
Sinar mentari belum begitu terik. Udara masih cukup sejuk. Namun, sepertinya tiga gadis di lantai 1 ruko tidak berkeinginan menikmati segarnya udara pagi dan cerahnya sang mentari.
Mereka tengah sibuk memilah barang-barang yang baru datang kemarin sore. Cukup banyak karena pesanan online yang mereka terima cukup banyak.
Meskipun Minggu, sekarang mereka bertiga lebih sering menghabiskan waktu di toko. Pesatnya perkembangan toko membuat mereka terpacu untuk bekerja lebih keras.
Hasil yang mereka dapatkan sebanding dengan kerja keras mereka. Ratna tidak pernah lagi meminta uang saku kepada kedua orang tuanya. Mira juga bisa memberi adik-adiknya uang jajan. Gaji yang mereka dapatkan sudah di atas UMR. Sementara untuk keperluan makan lebih banyak ditanggung Via.
Salsa pun mendapat gaji yang layak meski di bawah Ratna dan Mira. Tentu saja karena jam kerja Salsa paling sedikit.
"Ratna, barang yang mau dikirim sudah dipisah?" tanya Via sambil mencetak alamat pemesan.
"Sudah, Vi. Tinggal packing, kok."
"Oke. Ini alamat untuk ditempel," kata Via sembari menyerahkan lembaran berisi nama dan alamat pemesan.
Dalam waktu kurang dari 30 menit, barang-barang pemesan telah rapi dan siap dikirim.
"Ah, sepertinya ada tamu, nih. Ratna, punya stok pembalut, nggak? Aku lupa belum beli," ucap Via.
"Enggak, aku juga lupa."
"Mbak Mira ada?"
"Masih ada 3 biji kalau nggak salah. Ambil saja di kamar!" jawab Mira.
Via bergegas ke atas. Setelah beberapa menit, ia turun dengan menenteng sling bag dan kaos kaki coklat. Sembari duduk, ia memakai kaos kakinya.
"Aku keluar belanja sebentar, ya! Ada yang mau nitip, nggak?" tanya Via.
"Nitip kapas aja," jawab Mira.
"Ratna butuh apa?"
"Cemilan yang banyak," jawab Ratna sambil nyengir.
"Kebiasaan!" gerutu Via.
"Dek, kenapa sih pakai kaos kaki segala? Kan cuma mau belanja ke situ," tanya Mira.
Via tersenyum, lalu menjawab, "Aurat seorang perempuan itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Ada riwayat yang mengokohkan hal ini. Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah pun berpaling darinya dan bersabda, “ Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haid tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”. Beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. Nah, itu menunjukkan bahwa telapak kaki juga aurat bagi perempuan."
Mira menatap Via kagum.
"Aku mesti banyak belajar dari kamu, Dek," ucapnya tulus.
"Ah, Mbak Mira jangan berlebihan! Via juga masih harus banyak belajar! Via belum lama berhijrah, lho! Belum ada dua tahun. Kalau nggak percaya, tanya aja Ratna. Via pergi dulu, ya! Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab Ratna dan Mira bersama.
Via berjalan santai menuju mini market. Tidak jauh dari rukonya, hanya sekitar 100 meter.
Baru beberapa meter meninggalkan ruko, sebuah sepeda motor matik berhenti di depan Via. Pengemudinya turun dan menyodorkan helm kepada Via.
"Naiklah! Ada yang mesti kita bicarakan," perintah orang itu.
Via tampak ragu. Ia berdiri mematung tanpa menerima uluran helm.
"Ini aku, Dek. Aku Farhan, suami kamu," ujarnya sambil membuka kaca helm.
"Aku tahu, memangnya aku buta tidak bisa membedakan suamiku dengan orang lain. Meski wajahmu ditutup, aku tetap tahu. Eh, memang aku seberapa jauh mengenalnya?" batin Via.
"Ayolah, ikut aku sebentar! Aku nggak ngapa-ngapain kamu, kok," bujuk Farhan.
"Lho, memang aku mau diapain? Aku tuh sebel sama kamu, Mas. Kemarin kamu begitu jahat menuduhku yang enggak-enggak," ucap Via dalam hati. Ia masih berdiri mematung.
