SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kegelisahan Azka


__ADS_3

“Memang dari stasiun mereka naik apa? Taksi?” tanya Bu Aisyah.


“Kata Meli dijemput Kak Mario,” jawab Azka.


“Kak Mario? Berarti cowok. Jangan-jangan Meli sudah punya calon,” celetuk Farhan.


Dada Azka berdesir. Ia mengingat-ingat cerita Meli tentang orang-orang yang dekat dengannya. Namun, ia belum juga menemukan nama Mario. Jantung Azka semakin berdegup kencang.


“Kalau bukan orang dekat, nggak mungkin mau jemput malam-malam begini. Meli nggak punya kakak cowok, kan?” lanjut Farhan.


Otak Azka berputar. Dia terus mengingat-ingat nama Mario. Sementara dadanya terus memainkan irama yang tidak harmoni.


“Iya juga. Kalau bukan orang dekat, tentu nggak mau repot-repot jemput. Tapi, kalau memang dia calonnya Meli, kenapa Meli mau menerima lamaran yang Bunda ajukan? Harusnya kan nolak. Atau  Mario itu mantannya Meli yang masih menaruh harapan?” pikiran Azka makin berkecamuk.


“Kok mendadak diam begitu, Ka?” tegur Bu Aisyah.


“Dia lagi cemburu sama orang yang namanya Mario. Pasti gitu. Ya, kan Dek? Ya tentu Mario orang yang dekat dengan Meli. Ngapain malam-malam begini ke stasiun buat jemput orang yang bukan siapa-siapanya,” kata Farhan yang membuat dada Azka terasa sesak.


“Maaas, jangan gitu! Kasihan tuh, Dek Azka sudah galau begitu,” tegur  Via.


Azka menarik nafas panjang untuk menghilangkan sesak. Matanya mulai memanas.


“Kamu beneran galau karena Meli dijemput laki-laki? Ingat, masih ada Anjani juga. Mungkin dia mau menjemput Anjani. Kalau memang Meli menyukai lelaki itu, nggak mungkin dia bersedia menjadi calon menantu kedua Bunda,” bujuk Bu Aisyah.


Via tertawa kecil melihat wajah Azka yang memerah. Sementara, Farhan senyum-senyum tak jelas.


“Dek, Mario itu kakak tingkat Meli dan Anjani. Dia hampir menjadi suami Anjani karena sudah melamar resi kepada keluarganya. Mbak nggak tanya apa yang menyebabkan pernikahan mereka batal. Sampai sekarang, mereka masih menjalin hubungan baik,” tutur Via.


Penjelasan Via membuat  Azka tampak lega. Sikapnya mulai kembali normal.


“Ah, iya. Bunda juga ingat, beberapa kali Meli meledek Anjani soal Mario,” ucap Bu Aisyah.


“Berarti Mario bermaksud menjemput Anjani?” gumam Azka.


“Tentunya Anjani dan Meli. Buktinya, Meli bilang dijemput Mario,” sahut Farhan.


Via dan Bu Aisyah hanya tersenyum. Azka sudah tidak menggubris omongan kakaknya. Ia lebih percaya kepada kakak ipar dan bundanya.


“Yang penting Meli dan Anjani sudah sampai rumah dengan selamat. Tinggal persiapkan mentalmu untuk ganti ke Jember,” ledek Bu Aisyah.


“Nggak cuma mental, Bun! Finansial juga. Memang nggak bawa apa-apa ke sana? Butuh uang bensin juga, butuh ....” ucapan Farhan terjeda.


“Farhan! Jangan meledek adikmu terus!” potong Bu Aisyah sambil memberikan tatapan tajam ke Farhan.


“Iya nih, Mas Farhan jahat banget sama aku. Mas Edi saja dibantu, masak aku yang adik kandungnya dicuekin,” sungut Azka.

__ADS_1


Via hanya tersenyum melihat pertengkaran suami dan adik iparnya. Dalam hati ia bersyukur bisa menjadi bagian keluarga dokter Haris yang harmonis.


“Memang kamu mengharapkan bantuan apa dari kakakmu?” Pak Haris ikut bicara.


“Ya buat nikah, Yah. Kan dari lamaran sudah butuh banyak hal. Kayak yang Mas Farhan bilang tadi, butuh buat transport, penginapan, juga  hantaran. Nggak mungkin tangan kosong, kan?” ucap Azka.


“Hmm, lalu?” lanjut Pak Haris sambil mengulum senyum.


“Nanti buat nikah lebih banyak lagi. Mulai yang kecil-kecil tuh undangan, baju, juga keperluan resepsi,” jawab Azka.


Farhan geleng-geleng kepala. Ia belum berkeinginan menghentikan serangan ke adiknya. Baginya, meledek Azka tentang pernikahan adalah suatu hal yang menyenangkan.


“Memangnya mau resepsi di mana?” tanya Farhan.


“Mas Farhan dulu di hotel. Mas Edi juga, meski tak semewah Mas Farhan dan Mbak Via. Ya Azka maunya di hotel juga,” tutur Azka polos.


Farhan terbahak mendengarnya. Ia merasakan kepolosan adik satu-satunya itu.


“Kalau begitu, siapkan budget 150 juta. Nanti sisanya Mas dan ayah patungan,” ucap Farhan datar.


