SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Pelajaran dari Azka


__ADS_3

Mereka tak peduli lampu kamar yang masih menyala terang. Mereka pun tidak peduli gawai Meli yang terus-menerus berbunyi.


Setelah sesi panas  yang diakhiri doa dan syukur usai, Melo meraih bajunya. Ia merapikan bajunya sambil berjalan ke nakas di sebelah kiri ranjang. Jemarinya dengan lincah menari di atas layar  gawai yang baru diambilnya.


“Huff, mending telepon apa chatt, ya? Aaah, kenapa juga malam-malam begini telepon,” gumam Meli.


“Ada apa, Sayang?” tanya Azka tanpa beranjak dari ranjang.


“Ternyata banyak sekali panggilan tak tejawab. Dari ayah 7 kali, dari Mbak Via 4 kali. Meli bingung mau telepon balik atau chatt, ya?” Meli meminta pertimbangan Azka.


“Sebaiknya chatt saja. Siapa tahu mereka sedang sibuk seperti kita atau malah sudah tidur. Kalau itelepon kan jadi terganggu,” jawab Azka sambil menyingkap selimut.


Meli menuruti saran Azka. Yang pertama ia mengirim pesan kepada ayahnya, lalu kepada Via. Rupanya, ayah Meli sudah dalam posisi tidak aktif. Sementara Via masih aktif sehingga ia kembali menelepon.


“Assalamualaikum,” ucap Meli setelah menggeser ikon warna hijau.


“Waalaikumsalam. Barusan lagi sibuk ya? Maaf, ya. Aku cuma mau tanya, besok kamu pulang jam berapa?”


“Sekitar jam 8 pagi. Keretanya kan jam 9,” jawab Meli.


“Baiklah. Besok pagi kalian ke rumahku dulu, ya! Dari sini barulah ke rumah Eyang Probo,” kata Via.


“Memang ada apa?” Meli penasaran.


“Udah, pokoknya mampir saja! Syukur kalau sebelum jam 8 sudah sampai sini biar kita bisa ngobrol sebentar.”


“Okelah, nanti aku sampaikan ke Mas Azka.”


“Oke deh. Makasih, ya. Silakan lanjut lagi, hehe. Assalamualaikum.” Via menutup pembicaraan.


Setelah menjawab salam, Neli meletakkan kembali benda pipih itu. Ia berbalik ke ranjang. Ternyata, Azka tak ada .


“Kok nggak ada? Ke mana Mas Azka? Ah, mungkin sedang berwudu.”


Meli kembali mengambil gawai kesayangannya.Ia duduk di sofa lalu membuka kotak masuk, mencari pesan dari Anjani. Namun tidak ada pesan baru.


Meli menarik nafas panjang. Mendadak ia menjadi gelisah. Ada rasa tak enak menyusup di hatinya.


Saat melamunkan Anjani, Meli melonjak kaget. Sebuah tepukan di bahu cukup membuatnya berdebar-debar.


“Sedang melamunkan apa atau siapa?” tegur Azka.


“Mas Azka bikin kaget saja,” desis Meli sambil menengadah.


Ia melihat wajah tampan Azka yang tampak lebih segar. Aroma sampo dan sabun berbaur menusuk hidung.


“Kamu sih, malah melamun. Sudah kangen Jember? Nggak betah di sini?”


“Ish, apaan Mas Azka ni. Bukan begitu. Meli betah, kok. Apalagi berdua sama Mas Azka,” sahut Meli sambil tersenyum.


Azka balas tersenyum. Dikecupnya ubun-ubun sang istri dengan lembut.


“Lalu kenapa kamu melamun?” Azka mengulangi pertanyaannya.


“Aa—itu, Meli teringat Anjani,” jawab Meli.

__ADS_1


“Memangnya kenapa? Mungkin dia sedang ena… auw!” Azka tidak melanjutkan kalimatnya karena cubitan dari Meli yang mendarat di pinggang.


“Mas Azka nggak usah nakal gitu!” sungut Meli.


“Lho, apa salahku? Mereka pengantin baru. Kita juga melakukan tiap malam saat bertemu. Sayangnya kita masih sering LDR.”


Meli tidak menanggapi ucapan Azka. Ia memasang muka serius.


“Apa yang membuatmu memikirkan sahabatmu itu?” tanya Azka lembut. Ia duduk di samping Meli.


“Seharian ini dia nggak menghubungi Meli sama sekali. Dia cuma vicall sekali tadi pagi. “


“Itu berarti dia masih peduli. Lalu, apa yang membuat istri cantikku risau?”


Meli menarik nafas panjang. Ia menoleh ke Azka dan melempar tatapan sendu.


“Chatt Meli belum dibalas, bahkan belum masuk. Kehabisan batere? Tidak mungkin rasanya. Ini bukan kebiasaan Anjani. Perasaan Meli nggak enak, seolah mengatakan Anjani dalam masalah besar.”


“Tenanglah. Bukankah ada Mario? Insya Allah dia baik-baik saja. Kita doakan begitu.” Azka mencoba menghibur Meli.


“Semoga dia baik. Tapi, Meli selalu berdebar setiap ingat Anjani,” rengek Meli.


“Kan besok kamu bisa menemuinya, menanyakan langsung kepada Anjani,” bujuk Azka.


Meli mengangguk. Ia mencoba menenangkan pikirannya.


“Sana, mandi dulu. Habis itu, kita langsung istirahat, ya. Besok kan kita melakukan perjalanan jauh. Nggak usah berendam!” kata Azka.


Meli menurut. Ia segera menyimpan benda pipih cerdasnya, benda yang ia beli pertama kali menggunakan uang dari Azka. Setelah itu, Meli mandi janabah tanpa berendam sehingga tak memakan waktu lama.


