SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kepastian


__ADS_3

Sesuai kesepakatan, Via mengambil alih posisi Farhan setelah ia menyelesaikan kuliahnya. Sementara, Farhan kembali ke Kencana menggantikan kedudukan Eyang Probo.


Tentu saja, hal itu membuat mereka lebih sibuk dan jarang memiliki waktu bersama. Libur akhir pekan selalu mereka manfaatkan sebaik mungkin untuk menebus 5 hari yang melelahkan.


Saat libur begini, Via juga menyempatkan menengok rukonya. Ia sudah tidak lagi turun tangan dalam penjualan maupun penentuan produk. Ia sudah menyerahkan kepada Ratna. Karena sudah tidak kuliah, Ratna bisa fokus mengembangkan Azrina. Via hanya memberi masukan-masukan saat diperlukan.


Usai menunaikan salat dhuha, Via mengajak Farhan ke ruko. Ia meminta suaminya yang menyetir karena ingin pergi berdua saja.


Ternyata, ruko cukup ramai. Mungkin karena akhir pekan dan awal bulan. Barang-barang yang dijual di Azrina memang cukup terjangkau dengan kualitas yang tidak mengecewakan. Tak heran, penjualan melalui toko fisik sekarang tidak jauh beda dengan toko online.


“Eh, Via. Naik saja dulu! Nanti kususul kalau sudah agak sepi,” kata Ratna.


“Iya,” jawab Via sambil menapaki tangga ke lantai 2. Farhan mengikuti langkah istrinya.


Beberapa menit kemudian, Ratna menyusul. Ia menyampaikan perkembangan Azrina seminggu terakhir. Via mencermati laporan yang Ratna buat.


“Bagus, Rat. Kamu sekarang benar-benar sudah bisa menghandle tugasku. Pantau terus perkembangan mode agar tidak tertinggal!” saran Via.


“Iya, beres. O ya, Senin lusa dua pegawai baru mulai bekerja. Kamu lihat sendiri tadi. Kami cukup kewalahan. Kadang sehari nggak ngurusi toko online,” kata Ratna menjelaskan.


“Oke. Aku juga sudah pernah bilang agar kamu rekrut tenaga baru. O ya, ada hal yang ingin kami bicarakan dengan Mbak Mira,” ujar Via.


“Ini ada hubungannya dengan Mas Edi?” selidik Ratna.


Via mengangguk. Ia sedikit mengingatkan Ratna tentang pembicaraan mereka seminggu sebelumnya.


Flash Back on


Via datang bersama Farhan. Namun, pria itu hanya sebentar karena ada janji bertemu seorang klien yang baru datang dari Surabaya.


Mira dan Salsa sedang keluar membeli lakban dan lem. Ratna hanya berdua dengan Via. Saat tidak ada pembeli, Via menanyai Ratna soal perasaan Mira.


“Rat, kamu sudah menanyai Mbak Mira tentang perasaannya ke Mas Edi?” tanya Via.


“Sudah,” jawab Ratna singkat sambil menempelkan label harga ke mukena.


“Lalu, bagaimana jawaban Mbak Mira?” kejar Via.


“Ragu.” Lagi-lagi Ratna menjawab dengan singkat.


Via mulai gemas dengan Ratna yang hanya memberi jawaban singkat.


“Ragu bagaimana?”


“Ya, tidak yakin,” jawab Ratna enteng.


“Ratnaaa, aku serius. Please, kamu serius kenapa?” gerutu Via.


“Ya elah. Aku juga serius. Mbak Mira beneran ragu. Dia nggak pengin pacaran. Dia tertarik dengan Mas Edi dan dia percaya kalau Mas Edi lelaki yang baik. Mas Edi tidak akan mengajaknya berpacaran. Tapi …” Ratna mengantung penjelasannya.

__ADS_1


“Tapi apa? Jangan bikin penasaran, dong!” hardik Via.


Ratna cengengesan melihat sahabatnya tampak kesal.


“Kamu kan tahu bagaimana keluarga Mbak Mira. Tidak jauh beda dengan keluargaku. Aku sedikit lebih beruntung karena bisa mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Kami ingin adik-adik kami terjamin, Via. Kami ingin mereka bisa kuliah. Kalau hanya mengandalkan kedua orang tua, mungkin aku juga sudah DO.”


Ratna berhenti sejenak. Diteguknya air jeruk di depannya.


“Berkat kerja di sini, adik-adik lebih terjamin. Tidak hanya untuk uang saku, biaya sekolah juga. Keluargaku sangat terbantu. Terima kasih, Vi."


'Berapa kali harus berterima kasih? Ini hasil kerjamu, kok. Lanjutkan tentang Mbak Mira!" perintah Via.


"Mbak Mira kan ga jauh beda sama aku. Sekarang, adik-adik Mbak Mira tenang. Orang tuanya juga," kata Ratna.


"Apa hubungannya dengan pernikahan?" sela Via.


"Mbak Mira khawatir suaminya tidak bisa menerima kondisi Mbak Mira yang harus membiayai adik-adiknya," papar Ratna.


