
Via mengerjapkan matanya. Ia sapukan pandangan ke seluruh penjuru halaman rumah. Lalu, ia menatap lekat rumah di depannya.
"Mas, ini kan.... Ini rumah papa. Iya, kan?" desis Via.
Farhan mengangguk sambil tersenyum. Ia membiarkan Via mengamati tiap bagian halaman rumah.
"Kenapa kita ke sini? Siapa pemiliknya sekarang?" tanya Via dengan mata berkaca-kaca.
"Kita ke dalam, yuk! Nanti pertanyaanmu akan dijawab," ajak Farhan.
Farhan membimbing Via memasuki rumah. Baru saja masuk ruang tamu, langkah Via terhenti. Ia menatap setiap sudut ruangan. Ia dulu jarang di ruang tamu. Ruangan ini biasanya digunakan untuk menerima tamu penting papanya.
Meski demikian, Via sangat hafal. Di ruangan ini ia membicarakan tentang status rumah dan keputusannya tinggal bersama Bu Aisyah, wali kelasnya.
Farhan membiarkan Via mengingat kenangannya. Ia pun hanya diam, tidak mengusik sedikit pun.
"Mas, mengapa kita langsung masuk tanpa menunggu dipersilakan tuan rumah? Nanti kalau tuan rumah marah gimana?"
Via mendadak khawatir. Ia baru menyadari kalau mereka belum bertemu tuan rumah. Saat masuk, Via terbawa kenangan masa lalu, dia adalah bagian dari pemilik rumah. Jadi, ia tidak perlu minta izin.
"Tenang, tuan rumah tidak akan marah, kok. Nanti kamu akan tahu. Ayo, kita ke ruang keluarga!" ajak Farhan.
"Mas Farhan seperti sudah pernah masuk rumah ini. Benar begitu?" tanya Via yang merasa aneh dengan sikap Farhan. Setahu Via, Bu Aisyah pun hanya tahu ruang tamu. Bu Aisyah belum pernah masuk sampai ke dalam.
"Sudahlah, nanti Dek Via akan tahu," ujar Farhan lembut.
"Mas kok penuh teka-teki begini?" tanya Via lagi. Ia masih ragu untuk menuruti ajakan Farhan.
"Supaya tahu jawaban dari teka-teki, ayolah kita ke dalam! Jawaban dari pertanyaan Dek Via ada di sana."
Farhan merangkul bahu Via. Ia bimbing gadis itu memasuki sebuah ruangan yang luas.
"Assalamualaikum," ucap Farhan.
"Waalaikumsalam," ada banyak suara yang menjawab.
Via tercengang melihat orang-orang yang duduk di ruangan itu. Sebagian dari mereka sangat dekat dengannya, sebagian lainnya tidak ia kenal. Mereka menatap sepasang suami istri itu sambil tersenyum.
"Ayah, Bunda, Mas Azka, Eyang, kok ada di sini?" Via menyebut satu per satu orang yang dikenalnya. "Pak Arman dan Pak Andi juga ada. I--ini ada apa, Mas?" seru Via.
"Sabarlah. Itu yang duduk di sana Pak Adi Wijaya dan Pak Candra Wijaya," ujar Farhan mengenalkan dua orang yang belum Via sebut.
"Pa--pa?" bisik Via. Matanya melotot dan mulutnya sedikit menganga seperti tak percaya.
Farhan mengernyitkan keningnya mendengar kata yang terucap dari mulut Via meski lirih. Namun, ia segera berusaha kembali tenang.
Dua orang yang Farhan sebut berdiri lalu tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Yuk, kita bersalaman dengan mereka," ajak Farhan.
Via pun menurut. Mereka menyalami orang-orang yang hadir di situ satu per satu. Via hanya menangkupkan tangan ketika di depan orang lain.
Namun, saat tiba di depan Pak Adi Wijaya, pria seusai Eyang Probo itu mendadak merengkuh tubuh Via. Gadis itu tidak siap hingga jatuh ke pelukan Pak Adi.
"Maaf, maafkan aku, Nak," ucap orang tua itu lirih. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang mulai tampak adanya keriput.
"Maaf, Pak Adi. Tolong jangan bersikap seperti ini. Kita bukan mahram!" kata Via dengan suara tegas.
Dalam hati Via merasa geram karena diperlakukan seenaknya oleh orang tua yang baru pertama ia temui.
"Dek, Pak Adi terbawa perasaan. Nggak apa-apa memeluk kamu. Aku ikhlas, kok," bisik Farhan lembut.
Via yang sudah terlepas dari pelukan Pak Adi melototi Farhan. Ia tak habis pikir kenapa Farhan mengucapkan kata seperti itu. Sebagai suami, seharusnya ia tak rela istrinya dipeluk lelaki lain yang bukan mahram.
"Duduklah dulu," perintah Farhan tetap dengan suara lembut. Ia membimbing Via duduk di kursi dekat Bu Aisyah. Lalu, ia duduk di samping sang istri.
"Via, maafkan kami membuat kamu bingung. Pak Adi Wijaya ayah Pak Candra Wijaya. Dari nama kamu bisa menebak."
"Via sudah tahu saat menemui Pak Candra di Jakarta, Bun."
Bu Aisyah tersentak sesaat. Ia lupa kalau Via pernah bertemu Candra Wijaya.
