SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Farhan Dioperasi


__ADS_3

Via dan Farhan


menyimak penjelasan Edi tentang penemuan-penemuan yang didapat oleh anak buah


Pak Candra. Edi menjelaskan secara rinci semua data yang ia kumpulkan.


Edi tidak


mengarahkan kecurigaan ke salah satu person. Namun, dari data yang ada memang


mengarah ke orang yang dikenal.


“Bukannya dia


sudah tidak lagi punya cukup dana untuk membiayai tindak kejahatan seperti ini,


ya? Apalagi menyewa kelompok macam Kelelawar Hitam. Tentu butuh biaya yang


tidak sedikit,” gumam Via.


“Kemungkinan, dia


bekerja sama dengan orang yang juga memusuhi keluarga Mbak Via atau Mas Farhan.


Orang itu tentu memiliki dukungan dana yang besar,” kata Edi memaparkan


analisisnya.


Azka hanya diam.


Dia mendengarkan tanpa komentar karena ia belum paham yang mereka maksud.


Edi kembali


menjelaskan temuan-temuan yang ia kumpulkan. Lama-kelamaan, Azka paham siapa


yang mereka maksudkan. Wajahnya tampak serius.


“Apa yang Mas Edi


maksud adalah Aurelia, adik Rio?” tanya Azka hati-hati.


“Iya, Mas.


Sepertinya ia masih menaruh dendam kepada Mbak Via. Apalagi setelah papanya


bangkrut dan menderita stroke. Ada kemungkinan ia semakin membenci Mbak Via,”


jawab Edi.


“Tunggu, tunggu!


Kalau dendamnya kepada Mbak Via, kenapa dia menyerang Mas Farhan?” tanya Azka


lagi.


Edi tersenyum dan


menjawab pelan, “Bukankah Mas Farhan suami Mbak Via? Kalau Mas Farhan


meninggal, Mbak Via tentu sedih. Mbak Via bisa saja terpuruk berkepanjangan.


Selain itu, perusahaan bisa jadi goyah. Saya pikir, orang ini tahu seluk-beluk


Wijaya Kusuma dan Kencana. Semua ada kaitan dengan Mas Farhan.”


Azka menautkan


keningnya, lalu bertanya,”Apa hubungannya?”


“Mas Farhan


mempunyai andil besar terhadap kedua perusahaan ini. Meski Mas Farhan sudah


tidak di Wijaya Kusuma, Mbak Via selaku istri masih sering minta pendapat Mas


Farhan bukan? Nah, dengan tidak adanya Mas Farhan, mereka bisa menjatuhkan


dengan lebih mudah.”


Azka mulai


memahami alur pemikiran Edi. Kekonyolan yang biasa ia tampilkan, tidak ia


tunjukkan sama sekali.


Keempat orang itu


berdiskusi dengan serius. Begitu asyiknya, mereka tidak menyadari hari sudah


sore. Via berpamitan mandi, bergantian dengan Farhan. Edi pun berpindah ke


ruangan sebelahnya bersama Azka.


Pukul 17.00, Via


mengunjungi baby Zayn dengan membawakan ASI untuknya. Farhan diminta tidak ikut


karena risikonya tinggi. Via dikawal Edi dengan mengenakan masker.


Saat Via pergi,


Pak Adi datang diantar oleh Pak Yudi. Mereka membawa makanan untuk disantap


bersama. Sengaja mereka tidak dibantu pengawal agar tidak menarik perhatian


orang yang berada di rumah sakit.


Malam itu,


ruangan pribadi dokter Haris tampak hangat. Orang-orang dari keluarga Via dan


Farhan berkumpul. Mereka membicarakan rencana operasi pemasangan pelat pada


lengan kiri Farhan.


Meski


istirahatnya terganggu, Farhan tidak tampak kelelahan. Ia justru terlihat


senang. Selama mereka ngobrol, tak sekali pun Farhan mengeluhkan sakit kepala.


