SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XXXIII


__ADS_3

Di tempat kost Via gadis itu tengah mengecek produk-produk yang baru datang. Ia memilah-milah berdasarkan jenisnya. Dalam waktu satu jam, barang-barang yang baru diantar kurir telah rapi.


"Wuah, cepet banget rapi," celetuk Ratna yang baru datang.


"Iyalah. Nunggu bidadari turun dari taksi ya nggak bakal rapi," sahut Via asal.


"Bidadari nggak mau naik taksi, Marimar."


"Iya, bidadarinya gak punya duit buat bayar taksi," celetuk Via masih ngaco.


Ratna tertawa. Ia suka saat Via konyol begitu. Meski sudah banyak perubahan sikap dan kebiasaan Via, sisi konyol Via masih sering muncul. Julukan-julukan aneh pun sering terlontar begitu saja.


"Kamu dari mana? Kok baru pulang?" tanya Via.


"Lupa ya? Tadi kan ada om dan tanteku. Kita ketemu di jalan trus aku diajak mereka ke mall."


"O iya. Eh, ke mall? Asyik dong! Belanja apa?"


"Mi instan. Nih, buat stok seminggu," jawab Ratna sambil meletakkan tasnya.


"Cuma beli mi?"


"Hehehe... Enggaklah. Aku dibelikan tas, kok. Lumayan, tasku kan sudah layak masuk museum."


"Oh, Hermes, LC, atau Gucci?" tanya Via lagi.


"Panci. Belum saatnya pakai tas branded, Non."


"Kapan saatnya?"


"Besok kalau aku sudah jadi CEO atau istri CEO."


"Kalau sudah tiba saatnya, janganlah lupa akan diriku, Malin! Jangan sampai kau kukutuk jadi batu!"


"Bhuahaha... daripada dikutuk jadi batu, mending kau kutuk aku jadi putri cantik, Mak. Eh, ni kubawakan makanan. Tadi aku ditraktir. Sebagai sahabat yang baik, aku selalu mengingatmu. Makanlah, nggak usah sungkan. Itung-itung perbaikan gizi," kata Ratna sambil mengulurkan box makanan.


"Alhamdulillah, makasih sayangku. Eh, beneran kamu udah makan?" Via ragu.


"Udah. Atau kamu mau berbagi? Aku nggak nolak, kok," sahut Ratna.


"Eh, kalau udah dikasihkan pantang diminta lagi."


Ratna cuma nyengir. Ia bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar mandi.


"Paket!" terdengar teriakan dari halaman. Via segera keluar.


"Buat siapa?" tanya Via.


"Biasa, Mbak Novia Anggraeni," jawab kurir ekspedisi. Orang itu sering ke tempat kost Via mengantar paket untuk Via.


"Makasih, Mas," kata Via setelah menerima barang.


"Sama-sama. Permisi."


Via kembali ke kamar sambil menimang paket yang baru ia terima. Pengirimnya tidak jelas. Berat barang sekitar 1 kilogram dan tidak terlalu besar.


"Ada kiriman barang lagi, Vi?" tanya Ratna.


"Iya. Ada yang retur nggak? Coba cek!" perintah Via.


Ratna meraih ponselnya dan mengecek semua aplikasi yang mereka gunakan untuk berjualan. Via juga melakukan hal yang sama.


"Enggak, tuh."


"Punyaku juga. Kalau dari suplier kan besar. Lagi pula udah dikirim semua."


"Ya udah, buka saja," saran Ratna.

__ADS_1


Via menurut. Ia membuka bungkusan menggunakan cutter.


"Gamis. Sepertinya ini dikirim 2 minggu yang lalu," gumam Via.


"Kamu yakin? Kan gamis model dan warna bisa sama," tukas Ratna.


"Enggak. Yang model ini aku ingat cuma 1 yang warna tosca."


"Coba ambil, barangkali kamu salah."


Via mengambil gamis yang masih terlipat di dalam kardus. Tiba-tiba ia menjerit histeris.


"Ada apa, Vi?" tanya Ratna panik.


Wajah Via pucat pasi. Ia duduk di tempat tidur dengan tubuh gemetar.


"Kamu sakit?" tanya Ratna lagi.


Via hanya menggeleng. Ia terlihat ketakutan.


Ratna mengambil paket yang baru Via buka. Ia pun menjerit kaget begitu melihat yang tertutup gamis tosca.


"Siapa yang mengirimkan ini?" desis Ratna.


Seketika perutnya terasa seperti diaduk. Ratna berlari ke kamar mandi.


Hoeek... Isi perut Ratna pun keluar dengan sukses.


Saat kembali ke kamar, Ratna melihat Via masih diam dengan wajah pucat dan tubuh gemetar. Ratna segera merengkuh Via lalu membaringkannya.


"Kamu tiduran dulu. Aku bereskan paket laknat itu."


Ratna membuang paket yang baru diterima ke tempat sampah. Ia pun segera mencuci tangannya sambil begidik membayangkan paket yang ia buang. Setelah itu, ia membuat segelas teh untuk Via.


