
Via keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah. Farhan menatap istrinya sambil tersenyum.
"Nggak nambah?" goda Farhan dengan tetap mempertahankan senyum.
"Nggak, ah. Bisa-bisa aku besok nggak bisa ngapa-ngapain," jawab Via.
Ia mengambil hair dryer. Dari kaca dilihatnya Farhan masih duduk di atas ranjang.
"Hubbiy nggak mandi?" tanya Via.
"Bentar, keringat belum tuntas. Beneran nggak nambah, ni?" Farhan masih menggoda Via.
"Hubbiy, besok kan nyiapin lamaran Ratna. Eh, aku belum ngecek pesan lagi."
Via segera mengambil benda kotak pipih miliknya. Jarinya dengan cepat menari di permukaan layar.
"Hmmm, nggak jadi nih," ucap Via.
"Apanya yang nggak jadi?" Farhan menautkan kening.
"Lamaran Ratna," jawab Via singkat.
Farhan berjingkat kaget. Ia menatap tajam ke arah Via.
"Bukannya tadi Ratna memberi tahu kalau orang tuanya setuju?"
"Iya, tapi ibunya baru ingat kalau ia harus membantu memasak di rumah tetangga yang sedang hajatan," jelas Via.
"Oh, tapi lain waktu bisa kan?" Farhan tampak lega.
"Iya, mereka minta minggu depan saja."
"Ya sudah kalau begitu. Kukira dibatalkan," gumam Farhan sambil melangkah ke kamar mandi.
Via hanya tersenyum sambil melihat punggung suaminya.
Usai mandi, Farhan memakai hair dryer yang baru Via gunakan. Ia menghadap ke Via yang sedang menatap gawainya.
"Bagaimana kalau besok mengajak Rio ke Medan menemui orang tua angkatnya?" Farhan meminta pendapat Via
Via meletakkan gawainya. Tatapannya beralih ke Farhan
"Boleh juga. Tapi kita nggak tahu alamat mereka."
"Masa anak buah Om Candra nggak bisa menemukan?"
"Kita nggak tahu nama saudara Lia yang ada di sana. Orang-orang sana kemungkinan hanya mengenal saudara Lia. Itu akan merepotkan." Via menjelaskan alasannya.
Keduanya terdiam. Mendadak Via memekik lirih.
"Ah, Via tahu!"
"Tahu apa?"
__ADS_1
"Kita tengok Lia dulu. Nah, kita bisa minta alamat om-nya Lia. Lagi pula Lia ingin sekali ketemu Mas Rio," ucap Via dengan mata berbinar.
Farhan tersenyum. Ia menyetujui ucapan Via.
"Semoga Rio mau," desisnya.
Farhan menyimpan kembali hair dryer yang baru ia pakai. Setelah memakai kembali bajunya, ia menyusul Via ke ranjang.
"Bobo, yuk! Sudah malam. Kalau mau olah raga lagi, habis subuh saja, ya," bisik Farhan ke telinga istrinya.
Via tidak menjawab. Ia hanya mencebik lalu merebahkan diri di atas ranjang empuk.
Farhan terkekeh pelan. Dikecupnya kening Via sebelum ia menyusul merebahkan diri.
***
Baru saja Farhan pulang dari masjid, Via sudah menyambut dengan gawai di tangan.
"Kalau telepon Mas Rio sekarang, pantes nggak?" tanya Via.
"Aku rasa nggak apa-apa. Rio pasti sudah bangun. Dia juga biasa jamaah subuh bersama anak-anak panti, sahut Farhan.
Via mengangguk. Ia mencari kontak Rio lalu memanggil dalam mode loud speaker. Begitu tersambung, ia menyerahkan kepada Farhan.
"Assalamualaikum, Rio. Maaf ganggu kamu saat pagi gini."
"Waalaikumsalam, Mas. Nggak apa-apa. Aku baru selesai jamaah subuh," jawab Rio.
"Ini soal lamaran. Maaf, lamaran ke Ratna hari ini kita cancel," kata Farhan.
"A--apa? Cancel? Ja--jadi orang tua Ratna tidak menerima saya?" Rio terdengar sangat gugup.
"Yaaah... mereka nggak bisa menerima lamaran kita sekarang," ucap Farhan.
"Ma--maksud Mas Farhan bagaimana?"
Farhan tertawa. Ia tak tega menggoda Rio terlalu lama.
"Orang tua Ratna sedang sibuk, terutama ibunya. Mereka mau kok, menerima kehadiran kita. Tapi, jangan sekarang. Mereka minta minggu depan."
"Oh, begitu," ucap Rio terdengar lega.
"Rio, sebelumnya aku minta maaf kalau menyinggung. Apa kamu nggak ingin menemui orang tua angkatmu, Om Danu dan istrinya? Setidaknya meminta restu kepada mereka," ucap Farhan berhati-hati.
