
Via dan Farhan
menyimak penjelasan Edi tentang penemuan-penemuan yang didapat oleh anak buah
Pak Candra. Edi menjelaskan secara rinci semua data yang ia kumpulkan.
Edi tidak
mengarahkan kecurigaan ke salah satu person. Namun, dari data yang ada memang
mengarah ke orang yang dikenal.
“Bukannya dia
sudah tidak lagi punya cukup dana untuk membiayai tindak kejahatan seperti ini,
ya? Apalagi menyewa kelompok macam Kelelawar Hitam. Tentu butuh biaya yang
tidak sedikit,” gumam Via.
“Kemungkinan, dia
bekerja sama dengan orang yang juga memusuhi keluarga Mbak Via atau Mas Farhan.
Orang itu tentu memiliki dukungan dana yang besar,” kata Edi memaparkan
analisisnya.
Azka hanya diam.
Dia mendengarkan tanpa komentar karena ia belum paham yang mereka maksud.
Edi kembali
menjelaskan temuan-temuan yang ia kumpulkan. Lama-kelamaan, Azka paham siapa
yang mereka maksudkan. Wajahnya tampak serius.
“Apa yang Mas Edi
maksud adalah Aurelia, adik Rio?” tanya Azka hati-hati.
“Iya, Mas.
Sepertinya ia masih menaruh dendam kepada Mbak Via. Apalagi setelah papanya
bangkrut dan menderita stroke. Ada kemungkinan ia semakin membenci Mbak Via,”
jawab Edi.
“Tunggu, tunggu!
Kalau dendamnya kepada Mbak Via, kenapa dia menyerang Mas Farhan?” tanya Azka
lagi.
Edi tersenyum dan
menjawab pelan, “Bukankah Mas Farhan suami Mbak Via? Kalau Mas Farhan
meninggal, Mbak Via tentu sedih. Mbak Via bisa saja terpuruk berkepanjangan.
Selain itu, perusahaan bisa jadi goyah. Saya pikir, orang ini tahu seluk-beluk
Wijaya Kusuma dan Kencana. Semua ada kaitan dengan Mas Farhan.”
Azka menautkan
keningnya, lalu bertanya,”Apa hubungannya?”
“Mas Farhan
mempunyai andil besar terhadap kedua perusahaan ini. Meski Mas Farhan sudah
tidak di Wijaya Kusuma, Mbak Via selaku istri masih sering minta pendapat Mas
Farhan bukan? Nah, dengan tidak adanya Mas Farhan, mereka bisa menjatuhkan
dengan lebih mudah.”
Azka mulai
memahami alur pemikiran Edi. Kekonyolan yang biasa ia tampilkan, tidak ia
tunjukkan sama sekali.
Keempat orang itu
berdiskusi dengan serius. Begitu asyiknya, mereka tidak menyadari hari sudah
sore. Via berpamitan mandi, bergantian dengan Farhan. Edi pun berpindah ke
ruangan sebelahnya bersama Azka.
Pukul 17.00, Via
mengunjungi baby Zayn dengan membawakan ASI untuknya. Farhan diminta tidak ikut
karena risikonya tinggi. Via dikawal Edi dengan mengenakan masker.
Saat Via pergi,
Pak Adi datang diantar oleh Pak Yudi. Mereka membawa makanan untuk disantap
bersama. Sengaja mereka tidak dibantu pengawal agar tidak menarik perhatian
orang yang berada di rumah sakit.
Malam itu,
ruangan pribadi dokter Haris tampak hangat. Orang-orang dari keluarga Via dan
Farhan berkumpul. Mereka membicarakan rencana operasi pemasangan pelat pada
lengan kiri Farhan.
Meski
istirahatnya terganggu, Farhan tidak tampak kelelahan. Ia justru terlihat
senang. Selama mereka ngobrol, tak sekali pun Farhan mengeluhkan sakit kepala.
