
Kediaman dokter Haris seperti hari-hari biasa. Tidak ada tamu-tamu yang berdatangan. Tidak ada keramaian. Aktivitas penghuni rumah seperti hari-hari biasa. Bu Aisyah ke sekolah dan dokter Haris ke rumah sakit. Hanya Farhan yang tidak ke kantor.
Di dalam rumah pun hanya ada anak-anak dokter Haris. Farhan dan Azka baru pulang dari masjid. Tak lama kemudian, seorang perempuan membawa tas yang mirip koper kecil datang.
Azka membukakan pintu ketika mendengar bunyi bel diikuti salam.
"Permisi, Mas. Saya Santi dari Salon Fatin. Kemarin Ibu Aisyah yang memesan agar datang ke sini."
"Oh, Mbak perias pengantin, ya?"
"Iya, Mas. Di mana calon pengantinnya?"
"Di kamar. Mari saya antar," ajak Azka. Ia menuju kamar Via diikuti Santi.
"Assalamualaikum. Via, ini periasnya sudah datang. Kamu sudah mandi belum?"
"Waalaikumsalam. Sudah, kok," jawab Via sambil membuka pintu kamar.
"Mari, silakan masuk," kata Via lagi.
Setelah Santi masuk kamar, Azka ke dapur membuatkan minuman lalu mengantarkan ke kamar Via.
"Itu tadi kakaknya, Mbak?" tanya Santi.
"Iya. Kenapa?"
"Enggak. Eh, dia sudah nikah belum?"
"Belum, Mbak. Kayaknya jomlo tuh. Mbak naksir?" selidik Via.
"Hehehe.... Nggaklah. Mbak sudah punya suami, kok. Buat adikku, siapa tahu berjodoh."
Mereka berdua tertawa bersama. Santi memang pandai mencari bahan pembicaraan. Meski baru kenal, ia bisa langsung akrab.
***
Sementara di kamar Farhan, Azka terlihat sibuk. Banyak hal yang ia lakukan di kamar kakaknya.
"Bunda nyuruh kamu bikin ini?" tanya Farhan.
"Enggak. Ini insiatif aku sendiri."
"Ada yang bisa aku bantu?"
"Calon pengantin duduk manis saja. Jangan berisik! Biarkan ini jadi kejutan untuk istrimu," kata Azka.
Farhan tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ia melihat adiknya begitu cekatan.
"Mas, mandi dulu! Bentar lagi bunda pulang. Berendam yang agak lama biar wanginya awet sampai besok!" perintah Azka.
Farhan menurut. Ia bergegas ke kamar mandi.
"Aku mau ganti baju, nih. Kamu keluar dulu, ya," pinta Farhan.
"Ganti tinggal ganti. Kita sama-sama cowok. Ngapain malu?" sahut Azka sambil tanpa menoleh.
Farhan mendengus kesal. Ia mengalah, menuruti perkataan adiknya.
"Kamu kan juga harus siap-siap. Sana mandi!" perintah Farhan.
__ADS_1
"Aku bukan calon pengantin. Kalau aku tampil maksimal, Mas kalah ganteng. Ntar malah aku yang dinikahkan," kata Azka santai.
"Dasar!" gerutu Farhan.
Azka terbahak mengetahui kakaknya cemberut. Ia semakin semangat menggodanya.
"Calon pengantin kalau marah-marah terus gantengnya ilang lo! Senyum, dong!"
Farhan tahu sang adik sedang menggodanya, berniat membalas. Ia mendekat ke muka Azka dan memamerkan giginya.
"Hiii.... Masih kurang?"
"Diih...itu mah bukan senyum. Minggir! Ni bentar lagi selesai."
Ketika Azka meletakkan bunga mawar di ranjang sebagai sentuhan terakhir, Bu Aisyah membuka pintu kamar.
"Kalian sedang apa?"
"Eh, Bunda ngagetin aja. Kok gak salam gak ketok pintu, sih?" protes Azka.
"Kalian aja yang ga dengar. Bunda sudah salam, ketok pintu juga, nggak ada yang jawab. Eh, ini siapa yang bikin?" Bu Aisyah masuk sambil menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar.
"Jelas anak Bunda yang paling gantenglah. Siapa lagi?" jawab Azka sambil membusungkan dada.
"Cih, paling ganteng tapi jomlo," cibir Farhan.
"Sudah, sekarang kalian bersiap-siap. Azka belum mandi? Sana mandi dulu! Jangan berendam! Lima belas menit lagi kalian berangkat. Rutenya sudah dijelaskan ayahmu, kan?"
"Dek Via bagaimana?" tanya Farhan bingung.
"Cie...yang takut kehilangan calis," ledek Azka.
Memang, mereka begitu berhati-hati. Mereka waspada kalau-kalau musuh almarhum Pak Wirawan mengetahui pernikahan Via dan Farhan. Pernikahan mereka benar-benar dibuat rahasia.
Setelah semua siap, Azka mengemudikan mobil Farhan. Lima menit kemudian, Bu Aisyah menyusul bersama Via.
