SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XXXIV


__ADS_3

Matahari belum menampakkan diri. Baru terlihat semburat jingga di ufuk timur.


Dua cowok berkaos putih berlari-lari kecil menyusuri jalanan yang belum dipadati kendaraan. Hanya sepeda yang melintas di jalan karena pemberlakuan CFD.


"Duduk di sana, yuk!" ajak Azka.


Tanpa menjawab, Farhan mengayunkan langkah ke bangku yang ada di bawah pohon.


Minggu pagi ini mereka hanya berdua. Ayah mereka ada panggilan mendadak dari rumah sakit, sementara bundanya kurang enak badan. Via yang datang pada Sabtu siang menunggui bundanya.


"Gimana hasil penyelidikanmu? Sudah ada titik terang pelaku teror kepada Dek Via?" tanya Farhan sambil menyeka peluh di dahi.


"Belum, Mas. Aku sudah melacak alamat pemesan gamis yang dikirim peneror pertama. Ternyata, itu rumah kontrakan. Sekarang rumah itu kosong. Kata pemilik rumah, orang yang mengontrak sebelumnya adalah seorang nenek tua. Setelah tidak memperpanjang kontrak, si pemilik rumah tidak tahu nenek itu pindah ke mana."


Farhan hanya menyimak. Ia terdiam sejenak.


"Apa paket itu nggak bau? Kan isinya bangkai?" tanya Farhan lagi.


Azka menggeleng lalu menjawab," Enggak. Aku kira bangkai itu masih baru. Selain itu, bangkai sudah disemprot pewangi. Pengiriman barang itu juga tidak jauh, sehingga tidak memakan waktu lama."


"Pantau terus, ya!"


"Iya, Mas. Ratna selalu mengirimkan pesan perkembangan yang terjadi tanpa sepengetahuan Via. Begitu tahu isi paket pertama, ia langsung chatt aku. Demikian juga waktu paket kedua. Ia chatt aku begitu ada paket yang mencurigakan. Waktu itu, aku kebetulan tidak jauh dari tempat kost mereka. Aku beli rendang dulu. Jadi, aku beralasan mengantar rendang dari bunda agar Via nggak curiga."


"Akal bulusmu boleh juga," ujar Farhan disusul tawanya.


"Lalu, Mas Farhan sendiri gimana? Sudah ada kemajuan?" Azka balik tanya.


"Belum banyak. Justru sekarang perusahaan Eyang terancam."


"Maksud Mas Farhan?"


Farhan menghela nafas panjang. Wajahnya menunjukkan kalau ia tengah serius.


"Sepertinya ada orang dalam yang akan berkhianat. Aku tidak sengaja mengetahuinya sekitar 4 hari yang lalu."


"Mas dapat laporan dari orang kepercayaan Mas?"


"Tidak. Aku dengar percakapan salah satu manajer lewat telepon. Waktu itu aku sedang makan siang di kantin. Aku tidak sengaja mendengar orang itu menyebut-nyebut nama papanya Dek Via dan Eyang. Mungkin ini akan mengungkap hubungan orang-orang yang menghancurkan almarhum Pak Wirawan."


Farhan diam sejenak. Ia mengeluarkan ponsel dari saku trainingnya. Lalu ia memutar sebuah video.


Azka memperhatikan video yang ditunjukkan kakaknya. Mula-mula di layar hanya gambar suasana kantin yang ramai. Lalu, tampak gambar orang sedang menelepon dari belakang. Azka hanya tahu bagian belakang kepala dan punggung orang itu.


"Fokus dengarkan yang dikatakan orang ini!" perintah Farhan.


"Kita pakai cara seperti dulu saja, Mas. Aku kan ada di dalam. Banyak data perusahaan yang bisa kupegang. Nanti Mas tinggal mengarahkan apa saja yang harus kuubah. Dulu kan pernah kita lakukan waktu menghancurkan Wirawan. Sekarang giliran kakek tua itu."


Gambar menunjukkan orang itu bangkit dari duduknya. Setelah itu, video berakhir.

__ADS_1


"Kok Mas Farhan bisa merekamnya? Orang itu nggak tahu kalau direkam?"


" Sebenarnya waktu itu aku sedang iseng merekam suasana kantin saat makan siang. Aku tidak sengaja merekamnya. Orang itu Pak Arka, salah satu manajer di perusahaan Eyang. Ia tidak tahu aku merekamnya."


"Memang tidak dicurigai cucu bos makan di kantin, bikin rekaman?"


"Tidak banyak yang tahu kalau aku cucu Eyang Probo. Hanya orang-orang tertentu yang tahu. Setahun yang lalu aku bekerja sebagai karyawan biasa. Baru 3 bulan aku menjabat kepala divisi. Ini memudahkan aku mencari informasi tanpa dicurigai."