***
Pukul 08.00 dua
perawat memasuki ruang pribadi dokter Haris. Mereka memindahkan Farhan ke atas
brankar lalu membawa ke instalasi bedah sentral. Hanya Bu Aisyah yang
mendampingi Farhan dari ruangan menuju instalasi bedah sentral.
__ADS_1
Tentu saja, Bu
Aisyah hanya sampai depan ruang operasi. Ia duduk menunggu di bangku sendirian.
Pengawal suruhan Edi mengawasi dari jarak yang cukup jauh.
Detik berubah
menjadi menit, menit berubah menjadi jam. Pergeragan itu dirasakan Bu Aisyah
begitu lama. Berkali-kali ia menatap jam dinding yang ada di IBS tersebut.
Jarum jam seperti tidak mau berubah.
Tak hanay Bu Aisyah.
Yang sedang menunggu di ruang pribadi dokter Haris pun tak kalah tegang. Via
ditemani Azka, Eyang Probo, Kakek Adi, juga Pak Yudi menunggu dengan gelisah.
Edi memang tidak
berada di rumah sakit. Ada pertemuan dengan klien yang harus ia ikuti selaku wakil dari Via.
Pak Haris yang
menunggui proses operasi pemasangan plat di dalam ruang operasi bersama tim
dokter. Ia terus mengawasi detik-detik tindakan yang diambil dokter.
Dua jam telah berlalu,
pintu ruang operasi terbuka. Bu Aisyah berdiri. Ia mengikuti langkah perawat
yang mendorong brankar kembali ke ruangan. Pak Haris pun menyusul menuju ruang
pribadinya.
Via berdiri
menyambut suami tercinta. Begitu brankar berada di samping ranjang, dengan
sigap kedua perawat itu memindahkan tubuh Farhan.
Setelah kedua
perawat keluar dengan mendorong brankar kembali, Pak Haris mendekat. Dokter
senior itu memeriksa kembali kondisi Farhan.
“Gimana, Yah?”
tanya Via.
“Insya Allah
suamimu baik-baik saja.” Pak Haris menenangkan Via.
“Kira-kira berapa
lama Mas Farhan akan sadar kembali?” Via kembali bertanya.
“Biasanya setelah
dua jam. Bergantung kondisi pasien, sih. Kadang ada juga yang sampai 3 jam
bahkan lebih. Tolong kamu dampingi dia. Saat baru sadar biasanya pasien merasa
“Lalu, apa yang
harus Via lakukan?”
“Kamu cukup
menenangkan suamimu. Kalau dia tanya, tinggal jelaskan apa yang baru ia alami.
Jangan diberi makan dan minum dulu saat baru sadar!” pesan dokter Haris.
“Baik, Yah. Via paham.”
“Kalau begitu,
Ayah visit pasien dulu. Tinggal pasien rawat inap yang belum. Tadi yang rawat
jalan sudah digantikan oleh dokter Guntur.”
Pak Haris
meninggalkan ruangan. Sementara yang berada di ruangan tinggal Via dan Bu
Aisyah yang masih menunggu Farhan.
Kedua perempuan
yang menyayangi Farhan itu duduk diam sambil memperhatikan wajah pria itu.
Mereka menanti saat pria yang mereka sayangi itu bangun, sadar dari pengaruh
biusnya.
Setengah jam
berlalu, Farhan masih diam tak bergerak. Via dan Bu Aisyah masih setia menunggu. Namun, ketenangan mereka terusik notifikasi panggilan dari ponsel Bu
Aisyah.
“Maaf, Bunda tinggal
menerima telepon dulu,” pamit Bu Aisyah.
Via mengangguk
dan menjawab singkat, Iya, Bun.”
Lima menit
kemudian, Bu Aisyah kembali. Ia tampak tergesa-gesa.
“Via, Bunda harus
ke sekolah sekarang juga. Bunda titip Farhan, ya. Maaf, Bunda nggak menemanimu,”
kata Bu Aisyah.
