
Saat Via masuk kuliah hari pertama di semester 3, itu menjadi hari pertama bagi Farhan bekerja di PT Wijaya Kusuma. Pukul 07.15 ia sudah tiba di depan perusahaan yang didirikan almarhum mertuanya.
Ia tidak mengendarai mobil hadiah eyangnya. Supaya tidak mencolok, ia mengendarai motor matik milik Azka. Ia juga tidak mengenakan satu pun barang branded.
Identitas Farhan memang disembunyikan. Hanya orang-orang tertentu yang tahu siapa Farhan. Pegawai lainnya hanya akan tahu bahwa Farhan seorang manajer, menggantikan Pak Widodo.
Dengan langkah mantap, Farhan menuju meja resepsionis. Ia bermaksud menanyakan ruangan Pak Arman.
Baru saja ia sampai di depan meja resepsionis, seseorang menyapanya.
"Anda Farhan Rizky Mubarak, bukan?"
Farhan menoleh ke arah penyapa.
"Benar. Bapak Arman?" Farhan balik bertanya, seolah belum mengenal Pak Arman.
"Iya, betul. Mari ke ruang saya," ajak Pak Arman.
Farhan mengikuti langkah Pak Arman menuju lift. Sementara dua orang resepsionis yang sudah bersiap menyambut Farhan saling pandang.
"Siapa dia? Kalau tamu, masa datang sepagi ini? Pak Arman juga biasanya datang nggak sepagi ini."
"Entahlah, aku juga nggak tahu. Atau jangan-jangan manajer yang baru, yang menggantikan Pak Widodo?"
"Kalau benar, lumayan dong, tambah vitamin."
"Maksudmu?"
"Kamu nggak memperhatikan tadi? Cakep lo. Aku yakin masih single."
"Kalau sudah punya pacar, gimana?"
"Kalau masih status pacar, nggak apa-apa ditikung. Hehehe..."
"Dasar, ganjen! Eh, siapa namanya tadi?"
"Nah, penasaran juga. Aku cuma inget Farhan."
"Ya ya. Memang boleh juga tampangnya."
"Hhmm, akhirnya ngaku juga. Kamu naksir, kan?"
"Mungkin."
Dua orang resepsionis itu asyik ghibah sampai tidak mengetahui salah satu direkturnya datang dan memperhatikan mereka.
Di ruang Pak Arman Farhan tengah berbincang dengan si pemilik ruangan.
"Maaf, Mas. Saya sebenarnya tidak enak memperlakukan Mas Farhan seperti tadi."
"Nggak apa-apa, Pak. Nggak usah sungkan. Ini demi kelancaran rencana kita."
"Iya, Mas. Saya terpaksa memperlakukan Mas seperti bawahan saya."
"Kan memang saya bawahan Bapak," kata Farhan sambil tersenyum, "Saya di Kencana juga tidak diperlakukan istimewa. Malahan di sana saya sebagai Kepala Divisi. Tidak ada yang tahu kalau saya cucu Eyang Probo. Padahal, sudah setahun lebih saya bekerja."
"O ya? Hebat! Tuan Probo memang luar biasa. Beliau mempersiapkan Mas Farhan dengan baik."
"Di sini, anggaplah saya belum punya pengalaman. Tolong saya diberi banyak arahan agar karyawan lain tidak curiga."
"Baik, Mas."
"Sambil jalan, saya akan mempelajari berkas-berkas laporan mulai tiga tahun terakhir. Saya penasaran, apa yang membuat Wijaya Kusuma ambruk. Kalau hanya faktor luar yang dimainkan Danu dibantu Eyang Probo, saya rasa tidak akan parah."
__ADS_1
"Mas curiga ada penyusup?"
"Saya tidak bisa mengatakan sekarang, Pak. Beri saya waktu untuk mempelajarinya."
Pak Arman mengangguk-angguk tanda sepakat. Ia kagum akan ketenangan yang dimiliki Farhan.
"Seandainya Pak Wirawan masih hidup, tentu sangat bangga memiliki menantu Mas Farhan."
"Bisa saya bekerja sekarang?"
"Oh, tentu saja. Silakan Mas Farhan ke ruangan Mas yang ada di lantai 2. Tanyalah kepada orang yang ada di sana. Maaf, saya tidak mengantar."
"Iya, saya mengerti. Jangan mengistimewakan saya karena itu bisa memancing kecurigaan."
Farhan keluar dari ruang Direktur Utama. Ia menuju lantai 2, mencari ruangannya.
Saat keluar dari lift, Farhan berpapasan dengan seorang cowok. Ia berhenti menyapa Farhan.
"Mas Farhan? Masih ingat saya?"
Farhan menatap cowok itu. Ingatannya menjelajah mencari rekaman orang itu di memori otaknya.
"Saya Anton. Yang ngambil foto waktu Mas Farhan nikah," bisiknya.
Farhan tersenyum. Ia ingat cowok itu datang bersama Pak Arman.