Azka mengangguk-angguk. Ia baru tahu kalau kakeknya tidak terlalu mengistimewakan sang kakak.


"Tapi...dulu Mas menemani Eyang menemui klien, mengoalkan tender?"


"Di saat tertentu, iya. Biasanya klien dari luar kota atau bahkan luar negeri. Eyang sering mengajakku agar aku punya pengalaman menghadapi klien. Namun, ini dilakukan diam-diam."


"O, begitu. Mas Farhan sudah bilang ke Eyang soal video itu?"


"Belum. Aku butuh data yang lebih akurat. Aku akan menyelidiki siapa yang bekerja sama dengan Pak Arka."


Tak terasa matahari sudah mulai menyapa bumi dengan sinarnya yang hangat. Suasana semakin ramai.


Beberapa gadis yang melintas memperhatikan dua cowok kakak beradik itu. Mereka memang terlihat keren dengan kostum kembar. Meski wajah mereka tidak begitu mirip, mereka sama-sama menarik.


Azka terlihat macho. Ia memang suka berolahraga. Kebiasaannya fitness membuat lengannya tampak kokoh berotot. Sedangkan Farhan, olahraga yang dilakukan sebatas menjaga kebugaran. Perawakan atletisnya tetap menarik lawan jenis. Dengan kacamata minus 1, ia terlihat lebih berwibawa.


"Yuk, pulang!" ajak Farhan.


Mereka pun kembali berlari kecil. Baru beberapa meter mereka meninggalkan bangku yang tadinya diduduki, terdengar suara memanggil.


Mereka berhenti dan menoleh ke sumber suara. Tampak seorang cowok berlari mendekat.


"Eh, Rio. Tumben kamu jogging?" tanya Azka.


"Iya, sepedaku lagi batuk. Sejak kemarin opname."


"Wha? Sepedaku batuk? Opname?" Azka melotot keheranan.


Cowok yang dipanggil Rio terbahak. Bahunya sampai berguncang.


"Iya, opname di bengkel," canda Rio.


Mereka akhirnya berlari bersama.


"Kok cuma berdua?" tanya Rio.


"Ayah ke rumah sakit, bunda tak enak badan, dan Via nungguin bunda," jawab Farhan.


"Oh, begitu. Bunda sakit apa?"


"Cuma gejala flu, kok. Nggak perlu opname seperti sepedamu," sahut Azka. Mereka tergelak.

__ADS_1


"O ya, Ka, ada salam dari Lia. Kamu ditanyain tuh. Kayaknya adikku kangen kamu."


Farhan tersenyum lalu menyikut lengan adiknya. Azka menoleh sambil memanyunkan bibirnya.


"Main sana. Ada yang kangen, tuh," ledek Farhan.


"Apaan, sih?" gerutu Azka.


"O ya, nanti siang ada waktu? Kita ke tempat biasa, yuk!" ajak Rio.


"Aku nganterin Via ke kostnya," jawab Azka.


"Via kost? Sejak kapan?"


"Kepo!" elak Azka.


"Diiih, kok sewot? Aku kan cuma nanya," sahut Rio.


"Ngapain nanya-nanya? Naksir?" Azka masih ngegas.


"Kayaknya iya. Dia manis, sih. Lagian kesanku dia gadis yang baik," kata Rio.


Azka mendengus kesal. Rio malah terkekeh melihat reaksi temannya.


"Berhenti di depan situ sebentar! Aku mau beli bubur kacang hijau. Kalian mau?"


Azka dan Rio mengangguk. Mereka istirahat sambil menikmati bubur kacang hijau.


"Dibungkus 5, Pak," pesan Farhan.


"Banyak amat, Mas?" celetuk Azka.


"Buat di rumah. Kali aja kamu ntar kepingin lagi. Rio mau?" Farhan menawari teman adiknya.


"Enggak usah. Ini aja yang kumakan. Makasih," tolaknya.


Selesai makan, mereka pulang. Sesampai perempatan, mereka berpisah. Azka dan Farhan belok kanan, sedangkan Rio mengambil jalan lurus.


"Aku nanti ke rumahmu jam 10," teriak Rio sebelum mereka berpisah.


"Kamu kok kelihatannya nggak suka kalau Rio menyukai Via?" selidik Farhan.


"Udah, ah. Jangan bahas lagi! Ntar dihubungin sama si ubur-ubur," gerutu Azka. Wajahnya terlihat cemberut.


Melihat adiknya cemberut, Farhan malah tertawa. Ia begitu senang meledek Azka.


***


bersambung

__ADS_1


Tetap setia mengikuti cerita ini, ya! Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan like! Author sangat berterima kasih atas dukungan pembaca. Apalagi dikasih vote 😍😍😍


__ADS_2