SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kondisi Eyang


__ADS_3

“Cinta, ada telepon dari bunda. Eh, Meli sudah datang,” kata Farhan sambil menyerahkan gawai milik Via.


Via menerima panggilan dari sang bunda. Sesekali ia mengangguk sambil mengiyakan.


“Ada apa, Cinta?” tanya Fahan.


“Bunda menanyakan kapan kita ke rumah eyang. Meli juga. Eyang menunggu kedatangan kita.” Via menjawab sambil memasukkan gawai ke dalam kantong gamis.


“Kalau begitu, kita ke sana setelah kalian membereskan ini semua. Nanti sekitar jam 2 kita pulang untuk mempersiapkan acara lamaran,” sahut Farhan.


Via mengangguk. Farhan membalikkan badan lalu berjalan menuju teras untuk menemui Azka.


“O ya, prol tapenya?” Via menatap Meli.


“Maaf, Mbak. Tadi bikinnya sesuai bahan yang ada. Tapi, baru saja matang langsung dimakan Mas Azka. Ada separuh kayaknya. Padahal, Meli bikinnya gak banyak karena tape yang ada di kulkas juga gak ada sekilo. Itu masih ada, sih. Tapi gak cukup kalau dibuat hantaran. Dimakan bareng-bareng saja di rumah Eyang Probo. Donat juga masih,” jawab Meli.


“Suamimu itu doyan apa lapar? Makan prol tape segitu banyak. Atau kalian belum sarapan, nggak sempat masak?” cecar Via.


“Udah, kok. Mas Azka beli,” jawab Meli malu-malu.


Via tersenyum membayangkan pasangan suami istri itu saat di rumah berdua. Ia pun teringat awaal-awal dia menikah dengan Farhan. Jangankan bermesraan, cinta pun belum tumbuh di hatinya. Ia begitu canggung ketika berdekatan dengan Farhan. Tanpa sadar Via menghela nafas panjang. Hal itu menarik perhatian Meli.


“Ada apa, Mbak? Kok kelihatannya sedih? Kurang lengkap hantarannya, ya? Apa sekarang Meli buat di sini? Bahan-bahannya ada?” Meli tampak khawatir.


Via kembali melukis senyum di bibir. Ia menepuk bahu Meli pelan.


“Nggak usah. Untuk makanan, sudah ada yang lain, kok. Lemper, sengkulun, dan kueku untuk makanan tradisional. Ada cake, bolu gulung juga. Masih ditambah donat cantik buatanmu.”


Meli terlihat lega. Namun, ia masih penasaran dengan sikap Via.


“Kok tadi kayak ada beban sampai tarik nafas panjang?”


“Kepo, ah!” ujar Via sembari tersenyum.


“Ya, kan Meli khawatir ada apa-apa,” sahut Meli.


“Nggak apa-apa, kok. Mendadak aku teringat awal-awal aku menikah dengan Mas Farhan. Pernikahan kami serba mendadak. Itu semua karena misi penyelamatan perusahaan peninggalan almarhum papa. Jangankan bermesraan, cinta pun belum hadir di antara kami,” kata Via.


“Siapa bilang? Aku sudah jatuh cinta, kok,” celetuk Farhan yang tiba-tiba sudah kembali.


Via kaget karena tidak mengira Farhan mendengar ucapannya. Mendadak tangan Farhan melingkari pinggang Via diikuti kecupan lembut di kening Via.


“Hubbiy, ada Meli. Nggak malu, apa?” gerutu Via dengan muka kemerahan.


“Biar saja dia ngiri. Toh ada suaminya. Kalau ingin meniru kita, tinggal nempel ke Dek Azka,” sahut Farhan santai.


"Memangnya materai, pakai nempel?" gumam Via.


Meli menyingkir. Ia meninggalkan kakak iparnya yang tengah bermesraan.


“Mas Azka!” teriak Meli.

__ADS_1


“Ada apa, sih? Kok teriak-teriak?” tanya Azka yang tengah berjalan dari arah ruang tamu.


“Itu, Mas Farhan main peluk Mbak Via di depanku. Aku jadi baper, deh.” Meli mengadu.


Azka terkekeh. Dengan gerakan cepat ia meraih pinggang ramping Meli dan menariknya. Meli yang tak siap tentu saja kehilangan keseimbangan dan terjerembab hingga menimpa tubuh Azka.


Tubuh Azka sedikit terhuyung ke belakang. Namun, ia segera dapat menemukan keseimbangan sambil tetap memeluk Meli. Wajah mereka beradu. Tanpa permisi lagi, Azka melekatkan bibirnya ke bibir Meli.


Ketika lidah Azka mulai menyusup ke rongga mulut Meli, terdengar deheman. Tentu saja Azka segera melepaskan Meli.


“Ah, Mas Farhan ganggu saja.” Azka menggerutu.


“Dilanjut nanti malam kan bisa, Dek. Kita ditunggu eyang. Ayo berangkat!”


“Itu kan gara-gara Mas Farhan. Siapa dulu coba yang pamer kemesraan?” protes Azka.


“Sudah, tidak usah banyak protes. Ayo berangkat! Kamu yang nyetir, ya!”


“Kenapa bukan Pak Yudi?” tanya Azka.


“Lagi kelelahan. Biar dia istirahat. Nanti sore kan ngantar kita ke rumah Ratna. Pak Nono sedang mengantar Om Candra,” jelas Farhan.