"Oh, soal itu. Aku yakin Mas Edi tidak seperti itu orangnya. Tapi, beneran Mbak Mira mau sama Mas Edi?" Via meminta penjelasan lagi.


"Bilangnya ke aku sih sebenarnya mau."


Via tersenyum lega. Sepulang dari ruko, ia mendiskusikan dengan Edi dan Farhan.


Flash back off


"Apa nggak sebaiknya kita berbicara dengan Mbak Mira?" usul Farhan.


"Aku panggil Mbak Mira, ya," kata Via.


"Jangan! Biar aku saja," ucap Ratna seraya bangkit dan memanggil saudara sepupunya.


Beberapa saat kemudian, Mira datang dengan wajah penuh tanda tanya.


"Kami cuma mau ngobrol sebentar, kok. Mbak Mira nggak usah tegang gitu," kata Via sambil tersenyum.


"Memang mau bicara soal apa?" Mira masih terlihat tegang.


"Soal masa depan Mbak Mira," jawab Via tenang.


"Ke--kenapa deng--ngan massa dep--pan aku?" Mira semakin tegang.


"Mbak Mira sudah siap menikah seandainya ada yang melamar?" tanya Via.


"Blush..." Wajah Mira menghangat, pipinya tampak merona. Ia tertunduk.


"Itu...iya mungkin, ka--lau dia le--laki yang baik," jawab Mira sedikit tergagap.


"Seandainya Mas Edi yang melamar, apakah diterima?" Giliran Farhan bertanya.

__ADS_1


Mira terlihat semakin gugup. Ia masih menunduk.


"Sebenarnya, saya masih ragu menerima lamaran seseorang. Dek Via dan Mas Farhan sudah tahu, kan, kalau keluarga saya bukan orang kaya? Saya harus membantu ayah membiayai sekolah adik-adik. Kalau saya menikah, siapa yang membiayai mereka?" ucap Mira lirih.


Via tersenyum. Ia melirik suaminya. Farhan ikut tersenyum lalu mengangguk.


"Mbak, tentunya Mbak Mira ingin tetap membantu orang tua, bukan?"


Mira mengangguk. Ia masih saja menundukkan kepalanya.


"Nah, bagaimana kalau setelah Mbak Mira menikah, Mbak Mira masih diizinkan bekerja untuk membiayai adik-adik Mbak Mira? Apa Mbak Mira mau?" tanya Via hati-hati.


Mira mengangkat kepalanya. Ia menatap Via beberapa detik.


"Apa mungkin? Bukannya kalau sudah menikah, istri harus patuh kepada suami? Uang istri diatur oleh suami?" tanya Mira ragu.


"Mbak, tenang saja. Soal istri bekerja, itu memang harus seizin suaminya. Kalau suami tidak mengizinkan, tentu ia tidak boleh bekerja. Demikian pula sebaliknya. Lalu soal uang. Uang yang didapat istri dari ia bekerja adalah hak istri. Suami tidak berhak ikut campur. Apalagi kalau dimasukkan dalam klausul syarat waktu akad nikah. Penghasilan istri sepenuhnya hak istri. Tentunya jika digunakan di jalan yang benar," jelas Farhan panjang lebar.


"Nah, kalau Mas Edi mengizinkan Mbak Mira tetap bekerja dan membantu adik-adik Mbak, apa kira-kira lamarannya diterima?" Via melanjutkan.


"Memangnya Mas Edi sudah tahu tentang aku?" Mira masih tampak ragu.


"Kami sudah mendiskusikan sampai hal ini. Dan Mas Edi tidak keberatan sama sekali," jawab Farhan.


Mira tampak lega. Ada senyum tipis menghiasi bibirnya.


"Mbak Mira juga perlu tahu tentang Mas Edi sebelum memutuskan apa pun," kata Via bijak.


Farah mengangguk. Ia meminta izin untuk menjelaskan tentang Edi dan keluarganya. Mira setuju.


Farhan, menyampaikan tentang sosok Edi kepada Mira. Ia juga menceritakan renggangnya hubungan Edi dan keluarganya. Tentu saja sebelumnya ia sudah meminta izin kepada Edi.


Mira mengangguk-angguk saja. Dalam hati ia merasa trenyuh dengan kehidupan Edi.


"Apa Mbak Mira bisa menerima Mas Edi dan keluarganya?" Via bertanya lagi.


"I---iya. Tapi apa Mas Edi mau sama aku?" Mira masih saja ragu.


"Justru ia sendiri yang meminta kami menanyakan hal ini kepada Mbak Mira," jawab Via tegas.


"Berarti Mbak Mira nggak keberatan, ya?" Farhan bertanya lagi.


Mira mengangguk sambil tersenyum malu. Farhan, Via dan Ratna saling tatap lalu tersenyum lega.


"Alhamdulillah," ucap mereka bertiga.


***


Bersambung

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak like dan komentar, juga vote 🙏


__ADS_2