
Saat jarum pendek jam dinding di ruangan Edi menunjuk angka 4, si penghuni ruangan membereskan berkas yang ada di meja. Pria itu segera keluar ruangan. Tak lama kemudian, ia sudah melajukan mobilnya menuju ruko Azrina.
Dahinya mengernyit tatkala melihat motor matik 150 cc terparkir manis di depan ruko. Motor warna merah itu terlihat masih baru. Plat nomornya belum ada.
Edi tak menemukan ada pengunjung. Hanya ada Ratna yang duduk sambil menatap layar monitor.
“Assalamualaikum,” ucap Edi.
“Waalaikumsalam. Eh, Mas Edi mau jemput Mbak Mira? Kok jam segini sudah jemput? memang di kantor nggak ada kerjaan?” Ratna memberondong dengan pertanyaan.
“Haduuuh...bingung aku jadinya. Eh, itu motor siapa?” tanya Edi.
Ratna menepuk dahinya. Ia baru teringat ada tamu menunggu Edi.
“Ah, Mas Edi ada janji dengan teman, ya? Itu motor punya teman Mas Edi. Dia sudah menunggu dari tadi. Sekarang ada di lantai 2,” terang Ratna.
“Memangnya jam berapa dia sampai sini?” tanya Edi lagi.
“Sekitar satu jam yang lalu. Dia ditemani Mbak Mira dan Salsa. Eh, Mas Edi nggak cemburu, kan? Tenang, mereka nggak berduaan. Ada Salsa, lo!”
Edi tersenyum. Ia tak mungkin cemburu hanya karena Mira bersama Kiki.
“Ya sudah, aku naik dulu.” Edi melangkah menapaki tangga menuju lantai 2.
Saat kakinya menapak tangga terakhir, Edi tertegun. Ia melihat penampilan Kiki yang lain dari biasanya. Kemeja kotak-kotak lengan panjang dilipat sampai suku dipadu celana kain membuat aura lelaki Kiki keluar. Rambutnya hanya diikat karet hitam, bukan warna yang mencolok seperti biasanya. Jam tangan yang melingkar di pergelangan kiri menambah nilai untuk penampilan Kiki.
“Ngapain berdiri di situ, Bang?” tegur Kiki dengan suara bass-nya, bukan sopran.
Edi tersadar. Ia menyunggingkan senyum untuk menutupi kikuk.
“Apa kabar, Sa?” tanya Edi kepada gadis yang duduk berhadapan dengan Kiki.
“Alhamdulillah sehat. Silakan duduk, Mas. Ni Mas Kiki sudah nunggu Mas Edi sejak tadi, lo,” ucap Salsa.
Edi memposisikan duduk di dekat Kiki. Seketika aroma parfum menusuk hidung. Edi menatap Kiki seolah bertanya apa yang terjadi. Namun, Kiki pura-ppura acuh.
“Salsa ke belakang dulu, buat minum untuk Mas Edi.”Salsa bangkit menuju dapur.
“Sa, es jeruk buat Bang Kiki, ya!” teriak Kiki.
“Haish, emang ini warung?” Edi memelototi Kiki.
Kiki hanya nyengir tanpa merasa bersalah.
“Itu yang diparkir di luar motor baru kamu, Ki?” tanya Edi.
“Iyalah. Kiki baru dapat transferan dari bos besar.Ya, lumayan buat nambah beli motor. Kiki belum bisa beli mobil, Bang,” ujar Kiki dengan wajah memelas.
“Kamu kira kalau kamu pasang muka begitu aku kasihan terus belikan kamu mobil?” cibir Edi.
“Ya kali aja Bang Edi berbaik hati,” sahut Kiki sambil tersenyum manis.
Salsa datang membawa minuman. Ia meletakkan cangkir berisi kopi di depan Edi dan gelas berisi es jeruk di depan Kiki. Sahabat Edi itu menatap gadis di depannya tanpa berkedip. Edi memperhatikan yang Kiki lakukan.
“Kedip! Mata kamu nanti sakit lo!” Edi memperingatkan Kiki/
“Ih, apaan sih?” Kiki menggerutu. Ia merasa terganggu.
__ADS_1
“Silakan diminum, Mas,” ucap Salsa.
“Terima kasih, Sa. O ya, di mana Mira?” ucap Edi.
“Tadi di kamar mandi. Salsa mau turun bantu Mbak Ratna. Silakan Mas Edi dan Mas Kiki ngobrol.” Salsa membalikkan badan.
“Ki, kamu naksir Salsa?” bisik Edi.
“Kalau ya, kenapa?” Kiki menjawab dengan berbisik pula.
“Nggak apa-apa. Pantesan penampilan kamu berubah. Parfum kamu juga baru, ya?” tanya Edi masih dengan berbisik.
Kiki tidak menjawab. Seulas senyum sebagai gantinya.
“Kalau kamu memang suka Salsa, aku akan suruh Mira bantu kamu.”
“Ciyus, Bang?” Mata Kiki tampak berbinar.
“Iya. Tapi, kamu harus mantapkan dulu hatimu. Jangan pernah ada niatan mempermainkan Salsa!” Edi berkata tegas.
