SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Prematur


__ADS_3

Orang-orang kalang kabut mendengar teriakan Bu Inah. Pak Adi


yang tengah membaca email laporan dari para anak buahnya bergegas keluar. Kakek


itu pun panik mengetahui kondisi sang cucu.


Azka yang tengah berada di ruang kerja bersama eyangnya juga


segera keluar. Eyang Probo membereskan berkas yang sudah ia pilih segera


menyusul.


“Azka, siapkan mobil! Kita bawa Via segera ke rumah sakit,” perintah Eyang Probo.


Azka berlari keluar. Ia menempatkan mobil di dekat teras.


Tak lama kemudian, Via dibawa keluar dan masuk ke mobil


milik Eyang Probo. Bu Inah ikut mendampingi di kursi penumpang bersama Pak Adi.


Eyang Probo duduk di samping Azka yang mengemudikan mobil.


“Mbok, siapkan baju dan keperluan Via lainnya! Nanti nyusul


diantar Nak Yudi, ya!” pesan Pak Adi sebelum mobil berangkat.


“Siap, Tuan,” jawab Mbok Minah.


Azka melajukan mobil segera. Ia memacu dengan kecepatan


rata-rata 60 kpj. Untunglah, kondisis lalu lintas tidak terlalu ramai hingga ia


dengan leluasa bisa menekan pedal gas cukup dalam.


Begitu sampai IGD, Dokter Haris sudah siap menyambut mereka.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Eyang Probo sudah menghubungi putra


tunggalnya itu, memberi tahu kondisi Via. Sementara petugas dengan sigap


memindahkan tubuh Via ke atas brankar dan mendorong ke dalam.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Via nggak jatuh, kan?” tanya


dokter Haris.


“Setahu saya, Mbak Via  menyuruh saya membuatkan minuman buat Tuan Probo dan Mas Azka lalu


mempersilakan mereka menikmati hidangan. Tahu-tahu Mbak Via kesakitan di ruang


makan. Saat saya dan Mbok Marsih mau membawa Mbak Via ke kamar, ternyata gamis


Mbak Via basah dan saya yakin itu cairan ketuban,” cerita Bu Inah.


“Kamu nggak ikut memeriksa menantumu?” tanya Eyang Probo.


“Haris kan spesialis penyakit dalam. Sekarang kondisi Via


berkitan dengan kandungan. Jadi, dokter kandungan yang menangani. Biasanya sih

__ADS_1


dokter umu dulu. Tapi, begitu Haris diberi tahu Ayang soal Via, Haris minta


dokter kandungan ke IGD.”


Eyang Probo dan Kakek Adi tampak sedikit lega mendengar


penjelasan dokter Haris. Kedua orang berambut putih itu memilih duduk di kursi


pengantar.


“Haris tinggal ke dalam dulu. Nanti Haris kabari hasil


pemeriksaan Via,” pmit Haris.


“Pergilah! Segera hubungi kami, ya!” perintah Eyang Probo.


Sebelum masuk, dokter Haris berpesan kepada Azka untuk


menghubungi bundanya.


“Dok, putri dokter mengalami KPD. Usia janin 30 minggu 5 hari. Ada bukaan 3. Diagnosis kami korioamnionitis. “


Dahi dokter  Haris berkerut. Ia tentu paham dengan istilah kedokteran yang digunakan.


“Dia mesti lahir prematur?”


“Iya. Dan harus SC. Kondisi sang ibu tidak memungkinkan lairan normal.”


“Lakukan yang terbaik!” perintah dokter Haris.


“Siapa yang akan menandatangani surat persetujuan ?”


Dokter menyerahkan kepada seorang perawat untuk dimintakan


tanda tangan keluarga pasien. Begitu keluar, kedua orang yang tengah menanti


cicit itu mendekati dan memberodong dengan berbagai pertanyaan.


Mendapat rentetan pertanyaan, si perawat dengan hati-hati


menjelaskan kondisi Via. Kakek Adi segera mengambil dan menandatangani surat persetujuan keluarga pasien.


Baru saja perawat kembali ke dalam, Bu Aisyah datang. Dengan nafas terengah-engah, perempuan setengah baya itu bertanya tentang Via.


"Bagaimana Via? Dia...dia... baik-baik saja, kan?" tanya Bu Aisyah cemas.


"Tenanglah, Bunda. Tim medis tengah menyiapkan tindakan terbaik untuknya. Ia akan segera melahirkan melalui proses operasi cesar," jelas Azka.


"Melahirkan? Berarti prematur?" Bu Aisyah masih tampak cemas.


Azka mengangguk, memberi isyarat pembenaran. Bu Aisyah menghela nafas berat.


