SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XXXV


__ADS_3

Via baru saja mematikan laptopnya. Sementara Ratna sudah merebahkan diri di kamarnya. Malam bertambah sunyi.


Sebelum pergi tidur, Via berniat mengecek pesan di ponselnya. Ia pun membuka kunci layar. Ada 2 pesan dari Azka dan Farah. Lalu ada 1 lagi dari nomor asing. Setelah membalas pesan Azka dan Farah, barulah ia membuka pesan dari nomor yang belum disimpan.


[Ada mukena yg modelnya kayak di video ini ngggak?]


Via mengetuk video yang dikirim. Namun, yang ada bukanlah gambar mukena, justru tayangan mengerikan.


"Aaaagh!" pekik Via ketakutan.


Suara Via membuat penghuni kost lain terkejut. Mereka berlari ke kamar Via.


"Ada apa, Vi?" tanya Rani sambil mengetuk pintu kamar Via.


"Coba buka, barangkali belum dikunci," perintah Ratna.


Rani menarik hendel pintu dan ternyata memang tidak terkunci. Mereka pun masuk kamar Via. Gadis itu tengah terdiam di atas tempat tidur dengan wajah pucat.


"Ada apa, Vi?" giliran Ratna yang bertanya.


Via masih membisu. Keringat dingin mulai bercucuran. Karena tidak mendapat jawaban, Ratna akhirnya mengikuti arah tatapan Via. Ponsel. Ya, ponsel yang masih terbuka terus ditatap Via dengan tatapan ketakutan.


Ratna mengambil ponsel Via. Begitu melihat tayangan video di ponsel, Ratna terlonjak kaget.


"Astaghfirullah hal adzim," serunya.


"Ada apa, Rat?" tanya Rani panik.


Ratna mengatur nafasnya yang tersengal. Setelah tenang, ia mematikan ponsel Via.


"Seseorang mengirimkan video penyiksaan binatang kepada Via. Anak itu sebetulnya sangat menyayangi binatang. Makanya, dia nggak tahan lihat seperti itu. Dulu lihat penyembelihan hewan kurban saja ketakutan. Malamnya ia tidak bisa tidur."


Rani mengangguk tanda paham. Ia mendekati Via lalu duduk di sampingnya.


"Udah, Vi, tenangkan dirimu. Rat, tolong ambilkan minum buat Via!" perintah Rani.


Ratna segera menyambar gelas berisi air putih di dekatnya. Via memang terbiasa menyiapkan air minum sebelum tidur.


"Gimana, Vi? Sudah tenang?" tanya Rani.


Via mengangguk. Nafasnya mulai teratur.


"Aku akan tidur di sini menemani kamu," ucap Ratna.


"Makasih, Rat. Aku memang masih takut," desis Via.


"Ya sudah, kamu temani Via. Aku kembali ke kamar," kata Rani.


Via menatap Rani lalu berkata, "Makasih, Ran."


Rani keluar dari kamar Via. Ratna lalu membaringkan Via dengan lembut.


"Tidurlah. Aku akan menjagamu."


"Kamu tidur di sebelahku saja," pinta Via.


"Iya, nanti setelah kamu tidur."


Ratna menarik selimut untuk menutupi tubuh Via. Ia mematikan lampu kamar.

__ADS_1


"Aaah...," pekik Via tertahan.


"Kenapa?" tanya Ratna panik.


"Aku takut, Rat. Jangan dimatikan lampunya!"


Ratna kembali menyalakan lampu. Via pun mencoba memejamkan matanya lagi.


"Biasanya dia tidak bisa tidur kalau lampu nyala. Apa teror ini membuat Via jadi takut gelap?" pikir Ratna.


Setelah melihat nafas Via teratur, Ratna ke kamarnya sebentar mengambil ponselnya. Ia mulai mengetik pesan.


[Assalamualaikum. Maaf, terpaksa mengganggu malam-malam begini. Ternyata teror belum berhenti.]


Tak lama ia menerima balasan.


[Waalaikumsalam. Nggak apa-apa, aku belum tidur. Jam segini dapat paket?]


Ratna kembali mengetik pesan.


[Bukan paket, tapi video. Isinya penyiksaan binatang secara sadis. Via shock.]


[Sekarang kondisi Via gimana? Apa aku perlu ke situ?]