"Ya, saya ingat. Mas Anton di bagian apa?"
"Saya di divisi personalia. Mas Farhan sudah tahu ruangan Mas?"
"Belum. Pak Arman hanya mengatakan ada di lantai 2."
"Iya. Mari saya antar."
Farhan berjalan bersama Anton. Sesekali mereka berpapasan dengan karyawati yang menuju ruangan mereka. Kebanyakan mereka memperhatikan wajah tampan Farhan.
"Silakan, Mas. Kal, Mas bisa minta bantuan saya."
"Bisa minta nomor Mas Anton?"
"Bisa. O ya, panggil Anton saja, Mas!"
Farhan tersenyum. Ia mengetikkan nomor yang didiktekan Anton dan menyimpannya. Lalu ia menekan tombol dial.
"Itu nomor saya, silakan di-save. Terima kasih atas bantuan Mas---eh Anton."
"Sama-sama. Selamat bekerja. Saya permisi dulu."
Farhan memasuki ruangan yang didominasi warna putih. Ia meletakkan tasnya di meja lalu memperhatikan seluruh ruangan. Setelah puas, barulah ia duduk.
Tak lama kemudian, ia tenggelam dalam pekerjaan. Ia beristirahat sejenak untuk salat dhuha. Jam istirahat siang pun hanya digunakan untuk salat dhuhur dan berkenalan.
Ia tidak makan siang karena rutinitas puasa sunah Senin-Kamis.
Hari pertama Farhan langsung disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Ia memang tipe pekerja keras yang tidak mau setengah-setengah dalam bekerja.
Farhan tersentak saat melihat layar ponselnya. Sekarang, ia memasang foto pernikahannya dengan Via sebagai wallpaper.
"Ah, seharian aku belum menghubungi Dek Via. Dia sudah dapat pegawai apa bekum, ya? Coba aku hubungi, deh. Ah, sebaiknya jangan telepon. Siapa tahu dia sedang ada acara penting, aku malah mengganggu. Aku nggak mau bikin ia marah. Aku harus membuat dia nyaman denganku."
Farhan mulai mengetik pesan.
Farhan
__ADS_1
[Assalamualaikum. Sudah dapat pegawai belum?]
Farhan menunggu pesannya dibaca. Lima menit berlalu, tanda centang masih abu-abu. Sepuluh menit kemudian, tanda centang belum juga berubah biru. Farhan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Ting!" Sebuah notifikasi pesan mampu membuat Farhan mengalihkan perhatian. Ia segera membuka kunci layar ponselnya. Pria itu tersenyum melihat ada balasan dari Via.
Via
[Waalaikumsalam. Baru selesai proses seleksi. Nanti habis asar diskusi sama Ratna. Kalau yang satu saudara sepupu Ratna. ]
Farhan
[Semoga dapat orang yang tepat.]
Via
[Aamiin.]
Farhan
[Mas lanjut kerja dulu, ya! Shaum nggak?]
Via
[Insya Allah. Ya, Mas. Selamat bekerja. Via mau beres-beres lalu siap-siap salat asar.]
Farhan
[Assalamualaikum 😘😘😘]
Via
[Waalaikumsalam]
Senyum Farhan kembali mengembang. Ia membayangkan ekspresi Via.
"Pipinya merah nggak, ya? Biasanya pipinya merona saat malu. Aku suka melihatnya seperti itu."
Farhan kembali melanjutkan pekerjaannya. Azan asar membuatnya berhenti dan segera ke mushola.
Bisik-bisik karyawati sering ia jumpai saat ia berpapasan. Sebenarnya, ia risi dengan sikap para karyawati itu. Namun, ia tidak mau membuat masalah.
"Mas Farhan mau ke mushola? Bareng, yuk!"
"Eh, Anton. Iya. Ayo! Kebetulan ada kamu. Aku belum akrab dengan yang lain. Masih canggung."
"Kalau begitu, saya kenalkan dengan yang lain secara pribadi. Tadi siang kan Mas Farhan dikenalkan secara formal."
"Oke. Makasih, ya."
"O ya, Mas jangan heran kalau karyawati sini nggosipin Mas, ya! Cuek saja!"
"Emang mereka nggosipin apa?"
"Mereka mengagumi kegantengan Mas Farhan. Sayang, Mas Farhan dingin. Hehehe...."
Farhan ikut tertawa. Ia memang bersikap dingin terhadap perempuan yang bukan mahram. Sama seperti sikapnya terhadap Via sebelum menikah.
***
**Bersambung
Ada yang bertanya, "Gimana kasus yang dulu? Soal kecelakaan yang menimpa Via dilupakan?"
__ADS_1
Nggak, dong! Bentar lagi diungkap dikit.
Makanya, ikuti terus ya! Jangan lupa tinggalkan like dan komentar! Kalau punya poin terus kasih vote, author sangat berterima kasih**.😍😍😍