SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Farhan Sadar


__ADS_3

“Dah, Mas tampan. Aku tugas dulu, ya! Ntar aku kembali. Kita belum kenalan, kan?” ucap Kiki. Ia melambaikan tangannya.


Mereka pun meninggalkan ruangan. Azka begidik geli melihat tingkah Kiki.


“Ih, amit-amit. Aduh, jangan sampai ditaksir sesama cowok. Kayak sudah ga ada cewek saja di dunia ini. Huh!” desis Azka.


Via tertawa cekikikan. Ia menertawakan Azka yang terus-menerus begidik.


“Mas Edi nggak salah orang, tuh?” gumam Azka.


“Salah orang bagaimana?” Via keheranan.


“Itu, masa orang kayak Kiki yang dipilih buat ngorek keterangan,” ujar Azka.


“Eh, nggak boleh berprasangka buruk lo! Dia begitu mungkin saja memiliki banyak kelebihan yang kita nggak tahu. Don’t judge a book by its cover!” tegur Via.


Azka seperti tertampar halus. Ia mengucap istighfar sambil mengucap wajahnya.


“Terima kasih sudah diingatkan. Aku sebenarnya penasaran, ingin tahu siapa lelaki yang bermaksud menyerang Mas Farhan. Apa motif dia?” ucap Azka.


“Apa pun motifnya, keselamatan kita terancam. Makanya, kita harus waspada,” sahut Via.


Saat mereka sedang asyik ngobrol, dua pria berbadan kekar mendekat. Namun, mereka tidak mengetuk pintu atau pun menyapa. Keduanya hanya berdiri dengan tegap di teras.


“Sstt...siapa mereka? Jangan-jangan mereka temannya lelaki yang mau nyuntik Mas Farhan tadi,” bisik Azka.


Via menyipitkan matanya. Ia memperhatikan kedua pria yang berdiri membelakanginya.


“Atau mungkin bodyguard yang disuruh Mas Edi mengawal keluarga kita?” balas Via.


Azka menepuk keningnya. Ia lupa kalau Edi tadi sudah berencana menempatkan bodyguard di depan kamar.


“Benar juga. Aku kok nggak kepikiran sampai ke situ.”


“Kalau penasaran, sapa saja mereka!” saran Via.


“Ih, ogah. Syerem gitu, aku takut,” jawab Azka.


Via mendengus kesal. Ia tak habis pikir dengan sikap adik iparnya.


“Tadi sama cowok yang melambai bilang geli, takut ditaksir. Sekarang sama yang berbadan kekar,


bilang takut karena seram,” keluh Via.


“Hehe.... Memangnya kamu berani nyapa mereka?” tanya Azka.


Via bangkit dari duduknya. Dengan mantap, ia berjalan menuju pintu. Langkahnya terhenti gara-gara Azka menghadangnya.


“Kenapa, Dek?”


“Jangan keluar, Mbak! Mending kita di dalam saja,”ucap Azka.


“Kok kamu jadi penakut gitu? Kamu bilang ingin tahu, ya aku samperin," jawab Via tenang.


“Bukan takut, tapi waspada. Kan Mbak bilang tadi kalau kita mesti waspada,” sangkal Azka.


Via mencebikkan bibirnya. Ia kembali duduk di dekat Farhan. Lalu, ia mengambil ponselnya. Tak lama kemudian, ia terlihat berbicara dengan seseorang.


...


“O begitu, Iya Mas. Terima kasih. Maaf, saya mengganggu. Assalamualaikum,” ucap Via.


“Nelpon siapa sih?” Azka mulai kepo.


“Mas Edi. Yah, untuk memastikan siapa mereka sebenarnya. Habis, pria yang bersamaku ketakutan,” sindir Via.


Azka tidak menggubris sindiran kakak iparnya. Ia lebih tertarik mengetahui siapa orang itu.

__ADS_1


“Lalu, mereka bodyguard yang dikirim Mas Edi atau bukan?”


“Iya. Aku tadi juga menyampaikan ciri-ciri mereka.”


Azka merasa lega setelah mengetahui siapa mereka.



“Syukurlah kalau begitu. Aku juga tenang meninggalkan Mbak Via,” kata Azka.


“Hah! Apa kamu bilang? Jangan aneh-aneh, deh!” bentak Via.


“Apaan sih? Sebentar lagi masuk waktu zuhur. Azka mau ke musala buat jamaah zuhur. Kok malah dibentak?” Azka heran dengan sikap Via.


Via menunduk. Mukanya sedikit memerah.


“Eng—enggak, kok.”


“Ah, pasti Mbak Via mikirnya yang bukan-bukan. Mbak ngira aku mau pergi jauh atau ....” Azka tidak melanjutkan kalimatnya.


Tak lama kemudian, azan zuhur berkumandang. Azka berpamitan ke musala.


Ketika sampai teras, ia memberanikan diri menyapa dua orang bodyguard.


“Bapak orang suruhan Mas Edi yang bertugas menjaga kami?”


“Iya, Mas!” jawab salah satu di antara mereka.


“Nggak capek berdiri terus? Itu ada kursi. Bisa kok diduduki,” ucap Azka.


“Siap, terima kasih!” jawab bodyguard yang lain.


“Busyet, serasa bicara dengan tentara. Atau mungkin mereka ini pensiunan tentara?” batin Azka.


