
Setelah menjawab salam Farhan, Via menerima telepon dari Edi. Sesekali dahinya berkerut mendengar penjelasan Edi.
Via menjadi gelisah. Putaran jarum jam dirasakan sangat lambat. Akhirnya, ia memutuskan untuk packing baju yang sebetulnya tidak seberapa.
Tepat saat Farhan pulang, Zayn terbangun dari tidur siangnya. Bayi itu mengerjapkan matanya, menatap sang ayah.
“Assalamualaikum, anak soleh. Baru bangun, ya?” sapa Farhan.
Senyum mengembang di bibir mungil Zayn. Bayi itu mencoba ntuk duduk.
“Hubbiy, tadi Mas Edi memberi tahu kalau ….” Via tampak ragu.
“Kalau apa? Katakan saja!” sahut Farhan cepat.
“Eyang Probo kembali drop. Tapi, eyang nggak mau dibawa ke rumah sakit. Saat ini Eyang tetap dirawat di rumah. Ayah memboyong peralatan medis ke rumah.”
Dada Farhan berdegup kencang. Ia mencemaskan keadaan kakek satu-satunya.
“Penerbangan masih dua jam lagi. Kita tidak mungkin ganti penerbangan yang lebih cepat. Semoga beliau baik-baik saja,” ucap Farhan.
“Kalau begitu, kita makan siang dulu. Setelah itu, kita bersiap ke bandara,” ajak Via.
Farhan mengangguk setuju. Ia mengangkat tubuh Zayn untuk dibawa ke kamar mandi terlebih dahulu.
“Semua barang sudah disiapkan?” tanya Farhan memastikan.
“Sudah. Paling tinggal perlengkapan Zayn. Lima menit juga beres. Sini, Zayn biar Via gendong! Hubbiy ajak Mas Rio keluar,” ucap Via.
Farhan menurut. Ia menyerahkan Zayn kepada sang bunda. Ia bergegas ke kamar Rio.
“Via, Farhan, ayo, kita makan siang dulu!” Terdengar suara Bu Lena memanggil.
“Iya, Tante. Sebentar, Mas Farhan panggil Mas Rio dulu,” jawab Via.
Tak lama sampai lima menit mereka sudah duduk mengelilingi meja makan. Acara makan siang dengan hidangan lezat itu, terasa hambar di lidah Via dan Farhan. Pikiran mereka tidak terlalu focus ke makanan.
Agaknya hal itu tak luput dari perhatian Pak Candra. Pria itu merasakan kegelisahan keponakannya.
“Ada masalah, Via?” tanya Pak Candra.
“E…sedikit, Om. Tadi Via dapat kabar kalau Eyang Probo drop lagi. Kami khawatir terjadi sesuatu dengan eyang,” jawab Via.
Ada keterkejutan di roman muka Pak Candra dan istrinya. Mereka tidak mengira karena sebelumnya Azka bercerita kalau eyangnya sudah membaik.
“Sabar, ya. Semoga eyang kalian bisa melewati masa sulit ini, bisa kembali pulih. Maaf, Om belum bisa nengok. Insya Allah minggu depan Om dan tantemu ke Jogja Bersama Azka.”
“Iya, Om. Mohon doa saja,” kata Farhan.
Usai makan siang, Via, Farhan, dan Rio mengambil koper dan barang lain di kamar. Mereka bersiap ke bandara untuk pulang ke Jogja.
“Dek Azka tidak usah diberi tahu soal kondisi eyang, ya Om,” pinta Farhan sebelum berpamitan.
“Baiklah. Saat mau berangkat saja Om beri tahu. Atau kalian yang mengabari jelang keberangkatan kami,” sahut Pak Candra.
Setelah berpamitan, mereka diantar sopir Pak Candra ke bandara.
***
Via, Farhan, dan Bu Aisyah duduk di depan kamar Eyang Probo. Wajah mereka tampak tegang. Segala rasa berkecamuk dalam pikiran mereka.
“Bunda, apa kira-kira Eyang Probo masih bisa bertahan?” desah Farhan.
__ADS_1
Bu Aisyah menatap putra sulungnya. Ia pun sedang berdebar menanti kabar.
“Bunda juga tidak tahu, Nak. Kita berdoa saja. Yang jelas, kita harus menyiapkan mental kita menerima semua takdir Yang Mahakuasa. Ingat, semua makhluk bernyawa pasti akan mati. Hanya, kita tidak tahu kapan ajal menjemput kita.” Bu Aisyah menjawab lirih.
Via terkesiap mendengar kalimat yang diucapkan Bu Aisyah. Ia merinding mengingat kematian. Dia menjadi gelisah mengingat bekal yang tak sebeara.
“Yang penting kita berusah untuk mencari ridho Allah. Urusan pahala, itu bukan wewenang kita. Sandarkan semuanya kepada Sang Pemilik,” bisik Bu Aisyah lembut.
Via mengangguk. Tenggorokannya terasa tercekat.
Saat pintu kamar dibuka, mereka bertiga serempak berdiri. Dokter Haris keluar diikuti rekannya sesame dokter juga seorang perawat. Satu perawat masih berada di kamar.
“Bagaimana, Yah?” tanya Bu Aisyah tak sabar.
“Alhamdulillah, ayah melewati masa kritisnya. Semoga setelah ini kondisinya membaik. Sekarang, biarkan ayah istirahat. Nanti saja kalau kalian ingin menemui,” jawab dokter Haris. Ia mempersilakan tim medis yang ia bawa dari rumah sakit untuk beristirahat.
Via dan Farhan saling tatap. Mereka saling melempar senyum penuh kelegaan.
Baru dua langkah mereka meninggalkan depan kamar, perawat keluar memanggil.
