
Rasa lega dan bahagia memenuhi ruang hati Via setelah mendengar cerita Farhan tentang lamaran Edi.Tinggal menghitung hari, Mira akan sah menjadi istri Edi.
Setelah Mira menikah dengan pria yang baik, satu beban Via lenyap. Sejak Via megetahui bahwa Mira menaruh hati ke Farhan, ada rasa bersalah dalam hati Via.
Bagi Via, teman-teman di ruko sudah dianggap saudara. Ia tidak tega saat melihat Mira patah hati. Namun, ia pun tak mungkin memberikan Farhan. Toh, Farhan juga tidak mungkin mau.
Kebahagiaan yang dirasakan Via membuatnya lebih bersemangat. Ia pun sudah kembali memantau perkembangan Wijaya Kusuma. Setiap pagi, ia berada di ruang kerja. Kadang Farhan menemani saat tidak ke kantor.
Setelah memberi ASI kepada Baby Zayn hingga bayi itu tertidur, Via memasuki ruang kerjanya. Ia membuka laptop dan mengecek email yang masuk. Ia membaca beberapa tawaran kerja sama. Kemudian, ia mulai mengecek laporan .
Perlahan mata Via berpindah dari angka satu ke angka yang lain. Ia tidak mau ceroboh dalam mengecek laporan. Apalagi laporan keuangan.
Mata Via terbelalak dan dahinya berkerut saat melihat adanya kejanggalan. Ia men-scroll layar laptopnya beberapa kali. Ia mencermati laporan berkali-kali. Ia beri tanda highlight merah.
Baru saja selesai, Farhan masuk ruangan. Ia membawamakanan ringan lalu diletakkan di meja.
“Kelihatannya ada masalah? Boleh tahu?” Farhan membuka pembicaraa. Nia menatap Farhab yang tengah menyatap puding coklat.
“Iya, Hubbiy. Sekarang sibuk nggak?;”
“Enggak, sih. Memang ada apa?” Farhan balik bertanya.
Via melambaikan tangan memberi isyarat agar Farhan mendekat. Farhan pun menurt. Ia menggeser kursi dan duduk di samping Via.
“Coba Hubbiy perhatikan! Ini, ini, dan ini. Aneh nggak?” Via menunjukkan bagian yang ia beri tanda.
Farhan menautkan alis. Ia melihat angka-angka itu lagi.
“Ada laporan sejenis yang lain? Laporan bulan lalu?” tanya Farhan tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor.
Via mencari file yang Farhan minta. Setelah terbuka, Farhan menatap dengan cermat angka-angka yang tertera.
Farhan menggelengkan kepalanya. Ia tampak kesal.
“Coba lihat! Di sini juga sama. Bisa-bisanya seperti ini?” Nada suaranya meninggi.
“Hubbiy, tenanglah! Bukankah lebih mudah menyelesaikan masalah saat pikiran kita jernih?” ujar Via lembut.
Farhan tersadar dengan sikapnya. Ia menyugar rambutnya sambil mengucap isighfar beberapa kali.
“Lihatlah! Ini malah lebih parah, bukan? Sepertinya ada yang menikam Cinta. Saat Cinta sedang ada masalah, laporan dimanipulasi begini,” gerutu Farhan.
Via mencermati bagian yang ditunjukkan Farhan. Matanya terbelalak kaget.
“Mas yakin, ini permainan orang dalam. Apa Pak Arman tidak tahu, ya?” Farhan menggumam.
“Entahlah. Namun jelas, orang ini berbahaya. Ada 2 kemungkinan. Yang pertama, dia menginginkan materi lebih dan yang kedua mungkin saja alasan yang lebih jauh.” Via memaparkan argumannya.
__ADS_1
“Maksud Cinta apa? Alasan yang lebih jauh itu bagaimana?”
“Ingin menghancurkan Wijaya Kusuma perlahan-lahan atau mungkin Via,” jawab Via tenang.
Farhan menatap istrinya lembut. Betapa ia semakin mencintai istrinya. Via tampak begitu tenang menghadapi masalah yang sebenarnya cukup besar.
“Mas setuju. Kita harus menyelidikinya segera. Apalagi Mas Edi sebentar lagi menikah. Sebelum ia mengambil cuti, usahakan masalah ini sudah selesai,” kata Farhan.
“Iya, Hubbiy. Bagaimana kalau nanti sore Pak Arman kita minta datang ke sini?” Via meminta pertimbangan Farhan.
“Boleh. Setelah jam pulang kantor saja. Tidak usah memberi tahu masalah ini dulu. Pokoknya suruh datang saja biar tidak ada kecurigaan,” ucap Farhan.
Via mengangguk setuju. Ia mengambil benda pipih pintarnya untuk menghubungi Pak Arman.
***
Matahari hampir kembali ke peraduannya. Mobil hitam metalik keluaran pabrikan negeri sakura itu memasuki halaman kediaman Via. Setelah mesin dimatikan, tampak pria berjas hitam turun dari mobil.
Dengan langkah tenang pria itu menuju teras llalu menekan bel. Tak perlu menunggu lama, pintu terbuka lebar. Rupanya Farhan telah menanti.
