SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XXVII


__ADS_3

Bagian XXVII


Via dan Ratna sedang asyik packing barang-barang yang akan dipaketkan. Kamar kost Ratna terlihat begitu sempit karena begitu banyak barang.


"Rat, ada kamar kosong nggak?"


"Ada. Di sini cuma ada 4 orang yang kost. Kamu tahu sendiri, fasilitas yang disediakan kan minim. Anak-anak orang kaya mana mau kost di sini. Eh, ngapain kamu tanya-tanya kamar kosong? Jangan bilang kamu mau kost, ya!"


"Iya, aku butuh."


"Haahh! Memang Bu Aisyah akan mengizinkan?"


"Sssttt...jangan teriak gitu! Telingaku masih normal. Kebiasaan kau, Markonah!" sungut Via.


"Ah, maaf. Habis, kamu aneh-aneh saja mau kost."


"Kita butuh tempat lebih nyaman untuk packing dan naruh barang-barang ini. Kau ini gak paham, sih? Kamu mau tidur berhimpitan dengan barang segini banyak?"


"Ooo..." bibir Ratna dimaju mengerucut.


Via gemas melihat sahabatnya. Tangannya spontan menyentil bibir seksi itu.


"Nggak usah dimonyongkan gitu bibirmu! Serasa pengin melintir tu bibir."


"Haish, sembarangan. Ini sudah diasuransikan. Model iklan lipstik lo!"


"Lipstik daun jati?" Via mencebik.


"Huahaha..." Ratna terbahak membayangkan bibirnya dioles daun jati.


"Bisa nggak kita sewa satu kamar untuk gudang dan packing?"


"Aku yakin bisa. Soal itu biar aku yang ngomong ma ibu kost. Soal pembayaran, urusan bos Via. Ya, kan?" Ratna mengerling jenaka.


"Beres. Eh, tinggal satu lagi. Yuk, bereskan trus kita ke ekspedisi."


"Siap, Nona!"


Setelah packing selesai, Via membuka ponselnya. Ia mengecek orderan baru yang masuk. Senyumnya mengembang tanda hatinya senang.


"Ngapain senyum-senyum sendiri? Kesambet?" tanya Ratna.


"Eits, sembarangan kalau ngomong. Nih, ngecek orderan. Ternyata sudah ada 5 order baru. Tapi belum transfer."


"Kita kerjakan besok, kan?"

__ADS_1


"Iya. Sehari 10 saja sudah bagus. Lebih dari 20, kita kewalahan. Kita kan paling bekerja begini 2 jam. Aku nggak mau kuliah kita keteteran."


"Alhamdulillah, usaha kita terus berkembang. Makasih, ya."


"Makasih buat apa? Aku yang kamu bantu," ujar Via.


"Karena kamu ajak, aku punya tambahan uang saku. Aku berharap, aku bisa mandiri. Setidaknya untuk saat ini aku tak perlu minta uang ke ortu untuk beli buku. Mudah-mudahan aku bisa membiayai kuliahku. Bisa nggak, ya?" Ratna mengungkapkan angan-angannya.


"Insya Allah. Yang penting kita usaha keras dan yakin akan pertolongan-Nya."


"Bundamu nggak tahu soal ini, Vi?"


Via menggeleng dan menjawab lirih," Aku nggak ingin bunda tahu. Yang kukhawatirkan bunda akan melarangku kalau sampai tahu."


Selesai urusan pengiriman barang, Via langsung pulang. Kali ini dia naik ojol. Jadwal Azka pulang agak sore. Terlalu lama kalau harus menunggu Azka.


Sampai di rumah, ternyata Pak Andi sudah menunggu. Pengacara almarhum papanya sedang berbincang dengan Pak Haris yang baru pulang.


"Baru pulang, Vi? Sini, duduk sini! Pak Andi sudah menunggumu dari tadi," kata Pak Haris.


Via menurut. Ia duduk berhadapan dengan Pak Andi.


"Begini, Mbak. Seperti yang pernah saya sampaikan bahwa perusahaan almarhum Pak Wirawan sudah mulai bangkit. Namun, tekanan yang dialami jelang meninggalnya Pak Wirawan sangat besar. Utang-utang perusahaan ternyata di luar dugaan. Sepertinya ada yang tidak beres dalam pengelolaan keuangan. Namun, saya bukan ahli dalam bidang ini. Saya dibantu oleh Pak Arman. Beliau orang kepercayaan almarhum. Saya mohon maaf, sampai saat ini keuangan perusahaan belum sehat."


