SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XIX


__ADS_3

Sudah lima hari ada yang kurang di rumah. Ya, Farhan sedang ke Jakarta untuk membereskan thesisnya sekaligus mendaftar wisuda. Itu mundur beberapa hari dari jadwal semula.


Meski tidak dekat dengan Farhan, Via merasakan sedikit hampa tidak adanya Farhan.


"Kok aneh. Dia kan manusia kulkas. Ada tidaknya harusnya nggak ngaruh, dong! Tapi aku merasa ada yang kurang. Apa aku kangen dengan dinginnya? Haish, pikiran macam apa ini? Kangen? Yang benar saja. Di dekatnya malah canggung. Enakan sama Mas Azka. Dia humble, kocak, juga cerdas. Kocaknya selevel dengan Ratna."


Via segera turun. Ia sudah siap berangkat. Hari ini adalah hari pertama Ujian Nasional untuk SMA.


"Via, kamu berangkat diantar Azka, ya! Nanti pulangnya juga. Bunda ngawasi di SMA Bakti Utama."


"Nggak usah repot-repot. Via bisa naik ojol, kok. Mas Azka kan kuliahnya jam 8."


"Tenang saja. Sampai kampus pasti sudah ada orang. Tampang kece kayak gini nggak bakalan dikira cleaning servis," sahut Azka santai.


Via mengalah. Setelah berpamitan dan minta doa restu kepada ayah bundanya, Via memakai helmnya. Tak lama kemudian, ia sudah di belakang Azka. Cowok itu melajukan motornya dengan kecepatan kurang dari 60 kpj.


Sekolah Via belum begitu ramai. Bel masuk masih 45 menit lagi. Via memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar.


Hari pertama pun dilalui dengan lancar.


"Tadi susah nggak, Vi?" tanya Ratna.


"Biasa aja. Soal-soal latihan ujian banyak yang mirip."


"Yang Bahasa Indonesia sih iya. Kimianya bikin otakku mendidih."


"Wah, udah mateng dong!"


"Apanya?" tanya Ratna bingung.


"Otakmu. Kamu bilang mendidih."


"S****n kamu! Eh, kamu pulang dijemput atau naik ojol?"


"Dijemput."


"Siapa? Mas Azka?"


"Hooh. Mungkin dia sudah nunggu di dekat gerbang."


"Enak kamu, ya. Selalu punya pengawal. Sekarang pengawalmu ganteng lagi."


"Iih... apaan, sih? Aku juga sebetulnya sudah nolak. Tapi bunda dan Mas Azka maksa. Ya udah, mau nggak mau aku mesti nurut."


Benar saja. Saat Via sampai gerbang sekolah, ia melihat seorang cowok berjaket kulit duduk di atas jok motor. Ia sedang ngobrol dengan seorang cewek berseragam putih abu-abu.


"Assalamualaikum. Sudah nunggu lama, Mas?" sapa Via.


"Belum sih. Pulang sekarang, yuk!"


Via menerima helm dari tangan Azka dan memakainya.


"Duluan, Lia," kata Via sambil tersenyum.


"Mari," ganti Azka yang berpamitan.

__ADS_1


Lia tidak menjawab. Ia hanya memandang dengan tatapan penuh kebencian. Sepertinya ia memendam rasa dendam.


Dan selama Ujian Nasional Via selalu diantar jemput Azka. Namun, hari terakhir ini Azka mengatakan kalau dia pulang sore sehingga tidak bisa menjemput. Via berniat memesan ojol setelah selesai ujian.


Sesampai di pintu gerbang, Via mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi ojol. Baru saja selesai membuat pesanan, terdengar sapaan seseorang.


"Nunggu dijemput, Vi?"


"Eh, Doni. Enggak. Hari ini aku nggak dijemput soalnya Mas Azka pulangnya sore."


"Ikut aku saja, yuk! Aku anterin sampai rumah."


"Kan tujuan kita tidak searah."


"Nggak apa-apa. Kan ini hari terakhir ujian. Besok tidak perlu berangkat ke sekolah. Jadi, nggak apa-apa hari ini pulang telat. Yuk!"


"Helmnya?"


"Kita lewat jalan berputar."


"Makasih, Don. Tapi aku udah pesen ojol. Kasihan pak ojol kalau ku cancel. Orangnya sudah otewe ke sini."


Doni mengangguk. Ia terlihat menyembunyikan kekecewaannya. Namun, ia belum menstater motor sportnya. Ia masih duduk di atas jok motor.


"Nah, tuh ojolnya dah datang. Aku pulang, ya," kata Via. Ia melangkah ke tepi jalan berniat menyeberang. Ia berhenti melihat ke kanan dan kiri. Saat ia menoleh ke kiri, tiba-tiba sebuah motor melaju kencang dan menyerempet Via.