Azka mengambil kunci mobil. Sementara itu, Via ke atas mengambil tasnya. Tidak hanya tas, ia pun mengambil Zayn dari gendongan Mbok Marsih dan tote bag.


“Apa itu?” tanya Farhan seraya menunjuk tote bag di tangan kanan Via.


“Sengkulun dan kueku. Eyang suka banget, kan? Om Candra juga,” jawab Via.


"Ayahku juga suka sengkulun, tuh," Meli menimpali.


“Iya. Tadi sebelum kalian ke sini, Om Candra dan Tante Lena ke rumah Eyang Probo diantar Pak Nono,” jawab Farhan.


Mereka berjalan menuju mobil yang masih terparkir di halaman.


“Eh, donat dan prol tapenya sudah dibawa belum, Mel?” Via mengingatkan.


“Sudah, kok. Tadi yang kubawa ke dalam cuma yang buat hantaran.”


Tak lama mereka sudah berada di dalam mobil yang segera melaju menuju kediaman Eyang Probo. Tak sampai 20 menit mereka sudah sampai.


Ternyata para orang tua tengah berkumpul di ruang tamu. Mereka tersenyum menyambut anak-anak mereka.


“Lho. Eyang juga di sini? Eyang sudah bisa duduk di kursi roda?” Via memekik girang.


Eyang Probo tertawa. Sebagian giginya yang ompong terlihat jelas.


“Ayah juga heran. Semenjak tadi malam, perkembangan eyangmu sangat pesat. Tadi pagi bisa duduk tanpa dibantu. Nah, sekitar seperempat jam lalu ingin keluar kamar. Makanya, eyang dibawa ke sini,” jelas Pak Haris.


“Alhamdulillah,” ucap mereka berempat.


“Kita ke belakang, yuk! Bawa tuh donat sama prol tape!” Via mengajak Meli.

__ADS_1


Sang adik ipar mengangguk. Meli mengekor langkah Via ke dapur karena dia belum hafal seluk-beluk rumah Eyang Probo.


“Kamu menata makanan di piring, aku buat minuman buat kita,” kata Via.


Meli menurut. Baru saja ia mengambil piring, salah satu ART mendekat.


“Biar saya saja, Non,” kata perempuan setengah baya itu.


“Nggak apa-apa. Cuma menata begini, kok. Nanti saja bantu bawa ke depan,” sahut Meli.


“Itu kan masih banyak, tolong dibagikan ke semuanya, ya Bu Har!” perintah Via sambil menuangkan gula ke cangkir.


“Baik, Non. Terima kasih.”


Tak lama minuman dan makanan yang mereka bawa siap dihidangkan. Begitu melihat makanan yang tersaji, Eyang Probo menunjuk sengkulun dan donat. Bu Aisyah tanggap dan segera mengambil sengkulun untuk ayah mertuanya.


“Enyak,” kata Eyang Probo setelah menghabiskan sepotong sengkulun.


“Alhamdulillah, ucapan Eyang juga lebih jelas,” ucap Farhan gembira.


Eyang Probo tersenyum lebar. Jari telunjuk kanannya menunjuk donat. Dengan sigap Farhan mengambilkan donat untuk eyangnya.


Suasana kebahagian menyelimuti keluarga dokter Haris. Obrolan mereka menjadi begitu hangat. Setengah jam berlalu, hidangan yang tersaji pun tandas. Mereka berhenti mengobrol saat kotifikasi waktu zuhur terdengar.


Usai salat zuhur berjamaah di musala keluarga, Via dan Meli bersama para ART menyiapkan makan siang. Bu Aisyah bersama Bu Lena dan Bu Fatimah asyik mengasuh Zayn yang terlihat aktif mengobrol layaknya orang dewasa.


Saat makan siang, Eyang Probo pun ikut bergabung di ruang makan. Ia tidak mau disuapi. Meski agak payah, sesuap demi sesuap, Eyang Probo berhasil memasukkan makanan ke dalam mulut.


“Jam berapa berangkat ke rumah Ratna?” tanya Pak Haris sambil menyeka mulutnya.


“Sekitar jam 4 sore, Yah,” jawab Farhan.


“Nanti Om Candra yang mewakili Rio meminang Ratna. Ayah dan bunda menjaga Eyang Probo,” kata Pak Haris.


Mendadak Eyang Probo menggeleng sambil melambaikan tangan kanannya.


“Eyang mau ikut?” tebak Via.


Eyang Probo mengangguk. Ia menatap Via penuh harap.


Via mengulas senyum di bibirnya. Ia mengerti keinginan Eyang Probo untuk menghirp udara di luar.


“Bagaimana, Yah? Boleh kan? Via lihat Eyang sudah sehat,” ucap Via sambil menatap Pak Haris.


Pak Haris tampak ragu. Di satu sisi ia tak ingin ayahnya memburuk, di sisi lain ia tak tega menolak permintaan ayahnya.


***


Bersambung


Maaf baru bisa up. Aku usahakan up terus deh. Eh, bagaimana kabar sahabat dekat Meli, Anjani, ya? Tengok di novel CS1 Kak Indri, ya! Jangan lupa selalu klik like dan komentar untuk mendukung kami.

__ADS_1


Salam hangat 😘😘😘



__ADS_2