SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Perubahan yang Baik


__ADS_3

Minggu pagi menjelang subuh, Farhan membangunkan wanita cantik di sampingnya pelan-pelan.


Tidak seperti biasanya, Via begitu nyenyak tidur dalam dekapan Farhan yang tidur lagi setelah qiyamullail. Sesekali senyum tipis menghiasi bibirnya.


"Kamu mimpi apa, sih? Tumben tidurmu nyenyak banget. Apa karena tidur di kamar papa mama?" bisik Farhan.


Via tak kunjung membuka matanya. Ia justru tersenyum lagi. Farhan tak kuasa menahan rasa gemasnya. Ia menempelkan bibirnya ke bibir Via. Dengan lembut, dil***tanya bibir mungil istrinya.


Via mengerjapkan mata. Ia bingung apa yang terjadi dengan dirinya karena nafasnya sedikit sesak. Setelah menyadari yang terjadi, ia mendorong tubuh Farhan hingga ciumannya terlepas.


"Iih, Hubbiy. Bukannya dibangunkan suruh berdoa, malah main cium aja," protes Via.


Farhan terkekeh melihat wajah cemberut Via.


"Ya sudah, berdoa! Dari tadi dibangunin susah banget. Mas mau bersuci dulu. Sebentar lagi masuk waktu subuh."


Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat lagi di pipi Via.


"Ih, Hubbiy!" pekik Via. Namun, ia tersenyum saat Farhan masuk kamar mandi.


Tak berselang lama Farhan sudah tampil rapi dengan baju koko. Via menatap suaminya.


"Makin jatuh cinta, ya?" Sebuah pertanyaan Farhan membuyarkan lamunan Via.


"Ih, apaan," elak Via.


"Habis, lihat Mas nggak kedip gitu. Kelihatan dari cermin, lo," ujar Farhan sembari terkekeh.


"Udah, berangkat sana! Nanti telat," sahut Via menutupi malu.


"Iya, nih berangkat. Cinta buruan ke kamar mandi! Nanti kita jogging. Assalamualaikum."


'Waalaikumsalam. Ok, Hubbiy."


Via beranjak dari tempat tidur. Ia segera menuju kamar mandi. Setelah segar, ia segera turun ke dapur. Ternyata dapur masih sepi. Via melongok ke musala keluarga. Di tempat yang baru dibangun itu pun tak ada orang.


Akhirnya, Via mengetuk pintu kamar Mbok Marsih dan Bu Inah.


"Mbok Marsih, Bu Inah, sudah azan subuh tuh!"


Mbok Marsih dan Bu Inah keluar dari kamar dengan muka kusut dan mata yang masih merah.


"Maaf, Mbak, kami kesiangan. Mbak Via lapar? Sebentar, kami masak dulu," kata Bu Inah dengan perasaan bersalah bercampur takut .


"Enggak. Maksud Via, Mbok Marsih dan Bu Inah kan belum salat subuh. Buruan salat dulu," kata Via.


Bu Inah nenatap Mbok Marsih yang juga tengah menatapnya. Mereka menunjukkan wajah kebingungan.


"Kok bengong? Sudah sana, buruan wudu lalu salat," kata Via lagi.

__ADS_1


Kedua ART itu bergegas ke musala.


"Mbak Via sudah berubah, ya? Dulu, boro-boro menyuruh salat. Dia sendiri nggak pernah salat subuh. Bangunnya juga jam 6. Apalagi kalau Minggu. Bisa jam 7 baru bangun," bisik Mbok Marsih.


"Iya, ya? Eh, penampilannya saja sudah berubah. Dulu, kan nggak pernah tuh yang namanya pakai jilbab. Sekarang, dia selalu tertutup. Dia juga nggak mau bersalaman sama lelaki. Tadi malam cuma menangkupkan tangan waktu ketemu Pak Nono. Tapi, keramahannya nggak berkurang," tambah Bu Inah.


Begitu sampai musala mereka segera wudu dan salat subuh. Kemudian, mereka ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Alangkah terkejutnya mereka saat sampai dapur ternyata sang majikan tengah menyiapkan bumbu.


"Mbak Via sedang apa? Biar kami saja yang masak. Dulu kan begitu," cegah Bu Inah.


Via tersenyum lalu menjawab,"Itu dulu, Bu Inah. Sekarang, Via sudah bisa masak, kok. Via bukan anak manja lagi. Apalagi sekarang sudah punya suami."


Bu Inah hanya saling tatap dengan Mbok Marsih. Mereka mengangkat bahu.


"Ini cuma nasi goreng seafood, kok. Stok sayuran sudah habis. Yang penting buat sarapan saja," lanjut Via.


"Saya bantuin, Mbak. Saya suruh apa, nih?" tanya Mbok Marsih.


"Tolong bersihkan udang, Mbok!"


Karena mereka lakukan bertiga, nasi goreng sudah matang sebelum Farhan dan lainnya pulang.


"Hhmmm, harum. Masak apa, Cinta?" tanya Farhan yang baru pulang dari masjid.


"Nasi goreng seafood lagi, Hubbiy. Nanti kita belanja, ya!"


"Siap, Cinta. Mas boleh makan dulu sebelum jogging?"