“Ya sudah, saya pamit pergi ke musala. Tolong jaga kedua kakak saya, ya,” kata Azka sambil melangkah pergi.


Saat terdengar iqamah berkumandang, Via melihat jemari Farhan bergerak-gerak. Tentu saja hal


itu membuat mata Via memancarkan sorot kebahagiaan.


“Hubbiy, sudah bangun?” bisik Via.


Farhan mengerjapkan matanya. Mendadak kepalanya terasa pusing. Ia mencium suatu aroma yang tidak enak.


“Kenapa, Sayang?” tanya Via khawatir.


“Pus—sing,”jawab Farhan lirih.


Via mengusap kepala Farhan dengan lembut.


“Wajar kalau Hubbiy pusing atau mual saat siuman,” papar Via.


“Siuman? A—apa aku habis ping—san?” tanya Farhan lirih.


“Hubbiy baru saja menjalani operasi pemasangan plat pada lengan kiri,” jelas Via.


“O, begitu,” sahut Farhan.


“Hubbiy harus banyak istirahat, ya! Biar cepat pulih, kita bisa pulang segera,” kata Via menyemangati suaminya.


“Tadi sepertinya aku dengar iqamah. Sekarang sudah masuk waktu zuhur, ya?”


“Iya, tapi, Hubbiy kalau mau salat nunggu ayah atau Dek Azka kembali, ya,” pinta Via.


Farhan mengangguk. Ia mengerti Via tidak berani mengangkat tubuhnya.


“Aku haus. Bisa ambilkan minum?” pinta Farhan.

__ADS_1


Via ragu. Ia kasihan melihat Farhan yang terlihat begitu kehausan. Namun, ia ingat pesan dokter Haris, ayah angkatnya.


“Maafkan Via, ya. Kali ini Via tidak bisa memenuhi permintaan Hubbiy,” kata Via sambil menunduk.


Farhan menatap Via tajam.


“Maaf, ini peasan dari ayah. Kalau Hubbiy minum sekarang, dikhawatirkan akan mutah,” terang Via sabar.


“Tapi Mas haus banget,” rintih Farhan.


“Iya, Via ngerti. Tapi, ini demi kebaikan Hubbiy. Kepengin cepet sembuh, kan? Makanya, Hubbiy mesti nurut, ya!” bujuk Via.


Farhan terlihat kesal. Namun, ia tak bisa apa-apa. Ia hanya menjilati bibirnya yang terasa kering.


Via trenyuh melihat Farhan. Sebenarnya, ia tidak tega melihat Farhan begitu kehausan. Ia hanya bisa menghibur suaminya.


“Cinta sendirian?” tanya Farhan mengalihkan keinginannya untuk minum.


“Iya. Yang lain ke musala. Bunda tadi ke sekolah.”


Via sebenarnya tidak tahu pasti apakah Pak Haris dan Edi ada di musala ataukah masih menginterogasi penjahat itu. Yang jelas, ia tak ingin Farhan tahu insiden yang terjadi saat ia belum sadar. Via takut hal itu dapat mengganggu pemulihan suaminya.


“Kok sepertinya ragu?” Farhan menangkap ada nada yang berbeda dari ucapan Via.


“Eng—nggak,” kilah Via.


Tak lama berselang, Azka datang bersama Pak Haris diikuti Edi. Via tersenyum lega.


“Kamu sudah sadar, Nak?” ucap Pak Haris senang.


“Iya, Yah. Farhan haus, tapi Dek Via nggak mau ngasih minum,” kata Farhan mengadu.


Pak Haris terkekeh mendengar aduan Farhan yang seperti anak kecil minta jajan tetapi tidak dikabulkan.


“Sabar, Han. Kamu mual nggak?” tanya Pak Haris.


“Iya, sih. Memang kalau Farhan minum kenapa?” Farhan bertanya. Suaranya masih lemah.


“Kalau perutmu masih mual, dikhawatirkan kamu malah mutah. Kan semakin tidak nyaman. Tahanlah


sebentar! Kalau puasa juga bisa seharian,” bujuk Pak Haris.


“Sudahlah, Mas. Sekarang terima saja. Besok kalau Mas sudah sembuh, Azka traktir es krim deh. Kalau perlu, borong sekalian sama pabriknya,” ucap Azka.


Farhan mencebik.


“Memang mampu? Duit dari mana mau beli pabrik es krim?” cibir Farhan.


“Minta sama kakakku. Kan kakakku kaya. Nggak percaya?” Azka bertanya dengan mimik serius.


“Kakakmu siapa?” Kali ini Via ikut menanyai Azka.


“Mas Farhan,” jawab Azka singkat tanpa dosa.


“Terus, aku ini siapa?” tanya Farhan geregetan.


“Mas Farhan, dong! Lupa? Jangan-jangan Mas Farhan amnesia.”


“Kalau kamu minta uang ke aku buat nraktir aku, ya mending nggak usah,” ucap Farhan ketus.


“Hehe...kakakku sadar ternyata.” Azka meringis tanpa beban.


Farhan memajukan bibirnya. Ia kesal. Namun, ia bahagia bisa ‘bertengkar’ dengan Azka. Rasa haus pun sedikit terobati.


***


Bersambung

__ADS_1


Terima kasih kepada semua readers yang setia dukung karya recehku. Tetap dukung, ya! Klik like dan rate 5, tinggalkan komentar dan vote😍


__ADS_2