Detik-detik terasa begitu lambat berganti. Sebentar-sebentar mereka bergantian melihat ke dalam IGD menanti kabar tentang Via. Begitu dokter Haris keluar, mereka segera mendekat.


"Via segera dibawa ke instalasi bedah. Ruangannya ada di sebelah sana," kata dokter Haris.


Semua berjalan menuju IBS mengikuti petunjuk dokter Haris. Mereka kembali menunggu proses operasi yang harus Via jalani.


Kurang lebih satu jam kemudian, dokter Haris keluar. Ia tidak terlibat dalam proses operasi. Namun, ia memantau detik-detik kelahiran cucu pertamanya.

__ADS_1


"Bagaimana, Yah? Cucu kita sudah lahir? Sehat, kan?" tanya Bu Aisyah tak sabar.


"Alhamdulillah sudah. Dia laki-laki," jawab dokter Haris.


"Lalu, kapan kami bisa lihat bayi itu?" tanya Pak Adi.


"Sabar. Karena prematur, usia kandungan belum mencapai 34 minggu, kondisi paru-paru belum matang. Berat badan pun kurang dari 2 kg. Dia harus dirawat di inkubator dan sekarang dibawa ke ruang peristi."


"Bagaimana dengan Via?" tanya Pak Adi lagi.


"Via baik-baik saja. Sebentar lagi dia dipindahkan ke bangsal perawatan. Keperluan untuk Via sudah dipersiapkan?" dokter Haris balik bertanya.


"Tadi Mbok Marsih disuruh mempersiapkan dan menyusul ke sini diantar Pak Yudi. Sebentar, Azka telepon dulu," jawab Azka.


Tak lama mereka melihat brankar yang membawa Via keluar dari ruang operasi. Mereka mengikuti langkah perawat yang mendorong brankar tersebut.


Setelah Via berada di ruang perawatan, para perawat itu berpamitan. Keluarga Via mengerumuni perempuan yang baru saja menjadi ibu.


"Selamat, Via. Anakmu telah lahir. Alhamdulillah," ucap Bu Aisyah.


"Iya, Bun. Terima kasih," sahut Via lemah.


Mata Via tampak berkaca-kaca. Tak perlu menunggu lama, buliran air pun mulai melewati pipinya.


Batin Via terasa teriris. Ia sudah lama menantikan moment kelahiran buah hatinya bersama Farhan. Dalam benaknya, terbayang bagaimana Farhan menungguinya melahirkan. Ayah bayinya itu menyambut kelahiran anak mereka dengan haru dan penuh suka cita.


Namun, bayangan itu luluh lantak oleh kecelakaan tragis yang menimpa Farhan. Lelaki itu tidak hadir di saat bayi mereka lahir.


"Anak kita laki-laki, Hubbiy. Tebakanmu benar. Hubbiy bahagia, kan?" batin Via.


Melihat reaksi Via, Bu Aisyah paham apa yang tengah Via rasakan. Ia segera mendekat.


"Via, jangan bersedih ya! Kamu nggak sendirian. Kami akan menemanimu," kata Bu Aisyah lembut.


"Saat kelahiran anak kami begitu dinanti. Kenapa pada saatnya tiba Mas Farhan malah tidak ada?" keluh Via.


"Via, kamu jangan mempermasalahkan takdir. Yakinlah ada hikmah di balik ini semua. Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya, bukan?" bujuk Bu Aisyah.


"Bundamu benar, Via. Perbanyak bersyukur. Alhamdulillah, anakmu lahir selamat," tambah Pak Adi.


Via terdiam. Ia segera menghapus air matanya.


"Bisakah Via menemui anak Via sekarang?" tanya Via.


" Sabarlah. Anakmu harus mendapat perawatan ekstra. Dia kan prematur. Jadi, dia di ruang peristi," kata Bu Aisyah.


"Kapan Via dapat menemui anak Via?" tanya Via lagi.


"Bisa. Besok kalau kamu sudah bisa berjalan," jawab Pak Haris yang baru saja masuk. "Meski kamu tidak bertemu dengan bayimu, usahakan bisa memberinya ASI."


Via tampak kebingungan. Bu Aisyah tersenyum melihat kebingungan putri angkatnya.


"Caranya dengan dipompa lalu ditampung di botol. Nanti Bunda ajari," kata Bu Aisyah, "Makanya, kamu nggak boleh larut dalam kesedihan, juga harus makan yang banyak dan bergizi agar anakmu mendapat ASI yang berkualitas."


Via mengangguk. Bahagia dan duka lebur menjadi satu.


***


Bersambung

__ADS_1


Yang sudah memberi dukungan, tetap dukung karya receh ini, ya! 😍😘😘


__ADS_2