SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian VIII


__ADS_3

Taksi yang membawa Via dan Ratna berhenti di depan rumah berlantai dua. Via turun diikuti Ratna. Mereka mengucapkan terima kasih kepada sopir taksi lalu masuk.


"Kok sepi?"


"Iya, belum pada pulang."


"Kita masuknya gimana?"


"Lewat pintu."


"Ih... kamu tu! Kuncinya, Neeeng."


"Bentar, aku cari dulu. Gitu aja panik."


Via mencari di pot bunga krisan. Hanya ada satu krisan yang berwarna ungu. Kunci pun sudah Via genggam.


Ratna lega melihat pintu dibuka. Ia segera masuk mengekor Via.


"Yang lain pulang sore?"


"Mas Azka bilang selesai kuliah jam 12."


Via masuk ke kamar dan ganti baju.


"Kamu ganti pakai bajuku dulu!" Via menyodorkan kaos dan celana jeans.


"Setelah ganti baju dan sholat, kamu ke belakang, ya. Aku butuh bantuanmu."


"Ok boss!"


Ratna menuruti permintaan Via. Ia ke belakang seusai sholat dhuhur.


"Ada apa, sih? Mau makan?"


"Ajari aku nyuci baju. Mumpung lagi nggak ada orang," rengek Via.


"Hahaha... Tuan Putri bingung nyuci baju rupanya."


"Bu Aisyah kok nggak punya pembantu, ya? Padahal aku yakin gajinya cukup buat bayar pembantu."


"Aku rasa bukan karena Bu Aisyah pelit. Beliau ingin mendidik putra-putranya agar jadi anak mandiri."


Via tertegun. Ia baru menyadari betapa pentingnya kemandirian. Ia tidak bisa mengerjakan tugas rumahan karena orang tua tidak mendidiknya untuk itu. Tak terasa air matanya meleleh.


"Eh, kok jadi baper. Ayo buruan nyuci!" Ratna mengingatkan.


Pelajaran mencuci baju pun berjalan lancar. Baru saja selesai menjemur cucian, terdengar suara salam. Tak lama sosok Azka sudah di ruang keluarga.


"Baru pulang kuliah, Mas?" sapa Ratna.


"Iya, trus ke masjid. Kalian sudah makan? Cari sendiri, ya! Kayaknya bunda tadi pagi masaknya agak banyak."


"Iya, Mas."


Via mengajak Ratna ke dapur. Mereka cukup menghangatkan masakan Bu Aisyah.


Niat Via mengambil nasi dibatalkan melihat Ratna melotot.


"Kau ini nggak sopan banget. Masa Mas Azka dicueki? Ajak makan dong!"


"Mas Azka puasa."


"Oh..." mulut Ratna hanya mengeluarkan tanggapan singkat. Namun, dalam hati ia melanjutkan," Gila bener. Cowok langka jaman now. Ganteng, sholeh pula."


"Kok diam?" Via membuat Ratna tersadar.


"Eng...enggak. Ayo makan!"


Baru saja mereka selesai makan, sayup terdengar suara salam disusul orang bercakap-cakap. Ketika Ratna sedang membereskan meja makan, Azka masuk.

__ADS_1


"Ada tamu, Mas? Yang merenovasi kamar, ya?" tanya Via.


"Iya. Kok tahu,?"


"Tadi bunda sudah pesen untuk menyiapkan minuman kalau tukang yang merenovasi kamar datang."


"Oh, kalau gitu kamu yang bikin minuman, ya! Cemilan ada di situ. Aku mau nonton badminton lagi. Semi final nih."


Via mengangguk. Ia segera menyiapkan cangkir.


"Kamu bisa?" tanya Ratna tak yakin.


"Bisa. Aku sudah pernah bikin teh sendiri. Aku bisa bedain gula ma garam kok."


Selesai membuat minuman, Via mengantarkan ke atas. Ia tahu letak kamar yang sedang direnovasi. Besok ia pindah ke kamar itu.


Setelah mempersilakan pekerja yang tengah merenovasi, Via kembali ke dapur. Ia melihat Ratna baru selesai mencuci piring.


"Nonton televisi bareng Mas Azka, yuk!" ajak Via.


"Ehm, awas naksir lo!"


"Kau ini. Aku kan bakalan tinggal di sini. Mas Azka jadi kakakku. Aku harus mengenalnya. Sekarang masih canggung. Makanya, temani aku."


"Okelah. Emmm... Vi, kamu kan suka badminton. Ajak ngobrol tentang badminton aja. Pasti nyambung."


"Cerdas kamu."


"Baru nyadar, Bu? Dari dulu temanmu ini cerdas lo."


"Iya, iya. Ayo ke ruang keluarga!" Via menarik tangan Ratna.


"Seru amat," tegur Ratna.


"Eh Ratna, Via. Iya, nih. Semi final, jadi seru. Kekuatannya seimbang. Tadi set pertama duece tiga kali," kata Azka. "Kalian suka badminton?"


"Suka. Tapi sudah lama nggak main," sahut Via.