“Assalamualaikum,” ucapnya.
“Waalaikumsalam. Silakan masuk, Pak Arman,” balas farhan ramah.
“Sebentar lagi maghrib, barangkali Pak Arman mau membersihkan diri dulu, saya persilakan di kamar tamu yang itu. Ada baju koko di situ,” kata Farhan menawari.
Usai salat magrib, Pak Arman dipersilakan makan dulu. Edi pun dipanggil untuk makan bersama.
Saat itulah Via mulai membuka masalah. Ia menyampaikan kepada mereka berdua kalau ada masalah yang harus segera diselesaikan.
Setelah menyelesaikan makan malam, Via mempersilakan Pak Arman dan Edi menuju ruang kerjanya. Via segera menghidupkan laptopnya.
“Pak Arman, Bapak yang diserahi menggantikan posisi saya selama saya berhalangan dengan dibantu Mas Edi. Itu berlaku sejak bulan lalu saat Mas Farhan meninggal dalam tanda kutip. Benar, kan?” Via membuka pembicaraan dengan menegaskan posisi mereka.
“Benar. Saya melepas kantor cabang karena ditarik ke kantor pusat,” jawab Pak Arman.
“Siapa yang bertanggung jawab atas laporan keuangan? Apakah masih Pak Tanto?” tanya Via.
“Iya, masih tetap Pak Tanto.”
Via mengangguk-angguk. Ia mengambil print out laporan.
“Sebelum Bapak menandatangani laporan ini, Bapak mengecek apa tidak?”
Pak Arman tampak gugup. Wajahnya sedikit memucat.
“Ma—mafkan saya. Saat itu, saya memang tidak mengecek sendiri laporan tersebut karena saya baru beralih tugas secara mendadak. Saya masih haruas menyelesaikan beberapa tugas di kator cabang. Karena banyak yang harus saya selesaikan dalam waktu dekat, saya percayakan kepada sekretaris, Gunawan, untuk mengeceknya.” Pak Arman menundukkan kepala.
__ADS_1
“Bagaimana untuk bulan ini? ApakahPak Arman sudah mencermati?” Via bertanya lagi.
“Be—belum, Mbak. Tadi langsung saya kerim ke Mbak Via,” jawab Pak Arman.
Via bangkit dari duduknya. Ia memberikan 2 eksemplar laporan kepada Pak Arman dan Edi.
“Silakan cermati bagian yang saya tandai!” ucap Via.
Pak Arman tampak terkejut. Ia memperhatikan kedua laporan itu dengan teliti.
“Ma—maafkan saya, Mbak. Sungguh, saya tidak sengaja. Saya siap menerima sanksi,” kata Pak Arman.
Farhan menatap Pak Arman. Ia merasa ucapan Pak Arman memang jujur.
“Pak Arman, kejadian seperti ini sudah pernah, bukan? Pak, musuh itu akan selalu mengincar kelemahan kita. Makanya, jangan pernah kehilangan kewaspadaan,” ucap Farhan tenang.
Pak Arman menundukkan kepala lagi. Ia terlihat sedikit gemetar.
“Mas Edi, sebelumnya saya minta maaf. Mas Edi saya minta menyelidiki dalang di balik ini semua. Maka dari itu, tolong jangan ekspose masalah ini dulu sebelum pelaku dan motifnya terungkap! Saya berharap masalah ini bisa tuntas sebelum hari pernikahan,” perintah Farhan kepada Edi.
Edi mengangguk mantap. Ia memberikan senyum yang tulus.
“Mas Edi nggak apa-apa, kan?” tanya Via yang merasa tak enak hati.
“Tidak, Mbak. Saya juga nggak akan tenang kalau masih ada masalah. Saya usahakan untuk mengungkap siapa saja yang terlibat dan apa motif mereka dalam seminggu ini. Semoga berhasil. Aamiin.” Edi mengatakan dengan mantap.
Pak Arman masih menunduk. Ia belum berani menatap yang lain.
“Pak Arman, Bapak nggak usah merasa bersalah begitu. Di kantor Bapak juga bersikap biasa saja. Soal laporan ini, jangan pernah disinggung di depan orang lain,”” pesan Via.
“I—iya, Mbak. Saya usahakan.”
“Karena sudah masuk waktu isya, mari kita salat dulu,” kata Farhan menutup pembicaraan.
“Maaf Mas, Mbak, saya sekalian pamit pulang saja. Setelah salat isya, saya tidak kembali lagi ke sini,” ucap Pak Arman.
“Baiklah kalau begitu. Pak Arman juga butuh istirahat. Sampaikan salam kami untuk keuarga di rumah,” sahut Farhan.
Mereka meninggalkan ruang kerja dengan perasaan yang berbeda-beda. Masing-masing memandang masalah ini dengan sudut pandangnya.
***
Bersambung
Siapa di balik ini semua? Apakah Edi berhasil mengungkapnya? Ikuti terus novel recehku, ya!
Jangan lupa, tinggalkan like dan koment! Terima kasih.
__ADS_1