[Sudah tenang, sekarang sudah tidur.]


[Ya sudah, aku besok saja ke situ. Kamu juga segera tidur.]


[Ya, Mas. Assalamualaikum]


[Waalaikumsalam]


***


Saat terik matahari sudah mulai memudar, Azka memarkirkan motornya di halaman kost Via. Baru saja ia membuka helm, Ratna sudah keluar menyambut.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Dari kampus, Mas?"


"Iya. Nih, kubawakan nasi ayam geprek buat kalian," kata Azka sambil menyerahkan tas plastik kepada Ratna.


"Alhamdulillah. Makasih, Mas."


"Via mana?"


"Di kamar. Habis sholat dhuhur dia wiridan terus."


"Apa dia masih ketakutan?"


"Enggak. Tapi dia kelihatan tertekan. Makanya, dia wiridan lama banget tiap habis sholat."


"Alhamdulillah. Setidaknya dia memilih jalan yang tepat, menyandarkan bebannya kepada Allah."


"Begitulah Via. Kalau ada masalah, sholatnya jadi lebih lama," Ratna mengadu.


Azka tersenyum tipis. Lalu ia mengambil ponsel dari saku celananya.


[Via kayaknya bisa mengatasi ketakutannya.]

__ADS_1


Setelah mengirim pesan, Azka kembali memasukkan ponselnya ke saku. Ia tidak lagi memperhatikan ada tidaknya balasan chatt yang ia kirim.


"Coba tolong tengokin Via sudah selesai apa belum. Jangan-jangan ketiduran," perintah Azka kepada Ratna.


Baru saja Ratna akan masuk kamar Via, pintu kamar dibuka dari dalam.


"Mas Azka datang, ya?" tanya Via.


"Kok tahu?" tanya Ratna balik.


"Denger suaranya," jawab Via singkat sambil berjalan ke teras.


"Sudah selesai sholat, Vi?" tanya Azka.


"Tentu saja udah! Masa Via sholat sambil jalan? Batal dong!" sahut Via.


Azka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu baik-baik saja, Vi?" tanya Azka khawatir.


"Iya, kenapa emang? Kok kayaknya Mad Azka khawatir?" Via balik bertanya.


"Ratna ngasih tahu kalau kamu dapat kiriman video mengerikan."


Via menunduk. Ia mengambil nafas panjang.


"Iya, Mas. Sebenarnya Via habis pikir, apa tujuan mereka meneror Via. Siapa mereka itu?"


"Aku dan Mas Farhan sedang menyelidiki. Sayangnya sampai sekarang belum ada petunjuk yang pasti. Kita harus bersabar."


"Iya, Mas. Tapi jujur saja sebenarnya Via khawatir."


Azka menatap lekat Via. Kekhawatirannya kembali menyeruak.


"Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Azka.


"Orang-orang itu akan semakin nekat. Tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukan teror dengan cara yang lain."


"Aku rasa teror juga belum akan berhenti," gumam Azka.


"Apa nggak sebaiknya lapor polisi saja, Mas?" usul Ratna.


"Bukannya aku tidak peduli akan keselamatan Via, tapi ada hal yang perlu diungkap. Aku dan Mas Farhan sedang menyelidiki masalah ini. Kalau melibatkan polisi, mungkin masalah teror selesai. Tapi, masalah lain akan semakin sulit diungkap," tolak Azka.


"Maksud Mas Azka?" tanya Via yang tidak paham.


"Aku belum bisa menjelaskan karena memang data-data yang kami dapat masih terlalu dini untuk dijadikan dasar menyimpulkan masalah ini. Aku juga tidak memberi tahu yang lain. Emm... maksud aku ayah dan bunda. Hanya yang bisa kusampaikan kalau aku dan Mas Farhan curiga ada hubungan dengan masalah bisnis."


"Bisnis? Aku kan cuma pedagang kecil," sanggah Via.


"Bukan kamu, tapi almarhum papamu. Ah, sudahlah. Aku belum bisa cerita banyak. Nanti malah keliru karena memang masih belum akurat."


Via mengangkat bahu. Ia benar-benar belum bisa memahami yang Azka maksudkan.


***


Bersambung


Bisa terungkap nggak ya orang yang mengirim teror? Ikuti terus, ya. Insya Allah besok pagi up.

__ADS_1


__ADS_2