“Di mana?”


“Tuh…,” Azka menunjuk samping rumah.


“Oke, siapa takut?”


“Sip! Sini, nonton bareng. Seru nih.”


Mereka pun terdiam, tenggelam dalam keasyikan menonton pemain memukul shuttle cock. Sepuluh menit kemudian, permainan berakhir.


“Bunda bilang nggak mau pulang jam berapa?” tanya Azka.


“Enggak, Mas.”


“Rapat apa, sih?”


Via dan Ratna saling tatap. Lalu mereka sama-sama mengangkat bahu tanda tak tahu.


“Memangnya waktu dipulangkan tidak ada penjelasan dari guru alasan kalian pulang awal? Biasanya kan diterangkan guru mau rapat apa.”


“Kami di UKS, Mas,” jawab Ratna cepat.


“Kenapa? Jangan bilang kamu malas ikut pelajaran, ya!”


“Iiih…enggaklah. Itu karena…” Ratna tidak melanjutkan kalimatnya. Matanya melirik Via yang tertunduk. “Via sakit.”


“Sakit? Tapi….” Azka tidak jadi bertanya melihat kedipan mata Ratna. “Bentar, tanya bunda aja.”


Tangan Azka meraih ponsel di dekatnya. Jemarinya dengan cepat membuka kunci layar. Tak lama terdengar bunyi notifikasi.


“Baru mau tanya malah sudah dikirimi pesan. Panjang umur nih bunda,” gumam Azka. “Waduh…”

__ADS_1


“Kenapa, Mas?” tanya Via.


“Habis rapat bunda mau bezuk. Pulangnya pasti sore,” jawab Azka dengan nada kecewa.


“Memangnya kenapa?” tanya Via lagi.


“Bunda gak bakalan sempat masak buat buka nanti. Padahal, aku kan pengin kolak pisang. Terus makannya lauk cumi saus tiram. Paling nanti bunda beli sayur buat buka. Gak asyik nih.”


“Ada bahannya di kulkas? Kalau ada, bagaimana aku masakin?” usul Ratna.


“Beneran kamu bisa? Makasih banyak kalau kamu bersedia. Kayaknya bahan-bahan sih ada di kulkas.”


“Yuk ke dapur, Vi!”


“Oke.”


Ratna dan Via pun meninggalkan Azka yang masih asyik nonton pertandingan bulu tangkis. Dua gadis itu sibuk menyiapkan menu untuk buka puasa sekaligus makan malam.


“Masaknya dibanyakin, Rat!” teriak Azka dari ruang keluarga.


“Iya,” Ratna ikut berteriak.


Via melakukan apa-apa yang Ratna suruh. Sesekali ia melihat yang dikerjakan Ratna. Otak encernya mencatat pelajaran dari sahabatnya.


Tak terasa satu jam berlalu dengan cepat. Tiga menu masakan telah matang. Ratna sedang mengeksekusi dua menu lagi.


“Hhmm…harum banget,” mendadak Azka muncul dengan pakaian berbeda. Ia mengenakan baju koko dan berpeci.


“Eh, Mas Azka. Mau ke masjid?” tanya Ratna.


“Ngapain? Aku baru jamaah ashar kok.”


“Lho, sekarang jam berapa?”


“Setengah empat.”


“Wah, sudah sore. Ini belum selesai semua,” keluh Ratna.


“Udah, setelah ini matang, kamu mandi trus sholat! Biar aku yang beresin,” kata Via.


“Oke deh.”


Dengan cekatan Ratna menyelesaikan masakannya. Kemudian, ia ke kamar mandi meninggalkan dapur yang masih berantakan. Sementara itu, Via membereskan dapur hingga bersih dan rapi.


“Cieee…sekarang sudah bisa beres-beres dapur. Gurumu ini memang hebat,” ujar Ratna begitu melihat kondisi dapur.


“Gurunya apa muridnya yang hebat?” Via mencebikkan bibirnya.


“Sudah beres?” tanya Azka dari belakang Ratna.


"Sudah, Mas."


"Sedang apa kalian?" suara Pak Haris mengejutkan mereka.


"Ini, Yah, Via dan Ratna baru selesai menyiapkan menu buka puasa. Bunda belum pulang, bezuk ke rumah sakit katanya," Azka menjelaskan.


"O begitu. Terima kasih, Ratna, Via."


"Terima kasih, Pak. Besok kan sekolah. Lagi pula saya belum pamit bapak ibu," tolak Ratna dengan sopan.


"Kalau begitu, diantar Azka saja. Ini sudah sore."


"Siap, komandan! Tapi, siapkan dulu masakan yang kau buat tadi. Masa cuma masak gak mencicipi."


"Engng...nggak usah repot-repot..."


"Via, kamu ambilkan pakai rantang! Aku nyiapin mobil dulu. Pinjam mobil Ayah, ya."


"Iya. Hati-hati! Ayah ke ruang praktek dulu. Pasien sudah nunggu."

__ADS_1


***


__ADS_2