Malam itu, Azka dan Meli meresapi kebersamaan mereka. Detik demi detik begitu berharga sebelum perpisahan tiba. Keduanya tidur dengan memeluk satu sama lain.


Azka lebih dulu bersuci karena Meli membereskan ranjang terlebih dahulu. Ia sudah meninggalkan kamar saat Meli berada di kamar mandi.


Meli menyusul Azka ke mushala keluarga. Namun, ia tak mendapati suaminya di sana.


“Ke mana Mas Azka? Masa ke masjid? Ah, Meli langsung salat tahajut saja,” gumam Meli sambil mengenakan mukena.


“Ehm!”


Meli terkejut. Ia memutar badannya. Ternyata Azka berdiri di belakangnya.


“Eh, Mas Azka dari mana?” tanya Meli.


“Dari dapur. Yuk kita dirikan qiyamullail!” ajak Azka tanpa menghiraukan keheranan Meli.


Usai witir, Meli bersiap setor hafalan. Namun, Azka justru membuka pecinya.


“Mas mau saur dulu. Istriku mau ikut shaum nggak? Kalau ya, kita masak dulu lalu saur. Kalau nggak, ya nggak apa-aoa, temani Mas saja.”


Meli mengernyitkan kening. Ia sedang mengingat-ingat hari apa saat itu.


“Bukannya sekarang Minggu? Mas Azka puasa apa?” tanya Meli yang tak dapat menahan rasa penasaran.


“Memang Minggu. Kenapa?” Azka bertanya balik.

__ADS_1


“Lalu, Mas Azka puasa apa?” Meli penasaran.


“Ayyamul bidh, Sayang.”


Meli menatap Azka penuh keheranan. Ia belum tahu puasa sunah itu.


“Yuk, kita ke dapur. Sambil masak nasi goreng, nanti Mas jelaskan,” ucap Azka seolah bisa menebak jalan pikiran Meli.


Meli menurut. Ia mengikuti langkah Azka ke dapur.


Dengan cekatan, Azka menyiapkan bumbu-bumbunya. Meli memperhatikan dengan kagum. Meski dia pernah melihat kesigapan Azka mengerjakan pekerjaan dapur, tetap saja hal itu membuat Meli terpesona.


“Bisa bantu kupas bawang dan menyiapkan garnish?” tanya Azka.


Meli mengangguk. Ia segera mengambil pisau.


“Tadi soal puasa ayyamul bidh itu gimana, Mas?” Meli menagih penjelasan Azka.


“Puasa ayyamul bidh dikenal juga dengan puasa putih. Puasa sunah ini dilakukan selama 3 hari pada tengah bulan Hijriyah, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15. Dalam hadist riwayat Bukhori Muslim disebutkan ‘cukup bagimu berpuasa selama tiga hari di setiap bulan sebab kamu akan menerima sepuluh kali lipat pada setiap kebaikan yang kamu lakukan. Karena itu, puasa ayyamul bidh sama dengan puasa setahun penuh.’ Itu keutamaannya,” papar Azka panjang lebar.


Meli mengangguk-angguk memahami penjelasan Azka. Ia makin mengagumi sosok yang ia cintai.


“Lalu niatnya bagaimana?” tanya Meli


“Nawaitu shauma ghodin ayyamal bidhi sunnatan lilahi taala.”


“Meli akan mulai belajar puasa ayyamul bidh dari sekarang,” sahut Meli.


Azka tersenyum. Ditatapnya sang istri penuh kasih.


Tak terasa, nasi goreng pun telah siap. Meli menghias dengan garnish sederhana yang telah disiapkan. Ia pun sudah menyeduh teh.


Sahur pertama yang sangat nikmat. Mereka makan dari piring yang sama, saling menyuapi.


Saat akan meminum teh, Meli merasakan cangkirnya masih panas. Ia segera meniup tehnya. Melihat itu, Azka meraih cangkir dari tangan Meli lalu meletakkannya.


“Jangan ditiup, Sayang! Sabarlah sebentar,” tegur Azka.


“Tapi, teh itu masih panas. Jadi, Meli tiup agar dingin,” kilah Meli.


“Sesungguhnya Rasulullah melarang kita meniup makanan dan minuman. Dari hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah bersabda,’ apabila kamu minum, janganlah bernafas dalam gelas, dan ketika buang hajat janganlah menyentuh ******** dengan tangan kanan.’ Ini juga berlaku untuk makanan.”


Meli melongo mendengar penjelasan Azka. Ia lupa niatnya meminum teh karena penasaran sebabnya.


“Kenapa Rasulullah melarang?”


Azka tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. Ia pun menjelaskan dengan sabar.


“Krena bisa menyebarkan virus. Ini sudah terbukti melalui penelitian ilmiah antara makanan yang ditiup, didinginkan memakai kipas, dan didiamkan saja. Yang ditiup mengandung virus terbanyak. Meniup makanan juga menunjukkan sikap terburu-buru, tidak sabar. Selain itu, penelitian juga membuktikan bahwa meniup makanan menyebabkan keasaman makanan naik dan itu tidak baik bagi  kesehatan.”


Lagi-lagi Meli mendapat pelajaran berharga dari Azka. Tentu saja Meli sangat senang. Ingin rasanya dia terus berada di dekat Azka. Tidak hanya karena cinta, tetapi kelayakan Azka sebagai imam yang membimbing makmumnya.


***


Bersambung

__ADS_1


Ada apa dengan Anjani? Apakah firasat Meli benar? Cari tahu jawabannya di CS1 karya Kak Indri Hapsari. Jangan lupa untuk klik like dan tinggalkan komentar. Salam hangat untuk semua readers.



__ADS_2