"Ayo, semuanya saja kita makan dulu! Biar nanti kuat jogging hehehe," ajak Farhan.


Setelah sarapan, Farhan dan Via berganti baju sport couple. Edi dan Pak Yudi pun mengenakan kaos dan training karena mereka akan ikut jogging. Lainnya, tidak mau ikut karena tidak siap.


"Hubbiy, Via nggak bawa dompet. Sebentar, Via balik dulu, ya," kata Via sesampai di pintu gerbang.


"Nggak usah. Mas bawa, kok!" Farhan mencegah niat Via.


Setelah keempat orang itu pergi, Bu Inah dan Mbok Marsih masuk untuk bersih-bersih rumah.


"Aku seneng banget lihat perubahan Mbak Via. Dulu dia ramah, nggak jaim kepada siapa pun termasuk kita yang pembantu. Didikan orang tuanya memang baik. Cuma, agama saja yang kurang kayak kita." Mbok Marsih mulai membicarakan majikannya.


"Iya. Almarhum Pak Wirawan dan Bu Dewi juga jarang salat, ya?"


"Betul. Sekarang pancaran wajah Mbak Via begitu teduh, menenangkan. Kayaknya dia juga lebih sabar."


Mbok Marsih berjalan ke dapur membawa piring kotor yang baru ia bereskan dari meja makan. Bu Inah yang sedang mencuci peralatan masak, menerima piring itu.


"Apa ini hasil didikan gurunya itu, ya?" Ganti Bu Inah yang berkomentar.


"Aku yakin begitu. Kamu ingat bagaimana sikap Bu guru Mbak Via? Kan orangnya lembut, keibuan, juga salihah," jawab Mbok Marsih.

__ADS_1


Perempuan setengah baya itu tengah membersihkan dapur.


"Iya, ya. Anaknya juga kelihatan saleh," kata Bu Inah sambil membilas piring-piring yang penuh busa.


"Anaknya? Maksudmu siapa?" tanya Mbok Marsih kebingungan.


"Ya Mas Farhan, suami Mbak Via."


"Lho, Mas Farhan itu anaknya Bu guru itu?" Mbok Marsih terkejut.


"Mbok Marsih nggak tahu?"


"Enggaklah. Kalau tahu sih, aku nggak bakal kaget. Jadi, sekarang Mbak Via jadi menantu Bu gurunya itu?" gumam Mbok Marsih.


"Iya. Mas Farhan itu anak pertama Bu guru itu. Sekarang, Mas Farhan yang memimpin perusahaan milik almarhum. Aku dengar begitu," papar Bu Inah.


"Kamu tahu banyak, ya? O ya, kamu tahu nggak bagaimana kondisi perusahaan yang ditinggal almarhum?"


Bu Inah mengangguk. Ia menceritakan tentang kondisi perusahaan sekarang.


"Jadi, semua berkat bantuan kakek Mbak Via?" Mbok Marsih penasaran.


"Iya, sama adik almarhum Pak Wirawan."


Mbok Marsih mengangguk paham.


"Yang membeli rumah ini juga kakek Mbak Via, lo. Juga yang membiayai pernikahan Mbak Via. Kemarin aku dikasih tahu Pak Andi beberapa foto pernikahan Mbak Via. Mewah banget." Bu Inah terdiam membayangkan pernikahan Via dan Farhan.


"Sayang, kita nggak hadir. Ini gara-gara kurirnya telat ngasih undangan," gerutu Mbok Marsih.


"Sudah, nggak usah disesali. Suatu saat, aku yakin Mbak Via bakal ajak kita berlibur. Sekarang, dia kan sudah kembali jadi orang kaya. Kakek dan om-nya ternyata memiliki perasaan bonafid," ujar Bu Inah. Ia sudah selesai mencuci. Kemudian, ia mengambil sapu.


"Eh, kok nggak dari dulu bantu Mbak Via, ya? Kalau dari dulu, Mbak Via kan tidak sedih gitu. Aku masih ingat waktu orang tuanya meninggal. Kasihan banget Mbak Via," kata Mbok Marsih sambil mengusap air matanya.


"Kakek Mbak Via baru tahu kalau Mbak Via itu cucunya karena almarhum Pak Wirawan pergi dari rumah sejak masih muda. Yang jelas, semua ini sudah digariskan oleh Allah. Semua jadi perantara Mbak Via ketemu jodohnya, berubah menjadi lebih baik."


Mbok Marsih mengangguk setuju.


"Aku seneng lihat Mbak Via sekarang. Ditambah lagi kemesraan dengan Mas Farhan. Dia dipanggil cinta sama suaminya. Romantis banget kayak Romeo dan Juliet," sambung Mbok Marsih.


"Mbok Marsih kenal Romeo dan Juliet?" tanya Bu Inah.


"Enggaklah. Tapi kata orang kalau pasangan yang mesra itu seperti Romeo dan Juliet."


Kedua ART itu tertawa. Mereka begitu bahagia dengan perubahan Via.


***


Bersambung

__ADS_1


Mohon tetap dukung author dengan klik gambar jempol dan koment meski belum author balas. Maaf, ya! Insya Allah besok author kunjungi karya authors lain yang koment.


__ADS_2