“Nggak apa-apa,
Bunda. Toh di ruang sebelah ada Dek Azka juga,” sahut Via.
Bu Aisyah pun
segera meninggalkan ruangan. Langkahnya tampak terayun begitu cepat,
__ADS_1
menunjukkan ia sedang dikejar waktu.
Begitu bundanya
keluar, Via menutup pintu rapat-rapat. Entah mengapa, perasaannya tidak enak.
Ia pun kembali duduk di dekat ranjang, menunggu saat Farhan kembali tersadar.
Tatapan Via terus
tertuju ke Farhan. Hanya kedipan mata yang mengalihkan perhatian Via sejenak
dari sang suami.
Karena terus-menerus
menatap Farhan, lama kelamaan kelelahan pun menyapanya. Tengkuknya terasa
pegal.
Via merebahkan
kepalanya ke atas ranjang, di samping kepala Farhan. Tak lama kemudian, rasa kantuk pun menyerang.
Kelopak matanya terasa begitu berat untuk dibuka.
Tanpa Via sadari,
kesadarannya perlahan menghilang. Ia pun terseret ke dunia mimpi.
Ia sedang
berlarian di padang rumput yang luas bersama Farhan. Sejuknya udara begitu
menyegarkan. namun, suasana ceria mendadak berubah. Langit yang tadinya biru
mendadak gelap. Awan hitam berarak menghempaskan cahaya mentari.
Via pun berhenti
berlari. Ia mencari Farhan. Namun, sosok yang dicari tidak ia temukan.
Tiba-tiba
terdengar petir menyambar. Via terkejut. Spontan ia menjerit.
“Tok...tok...”
Ternyata bukan
suara petir melainkan suara pintu diketuk. Via mengusap wajahnya sebentar.
Kemudian, ia mendekat ke pintu. Mendadak ia ragu untuk membuka pintu tersebut.
“Siapa?” tanya
Via.
Via menggeser posisi
berdirinya menjadi dekat dengan tirai jendela. Ibu muda itu mengintip keluar.mIa
mendapati seorang pria berpakaian seperti perawat.
“Siapa?” tanya
Via lagi karena pertanyaan pertama tidak mendapat jawaban.
“Saya perawat.
Saya ditugasi menyuntik abiotik untuk Tuan Farhan,” jawab pria yang berdiri di
depan pintu.
Via ragu-ragu. Ia
merasa ada kejanggalan pada pria tersebut. Namun, Via belum menemukan
kejanggalan itu.
Ketukan pintu
kembali terdengar. Kali ini sedikit lebih keras disertai panggilan dari pria
itu.
“Nyonya, cepat
bukalah! Saya masih banyak tugas!”
Via semakin
gugup. Ia belum dapat berpikir dengan jernih. Begitu ia melihat telepon antarruangan
di atas meja, Via segera memencet nomor asal. Ia tidak tahu kode ruangan yang
ada.
Baru saja
terhubung, pintu kamar digedor lebih keras. Kali ini pria itu berteriak cukup
keras.
“Nyonya! Kalau
Nyonya tidak membuka pintu, saya tidak mau disalahkan jika terjadi sesuatu
terhadap suami Nyonya. Suntikan antibiotik ini penting untuk mencegah infeksi
pada lengan suami Nyonya.”
Akhirnya, Via
membuka pintu dengan gugup. Ia terkejut kala pria yang berpakaian perawat dan
bermasker itu menerobos masuk dengan cepat. Pria itu memegang slang infus yang
terhubung dengan lengan kanan Farhan dan bersiap menyuntikkan cairan yang ada
pada jarum yang ia pegang.
***
Bersambung
Terima kasih
kepada Kakak yang terus mendukung karya receh ini. Aku siap dukung balik karya
Kakak yang meninggalkan jejak koment. Love you ...
__ADS_1