"Vi, minum teh hangat dulu biar kamu lebih tenang."


"Gimana rasanya?" tanya Ratna.


Via masih diam. Ia mengatur nafasnya.


"Lemes banget, Rat. Siapa sih yang tega melakukan itu? Bener-bener keterlaluan. Apa salahku kepadanya, coba?" keluh Via lirih.


"Sudah, Vi. Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu. Anggap saja ini ulah orang gila."


"Tapi aku yakin masih ada kaitan dengan konsumen yang komplain dan retur barang. Nyatanya orang itu menyertakan gamis yang dia beli dari kita."


"Sekarang kamu istirahat. Aku akan kubur paket itu dulu."


Ratna keluar mengambil cangkul di gudang. Selesai menggali dan mengubur barang menjijikkan itu, ia mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.


***


Siang itu baru saja Via dan Ratna sampai tempat kost, kurir ekspedisi datang dan menyerahkan bungkusan yang diterima Ratna. Mereka mengamati dulu bungkusan tersebut.


"Jangan-jangan seperti kemarin, Vi," ujar Ratna.


"Aku juga masih trauma. Tapi jelas ini bukan dari suplier kita."


Ratna membuka ponselnya. Beberapa saat jemarinya menari di layar ponsel berwarna biru.


"Coba cek di ponselmu ada yang retur nggak. Kalau nggak, paket ini mending dibuang," usul Ratna.


Via mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia membuka akun bisnisnya.


"Nggak ada, Rat. Tapi kalau ini dibuang terus ternyata penting, gimana?" Via tampak ragu.


Ratna menimang-nimang bungkusan berbentuk kotak itu. Ia seolah sedang menebak isinya.

__ADS_1


Saat mereka sedang bingung memutuskan apa yang akan dilakukan, terdengar suara mesin sepeda motor dimatikan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Ratna dan Via bersama.


"Mas Azka, tumben ke sini? Disuruh bunda, ya?" tanya Via.


"Nggak boleh, nih, main ke sini kalau bukan disuruh bunda?" Azka balik bertanya.


Via tersenyum lebar.


"Ya nggak gitu. Duduk dulu, Mas," kata Via.


Azka meletakkan tas kecil ke atas meja. Lalu ia duduk.


"Itu titipan dari bunda. Tadi bunda masak rendang kesukaanmu."


"O ya? Makasih, ya. Sampaikan juga terima kasih Via kepada bunda. Alhamdulillah, makan enak, nih."


"Apa ini? Paket?" tanya Azka sambil memegang bungkusan kotak yang sebelumnya dipegang Ratna.


"Iya, Mas. Tapi kami takut mau buka paket itu," jawab Ratna.


"Kenapa?"


"Kemarin aku dapat paket. Kubuka isinya gamis. Itu adalah produk yang kukirimkan ke pelanggan sekitar setengah bulan yang lalu. Ketika aku buka lipatan gamisnya, ternyata ada bangkai anak kucing yang dilumuri darah. Aku nggak tega. Kemarin aku hampir pingsan gara-gara lihat itu. Sekarang, aku dan Ratna takut kejadian kemarin terulang. Kami sudah cek tidak ada pembelian yang diretur. Kami juga nggak pesen apa pun ke suplier."


"Ya sudah, aku saja yang buka. Sini, aku bawa ke halaman. Kalau isinya barang menjijikkan, kalian nggak usah lihat," kata Azka sambil membawa bungkusan kotak itu ke halaman. Setelah agak jauh dari Via dan Ratna, ia membuka bungkusan itu.


"Astaghfirullahalazim," seru Azka kaget.


"Apa isinya, Mas?" tanya Ratna.


"Bangkai kelinci. Ada cangkul nggak? Biar aku kubur sekalian," pinta Azka.


Ratna bergegas ke gudang mengambil cangkul. Dengan cekatan Azka menggali lubang lalu mengubur bangkai kelinci dengan luka menganga di leher dan penuh darah yang ada dalam kotak.


"Berarti ada orang yang berniat menerormu, Vi," kata Azka selesai mengubur bangkai kelinci.


"Iya, Mas. Tapi siapa orang itu? Apa yang membuat ia berbuat jahat kepadaku?"


"Sudahlah, sekarang tenangkan dirimu. Aku akan bantu menyelidiki. Besok kalau ada paket misterius, jangan dibuka! Kabari aku!" perintah Azka.


"Baik, Mas," jawab Ratna.


"Aku pulang dulu, ya. Kalian jaga diri baik-baik."


"Mas Azka juga hati-hati, jangan ngebut! Salam buat ayah bunda."


Azka tersenyum. Mendadak ada ide menggoda Via.


"Buat Mas Farhan nggak?"


"Iya deh," jawab Via sambil mencebik.


Azka tergelak. Ia menyambar kunci motor yang tergeletak di meja.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Via dan Ratna.


***


Bersambung


Terima kasih kepada semua pembaca yang masih setia mengikuti cerita ini. Jangan lupa tinggalkan komentar dan like ya.

__ADS_1


__ADS_2