
Flash back on
Di sofa depan kamar, Via dan Ratna asyik memelototi layar monitor yang menampilkan gambar tangkapan CCTV yang ada di lantai 1. Mereka mengamati tingkah Mira dan Edi.
“Kayaknya mereka canggung gitu, ya? Tuh, lihat cara Mbak Mira naruh cangkir kopi. Kayaknya Mbak Mira gemetar, deh.” Ratna tertawa cekikikan.
“Hhmm…Mas Edi juga sepertinya grogi. Gesture-nya kelihatan, tuh. Kayaknya dia tegang gitu.” Via menambahkan.
Mereka terus memperhatikan gambar di layar monitor berukuran 20 inch. Sesekali Ratna memasukkan cistik yang ada di pangkuannya ke dalam mulut.
“Hei, lihat! Ada cowok masuk, tuh! Pembelikah? Atau kenalan Mbak Mira, ya?” ujar Ratna.
“Sepertinya pembeli. Jarang ya, ada pembeli cowok, datang sendirian lagi,” gumam Via.
“Oh, betul dia pembeli. Tuh Mbak Mira ngambil beberapa gamis. Semoga borong gamis dia hehe.” Ratna berharap agak tinggi.
Perhatian mereka tak pernah sedikit pun lepas dari monitor. Salsa yang baru keluar dari kamar mandi dibuat heran dengan tingkah keduanya.
“Sedang ngamatin apa, sih? Kayaknya seru,” ujar Salsa sambil mendekat.
“Sstt, jangan berisik! Duduk sini! Jangan turun dulu!” perintah Ratna tanpa menoleh. Tangannya memberi isyarat agar Salsa duduk di sampingnya.
“Oh, ada pembeli yang minta dibungkusin kado, ya?” tanya Salsa sambil ikut memperhatikan monitor.
“Iya, kamu perhatikan saja!” Suara Ratna terdengar tegas.
Salsa pun diam. Matanya ikut mengawasi monitor.
“Eh, Mas Edi bangkit dari duduknya. Mau apa dia?” desis Via.
“Kayaknya Mas Edi kok kesal? Ah, cowok itu juga sepertinya nggak suka sama Mas Edi.” Ratna menimpali.
“Hei, lihat! Mbak Mira melambaikan uang tapi nggak dihiraukan cowok itu. Mungkin Mbak Mira mau ngasih kembalian tapi ditolak. Waaah, jangan-jangan cowok itu suka sama Mbak Mira,” kata Salsa.
Mereka saling berpandangan. Senyum mengembang di bibir mereka.
“Lho, Mas Edi sepertinya tambah kesal, tuh.” Ratna mengentikan kunyahan cistik dalam mulutnya.
“Aku kok jadi ingat sikap Mas Farhan saat Doni nembak aku. Eh, keceplosan.” Via menutup mulutnya.
“Haha… Mas Farhan cemburu, ya?” tanya Ratna.
Via hanya mengangguk. Tangannya masih menutup erat mulutnya.
“Kamu turun saja, Via. Takutnya kedua orang itu bertengkar.” Ratna menyuruh Via.
“Oke. Tugas untukmu, coba amati terus Mbak Mira! Kalau yakin, korek sedikit demi sedikit. Mas Edi biar kuurus. Nanti aku minta bantuan Mas Farhan,” kata Via. Ia segera membereskan buku-bukunya.
“Deal!” sahut Ratna sambil mengulurkan tangan.
Via menghentikan kesibukannya membereskan buku. Ia menerima uluran tangan Ratna.
“Deal,” ucap Via menyalami Ratna.
Salsa hanya terbengong-bengong melihat tingkah absurd keduanya. Ia tidak paham apa yang dipikirkan Via dan Ratna.
“Sebenarnya ada apa, sih?” tanya Salsa penasaran.
Ratna hanya terkekeh. Ia mengedipkan satu matanya.
“Aku turun dulu. Kalian tetap di sini dulu sampai aku pergi. Amati lagi, ya! Assalamualaikum.” Via meninggalkan Ratna dan Salsa.
