
Mata Via masih terpejam. Di lengan kirinya tertancap jarum yang terhubung dengan selang infus. Nafasnya mulai teratur.
Di samping tempat tidur, Bu Aisyah duduk sambil terus menatap putri angkatnya. Sementara, Ratna duduk di sisi yang lain.
Baru sekitar 5 menit Via dipindahkan dari IGD ke bangsal perawatan. Saat di IGD, ia sempat membuka mata sebentar, mutah, lalu pingsan lagi.
Terdengar ketukan pintu kamar. Bu Aisyah menoleh ke pintu yang sedikit terbuka.
"Assalamualaikum. Boleh masuk, Bun?"
"Waalaikumsalam. Masuklah, Ka. Taruh koper dan tas di situ."
Ternyata Azka yang datang. Ia langsung ke rumah sakit dengan membawa baju ganti untuk Via dan bundanya, juga keperluan lainnya selama Via dirawat.
"Via gimana, Bun?"
"Kata dokter kemungkinan besar Via mengalami gegar otak. Kepastiannya nunggu penjelasan dokter syaraf. Kalau tulangnya sih insya Allah gak ada yang patah atau retak."
"Luka luar?"
"Lengan kirinya luka agak lebar. Mungkin tergores benda tajam di pinggir jalan."
"Ceritanya gimana, Bun? Kok bisa Via kecelakaan di depan sekolah? Dia nggak pakai helm"
Bu Aisyah menceritakan kronologi kejadian seperti yang diceritakan Doni.
"Doni lihat wajah pengemudi motornya nggak? Atau mungkin plat nomornya?"
Bu Aisyah menggeleng.
"Kejadiannya sangat cepat. Motor yang nabrak Via melaju dengan kecepatan tinggi. Doni tidak bisa melihat dengan jelas. Hanya jenis motornya motor sport." Ratna menambahkan.
"Sudah lapor ke kepolisian?"
"Sudah. Pak Herman yang mengurusi masalah itu setelah mengantar Via ke sini bersama Ratna dan Doni. Dia yang melihat kejadiannya."
"Mungkin nggak kalau itu suatu kesengajaan?"
"Mungkin saja. Menurut Doni, posisi Via waktu itu masih di pinggir, belum menyeberang. Kan aneh, motor turun dari badan jalan sementara jalan cukup lengang. Waktu kejadian, hanya ada satu motor sport yang melintas," sahut Ratna.
"Bun, bukannya bisa memanfaatkan rekaman CCTV? Sudah dibawa sama Pak Herman?"
Bu Aisyah menggeleng. "Di gerbang sekolah tidak ada CCTV."
Azka mendadak merasa putus asa.
"Aaaiir..."rintih Via.
Bu Aisyah segera meraih gelas di meja. Perlahan dibantunya Via meminum air putih.
Via mulai membuka mata. Ia memperhatikan sekelilingnya.
"Di mana Via?" tanya Via dengan suara lemah.
"Kamu di ruang perawatan. Jangan banyak bergerak dulu!" jawab Azka.
"Mas Azka? Kok ada Mas Azka?"
"Tadi bunda ngabari kalau kamu kecelakaan, aku langsung ke sini."
__ADS_1
"Kecelakaan?" Via mencoba mengingat yang terjadi. Mendadak kepalanya terasa pusing dan perutnya seperti diaduk.
"Kau istirahat saja, tidak usah berpikir yang macam-macam."
Via meletakkan kepalanya kembali ke kasur. Pusing dan mualnya terasa begitu menyiksa.
"Assalamualaikum. Via sudah sadar?" seorang pria mengenakan jas putih bertanya dari dekat pintu.
"Waalaikumsalam. Eh Ayah. Sini, masuk. Sudah, Yah. Via baru saja siuman," jawab Azka.
Pak Haris masuk. Ia mengecek kondisi Via.
"Via sementara tidur tidak pakai bantal, ya!" perintah Pak Haris.
Via tidak menjawab. Pusing dan mual terus mendera membuatnya sulit mencerna pembicaraan orang lain.
"Azka, siapkan baskom atau ember kecil! Mungkin Via ingin mutah," perintah Pak Haris kepada Azka.
Azka menurut. Ia mengambil ember di kamar mandi. Sementara Bu Aisyah mencari waslap di koper yang baru diantarkan Azka.
"Via beneran gegar otak, Dok?" tanya Ratna penasaran.