“Iya, Bang. Tapi, beneran Bang Edi bantu Kiki, ya!” rengek Kiki.
“Selesaikan dulu tugas kita. Ini penting, Ki.”
Edi menjelaskan rancangan Via. Ia juga menyampaikan yang sudah diperintahkan Via kepada Pak Sasmita.
“Oh, cakep juga rancangan Non Via. Dia ingin menangkap ikan tanpa membuat air keruh,” gumam Kiki.
Mira keluar dari kamar. Begitu melihat suaminya sudah datang, ia begegas mendekat. Diraihnya tangan kanan Edi lalu dicium lembut.
Edi dan Mira justru tertawa, menertawakan Kiki yang tengah manyun.
“Makanya, segera nikah, Mas!” ucap Mira.
“Dia lagi tahap naksir cewek, tuh,” sahut Edi.
“O ya? Boleh Mira tahu siapa cewek yang beruntung itu?” tanya Mira antusias.
“Beruntung apanya? Yang benar saja. Masih lebih untung kamu jadi pasanganku.” Edi mencebik.
Mira tertawa. Ia tahu kalau Edi hanya berpura-pura.
“Ya, sudah, Mira tinggal ke bawah. Silakan dilanjutkan ngobrolnya.” mira menyusul dua sahabatnya di bawah.’”
“Kok Mas Edi nggak bilang ke Mira soal bantu aku deketin Salsa?” protes Kiki.
“Nggak di sini ngomongnya, Dodo! Nat ri rumah.” Edi tampak geregetan.
“Iya, iya. Tapi Bang Edi jangan ingkar, lo!”
“Iya, bawel!”
Mereka kemudian terlibat pembicraan serius lagi. Setengah jam kemudian, mereka tampak menemukan titik temu.
“Oke, Bang. Kita ikuti ide Non Via. Hebat juga dia. Seorang wanita bisa berpikir sejauh itu,” puji Kiki.
“Iyalah. Kalau dia tidak hebat, mana mungkin bisa memimpin perusahaan sebesar Wijaya Kusuma, bahkan mengembangkannya. Laba bersih perusahaan terus naik pesat. Wajar, banyak yang iri,” kata Edi.
__ADS_1
“Kiki pulng dulu, Bang.”
“Aku juga. Memangnya aku mau nginep?”
Mereka berdua turun. Ratna dan Mira tampak sedang menutup toko.
“Kita pulang, yuk!” ajak Edi kepada Mira.
“Ya, Mas. Sebentar, Mira ambil tas dulu. Ratna, nanti anak-anak ke sini, kan?” Mira memastikan Ratna tak sendiri.
“Iya, mereka bilang acara selesai jam 5. Paling sedang otewe,” jawab Ratna santai.
“Lho, Salsa ke mana?” tanya Kiki sambil celingukan.
“Sudah pulang, Mas,” jawab Ratna.
Kiki tampak kecewa. Sementara, Edi menahan senyum melihat raut wajah Kiki.
Setelah berpamitan kepada Ratna, mereka bertiga meninggalkan ruko. Kiki tampak gagah mengendarai motor matik besar. Edi mengikuti dari belakang. Mereka masih searah.
“Bisa jatuh cinta juga tu bocah,” gumam Edi sambil mengemudikan mobilnya.
“Siapa yang Mas Edi maksud?” tanya Mira heran.
“Itu, makhluk yang pakai motor baru di depan kita,” jawab Edi sambil tersenyum.
“Mas Kiki? Memang kenapa?”
“Dia pernah patah hati karena cewek yang dia sukai meninggalkannya, menikah dengan pria lain. Biasa, dijodohkan orang tua. Sejak itu, Kiki takut jatuh cinta.”
“Termasuk penampilannya yang seperti cewek, apa itu akibat patah hati?” tanya Mira.
“Aku tak tahu persis. Yang jelas, dia tetap lelaki tulen. Saat bersama orang-orang dekat, dia jarang menunjukkan sikap kemayunya. Yang jelas, penampilan dia seperti itu menunjang perannya mengorek informasi penting.” Edi menjelaskan.
Mira mengangguk-angguk. Ia baru tahu hal lain dari sosok Kiki.
Terdengar suara klakson dari depan. Rupanya Kiki belok kiri. Edi membalasnya dengan membunyikan klakson mobil.
“Tadi Mas Edi bilang kalau Mas Kiki lagi jatuh cinta. Memang jatuh cinta kepada siapa?” tanya Mira kepo.
“Temanmu. Kalau kamu setuju, kita bantu deketin mereka,” jawab Edi tanpa menoleh.
“Siapa yang Mas Edi maksud?”
“Salsa. Tadi dia mengakui kalau menyukai Salsa.”
Mira tampak terkejut. Sepertinya ada sesuatu yang membebani pikirannya. Namun, sepertinya Mira ragu untuk mengungkapkannya.
*
Bersambung
Maaf, belum bisa up banyak, ya! Namun, aku berharap Kakak berbaik hati meninggalkan like dan komentar di karya recehku ini.
__ADS_1