Flash back off
Via menuruni tangga perlahan. Matanya memperhatikan Edi dan Mira yang duduk terdiam.
“Kok kayak marahan, diam-diaman gitu?” celetuk Via.
“Eh, eng—nggak kok,” sahut Edi dan Mira bersama.
“Wah, jawabnya kompak. Hehe…” Via terkekeh.
__ADS_1
Edi dan Mira saling tatap beberapa detik. Kemudian mereka sama-sama menunduk.
“Via pamit ke kantor dulu, Mbak. Yuk, Mas Edi!”
“I—iya.” Lagi-lagi mereka menjawab bersama.
Via tersenyum karenanya.
“Assalamualaikum, Mbak Mira,” ucap Via.
“Waalaikumsalam. Hati-hati, ya!” Mira berjalan mengekor keduanya.
Ia berhenti di depan pintu. Begitu mobil hitam yang dikemudikn Edi mulai bergerak, Mira melambaikan tangannya. Gadis itu masih berdiri mematung di depan pintu meski alphard milik Via sudah tidak tampak.
***
Farhan duduk di kursi kebesarannya. Matanya masih menatap layar monitor laptopnya. Sesekali jemarinya menari di atas keyboard.
“Ada yang bisa Via bantu?” tanya Via sembari duduk di depan suaminya.
“Enggak usah. Ini hanya mengecek laporan, kok. Sebentar lagi selesai. Cinta istirahat saja dulu di sofa.” Farhan tidak mengalihkan pandangan dari layar monitor.
Via bangkit dari duduknya. Ia bukannya duduk di sofa seperti yang diperintahkan Farhan melainkan ke jendela. Disibaknya filtrase putih yang menutup jendela besar.
Pandangannya diarahkan ke luar, menatap lalu lalang kendaraan yang terlihat dari atas.
“Lihat apa, sih? Jalan yang penuh dengan kendaraan?” terdengar suara lembut di telinga Via.
Pinggang Via merasakan ada tangan yang melingkari. Hembusan nafas yang sangat Via hafal aromanya menerpa pipi kirinya.
“Sekarang di mana-mana jalanan dipenuhi kendaraan pribadi. Sepuluh, dua puluh tahun yang akan datang seperti apa, ya?’ gumam Via.
“Kok tumben memikirkan lalu lintas?” tanya Farhan dengan mempertahankan posisi memeluk Via dari belakang.
“Prihatin saja. Eh, Hubbiy sudah selesai?” Via mengalihkan pembicaraan.
“Sudah. Kenapa? Mau ngajak keluar?”
“Enggak, kok. Duduk, yuk!” ajak Via.
“Ih, apa-apaan! Via kan bisa jalan sendiri!” pekik Via.
Farhan tidak memedulikan pekikan istrinya. Ia meletakkan tubuh Via ke sofa secara perlahan.
“Istirahatlah! Mau dipijit?” Farhan mengajukan tawaran.
“Nggak usah. Kaki Via nggak pegel, kok,” tolak Via.
“Barangkali ingin pijitan yang lain? Yang pakai plus plus?” Farhan tersenyum sambil mengedipkan matanya.
“Haish, apaan plus plus segala!” gerutu Via.
Farhan terkekeh melihat istrinya cemberut. Ia duduk di sofa yang sama dengan yang digunakan Via untuk tiduran.
“Eh, ada yang mau Via omongin.” Via mengubah posisinya. Ia duduk bersandar.
“Soal apa?” tanya Farhan.
“Mas Edi. Sepertinya dia sedang memendam perasaan,” kata Via.
“Memendam perasaan? Maksud Cinta bagaimana?” Farhan tampak bingung.
“Kayaknya Mas Edi lagi jatuh cinta, deh.”
Farhan terbelalak mendengar ucapan Via. Ia menatap Via seolah tak percaya.
"Tadi Via dan Ratna mengamati tingkah Mas Edi dan Mbak Mira lewat tangkapan CCTV. Via pura-pura mengerjakan tugas kelompok bareng Ratna di atas. Salsa juga di atas bareng kami."
