SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XL


__ADS_3

Farhan dan Azka masuk melewati ruang tamu. Benar dugaan Farhan, ada tamu yang ia kenal.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab ketiga orang yang tengah duduk di ruang tamu.


"Eyang sehat?" tanya Bu Aisyah.


"Sehat, Bun. Eyang menyampaikan salam untuk ayah bunda dan terima kasih," jawab Farhan. Lalu ia menoleh ke tamu dan menyapa, "Om Andi apa kabar?"


"Baik. Mas Farhan masih kuliah?"


"Nggak, Om. Sekarang Farhan sedang cari pengalaman."


"O, begitu. O ya, Mas Haris, Bu Aisyah, saya pamit dulu. Sebentar lagi maghrib."


"Oh, nggak terasa sudah sore, ya? Baik, besok malam ajaklah ke sini. Ingat, jangan beri tahu masalah perjodohan! Kita tidak ingin memaksa, kan?" ucap Pak Haris.


"Iya, Mas. Saya mengerti. Baik, saya pulang dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab empat orang yang lain.


Setelah mobil Pak Andi meninggalkan halaman rumah, mereka berempat masuk ke rumah.


"Tadi kami sudah melaporkan temuan kami ke eyang. Beliau kaget dan merasa bersalah kepada keluarga almarhum Pak Wirawan. Eyang berpesan agar menjaga Via," papar Azka sambil berjalan.


"Syukurlah kalau eyangmu sudah menyadari. Lalu, apa rencana kalian?" Pak Haris balik bertanya.


Farhan melirik adiknya. Yang dilirik merasa lalu mengangguk.


"Kita pura-pura belum menyadari pergerakan mereka. Sambil mencari bukti lain dan oknum yang terlibat, kita membantu memulihkan perusahaan almarhum. Sebetulnya Farhan ingin bicara dengan Om Andi. Tapi waktunya tidak memungkinkan. O ya, memang besok Om Andi mau ke sini lagi?"


"Iya, Han. Ia akan mengajak keponakannya."


"Keponakan Om Andi? Ada kaitan apa? Tadi Azka dengar Ayah menyinggung perjodohan. Siapa yang mau dijodohkan?" Azka menanyakan.


Pak Haris memberi isyarat agar mereka masuk ruang perpustakaan keluarga.


"Tadi Om Andi cerita kepada kami kalau saat ini perusahaan almarhum Pak Wirawan mulai ada kemajuan. Ada milyader yang mau menanam modal dengan nilai cukup besar. Tapi, dia menginginkan bertemu terlebih dahulu dengan pemegang saham terbesar."


"Tinggal Dek Via diajak menemui orang itu, kan? Kan dia pewaris tunggal papanya," ujar Farhan.

__ADS_1


"Nggak bisa sesimpel itu, Han. Masalahnya, dua tahun sebelum Pak Wirawan meninggal, almarhum sudah membuat surat wasiat. Di situ tertulis bahwa Via berhak atas seluruh saham Pak Wirawan bila sudah berusia 21 tahun atau sudah menikah. Nah, Via kan 20 tahun saja belum. Dia juga masih single."


"Lalu bagaimana solusinya?" Azka menyela.


Bu Aisyah menatap kedua anak yang disayanginya lalu berkata, "Via menikah."


"Apa?" Azka dan Farhan kaget.


Pak Haris dan Bu Aisyah saling pandang dan tersenyum.


"Kenapa? Kok kalian berdua kaget gitu?" tanya Pak Haris.


"Memang Via mau, Yah? Dia kan baru lulus SMA setahun lalu," ucap Azka.


"Memangnya kenapa? Kalau sudah punya KTP, kan boleh. Tinggal yang menjalani mau apa tidak."


"Dek Via mau? Ayah sudah menanyainya?"


Bu Aisyah meletakkan jari telunjuk di bibir, memberi isyarat agar mereka tidak terlalu keras.


"Ayah mengajak kita bicara di sini agar Via tidak tahu. Dia tadi sedang tiduran di kamarnya. Siapa tahu tiba-tiba keluar kamar karena sebentar lagi adzan Maghrib."


"Terus dia sudah diberi tahu belum? Mau nggak menikah dalam waktu dekat?" tanya Farhan dengan volume suara dikecilkan.