Azka terbelalak. Ia tak mengira kakaknya menanggapi seperti itu.


“Tabunganku nggak cukup, Mas. Terus, habis nikah aku gimana kalau tabunganku habis?” keluh Azka memelas.


“Ya, itu deritamu!” sahut Farhan.


“Azka, sudahlah! Tak usah kau dengarkan kakakmu! Urusan pernikahanmu  biar kami yang pikirkan. Kamu tinggal menyiapkan mentalmu,” ujar Bu Aisyah tegas.


“Kalau orang tua Meli memberi lampu hijau,” celetuk Farhan.


Azka memelototkan mata ke Farhan. Ia tentu saja tidak suka dengan ucapan begitu.


“Mas Farhan jahat! Bukannya memberikan support ke adiknya yang ganteng dan imut ini, malah bikin gelisah,” sungut Azka.


Mendapat pelototan dari adiknya membuat Farhan tertawa terbahak-bahak. Ia senang sekali meledek Azka. Baru kali ini adiknya begitu antusias merencanakan pernikahan. Tentu saja ia sangat bahagia dan mendukung niat baik adik satu-satunya.


Azka bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya. Wajahnya masih tampak kesal.


“Kamu tuh suka banget meledek adikmu. Biasanya dia yang suka meledek. Sekarang jadi terbalik,” ucap Pak Haris.


“Kalau lagi jatuh cinta gitu, Yah. Nggak punya ide buat meledek orang lain, justru jadi sasaran empuk buat diledek.” Farhan tersenyum lebar.


Akhirnya, mereka berempat memutuskan untuk beristirahat.Via menyempatkan membereskan baju-baju yang akan dibawa pulang. Farhan tidak membantunya karena memang tak banyak yang harus dibereskan. Ia lebih memilih menghujani Zayn dengan ciuman.


“Hubbiy, nanti dia bangun, lo! Suka banget sih ganggu anak lagi tidur.” Via memasang wajah cemberut.

__ADS_1


“Kalau nggak boleh gangguin Zayn, sini bundanya yang Mas ganggu! Ayo, sini cepat!” Farhan tersenyum nakal.


“Ish, itu sih modus.” Via mencebik.


Meski memasang wajah cemberut, Via tetap mendekat ke ranjang lalu menyusul naik. Farhan tak membiarkan Via tenang terlalu lama. Ia mengujani istrinya dengan ciuman.


Keduanya mewarnai malam dengan cerita mereka. Cinta yang membara tercampur nafsu yang dilandasi iman membuat mereka menyalurkan hasrat sesuai syariat.


Berbanding terbalik dengan kakaknya, Azka tengah dilanda rasa nano-nano.Ia tengah berusaha meredam kerinduan. Namun, ia juga ingin melambungkan khayal tentang masa depan.


Akhirnya, ia hanya mengguling-gulingkan badannya. Kiri, kanan, kiri, kanan, bergantian.


Gubrak!


Rupanya Azka lupa irama. Setelah berguling ke kanan, ia berguling ke kanan lagi. Tubuhnya tidak lagi berguling di atas kasur, melainkan terjungkal ke lantai.


“Duh, kok bisa mendarat di lantai, sih? Syukurlah tidak patah tulang,” desis Azka seraya bangun dan mengusap pungungnya,”Ini gara-gara kamu, Mel.”


Setelah berguling-guling lagi dengan hati-hati, Azka akhirnya terseret ke alam mimpi. Sayangnya, bukan mimpi tentang Meli.


Esoknya, mereka menikmati sarapan lebih pagi. Itu dikarenakan Via akan ke kantor. Sebelum ke kantor, ia menitipkan Zayn kepada Mbok Marsih dan Bu Inah.


Wajah Azka tak secerah biasanya. Hal itu tak luput dari perhatian kakaknya.


“Dek, semalam kurang tidur, ya? Chattingan sama Meli?” tanya Farhan.


Azka menggeleng. Ia mengambil air putihnya.


“Azka kepikiran restu dari orang tua Meli. Jangan-jangan Meli tak diizinkan menikah karena masih kuliah,” jawab Azka lirih.


“Jangan menduga-duga begitu. Dugaan seperti itu justru membuatmu terbelenggu. Mungkin Meli belum berani menyampaikan kepada rang tuanya. Masa pulang liburan terus bicara lamaran? Selain itu, orang tua Meli mungkin butuh waktu untuk berpikir. Ini bukan hal kecil. Butuh banyak pertimbangan untuk memutuskan,” tutur Via bijak.


Pak Haris dan Bu Aisyah tersenyum. Mereka merasakan kedewasaan sosok menantu pertama sekaligus anak angkatnya.


Azka mengangguk. Dia meraba saku kanan celananya. Tidak ada getaran. Berarti tidak ada pesan maupun panggilan.


*


Bersambung


Ah, ternyata Meli sudah melangkah. Ia sudah mengutarakan kepada orang tuanya. Bagaimana tanggapan orang tua Meli? Silakan baca novel Cinta Strata 1 karya Kak Indri.


Jangan lupa tinggalkan like dan komen di setiap episode karya kami. Rate 5 dan vote seikhlasnya kami terima.


__ADS_1


Baca juga karya bagus lainnya.



__ADS_2