Tidak ada jawaban dari Rio. Farhan pun ikut diam menunggu.
"Saya bingung, Mas," ujar Rio lirih.
"Kamu masih marah kepada mereka karena meninggalkan kamu di sini?" tanya Farhan.
"Nggak, bukan begitu. Aku nggak marah, cuma kecewa. Aku bukannya nggak ingin minta restu kepada mereka. Bagaimana pun mereka berjasa merawatku dari kecil. Aku takut mereka justru menolak kehadiranku," jawab Rio dengan nada sendu.
Farhan terdiam. Ia menatap Via meminta pendapat sang istri.
__ADS_1
"Mas Rio, boleh Via kasih saran? Mas Rio tetap mencoba menemui mereka. Kalau pun mereka menolak, Mas Rio sudah menunjukkan itikad baik Mas Rio. Lagi pula kita nggak akan tahu mereka menolak tidaknya kalau nggak mencoba," tutur Via bijak.
Belum ada reaksi dari Rio. Cowok itu masih diam. Setelah beberapa detik, barulah ia kembali berbicara.
"Aku khawatirnya sudah keluar biaya banyak, jadinya sia-sia."
"Insya Allah nggak ada yang sia-sia. Percaya sama Via, deh. Kita berangkat bersama ke rumah Om Candra. Nggak sia-sia, kan? Lalu, kita menjenguk Lia. Dia merindukanmu, lo. Apa Mas Rio nggak ingin menemui Lia? Nah, habis itu kita baru menemui Om Danu. Bagaimana?" Via menjelaskan rencananya.
"Oh, begitu. Aku setuju. Kapan kita berangkat? Aku pesankan tiketnya, ya," kata Rio.
Farhan tertawa. Ia tahu kalau sahabat Azka itu masih sungkan.
"Jangan pikirkan soal itu. Pokoknya kamu tinggal berangkat. Nanti aku kabari lagi jam keberangkatannya. Siapkan saja keperluanmu," kata Farhan santai.
Setelah selesai membicarakan rencana ke Medan, Farhan segera memesan tiket. Ia segera memberi tahu Rio jam keberangkatan.
Selain memberi tahu Rio, Farhan juga memberi tahu Edi dan Pak Candra tentang rencana perjalanan ke Medan.
Begitu rombongan Via tiba di bandara, Azka sudah siap menunggu. Dengan diantar sopir, mereka menuju kediaman Pak Candra.
Azka tentu senang berkumpul dengan Rio. Azka pun mengajak Rio menginap di kamarnya.
Setelah makan malam, mereka tidak segera meninggalkan ruang makan. Mereka memilih mengobrol di ruang tersebut.
"Kedatangan kalian ke sini semata-mata untuk bertemu keluarga Rio ata ada keperluan lain?" tanya Pak Candra.
"Pertama tentu untuk silaturrahim. Silaturahim ini ya dengan keluarga Om Candra maupun Om Danu. Selain itu, Rio akan meminta doa restu dari papa mamanya karena dia akan melamar seorang gadis," jawab Farhan.
"Alhamdulillah. Kalian sudah dapat kabar terbaru tentang Danu?" tanya Pak Candra lagi.
'Belum, Om. Memang kenapa?" tanya Rio balik.
"Nggak kenapa-kenapa. Kalau kalian memberi tahu Om jauh hari sebelumnya, tentu akan Om cari info tentangnya."
"Nggak apa-apa, Om. Kami akan menjenguk Lia dulu, sekalian menanyakan alamat Om Danu," ucap Via.
"Oh, begitu. Baguslah. Sedikit kabar untuk kalian, terutama Rio, Lia sudah banyak berubah. Dia memakai hijab. Belajar ngajinya sudah sampai Iqra jilid 4."
"Alhamdulillah," seru yang lain.
Rio tampak berkaca-kaca. Meski Lia bukan adik kandungnya, ia sangat menyayangi. Mendengar perubahan Lia, tentu Rio sangat bahagia. Ia ingat betul bagaimana jahatnya Lia kepada teman-temannya, termasuk Via.
Setelah berbincang cukup lama, mereka dipersilakan beristirahat. Azka pun menarik tangan Rio ke kamarnya.
Ini adalah kesempatan Azka untuk meluapkan perasaannya, juga cerita yang lama terpendam. Ia ingin tahu bagaimana perkembangan hubungan Rio dan Ratna hingga ia Rio punya keberanian melamar. Maklum, saat di Jember mereka tidak punya banyak kesempatan berdua.
***
Bersambung
Bagaimana pertemuan Rio d Ngan keluarga angkatnya? Terus ikuti kisahnya, ya! Ikuti juga cerita istri Azka, Meli, di CS1 karya Kak Indri Hapsari.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like dan komen.
__ADS_1