SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kecelakaan


__ADS_3

Masih Flash Back


dan Farhan POV


Aku melanjutkan perjalanan. Kukemudikan mobil dengan hati-hati karena aku belum hafal jalanan di sini.


Belum jauh dari bengkel tambal ban, mataku tertumbuk pemandangan di depanku. Terlihat ada dua pria tengah bercakap-cakap di tepi jalan sambil menunjuk roda motor. Sepertinya


aku kenal mereka.


Kutepikan mobil lalu turun. Aku melangkah menghampiri dua orang yang tengah bicara serius. Di dekat mereka sebuah motor bebek dengan posisi mesin masih hidup.


“Bang Tedi, ada apa?” Aku bertanya sambil terus mendekat.


“Eh, Tuan Farhan. Ini, motor teman saya ikutan bocor.  Dia mau balik ke tempat tambal ban tadi. Tapi, kan sudah agak jauh, lebih dari 1 kilo. Saya sarankan jalan terus nggak ada 1 kilometer seingat saya ada bengkel. Selain itu, jalannya nggak naik,” kata Bang Tedi.


“Kamu bisa jamin bengkel tambal ban itu ada dan buka? Takutnya sudah capek-capek ke sana ternyata tutup,” sanggah teman Bang Tedi.


Bang Tedi terdiam. Akhirnya, teman Bang Tedi memutar arah motornya menuju ke bengkel tempatku menambalkan ban. Ia berpesan agar Bang Tedi kembali ikut bersamaku.


Bang Tedi menuruti perkataan temannya. Kami kembali ke mobil untuk melanjutkan


perjalanan. Bang Tedi yang memegang kemudi.


Saat jalan menurun, Bang Tedi terlihat panik. Wajahnya tampak pucat. Aku merasakan laju


mobil begitu cepat dan tak terkendali.


“Rem blong!” teriak Bang Tedi panik.


Aku pun panik saat kulihat ada truk tronton di depan kami. Ketika sudah dekat, Bang Tedi


banting stir ke kiri. Mobil pun meluncur ke bawah.


Aku terus-menerus melafalkan zikir memohon pertolongan Allah. Kupejamkan mataku kala mobil terguling. Pada waktu posisi kembali, hidungku mencium   bau bahan bakar. Aku memaksakan diri membuka mata. Kulihat api di bagian belakang mobil.


“Bang Tedi, mobil terbakar. Kita lompat sekarang!” teriakku sambil membuka seat belt.


Aku membuka pintu mobil sambil mengucap basmalah. Kukuatkan tekad untuk lompat dari mobi yang masih meluncur.


“Allahu akbar!” Aku melompat keluar.


Tubuhku terasa berguling-guling. Entah seberapa jauh dan seberapa lama. Aku hanya bisa tawakal seraya terus berzikir selagi kesadaranku belum hilang.


Aku masih bisa merasakan tubuhku berhenti berguling. Namun, kepalaku terasa membentur benda keras yang membuat sakit teramat sangat. Aku pun tak kuasa membuka mataku. Justru kesadaranku yang menghilang.


Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Aku sama sekali tidak tahu.


Yang jelas, ketika aku mulai mendapatkan kesadaran, kepalaku terasa berdenyut. Sulit sekali membuka kelopak mataku. Badan pun terasa kaku tak bisa digerakkan.


Ketika aku berhasil membuka mata, kurasakan kegelapan menyelimutiku. Aku terus mengerjapkan mata sambil mengingat apa yang sebenarnya kualami. Namun, yang ada denyut di kepalaku semakin parah dan kesadaranku pun kembali menghilang.


Aku kembali sadar dengan kondisi lebih baik. Sakit di kepalaku sedikit bekurang. Aku pun berhasil membuka mata dan melihat adanya cahaya. Namun, aku tidak tahu aku berada di


mana. Badanku terasa amat kaku, msih sulit kugerakkan. Sepertinya ada benda berat menghimpitku.


Akhirnya, aku bisa melihat dengan lebih jelas. Aku dalam posisi terlentang di bawah kungkungan dahan pohon. Aku rasa ada dahan pohon yang berukuran cukup besar jatuh menimpaku.


Aku teringat istri dan calon anakku. Kerinduan menyergapku dengan rasa sakit. Itu membuat

__ADS_1


aku termotivasi untuk keluar dari tempat itu. Aku harus pulang. Aku ingin bertemu Cintaku.