"Tadi kami memikirkan siapa yang tepat untuk menjadi suami Via. Kami sepakat orang itu paham masalah pengelolaan perusahaan. Nah, tadi Om Andi mengusulkan keponakannya. Usianya mungkin tidak jauh beda dengan Azka. Dia baru wisuda dari Fakultas Ekonomi. Tapi Om Andi tidak tahu prodinya. Saat ini dia membantu mengelola percetakan milik ayahnya."


"Ayah dan Bunda yakin kalau orang itu cocok dengan Via? Yakin kalau dia memiliki karakter yang baik?" cecar Azka.


"Kalian benar-benar perhatian sama Via, ya? Ayah dan Bunda juga belum mengenalnya. Makanya, besok malam anak itu mau diajak ke sini. Tujuannya supaya mereka saling mengenal, Ayah dan Bunda juga. Kalau kesan pertama bagus, baru melangkah ke tahap berikutnya. Mereka ditawari untuk menikah. Via diberi penjelasan mengapa dia harus menikah dalam waktu dekat."


"Kalau keponakan Om Andi atau Dek Via nggak mau, bagaimana?" tanya Farhan.


"Kami sepakat tidak ada pemaksaan. Kalau mereka atau salah satu di antara mereka tidak setuju, ya tidak ada pernikahan. Hanya, untuk Via akan diberikan penjelasan mengapa dia harus segera menikah. Kita cari calon lain yang tepat. Tapi kalau Via bersikeras belum mau menikah, ya kita pikirkan cara lain agar perusahaan papanya bisa bangkit."


Farhan dan Azka sama-sama diam. Mareka larut dalam pikiran masing-masing.


"Kenapa nggak nawari aku? Aku malah sudah punya gelar magister. Aku juga sudah setahun bantu eyang. Lagi pula aku dan Dek Via sudah saling mengenal. Seandainya... aaah... pikiran apa ini," batin Farhan.


Sementara itu, Azka pun berpikir tentang alasan memilih keponakan Om Andi.


"Kenapa mesti orang lain? Kenapa ayah dan bunda tidak kepikiran menjodohkan dengan anak sendiri? Apa kelebihan keponakan Om Andi?"

__ADS_1


"Beneran nih, Ayah dan Bunda belum kenal sama keponakan Om Andi?" tanya Farhan.


"Terus, apa alasan Ayah dan Bunda memilihnya?" Azka menimpali.


Pak Haris tersenyum penuh kearifan.


"Tidak ada alasan khusus kecuali anak itu berlatar belakang pendidikan ekonomi. Kenapa bukan orang lain? Toh banyak yang memiliki gelar sarjana ekonomi? Masalahnya, Om Andi sudah menawarkan keponakannya itu. Masa Ayah tolak langsung? Nggak enak, kan?"


"Lalu kalau anak itu ternyata kurang baik, gimana?" serobot Azka.


"Kurang baik gimana maksudmu?"


"Ya---kurang baik kepribadiannya, atau---kemampuannya," jawab Azka sedikit tergagap.


"Kita jangan suudhon dulu. Tunggu kita ketemu, mengenal anak itu. Kalau ternyata tidak cocok, ya tidak jadi. Kan tadi Ayah sudah menjelaskan kalau tidak ada pemaksaan," kata Bu Aisyah dengan lembut.


"Sudah, mari kita wudhu, siap-siap sholat Maghrib dulu," ajak Pak Haris.


Mereka keluar dari ruang perpustakaan keluarga menuju mushola. Azka dan Farhan sengaja memperlambat langkah mereka agar ada jarak dengan ayah dan bunda mereka.


"Kira-kira Via mau nggak dijodohin sama keponakan Om Andi, Kak?" bisik Azka.


Farhan menggeleng lalu mengangkat bahu.


"Entahlah. Tapi, kayaknya nggak mau. Semoga begitu," jawab Farhan dengan berbisik juga.


"Kok bisik-bisik? Ada apa, nih?" tanya Via dari belakang Azka dan Farhan.


Kedua cowok itu terkejut. Mereka tidak mengira Via sudah berada di belakang mereka.


"Nggak, nggak ada apa-apa, kok. Dek Via sudah baikan?" ujar Farhan.


"Alhamdulillah, mendingan. Mungkin cuma kurang tidur."


Azka melirik kakaknya. Yang dilirik pun merasa. Namun, ia hanya tersenyum.


***


**Bersambung


Terima kasih sudah setia mengikuti kisah ini. Terus dukung karya saya, ya!

__ADS_1


Terima kasih** 😘😘😘


__ADS_2