***


Pukul 08.00 dua


perawat memasuki ruang pribadi dokter Haris. Mereka memindahkan Farhan ke atas


brankar lalu membawa ke instalasi bedah sentral. Hanya Bu Aisyah yang


mendampingi Farhan dari ruangan menuju instalasi bedah sentral.

__ADS_1


Tentu saja, Bu


Aisyah hanya sampai depan ruang operasi. Ia duduk menunggu di bangku sendirian.


Pengawal suruhan Edi mengawasi dari jarak yang cukup jauh.


Detik berubah


menjadi menit, menit berubah menjadi jam. Pergeragan itu dirasakan Bu Aisyah


begitu lama. Berkali-kali ia menatap jam dinding yang ada di IBS tersebut.


Jarum jam seperti tidak mau berubah.


Tak hanay Bu Aisyah.


Yang sedang menunggu di ruang pribadi dokter Haris pun tak kalah tegang. Via


ditemani Azka, Eyang Probo, Kakek Adi, juga Pak Yudi menunggu dengan gelisah.


Edi memang tidak


berada di rumah sakit. Ada pertemuan dengan klien yang harus  ia ikuti selaku wakil dari Via.


Pak Haris yang


menunggui proses operasi pemasangan plat di dalam ruang operasi bersama tim


dokter. Ia terus mengawasi detik-detik tindakan yang diambil dokter.


Dua jam telah berlalu,


pintu ruang operasi terbuka. Bu Aisyah berdiri. Ia mengikuti langkah perawat


yang mendorong brankar kembali ke ruangan. Pak Haris pun menyusul menuju ruang


pribadinya.


Via berdiri


menyambut suami tercinta. Begitu brankar berada di samping ranjang, dengan


sigap kedua perawat itu memindahkan tubuh Farhan.


Setelah kedua


perawat keluar dengan mendorong brankar kembali, Pak Haris mendekat. Dokter


senior itu memeriksa kembali kondisi Farhan.


“Gimana, Yah?”


tanya Via.


“Insya Allah


suamimu baik-baik saja.” Pak Haris menenangkan Via.


“Kira-kira berapa


lama Mas Farhan akan sadar kembali?” Via kembali bertanya.


“Biasanya setelah


dua jam. Bergantung kondisi pasien, sih. Kadang ada juga yang sampai 3 jam


bahkan lebih. Tolong kamu dampingi dia. Saat baru sadar biasanya pasien merasa


“Lalu, apa yang


harus Via lakukan?”


“Kamu cukup


menenangkan suamimu. Kalau dia tanya, tinggal jelaskan apa yang baru ia alami.


Jangan diberi makan dan minum dulu saat baru sadar!” pesan dokter Haris.


“Baik, Yah. Via paham.”


“Kalau begitu,


Ayah visit pasien dulu. Tinggal pasien rawat inap yang belum. Tadi yang rawat


jalan sudah digantikan oleh dokter Guntur.”


Pak Haris


meninggalkan ruangan. Sementara yang berada di ruangan tinggal Via dan Bu


Aisyah yang masih menunggu Farhan.


Kedua perempuan


yang menyayangi Farhan itu duduk diam sambil memperhatikan wajah pria itu.


Mereka menanti saat pria yang mereka sayangi itu bangun, sadar dari pengaruh


biusnya.


Setengah jam


berlalu, Farhan masih diam tak bergerak.  Via dan Bu Aisyah masih setia menunggu. Namun, ketenangan mereka  terusik notifikasi panggilan dari ponsel Bu


Aisyah.


“Maaf, Bunda tinggal


menerima telepon dulu,” pamit Bu Aisyah.


Via mengangguk


dan menjawab singkat, Iya, Bun.”


Lima menit


kemudian, Bu Aisyah kembali. Ia tampak tergesa-gesa.


“Via, Bunda harus


ke sekolah sekarang juga. Bunda titip Farhan, ya. Maaf, Bunda nggak menemanimu,”


kata Bu Aisyah.