Kukuatkan tekad untuk bisa keluar. Kupusatkan kekuatan untuk menyibak ranting-ranting yang menghimpitku. Saat aku mencoba menggerakkan tangan untuk menyibak ranting, kurasakan sakit teramat sangat di lengan kiriku. Aku rasa lenganku cedera. Entah seberapa parah. Aku menghentikan usahaku.


Waktu aku mengatur nafas untuk memulihkan tenaga, aku mendengar suara laki-laki. Kuperkirakan 2 atau 3 orang. Aku diam tidak bergerak, menajamkan telinga untuk menangkap pembicaraan mereka.


“Apa kamu yakin hanya satu orang yang berada di dalam mobil itu?” Aku mendengar suara yang agak berat.


“Polisi hanya menemukan satu jenazah. Padahal, dari omongan orang yang pakai motor itu, temannya kembali ikut mobil. Berarti di dalam mobil ada dua orang,” sahut orang dengan suara sedikit cempreng.


“Apa bisa dipastikan siapa jenazah itu? Orang yang kita incar ataukah sopir Candra Wijaya?”


Aku terkesiap mendengar nama Om Candra disebut. Juga saat mereka mengatakan tentang jenazah. Hatiku terus bertanya-tanya.


“Belum. Jenazah hanya diautopsi tetapi tidak dilakukan tes DNA. Tuan Deny khawatir kalau target kita masih hidup. Itu yang harus kita pastikan.” Kudengar suara orang yang sedikit cempreng.


“Kenapa juga dia harus kembali ikut ke dalam mobil. Kalau tidak, kita kan sudah bebas tugas, tugas kita selesai karena target sudah kita habisi,” keluh orang yang berbeda suara.


“Sudah, jangan mengeluh! Kita harus menyisir lokasi ini untuk memastikan kalau keponakan


Candra Wijaya sudah tewas. Atau kalau kita temukan masih hidup, kita habisi di sini.”


Aku yakin kalau mereka sedang membicarakan kecelakaan yang baru aku alami. Dan, aku pikir Bang Tedi tidak bisa lolos dari maut karena gagal keluar dari mobil.


Aku menahan nafas. Lagi-lagi kulafalkan zikir sambil terus berdoa memohon pertolongan


kepada Sang Penguasa dunia. Aku berharap masih diberi kesempatan bertemu dengan


istriku dan menunggui kelahiran anakku.


Suara orang-orang itu semakin menjauh. Lama-kelamaan semakin samar kudengar. Aku masih belum berani bergerak karena khawatir mereka kembali lagi.


Sekitar satu jam aku masih diam. Aku sama sekali tidak berani menggerakkan tubuhku. Dahan pohon yang mengurungku memang telah membuat lenganku cedera. Namun, aku kini bersyukur karena dedaunan yang mengurungku ini membuat tubuhku tersembunyi, tidak ketahuan orang-orang itu.


Kuasa Allah memang besar. Di balik musibah, ada hikmah yang kudapat.


Setelah aku memastikan orang-orang itu telah pergi, perlahan tangan kananku berusaha


menyibak ranting-ranting yang menutupiku. Tidak mudah. Apalagi, aku hanya


menggunakan satu tangan. Tekadku yang besar membuatku terus berusaha.


Lelah, pegal, perih telah kuabaikan. Peluh yang membanjir pun tak kupedulikan.


Akhirnya, perjuanganku membuahkan hasil. Perlahan aku bisa bangun, menegakkan badanku dengan posisi duduk. Aaaah...lega rasanya bisa bernafas dengan lapang.


Setelah beristirahat sejenak, aku mulai menyingkirkan ranting dan dedaunan yang


menutupi kaki. Butuh waktu cukup lama mesi tak sesulit ketika menyibak ranting dan dedaunan yang menutupi kepala hingga perut.


Begitu terbebas, aku mengucap syukur atas pertolongan-Nya. Aku pun berusaha berdiri. Setelah berhasil, aku mulai mencoba melangkah. Aku hanya mengandalkan perasaanku. Langkahku kuarahkan ke atas.


Setiap kali kepalaku berdenyut nyeri, aku menghentikan langkahku. Kusandarkan tubuh ke pohon sambil mengistirahatkan badanku.


Dengan susah payah, aku pun sampai tepi jalan raya. Aku tidak tahu pukul berapa saat itu. Namun, aku yakin belum masuk waktu zuhur.


Kuraba saku celanaku. HP-ku tak ada. Aku masih menemukan dompet. Lengkap. Kartu identitas, kartu ATM, dan sedikit uang tunai. Aku ingat, di dompet memang hanya ada 8 lembar lima puluh ribuan. Dan, sudah kugunakan tiga lembar untuk membayar tambal ban.