"Saya tahu, Mbak. Saya ke sini hanya melaporkan kondisi perusahaan almarhum karena Mbak Via satu-satunya ahli waris beliau. Doakan saja semoga saya dan teman-teman bisa menyelamatkan perusahaan. Untuk saat ini, memang masih fokus menyelesaikan utang-utang dulu. Terutama yang hampir jatuh tempo."


"Ya, Pak. Sekali lagi saya sampaikan terima kasih atas kerja keras dan pertolongan Bapak."


Suara Via berubah parau. Matanya pun berkaca-kaca.


Setelah selesai, Pak Andi segera berpamitan. Pak Haris mengantarkan sampai ke teras.


Baru saja mobil Pak Andi meninggalkan halaman rumah Pak Haris, sebuah sedan mewah masuk ke halaman. Seorang berambut putih tetapi masih tampak gagah turun dari mobil.


"Ayah, baru dari kantor?" sapa Pak Haris. Ternyata orang itu adalah Eyang Probo, ayah kandung Pak Haris. Ia langsung meraih tangan kakek itu dan menciumnya.


"Iya. Anakmu masih di kantor. Siapa orang tadi?"


"Maksud ayah, tamu yang baru saja pulang?"


"Iya, yang pakai mobil hitam metalik. Sepertinya aku tidak asing dengan mobil itu."


"Itu Pak Andi."


"Andi pengacara? Apa hubungan Andi denganmu?"

__ADS_1


"Dia dulu adik kelas. Tapi, dia ke sini bukan ada perlu dengan saya. Dia tadi ada kepentingan dengan Via."


"Via? Anak angkatmu itu?"


"Iya, Yah. Pak Andi menyampaikan tentang kondisi perusahaan Pak Wirawan almarhum."


"Apa hubungan gadis itu dengan Wirawan?" nada Eyang Probo meninggi.


"Via itu putri almarhum Pak Wirawan."


"Jadi...dia anaknya Wirawan br*****k itu?"


"Ayah, jangan keras-keras! Ayo masuk dulu. Masa berdiri di luar gini?"


Pak Haris membimbing ayahnya masuk ruang tamu. Sementara itu, Via yang baru membereskan meja ruang tamu, tidak sengaja mendengar percakapan ayah dan anak itu. Saat mereka masuk, Via segera ke belakang. Namun, ia kembali untuk menguping pembicaraan. Ia merasa penasaran karena Eyang Probo menyebut nama almarhum papanya dengan kata yang tidak mengenakan.


"Kau tahu, Haris, selama ini kau memelihara anak macan. Saat ia besar, bisa jadi dia akan menerkammu. Kau harus melepaskan gadis itu. Dia berbahaya."


"Apa maksud Ayah?"


"Dia anak Wirawan. Ayah yakin, sifatnya tidak jauh beda dengan ayahnya."


"Memang kenapa dengan almarhum Pak Wirawan? Ayah sepertinya begitu benci."


"Tentu saja. Dia orang yang licik."


"Bukankah dulu Ayah akrab dengan almarhum?"


"Iya. Bahkan, aku juga membantunya di awal dia memulai bisnisnya. Namun, sekitar lima tahun yang lalu, kelicikannya hampir membuat perusahaan Ayah oleng. Selama setahun, perusahaan Ayah mengalami penurunan profit yang sangat besar."


"Apa itu karena ulah Pak Wirawan? Atau memang karena persaingan bisnis yang sehat? Perusahaan Ayah menurun karena memang kondisi," ujar Pak Haris.


"Aaah.. kau ini dokter. Mana tahu urusan begini. Pokoknya, Ayah tidak suka anak itu tinggal di sini."


"Yah, kasihan Via. Dia sudah yatim piatu. Mana mungkin Haris dan Aisyah tega menyuruhnya pergi."


Via tidak kuasa mendengarkan lagi pembicaraan kedua orang itu. Ia bergegas ke kamarnya dengan menahan tangis yang hampir pecah.


****


bersambung


Author mengharapkan dukungan semangat dari readers. Berikan like dan koment yang berisi masukan untuk author.


Terima kasih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2