SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Ungkapan Perasaan (2)


__ADS_3

Farhan menatap wajah Via. Wajah itu dirasa begitu menggemaskan. Apalagi bibir yang kemerahan tanpa lipstik. Sebenarnya, ia ingin mengecup bibir mungil istrinya. Namun, hal itu tidak mungkin ia lakukan karena sedang berada di tempat umum.


"Dek, Mas boleh tanya?"


Via menoleh, menatap wajah Farhan beberapa detik. Debar jantungnya terasa cukup menghentak kala bertemu dengan tatapan Farhan. Via menunduk.


"Mas mau tanya apa? Kalau Via bisa jawab, tentu akan Via jawab insya Allah," jawab Via lirih.


"Boleh Mas tahu alasan Dek Via menerima lamaran bunda?"


Via terdiam sejenak. Ia terlihat berhati-hati dalam menjawab.


"Sebelumnya Via minta maaf kalau jawaban Via menyinggung perasaan Mas Farhan. Saat Via diberi tahu tentang perusahaan papa dan rencana Pak Chandra yang dapat membantu Wijaya Kusuma bangkit, Via merasa senang sekaligus bingung. Senang karena ada jalan keluar untuk mengembalikan usaha almarhum papa, bingung karena Via harus menikah di usia belasan tahun. Via sama sekali tidak membayangkan akan menikah secepat ini."


Via berhenti sejenak. Farhan tetap sabar menunggu kelanjutan cerita Via.


"Ketika bunda menyampaikan Mas Farhan bersedia menikah dengan Via, Via semakin bingung. Emm, maaf sebelumnya. Via merasa takut, sungkan, entahlah. Pokoknya Via nggak nyaman berada di dekat Mas Farhan. Ya, karena Mas Farhan bersikap dingin, bahkan ketus ketika bertemu dengan teman Via."


Via diam lagi. Ia ingin tahu reaksi Farhan dengan perasaan tak menentu. Ada kekhawatiran Farhan marah mendengar pengakuannya. Ternyata, Farhan justru tersenyum lebar. Via merasa lega.


"Waktu Via diberi tahu soal syarat menggantikan posisi almarhum papa, Via menghadapi dilema. Sungguh, perasaan Via saat itu benar-benar kacau. Di satu sisi Via ingin menyelamatkan perusahaan almarhum papa. Via ingin berbakti dengan ikut berusaha memulihkan kondisi perusahaan yang kacau. Di sisi lain, Via belum ingin dan belum siap menikah."


"Dek Via tidak punya pacar waktu itu?" Farhan menyela.


Via menggeleng. Lalu, ia pun melanjutkan pembicaraannya.


"Via nggak pernah pacaran, Mas. Makanya, saat tahu untuk menggantikan posisi almarhum papa adalah menikah, Via bingung. Eh, bunda terus melamar Via."


Farhan terkekeh. Ia merasa geli mengingat sikap juteknya.


"Oke, lanjutkan. Dek Via belum menjelaskan alasan Dek Via menerima lamaran bunda," pinta Farhan.


"Setelah Via tahu kalau Via harus menikah agar bisa menjadi pengganti almarhum papa, Via salat istikharah untuk mohon petunjuk Allah. Tiga kali Via mimpi pakai gaun pengantin. Via menyimpulkan kalau Via harus menikah. Lalu, ayah dan bunda melamar Via untuk Mas Farhan. Ya, akhirnya Via terima."


"Kok Dek Via langsung menerima? Apa Dek Via sudah benar-benar yakin?" tanya Farhan lagi.


"Tentu saja Via tadinya ragu. Via tanya dulu tentang sikap Mas Farhan kalau Via belum siap menjadi seorang istri meski sudah menikah. Banyak yang Via tanyakan. Jawaban bunda membuat Via sedikit tenang. Karena Via sudah yakin kalau Via harus segera menikah, ya Via terima aja lamaran itu."


"Apa ada pemikiran kalau pernikahan kita hanya untuk mendapatkan surat nikah demi menyelamatkan perusahaan almarhum papa?" kejar Farhan.


Via terperanjat. Ia tak mengira ada pemikiran seperti itu di otak Farhan.


"Astaghfirullahalazim. Mas, tak pernah terlintas sedikit pun di pikiran Via untuk mempermainkannya pernikahan. Memang Via belum siap sepenuhnya, tapi bukan berarti Via hanya butuh surat nikah," seru Via.


Matanya berkaca-kaca lagi. Hatinya terasa perih karena pertanyaan Farhan.


Melihat reaksi Via, Farhan segera menyadari kesalahannya.


"Maaf, maafkan Mas. Bukan maksud Mas menyinggung Dek Via. Mas cuma ingin tahu tentang perasaan Dek Via kepadaku. Maafkan Mas, ya," ucap Farhan.

__ADS_1


Via diam. Ia menata hatinya yang terasa berantakan.


"Via juga minta maaf karena belum bisa menjadi istri yang baik, belum bisa melayani Mas Farhan sebagai mana mestinya," ucap Via lirih.


"Tidak, tidak perlu minta maaf soal itu. Dari awal Mas sudah setuju untuk tidak mempermasalahkan hal itu. Mas ikhlas, kok."


