. Ia baru mengerti mengapa Farhan menjadi horor.


"Waktu Doni nembak Via dulu, ketahuan Mas Farhan. Dia langsung ngajak Via pulang."


Mita bengong. Ia menatap Dina tak percaya.


"Lah, emang Mas Farhan sudah menyukai Via?" tanya Mita.

__ADS_1


"Mungkin sudah dari dulu," jawab Dina santai.


Sementara di pelaminan dokter Haris sedang cipika-cipiki dengan seorang cowok.


"Terima kasih atas kehadiran dan doa restu dokter Adi. Terima kasih telah menyempatkan hadir, jauh-jauh ke sini. Ini siapa?" ucap dokter Haris.


"Ini Suster Rina, dok," jawab dokter Adi.


"Calon istri? Segera saja nyusul anak saya! Jangan lupa undangan untuk kami!"


Dokter Adi tertawa. Sementara perempuan yang dipanggil Suster Rina tersenyum malu.


"Doakan saja, dok!" ucap dokter Adi santai.


Dokter Adi yang terkenal sebagai dokter cinta mengucapkan selamat kepada mempelai diikuti oleh Suster Rina. Mereka kemudian bergabung dengan beberapa dokter yang sudah hadir.


Tak lama berselang, ada sedikit kehebohan di pintu masuk. Cewek-cewek terpesona oleh ketampanan seseorang yang baru datang.


"Hai Anjani, Meli, terima kasih sudah datang," sapa Ratna ramah. "Kau mengawal mereka, Jun?"


Juno hanya meringis. Ia menoleh ke belakang.


"Masih ada cowok cakep lain. Tuh cewek-cewek yang di dalam udah pada ngliat ke sini," ujar Juno.


"Eh Mario dan Ken. Makasih udah datang. Sana, ketemu mempelai dulu!" kata Ratna melihat dua cowok ganteng di belakang Juno.


Setelah basa-basi sebentar dengan Ratna, mereka melangkah masuk untuk menemui pengantin.


"Kak Ratna, itu teman kuliah Kakak?" bisik Dini.


"Ih, apaan sih? Dini kan cuma nanya," gerutu Dini dengan muka bersemu merah.


Sorenya, kedua mempelai beristirahat sejenak. Sambil menunggu waktu maghrib, Via duduk di sofa sambil memijit kakinya yang pegal.


"Sini, Mas pijitin. Pasti pegal berdiri berjam-jam," kata Farhan yang baru selesai mandi.


Pria itu duduk di dekat Via. Ia menarik kedua kaki Via ke atas pangkuannya lalu memijit dengan lembut.


"Eee... nggak usah, Mas. Via bisa, kok," cegah Via. Gadis itu menarik kakinya dari atas pangkuan Farhan. Namun, cengkeraman tangan Farhan lebih kuat.


"Kan lebih enak dipijit orang lain dari pada mijit sendiri," kata Farhan sambil terus memijit betis Via.


"Iya sih. Pijitanmu enak juga. Aku bisa ketagihan, nih. Eh, kok ngelunjak," batin Via.


Akhirnya Via membiarkan Farhan memijit kakinya.


Saat jarum pendek sudah mulai bergeser dari angka 7, Farhan dan Via kembali ke pelaminan. Tak lama kemudian, tamu-tamu mulai hadir.


Malam hari diperuntukkan bagi undangan dari kalangan pebisnis. Mereka adalah teman-teman Farhan, almarhum Pak Wirawan, Eyang Probo, Pak Adi, juga Pak Candra. Tentu saja sebagian dari luar kota.


Di antara tamu yang hadir di awal sesi kedua adalah Raka, seorang pengusaha sukses dari Surabaya. Ia datang bersama Aira, istrinya. Tadinya, Raka seorang duda beranak satu. Jadi, pernikahan Aira karena ia dipaksa menikahi tuan muda duda.


"Terima kasih, Tuan Raka jauh-jauh dari Surabaya untuk menghadiri pernikahan cucu saya, " ucap Eyang Probo. Mereka pun berbincang sejenak.