"Berarti Mas Edi berduaan dengan Mira?" Farhan mengklarifikasi.
"Iya. Tapi nggak berdekatan duduknya. Nggak lama berduaannya karena ada pembeli. Mas Edi kelihatan nggak suka sama si pembeli itu. Via jadi ingat ...." Via tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia justru senyum-senyum tidak jelas.
__ADS_1
"Ingat apa?"
"Ingat ada yang bermuka masam saat Via ditembak Doni."
Tawa Via pecah. Sementara, muka Farhan tampak memerah. Ia menjadi salah tingkah.
"Aaah, jangan ungkit yang sudah lewat, dong!" Farhan terlihat malu sekaligus kesal.
"Beneran, nggak boleh ngungkit masa lal" ledek Via.
"Ya---ya yang menyenangkan saja. Sudah, ah! Lanjutkan cerita tentang Mas Edi!" Farhan mencoba mengembalikan topik pembicaraan.
"Ciee...ada yang malu." Via masih semangat meledek suaminya.
"Ni jadi apa nggak, cerita tentang Mas Edi?" tanya Farhan kesal.
"Iya, iya. Mas Edi terlihat cemburu sama pria itu," lanjut Via.
"Kok bisa?" korek Farhan.
"Sepertinya pembeli itu tertarik sama Mbak
80 Mira dengan ngajak kenalan. Uang kembalian beli gamis saja tidak ia ambil."
"Oh, begitu." Farhan hanya ber-oh ria.
"Coba Hubbiy selidiki, deh. Kalau dugaan Via dan Ratna benar, kita comblangi biar mereka bisa bersatu."
"Apa itu bukan berarti kita ikut campur urusan orang?" Farhan tampak ragu.
"Via rasa nggak. Kan kita tidak memaksa. Via cuma ingin bantu. Sampai sekarang Via masih merasa bersalah," kilah Via.
"Bersalah kenapa?"
"Mbak Mira kan dulu suka sama ...."
Via mendadak ingat janjinya. Ia tidak melanjutkan ucapannya.
"Sama siapa? Kok nggak dilanjutkan?" kejar Farhan.
"Sama seorang teman Via. Mbak Mira minta tolong Via untuk nyomblangin. Ternyata, cowok yang ditaksir Mbak Mira sudah beristri. Tapi, Hubbiy jangan cerita ke orang lain, ya!" Via menatap Farhan penuh harap.
"Nyaris keceplosan," batin Via.
"Iya, Mas gak akan cerita ke siapa pun insya Allah. Tapi, itu kan bukan salahmu. Kenapa mesti merasa bersalah?"
"Karena Via sudah menyanggupi, ternyata gagal. Sudahlah, tidak usah membahas masa lalu Mbak Mira. Sekarang, kita pastikan Mas Edi tertarik nggak sama Mbak Mira dan juga sebaliknya." Via mengalihkan pembicaraan.
"Ngomong-ngomong usia Mbak Mira berapa, sih?" tanya Farhan.
"Sekitar 22 tahun. Kalau Mas Edi berapa?" Via balik bertanya.
"Dari biodatanta, sekarang Mas Edi berusia 31 tahun. Berarti selisih 9 tahun dengan Lumayan jauh terpautnya dengan Mira, ya?" Farhan menghitung-hitung.
"Lah, kita juga selisih 8 tahun lo!" Via mengingatkan.
Farhan melongo sesaat. Ia tersenyum setelah menyadari kebenaran ucapan Via.
"Sudahlah, pokoknya tugas Hubbiy mengorek keterangan tentang perasaan Mas Edi. Dia suka Mbak Mira atau enggak. Oke?" desak Via.
Farhan akhirnya mengangguk setuju. Tentu saja Via sangat senang.
***
bersambung
Jangan lupa klik like, bintang 5, komentar, juga vote untuk dukung author.
Terima kasih atas dukungan Kakak selama ini.
Sambil menunggu up lagi besok, baca novel berikut yuk!
__ADS_1