“Maaf, Tuan Probo memanggil Tuan Farhan,” seru si perawat.
Farhan memutar tubuhnya. Ia melangkah masuk kamar eyangnya.
“Eyang memanggil Farhan?” tanya Farhan sambil duduk di tepi ranjang.
“Aka…pon,” gumam Eyang Probo tak begitu jelas.
“Telepon Dek Azka maksud Eyang?” Farhan menebak ucapan eyangnya.
Eyang Probo mengangguk. Farhan pun segera mengambil gawai untuk menelepon Azka.
“Waalaikumsalam. Ni eyang ingin melihatmu,” jawab Farhan.
Dihadapkannya layer gawai miliknya ke wajah Eyang Probo. Seketika senyum mengembang perlahan menghiasi wajah keriputnya.
“Assalamualaikum, Eyang. Sudah makan? Eyang kangen Azka, ya?”
Eyang Probo tampak mengangguk. Begitu jelas perbedaan dengan kondisi dua jam lalu.
“Tenang, Eyang. Cucu Eyang yang ganteng ini sebentar lagi pulang. Kita bisa ngobrol langsung saat Azka di Jogja,” ucap Azka lagi.
“Li… ana? Li…” Eyang Probo tampak bersusah payah menyampaikan.
Azka kebingungan. Ia tak mengerti maksud Eyang Probo.
“Meli maksud Eyang?” tanya Farhan.
Farhan mudah menebak maksud ucapan eyangnya karena sering bersama.
Eyang Probo mengangguk membenarkan tebakan Farhan.
“Eyang ingin ketemu Meli juga? Baik, Azka nanti hubungi Meli biar dia ke Jogja. Eyang mau dibawain oleh-oleh apa?” Azka menawari.
Eyang Probo menggelengkan kepala. Bibirnya kembali ditarik perlahan membentuk senyuman.
“Dah,” ucap Eyang Probo.
“Ngobrolnya dengan Dek Azka sudah cukup? Kangen-kangenannya dilanjut lusa, ya,” kata Farhan.
Farhan menutup pembicaraan dengan Azka setelah ia berpesan agar adiknya berusaha menuruti keinginan eyangnya.
__ADS_1
Azka menuruti perintah sang kakak. Ia segera menelepon Meli begitu sambungan vicall Farhan ditutup.
“Assalamualaikum, Mas Azka,” suara Meli terdengar begitu merdu di telinga Azka.
“Waalaikumsalam, Sayang. Sedang apa?”
“Baru pulang dari ruko. Meli lagi khawatir dengan hubungan kita,” ucap Meli yang terdengar seperti rengekan manja.
“Memang kenapa?” Azka heran.
“Mario dan Anjani sedang difitnah. Ada orang yang mencuri foto Mario dan Vina dalam posisi yang tak pantas. Foto itu disebar dengan caption yang memojokkan Anjani.” Meli menceritakan nasib Anjani dan Mario. (Selengkapnya baca novel Cinta Strata 1)
“Anjani percaya Mario selingkuh?” tanya Azka.
“Enggak. Tapi, foto itu merusak citra Kak Mario. Meli takut ada fitnah semacam itu menerpa hubungan kita. Apalagi kita berjauhan,” tutur Meli sedih.
Azka tersenyum melihat wajah murung istrinya. Sikap Meli yang seperti itu tampak begitu menggemaskan.
“Percayakan kepada Yang Kuasa. Insya Allah pertolongan-Nya selalu ada jika kita menyadarkan diri pada-Nya,” kata Azka menghibur.
“Iya, Mas.”
“O ya, kamu sibuk nggak akhir minggu ini?” tanya Azka mengalihkan topik pembicaraan.
“Enggak. Kenapa?” tanya Meli balik.
“Bisa ke Jogja? Eyang Probo barusan minta aku menghubungi kamu, nyuruh kamu ke Jogja. Eyang ingin ketemu,” jawab Azka.
“Kamu lgi teleponan sama menantuku ya, Mel?” terdengar suara ayah Meli memotong pembicaraan Meli dan Azka.
Meli menoleh. Sang aya, Pak Roni tengah berjalan mendekat.
“Iya, ini Mas Azka,” jawab Meli.
“Hallo, Nak Azka. Apa kabar?” sapa pria itu kepada sang menantu.
“Assalamualaikum, Ayah. Alhamdulillah Azka sehat. Ayah dan ibu jyga sehat, kan?”
“Waalaikumsalam. Ah, Ayah sampai lupa ngucapin salam dulu. Iya, Ayah sehat, ibu juga.”
“Azka mau minta izin sekalian, Jumat lusa Meli Azka minta ke Jogja. Eyang Probo ingin ketemu. Kebetulan juga Sabtu sore teman Azka ada yang mau melamar teman Meli,” kata Azka sopan.
“Wah, kalau gitu, Ayah ikut. Boleh, ya?”
Meli bengong menatap ayahnya. Ia tak percaya ayahnya menginginkan ikut.
“Ayah kan belum pernah silaturrahim ke tempat besan, Mel. Ya sekalian jenguk eyangnya Nak Azka,” kata Pak Roni sambil tersenyum lebar.
“Iya, Ayah. Azka berterima kasih kalau Ayah ikut,” sahut Azka.
Pak Roni tampak senang. Sebaliknya, Meli justru gelisah.
"Gimana mau bermesraan kalau dikuntit ayah ibu?" pikir Meli
***
Bersambung
Terus ikuti kelanjutannya. Mampir juga ke novel CS1 karya Kak Indri Hapsari untuk mengetahui kisah Meli dan Anjani-Mario. Dukung terus novel kami dengan selalu klik like dan tinggalkan komentar.
__ADS_1