Aku memperhatikan kendaraan yang melintas.  Tidak kujumpai angkutan umum. Aku nekad melambaikan tangan saat ada mobil pribadi lewat di depanku. Namun, sopir sepertinya tak menghiraukan aku. Entah berapa kali aku melakukan seperti itu, hasilnya sama. Tak satu pun mobil berhenti.

__ADS_1


Kuperhatikan tubuhku. Ah, ternyata bajuku saja robek di beberapa bagian. Tubuhku jelas


kotor. Mungkin mereka mengira kalau aku orang gila.


Kuputuskan menyetop kendaraan apa saja. Entah itu truk, mobil, maupun motor. Lgi-lagi aku tidak berhasil. Aku sudah hampir putus asa. Akhirnya, saat aku melihat ada sepeda motor yang melaju perlahan, aku nekad menghadangnya dengan berdiri di bahu jalan.


“Hei, kau mau bunuh diri? Jangan menabrakkan diri ke motorku! Aku nggak mau menjadi saksi, ribet. Minggir!” teriak lelaki yang mengendarai motor.


“Bang, tolong antarkan saya ke kota. Saya bayar, kok. Mau, ya?” pintaku memelas.


“Memang kamu berani bayar berapa?” ucapnya sinis.


Kukeluarkan dua lembar pecahan uang lima puluh ribuan lalu kusodorkan kepadanya. Dia tampak terkejut.


“Okelah, naik! Nih, pakai helm. Untung aku bawa,” katanya sambil mengangsurkan helm kepadaku.


Aku menerimanya dengan senang hati. Perasanku sedikit lega.


“Alhamdulillah, puji syukur kepada-Mu ya Allah,” bisikku lirih.


Aku segera naik ke jok belakang. Lelaki itu pun melajukan motornya perlahan.


“Kau mau ke mana?” tanyanya saat mulai memasuki jalanan yang cukup ramai.


“Antarkan saya ke kompleks perbelanjaan, ya,” kataku.


Sekitar lima menit kemudian, ia menghentikan aku di parkiran toko yang besar. Bukan mall, tetapi cukup besar. Kulihat ada mesin ATM berlogo ATM Bersama.


“Ya sudah, saya turun sini saja. Makasih banget atas pertolongan Abang. Semoga Allah membalas budi baik Abang,” ucapku sebelum berpisah.


Aku melangkahkan diri memasuki boks ATM. Kukeluarkan salah satu ATM milikku. Alangkah kagetnya aku mengetahui kartuku diblokir. Kupikir aku salah memasukkan PIN. Namun, semua sama. Bahkan tiga kartu sudah kucoba, hasilnya tetap menunjukkan kalau kartuku terblokir..


Aku sangat panik. Bagaimana aku bisa pulang dari tanah Sumatera Utara ini? HP tak ada, uang cash tinggal tiga lembar berwarna biru, pakaian compang-camping pula.


Dengan langkah gontai, aku keluar. Terpikir olehku mencari alamat Om Candra. Tapi, otakku tak mampu mengingat alamat rumahnya. Aku baru sekali ke sana dan catatan alamat itu ada di HP-ku yang raib.


Saat sedang berpikir, aku dikejutkan teriakan. Suaranya masih cukup jauh, tetapi terdengar


jelas.


“Itu orang yang kita cari. Dia berdiri di sana. Ayo kita tangkap dia!” Teriakan itu diikuti


gerakan berlari tiga lelaki ke arahku.


Firasatku mengatakan mereka bukan orang baik. Aku yakin mereka akan menangkapku. Mungkin mereka adalah lelaki yang bercakap-cakap di lokasi dekat kecelakaan. Aku harus menghindar. Aku harus meloloskan diri, jangan sampai tertangkap.


Meski langkahku terasa berat, tubuhku lemas, kupaksa untuk menghindar. Kuseret langkahku secepat mungkin.


Aku melihat ada mobil pick up hitam terpasrkir. Aku jongkok di sisi kiri mobil. Kupikir mobil


ini bisa melindungi aku dari pandangan orang-orang yang mengejarku.


Jantungku berdegup kencang saat kudengar pintu sebelah kanan dibuka dan tak lama ditutup kembali. Itu artinya, mobil akan segera pergi. Dan, tidak akan ada lagi yang


menghalangi pandangan para penjahat itu.


***


Bersambung

__ADS_1


Mohon dari kakak readers untuk karya recehan ini. Sebentar lagi akan ku-upload episode selanjutnya.


__ADS_2