Pak Andi dan Pak Arman juga menghadiri pernikahan Via dan Farhan. Mereka datang bersama seorang pegawai kepercayaan Pak Arman yang punya keahlian fotografi. Lagi-lagi mereka memilih menggunakan taksi dari kantor.
Pak Haris dan Eyang Probo pun datang dari arah berbeda. Mereka datang dari kantor masing-masing. Kali ini, Eyang Probo menggunakan taksi.
Setelah pengecekan dokumen selesai, acara ijab kabul pun dimulai.
"Saya terima nikah dan kawinnya Novia Anggraeni binti Wirawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Farhan lantang dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah," jawab semua yang ada di ruangan diikuti ucapan syukur. Mereka pun berdoa untuk kedua mempelai.
Via masuk dengan digandeng Bu Aisyah. Ia dibimbing mendekat ke Farhan. Sementara Farhan menatap Via tak berkedip.
"Wah, pengantin pria terpesona, nih," celetuk Azka.
Farhan menoleh ke adiknya dan memelototinya.
"Ayo, cium tangan suamimu!" perintah Bu Aisyah.
Dengan tangan gemetar, Via meraih tangan Farhan yang terulur lalu menciumnya. Farhan membalas dengan ciuman di kening Via.
"Sudah, jangan kelamaan!" Bu Aisyah mengingatkan.
__ADS_1
Pipi kedua pengantin langsung memerah. Sementara yang hadir tertawa melihat kelakuan Farhan.
"Ayo, kita foto-foto dulu untuk kenang-kenangan!" ajak Pak Arman.
Sekitar 10 menit mereka berganti pose di ruang tersebut. Petugas pencatat nikah pun ikut foto bersama.
Ada seseorang berjas biru yang menarik perhatian Via. Ia sering menatap Via. Gadis itu merasakan tatapan anehnya. Namun, ia hanya menyimpan pertanyaan itu dalam hati.
"Kita ke rumah Haris, kan?" tanya Eyang Probo.
"Iya, Eyang. Hidangan sudah disiapkan, kok. Mari!" kata Bu Aisyah.
Dari KUA, mereka kembali ke kediaman dokter Haris. Lagi-lagi dengan rute berbeda. Hanya, Eyang Probo dan rombongan dari PT Wijaya Kusuma tidak lagi naik taksi. Mereka menumpang mobil Pak Haris.
Sampai di rumah, Via berniat mengganti gaun pengantinnya. Namun, Bu Aisyah melarang.
"Tunggu semua datang!" perintah Bu Aisyah.
Via pun menurut. Padahal, ia sudah merasa risi dengan make up di wajahnya meski tidak menor.
Setelah semua datang, Bu Aisyah mempersilakan tamu-tamunya menikmati hidangan. Kemudian, ia mengajak Via, Farhan, dan Azka ke kamar Farhan.
Begitu masuk, Via tertegun. Ia tidak mengira ada kamar pengantin yang dipersiapkan tanpa sepengetahuan dirinya.
"Jangan-jangan aku nanti harus tidur di kamar ini bersama kulkas eh Mas Farhan. Aduh, gawat!"
"Buat kenang-kenangan yang banyak. Ka, kamu bisa jadi fotografer, kan?" Suara Bu Aisyah membuyarkan lamunan Via.
"Siap, Bun! Tadi Azka juga sudah bersiap jadi fotografer waktu di KUA. Tapu, Om Arman ternyata sudah menyiapkan. Ya, Azka jadi model saja."
"Ayo, Mas Farhan dan Via...eh Mbak Via, silakan berdiri di dekat ranjang. Jangan khawatir, Azka sudah malang-melintang di dunia fotografi lebih dari tiga tahun, lho," pamer Azka.
Dengan berat hati, Via menurut. Ia pun mengikuti arahan sang fotografer.
"Sekarang, Mbak Via berdiri di samping kiri Mas Farhan. Tangan kiri Mbak Via diletakkan di dada Mas Farhan, tangan Mas Farhan memeluk pinggang Mbak Via."
Via melongo. Ia ragu untuk mengikuti arahan Azka.
"Aduh, gimana ini? Aku makin deg-degan kalau begini," keluh Via dalam hati.
Karena terlihat ragu, Azka mendekat dan mengarahkan gaya mereka lagi.
"Hah, ternyata Mas Farhan berdebar-debar juga. Aku bisa merasakan. Hhmmm...apa dia beneran menyukaiku?"
Setelah mengambil puluhan foto, mereka keluar kamar.
"Nanti malam di kamar ini, kan?" bisik Azka.
Via memelototi Azka. Sementara Farhan hanya senyum-senyum sambil terus menatap Via.
****
**Bersambung
Author ikut deg-degan membayangkan mereka nervous. Aiiih...🙈
Tunggu kelanjutannya esok, ya!
Jangan lupa tinggalkan like, koment, juga vote. Terima kasih 🙏**
__ADS_1