“Nggak apa-apa,


Bunda. Toh di ruang sebelah ada Dek Azka juga,” sahut Via.


Bu Aisyah pun


segera meninggalkan ruangan. Langkahnya tampak terayun begitu cepat,

__ADS_1


menunjukkan ia sedang dikejar waktu.


Begitu bundanya


keluar, Via menutup pintu rapat-rapat. Entah mengapa, perasaannya tidak enak.


Ia pun kembali duduk di dekat ranjang, menunggu saat Farhan kembali tersadar.


Tatapan Via terus


tertuju ke Farhan. Hanya kedipan mata yang mengalihkan perhatian Via sejenak


dari sang suami.


Karena terus-menerus


menatap Farhan, lama kelamaan kelelahan pun menyapanya. Tengkuknya terasa


pegal.


Via merebahkan


kepalanya ke atas ranjang, di samping kepala Farhan.  Tak lama kemudian, rasa kantuk pun menyerang.


Kelopak matanya terasa begitu berat untuk dibuka.


Tanpa Via sadari,


kesadarannya perlahan menghilang. Ia pun terseret ke dunia mimpi.


Ia sedang


berlarian di padang rumput yang luas bersama Farhan. Sejuknya udara begitu


menyegarkan. namun, suasana ceria mendadak berubah. Langit yang tadinya biru


mendadak gelap. Awan hitam berarak menghempaskan cahaya mentari.


Via pun berhenti


berlari. Ia mencari Farhan. Namun, sosok yang dicari tidak ia temukan.


Tiba-tiba


terdengar petir menyambar. Via terkejut. Spontan ia menjerit.


“Tok...tok...”


Ternyata bukan


suara petir melainkan suara pintu diketuk. Via mengusap wajahnya sebentar.


Kemudian, ia mendekat ke pintu. Mendadak ia ragu untuk membuka pintu tersebut.


“Siapa?” tanya


Via.


Via menggeser posisi


berdirinya menjadi dekat dengan tirai jendela. Ibu muda itu mengintip keluar.mIa


mendapati seorang pria berpakaian seperti  perawat.


“Siapa?” tanya


Via lagi karena pertanyaan pertama tidak mendapat jawaban.


“Saya perawat.


Saya ditugasi menyuntik abiotik untuk Tuan Farhan,” jawab pria yang berdiri di


depan pintu.


Via ragu-ragu. Ia


merasa ada kejanggalan pada pria tersebut. Namun, Via belum menemukan


kejanggalan itu.


Ketukan pintu


kembali terdengar. Kali ini sedikit lebih keras disertai panggilan dari pria


itu.


“Nyonya, cepat


bukalah! Saya masih banyak tugas!”


Via semakin


gugup. Ia belum dapat berpikir dengan jernih. Begitu ia melihat telepon antarruangan


di atas meja, Via segera memencet nomor asal. Ia tidak tahu kode ruangan yang


ada.


Baru saja


terhubung, pintu kamar digedor lebih keras. Kali ini pria itu berteriak cukup


keras.


“Nyonya! Kalau


Nyonya tidak membuka pintu, saya tidak mau disalahkan jika terjadi sesuatu


terhadap suami Nyonya. Suntikan antibiotik ini penting untuk mencegah infeksi


pada lengan suami Nyonya.”


Akhirnya, Via


membuka pintu dengan gugup. Ia terkejut kala pria yang berpakaian perawat dan


bermasker itu menerobos masuk dengan cepat. Pria itu memegang slang infus yang


terhubung dengan lengan kanan Farhan dan bersiap menyuntikkan cairan yang ada


pada jarum yang ia pegang.


***


Bersambung


Terima kasih


kepada Kakak yang terus mendukung karya receh ini. Aku siap dukung balik karya


Kakak yang meninggalkan jejak koment. Love you ...

__ADS_1


__ADS_2