"Kemungkinan begitu. Tapi termasuk ringan atau sedang, kita belum tahu. Tunggu Dokter Yanuar. Dia ahli syaraf rumah sakit ini. Saat ini sedang memeriksa pasien di ICU."
"Ayah nggak bisa?" tanya Azka.
"Ayah tahu secara umum. Namun, lebih detailnya tentu dokter syaraf. Kan Ayah spesialis dalam." Dokter Haris memeriksa kondisi Via lagi sebentar.
"Ratna sudah makan siang?" tanya Pak Haris.
Bu Aisyah terkejut. Begitu khawatirnya terhadap Via sampai melupakan Ratna.
Ratna menggeleng. "Nggak lapar, Bu."
"Itu karena kamu mengkhawatirkan Via. Insya Allah Via tidak apa-apa. Dalam artian cederanya tidak terlalu serius. Insya Allah dalam tiga sampai lima hari Via sudah bisa pulang," kata Pak Haris.
"Ratna pamit pulang saja. Ini sudah jam 2 lebih. Ibu Ratna bisa-bisa khawatir Ratna belum pulang."
"Kamu tidak telpon atau SMS?" tanya Azka.
"Ibu nggak pegang HP. Adik saya yang di SMP pegang HP, tapi hari ini pulang sore karena ikut ekskul."
"Kalau begitu, kamu diantar Azka, ya!"
"Siap, Bun! Yuk, Rat!"
"Nggak usah, saya naik ojol saja."
"Udah, nggak usah sungkan gitu! Aku ntar sekalian beli makanan buat buka puasa, ya Bun."
"Iya. Sana, Ratna! O iya, ini kunci kontak mobil Bunda sama uang buat beli makanan nanti."
Ratna menuruti perintah Bu Aisyah. Ia keluar dari kamar Via bersama Azka.
"Ratna, ada yang ingin aku tanyakan."
"Ya, Mas. Mas Azka mau tanya apa?"
"Ni orang mau tanya apa sebenarnya, ya? Kok aku deg-degan gini," gumam Ratna dalam hati.
__ADS_1
"Via punya musuh nggak?"
"Ah, ternyata nanyain Via. Kamu ni apa-apaan sih, Rat?"
"Kok malah diam?"
"Eee...setahu Ratna nggak ada. Via orangnya baik, pintar. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Ada seorang teman yang nggak suka sama Via. Nggak sekelas, sih."
"Oh ya? Siapa? Dan kenapa dia nggak suka?"
"Ubur-ubur. Dia iri karena Via dekat dengan cowok yang dia taksir?"
"Ubur-ubur? Itu julukan dari kamu, ya?"
"Hehehe...iya. Dia tuh naksir Doni, tapi Doni kelihatan perhatian sama Via. Terus sekarang dia ngincer..."
"Siapa?"
"Mas Azka."
"Apa? Aku? Kok bisa?" Azka keheranan.
"Dia kenal Mas Azka."
"Siapa nama aslinya, sih?"
"Aurelia."
"Oh, anaknya agak gemuk, rambutnya cepak, kulit sawo matang?"
"Iya."
"Dia adik temanku. Aku memang sering ke rumahnya. Waktu aku jemput Via hari Senin, sempat ngobrol sebentar. Karena Via datang, aku dan Via trus pulang. Emang sih, dia kelihatan nggak suka dengan kedatangan Via."
"Dia sudah tiga kali ribut dengan Via dalam sebulan terakhir. Semuanya karena Lia yang bikin gara-gara."
"Tapi apa mungkin? Dia kan masih sekolah," gumam Azka.
"Maksud Mas Azka?"
"Eemm... aku sedang penasaran soal dalang di balik peristiwa yang dialami Via."
Ratna mengangguk-angguk. Dia ikut-ikutan berpikir meski tidak paham.
"Tapi, bisa juga musuh papanya Via," gumam Azka lagi.
"Papa Via kan sudah meninggal. Buat apa?"
"Barangkali ada yang dendam kepada papa Via lalu berniat melampiaskan ke Via. Bisa saja, kan?"
Tak terasa mereka telah sampai rumah Ratna. Setelah basa-basi sejenak, Azka kembali ke rumah sakit. Tidak lupa ia mampir membeli makanan untuk berbuka.
***
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih telah membaca cerita ini. Ikuti terus, ya! Jangan lupa, tinggalkan jejak komentar dan like! 🙏🙏🙏