"Terima kasih atas pengertian Mas. Via akui kalau Via menerima lamaran bunda karena ingin berbakti kepada almarhum papa. Namun, Via tidak ingin mempermainkan ikatan sakral yang bernama pernikahan."


"Apa---apakah Dek Via mencintai Mas?" tanya Farhan sedikit gugup.


"Seperti yang Via katakan, Via menikah karena ingin berbakti. Awalnya saja Via ragu menerima Mas Farhan karena dinginnya sikap Mas. Tapi...." Via menggantung kalimatnya.


"Tapi apa, Dek?" Farhan sudah tak sabar.


"Tapi, seiring waktu Via mulai bisa menerima Mas Farhan. Soal cinta, Via nggak tahu," jawab Via sambil menunduk.


Farhan tersenyum. Meski tidak memberikan kepastian soal perasaannya, jawaban Via membuat Farhan lega. Setidaknya, Via sudah bisa menerima dirinya. Farhan yakin, cinta itu akan Allah hadirkan dalam hati Via. Itu hanya soal waktu.


"Mas, Via mau tanya," kata Via pelan.


"Tanya saja."


"Emm, begini. Mas Farhan kan ganteng, mapan, ...."


"Apa tadi? Mas bagaimana? Coba ulangi!" perintah Farhan sambil mendekatkan telinganya.


Farhan tertawa mengetahui Via cemberut.


"Mas suka Dek Via muji gitu. Makanya, Mas minta diulang."


"Udah, ah! Via serius nih."


"Oke, katakan!" Farhan mengalah, tidak menggoda lagi.


"Pernah nggak terlintas dalam benak Mas untuk poligami?"


"Memang Dek Via mengizinkan?" Farhan balik bertanya.


"Via nanya, kok Mas malah balik nanya?"


"Ya, kalau Dek Via mengizinkan, mungkin Mas mau punya dua atau tiga, bahkan empat istri," jawab Farhan sambil mengerling ke Via.


"Kalau Via nggak ngizinin, Mas nekad?" tanya Via dengan suara sedikit bergetar.


"Tentu saja tidak. Dek Via ngizinin nggak?"


"Via nggak ingin diduakan. Mungkin ini egois. Tapi Via inginnya menjadi istri Mas Farhan satu-satunya."


"Ya, sudah. Berarti Mas nggak akan poligami," jawab Farhan diikuti tawanya.

__ADS_1


"Serius, Mas?" tanya Via sambil menatap suaminya.


"Iya. Insya Allah Mas tidak akan menduakan Dek Via. Bahkan, kalau Dek Via mengizinkan pun Mas nggak ingin mencari perempuan lain untuk dijadikan istri Mas," jawab Farhan mantap.


Via tersenyum lega.


"Ada lagi yang ingin Via sampaikan. Ada kemungkinan teman Via suka sama Mas Farhan. Via mesti gimana? Apa sebaiknya Via mengatakan yang sebenarnya, bahwa Mas Farhan suami Via?"


"Temanmu? Siapa? Ratna? Mira?"


"Ish, kepo! Memang teman Via cuma Ratna dan Mbak Mira?"


"Oke, oke. Itu juga baru dugaan Dek Via, kan?"


"Kalau bener, gimana? Maksud Via, Via mesti gimana? Haruskah Via jujur tentang pernikahan kita?"


"Dek, Mas juga sebenarnya ingin segera mengumumkan pernikahan kita. Mas ingin semua orang tahu kalau Novia Anggraeni adalah istri Mas. Tapi, urusan orang-orang yang memusuhi almarhum papa belum selesai. Baru Pak Beno yang sudah diselesaikan."


"Jadi, Via mesti merahasiakan?"


"Sebaiknya begitu. Mas nggak ingin usaha yang hampir selesai ini gagal. Kalau sampai mereka tahu kita suami istri, bisa jadi mereka akan punya strategi lain. Entah apa, Mas tidak bisa menebak. Kalau saat ini, langkah mereka sudah terbaca. Insya Allah dalam waktu dekat, masalah ini dapat selesai. Semoga tidak lebih dari 3 bulan."


"Mas akan menghancurkan perusahaan mereka?"


"Tidak sampai menghancurkan. Cukup membuat mereka tak berdaya. Kalau sampai perusahaan mereka bangkrut, hancur, kasihan karyawan mereka," jawab Farhan.


Via mengangguk setuju. Ia juga lega karena suaminya berpikir tentang orang yang tidak bersalah.


"Bersabarlah! Kalau masalah ini selesai, kita bisa buat resepsi untuk mengumumkan pernikahan kita."


"Lalu, kalau ada yang naksir Mas, gimana?"


"Biarkan saja. Toh Mas nggak tertarik. Dek Via tak usah khawatir!"


"Tapi, kasihan anak itu. Kan ia nggak tahu kalau Mas sudah menikah."


"Iya, ya. Ah, begini saja. Dek Via bilang kalau aku sudah ada calon, dalam waktu dekat akan menikah. Gitu aja."


Via tersenyum manis. Ia sudah menemukan jalan keluar.


***


Bersambung


Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan memberi like, koment, dan vote. Author insya Allah dukung balik authors lain yang koment meski tidak membalas koment.


Sambil menunggu Via hadir lagi, baca novel bagus ini, ya!


__ADS_1


__ADS_2