Sekitar sepuluh menit kemudian, lagi-lagi pria seusia Farhan datang. Ia menggandeng seorang gadis cantik.


"Mas Dion, Mbak Rosa!" seru Farhan.

__ADS_1


Pria itu tersenyum lebar. Ia memeluk erat Farhan.


"Selamat, ya! Ternyata kamu sudah nikah setahun yang lalu. Tapi belum mencicipi bobo bareng, ya?" Kalimat terakhir diucapkan Dion dengan berbisik ke telinga Farhan.


Muka Farhan menghangat. Ia memukul lengan Dion pelan.


"Mas Dion sendiri mau kapan? Kalau kelamaan, Mbak Rosa keburu disambar Mas Rud lo! Jangan lupa undang kami, ya!" Farhan balas menggoda sahabatnya.


"Ssstt, jangan sebut nama itu!" Nada suara Dion mendadak berubah. Rosa tanggap, segera mengelus lengan kiri Dion untuk menenangkan.


"Maaf, makanya cepetan!" ujar Farhan sambil tersenyum.


"Kami sih terserah Aldekha Depe. Kalau dia gak plin plan, sebentar lagi deh resepsi kami," sahut Rosa.


Via yang tidak mengenal keduanya hanya bisa diam sambil sesekali tersenyum.


Saat malam semakin larut, kedatangan dua orang yang tampaknya pasangan suami-istri, disambut keluarga Wijaya dengan hangat. Dia adalah Alza Wijaya.


Setelah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, Alza mengajak Tiara menemui rekan bisnisnya.


"Kamu keberatan nggak duduk bersama rekan bisnisku? Kalau kamu nggak nyaman, kamu bisa ngobrol dengan saudara misanku. Itu dia, namanya Dini. Dia juga dari Sumatera. Bagaimana?"


Tiara terdiam sejenak. Ia teringat cerita mama mertuanya.


"Aku nggak ikut Bang Alza, ya," pinta Tiara.


"Kalau begitu, kupanggilkan Dini. Kamu ngobrol bersamanya, ya," ucap Alza.


Tiara mengangguk setuju. Alza pun memanggil Dini dan memintanya menemani Tiara. Dini dengan senang hati mengiyakan permintaan Alza.


"Kak Tiara ketemu pertama sama Kak Alza di mana?" tanya Dini sambil mengambil kudapan.


"Eh, itu, di danau dekat rumahku," jawab Tiara sedikit tergagap.


"Wah, ceritanya danau cintaku nih," ujar Dini sambil tertawa renyah. Tiara ikut tertawa.


"Boleh tanya?" Tiara sedikit ragu.


"Tentu saja. Kok Kak Tiara takut-takut gitu? Aku gak gigit, kok," canda Dini.


"Aku kan belum begitu mengenal keluarga Kak Alza. Itu...yang saudara Bang Alza mempelai pria apa wanita? Kok sepertinya keduanya nggak kenal Bang Alza?"


"Oh itu. Yang keluarga Wijaya itu Kak Via. Tapi, Kak Tia belum lama tahu kalau dia bagian dari keluarga Wijaya. Papanya dulu pergi dari rumah semenjak masih bujangan. Sampai om meninggal, Kak Via tidak diberi tahu silsilah keluarga Wijaya. Resepsi ini sekaligus syukuran berkumpulnya keluarga kami," kata Dini menjelaskan.


Tiara mengangguk paham. Ia merasa nyaman bersama Dini meski baru bertemu.


Kedua mempelai meninggalkan pelaminan kala waktu sudah cukup larut. Farhan membimbing Via memasuki lift menuju kamar pengantin di lantai paling atas.


***


Bersambung


Siapa yang nunggu MP? Apa yang dilakukan Farhan dan Via selanjutnya?


Ikuti episode selanjutnya, ya!


Yang belum kondangan, boleh nyusul kok 🤭

__ADS_1


__ADS_2