"Ayolah, Sayang. Apa aku harus bersimpuh, memohon agar kau mau pergi bersamaku?" Farhan menatap istrinya penuh harap.
"Aku mau belanja," tolak Via.
"Hanya sebentar. Nanti aku anterin belanja. Aku tetep di sampingmu sampai kamu mau pergi denganku. Bagaimana, aku ikuti langkahmu atau aku berlutut memohon?"
Via mendengus kesal. Pilihan yang sulit. Akhirnya, ia menarik helm di tangan Farhan.
"Aduh, galak amat? Sini, Mas pakaikan," ucap Farhan lembut.
"Nggak perlu, bisa sendiri."
Ternyata, Via kesulitan mengancingkan tali helm. Ia membiarkan tali itu terjuntai.
"Itu talinya belum terkancing. Sini, aku kancingkan!" kata Farhan. Tangannya terjulur berniat membantu Via.
"Nggak usah. Malu dilihat orang," tolak Via kesal.
"Helm itu untuk keselamatan. Kalau belum bunyi klik, berarti memakainya belum betul. Tidak usah malu sama suami sendiri. Lagian jalanan sepi, kok. Sini, Mas kancingkan!"
Akhirnya, Via menurut. Farhan mengancingkan tali helm sambil tersenyum geli.
"Naiklah!"
Via menurut. Ia naik ke jok belakang.
"Pegang pinggang Mas, dong! Kalau jatuh gimana?"
"Udah, jalan aja! Aku pegangan behel, nih," sahut Via dengan nada ketus.
__ADS_1
Farhan mengalah. Ia melajukan motor perlahan. Saat jalanan benar-benar tidak ada kendaraan lain, ia menarik gas secara mendadak. Via kaget. Reflek tangannya memeluk erat tubuh Farhan. Yang dipeluk tersenyum licik.
"Nah, kan, kubilang juga apa. Disuruh pegangan pinggangku nggak mau."
"Kalau Mas nggak narik gas mendadak, aku juga nggak kaget," bantah Via.
"Sudahlah, biar aman peluk terus. Mas nggak keberatan, kok."
"Modus! Memang kita mau ke mana?"
"Refreshing. Ntar juga tahu."
Motor melaju dengan kecepatan sedang. Tak lama kemudian, mereka sampai di pantai.
Via turun dari motor. Matanya menatap gulungan ombak yang berlarian ke pantai. Ia ingat, terakhir kali ke tempat itu lima tahun yang lalu bersama almarhum papa dan mamanya.
Tak sadar Via berlari kecil mendekati bibir pantai. Ia berdiri menyambut ombak yang datang. Begitu kakinya dibelai buih ombak, Via tersenyum lebar.
Farhan ikut tersenyum melihat pancaran kebahagiaan di wajah istrinya. Ia mendekat, berdiri di samping Via. Sementara Via yang tengah asyik menikmati sentuhan ombak, tidak menyadari sang suami berdiri di sampingnya.
"Kau senang?"
Via mengangguk. Senyum ceria terus menghiasi bibirnya.
"Mau jalan-jalan menyusuri pantai ini?" tanya Farhan.
Via mengangguk. Ah, rupanya kekesalan terhadap Farhan sudah ia lupakan.
Setelah puas bermain-main dengan buih ombak, Farhan mengajak Via duduk di bebatuan, agak jauh dari bibir pantai.
"Dek, Mas minta maaf kemarin suuzan sama Dek Via dan Doni. Mas ngaku salah."
Via teringat peristiwa kemarin. Rasa sakit hatinya kembali muncul. Namun, ia berusaha menekan rasa itu. Suaminya sudah minta maaf.
"Kenapa Mas kemarin langsung menuduhku seperti itu? Kenapa Mas tidak minta penjelasan dariku terlebih dahulu?" tanya Via bertubi-tubi.
"Iya, Mas akui kesalahan itu."
"Mas, tahu nggak, hati Via sakit banget kemarin. Bukan karena Mas Farhan marah. Kalau Via salah, Via terima dimarahi Mas. Via kemarin merasa seperti perempuan hina yang kencan dengan lelaki bukan mahram," kata Via diikuti isak lirih.
***
Bersambung
Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan memberi like, komen, juga vote!
Terima kasih atas dukungan Kakak semua 🙏
__ADS_1