"Brakkkk...!!"


"Auw...!!!" terdengar jeritan Via menyusul bunyi benturan.


Tubuh langsing Via terpelanting ke trotoar. Sementara motor yang menyerempetnya terus melaju.


"Via, Vi, bangun!"


Anak-anak yang belum pulang ikut mendekat.


"Via! Ya Allah, kenapa kamu?" jerit Ratna begitu melihat sahabatnya terkapar.


"Rat, kau lapor salah satu guru. Minta tolong disiapkan mobil untuk membawa Via ke rumah sakit. Cepat!" perintah Doni.


Ratna berlari ke ruang guru. Tak lama kemudian, Pak Herman datang mengendarai mobilnya.


"Masukkan ke mobil. Ratna, kamu masuk dulu agar bisa memangku Via," Pak Herman mengarahkan.


Begitu Via sudah dimasukkan ke dalam mobil, Pak Herman segera tancap gas ke rumah sakit.


Pak Herman sepertinya tidak sempat melihat spedometer. Mobil yang dikemudikan melaju kencang. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke rumah sakit hanya 15 menit.


Petugas IGD segera menyiapkan brankar dan membawa Via ke kamar pemeriksaan.


"Kamu sudah hubungi Bu Aisyah?" tanya Pak Herman setelah menyelesaikan pendaftaran pasien.


"Belum, Pak," jawab Ratna dengan suara gemetar.


"Biar Bapak saja. Kamu duduk di sini, kalau-kalau ada pertanyaan dari petugas medis." Pak Herman keluar ruang IGD untuk menghubungi Bu Aisyah.

__ADS_1


Baru saja Pak Herman keluar, Doni datang dengan nafas terengah-engah.


"Gimana kondisi Via?"


"Sedang diperiksa. Aku nggak bolehasuk. Pak Herman sedang menghubungi Bu Aisyah."


Pak Herman masuk. Wajahnya terlihat gelisah.


"Bu Aisyah tidak mengangkat telponnya. Bapak cuma kirim pesan," keluh Pak Herman.


"Mungkin Bu Aisyah sedang dalam perjalanan ke sini. Saya sudah menghubungi beliau," Doni menjelaskan.


"Syukurlah kalau begitu."


Mereka bertiga masih menunggu penjelasan dokter dengan wajah tegang.


Benar saja, tak lama Bu Aisyah sudah muncul di ruang IGD. Wali kelas XII IPA-1 itu terlihat panik.


"Bagaimana kondisi Via? Kenapa dia sampai kecelakaan? Dia jadi naik ojol?" Bu Aisyah langsung menghujani penunggu Via dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Kami belum tahu, Bu. Dokter masih memeriksanya. Untuk kejadiannya, Ratna mungkin lebih tahu," jawab Pak Herman.


"Saya yang melihat kejadiannya. Via belum sempat naik ojol. Ojek pesanan Via baru datang. Via bermaksud menyeberang jalan. Tiba-tiba ada motor yang melaju kencang menabrak Via."


"Jadi posisi Via masih di pinggir jalan atau sudah di tengah?" tanya Bu Aisyah lagi.


"Masih di pinggir, Bu. Via belum menyeberang. Sepertinya ada unsur kesengajaan," imbuh Doni.


"Siapa yang punya maksud jahat ke Via? Kasihan kamu, Nak."


"Jangan-jangan si ubur-ubur," mendadak terlintas di benak Ratna kemungkinan temannya berbuat jahat.


"Ubur-ubur?" Pak Herman mengernyitkan dahi.


"Aurelia," jawab Ratna sambil menunduk. Ia menyesal karena lupa menyebut ubur-ubur di hadapan guru.


Pak Herman terhenyak. Ia sudah mendapatkan laporan dari guru BK dan Pak Ari tentang kelakuan anak didiknya.


"Sudahlah, kita tidak usah berprasangka selama tidak ada bukti. Kita doakan saja agar Via cepat sembuh," ujar Bu Aisyah.


Obrolan mereka terhenti saat seorang petugas medis keluar.


"Keluarga Novia Anggraeni?"


"Saya, Pak. Saya bundanya." Bu Aisyah berdiri dan menghampiri petugas medis itu.


"Nyonya Haris?" seru petugas kaget. Ia mengenali Bu Aisyah sebagai istri kepala rumah sakit.


"Eee...Novia anak angkat saya," terang Bu Aisyah yang memahami kebingungan orang di depannya.


"Silakan Ibu masuk. Dokter ingin bicara."


Bu Aisyah mengikuti petugas medis itu memasuki area pemeriksaan.


***

__ADS_1


Siapa di balik peristiwa kecelakaan yang dialami Via?


Ikuti terus, ya! Jangan lupa like agar author semangat. 😘😘😘


__ADS_2