"Ah, iya. Maaf, Bunda lupa. Mereka adalah keluarga kamu, Vi. Bagaimana hubungan mereka dengan kamu, nanti Pak Adi yang akan menjelaskan."
Via menatap Bu Aisyah. Ada yang mengganjal di benak Via dengan kehadiran orang-orang itu bersama-sama, bahkan berkumpul sebelum ia datang.
Wanita berwajah teduh itu sepertinya dapat membaca yang ada di benak Via. Ia juga membelai lembut punggung Via untuk memberikan ketenangan. Setelah dirasa Via tenang, Bu Aisyah menatap Pak Adi sambil mengangguk. Kakek itu tanggap akan kode yang dikirim Bu Aisyah.
"Nak, mungkin ini membuat kamu terkejut. Kamu boleh marah kepada kami terutama Kakek. Kamu boleh menyalahkan Kakek karena memang aku salah. Namun, Kakek minta maafkanlah Kakek."
Pak Adi diam sejenak. Ia menyusut air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kakek adalah ayah dari almarhum papamu. Dan Candra ini adik kandungnya," ucap Pak Adi dengan suara bergetar.
Via ternganga. Ia menatap Pak Adi dan Pak Candra bergantian.
Ia memang sudah pernah bertemu Pak Candra. Namun, saat itu Pak Candra mengenakan masker sehingga Via tidak bisa melihat wajahnya.
Wajah Pak Candra sangat mirip dengan Pak Wirawan. Itu sebabnya Via seperti melihat almarhum papanya begitu melihat Pak Candra.
"Ceritanya panjang, Nak. Ayahmu meninggalkan rumah dan merantau jauh sampai sini lebih dari 20 tahun silam. Sejak itu kami tidak pernah bertemu papa kamu," kata Pak Candra.
"Dan papa kamu pergi karena Kakek. Keegoisan Kakek yang membuat Beni nekat pergi dari rumah," sambung Pak Adi.
Via masih terpaku. Penjelasan tak terduga dari keluarga Wijaya membuat ia shock.
__ADS_1
"Nama asli papamu adalah Beni Wijaya. Beliau mengubah menjadi Wirawan untuk menghilangkan jejak," sahut Pak Andi.
Bu Aisyah menggenggam tangan kanan Via. Sementara Farhan menggenggam tangan kiri istrinya itu. Raut wajah Via tampak tegang.
"Via bisa memaafkan dan menerima mereka, kan?" tanya Bu Aisyah lembut.
Via masih diam. Keterkejutan masih menyelimuti hati Via hingga ia belum mampu bereaksi.
"Dek, terima kakek dan om, ya," pinta Farhan dengan suara tetap lembut. Diusapnya telapak tangan Via.
Via tersadar. Dengan cepat ia menghambur ke Pak Adi dan bersimpuh di depan orang tua itu. Kepala Via diletakkan di pangkuan kakeknya.
"Kakek, kenapa Kakek baru datang? Mengapa Via dibiarkan sebatang kara tanpa keluarga kandung Via?" ratap Via di sela isaknya.
"Iya, Kakek minta maaf. Semua salah Kakek. Bangunlah, Nak!" Pak Adi menarik tubuh Via hingga gadis itu berdiri. "Duduklah samping Kakek!"
Pak Candra berpindah tempat duduk. Via pun menduduki kursi yang tadinya diduduki oleh Pak Candra sehingga ia duduk di antara kakek dan om-nya.
"Kamu mau memaafkan kami, kan?" tanya Pak Adi. Ia menatap Via penuh harap.
Via mengangguk. Tangannya mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya.
"Terima kasih, Nak. Kakek bahagia sekali. Ini adalah keinginan terbesar Kakek, berkumpul bersama keluarga yang saling menyayangi."
"Terima kasih, Pak Haris, Bu Aisyah. Karena Bapak dan Ibu keponakan saya tidak kehilangan tempat untuk bersandar saat ia kehilangan kedua orang tuanya. Seharusnya kami yang menggantikan posisi almarhum. Tapi, waktu itu kami belum tahu. Kami terlambat," sambung Pak Candra.
Pak Haris tersenyum. Ia menoleh ke Bu Aisyah. Tampaknya Bu Aisyah merasa ditatap suaminya, ia pun menoleh dan balas menatap. Anggukan kepala Bu Aisyah memberi isyarat agar Pak Haris bicara.
"Pak Candra dan Pak Adi tidak perlu merasa bersalah dan berterima kasih seperti itu kepada kami. Semua qadarullah. Karena Via tidak memiliki keluarga, ia ikut kami. Dan sekarang, ia jadi menantu kami. Kita sudah menjadi keluarga, Pak."
Semua yang hadir mengangguk setuju. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.
"Karena sudah asar, mari kita salat dulu. Sepertinya masjid atau musala sudah mengumandangkan iqamah. Bagaimana kalau kita berjamaah di musala keluarga?" ucap Pak Andi.
Via bengong. Setahunya, rumah yang ia tinggali bertahun-tahun itu tidak ada musala keluarga seperti kediaman dokter Haris.
"Sekarang sudah ada, kok. Rumah ini sudah direnovasi sehingga ada musala di bagian belakang. Ayo, kita ke sana!" ajak Farhan kepada Via. Sepertinya pria itu tahu yang Via pikirkan.
***
Bersambung
Sekarang sudah tahu siapa Pak Candra yang waktu itu jadi teka teki. Tambah seru, nggak?
Rumah itu milik siapa sekarang? Kenapa dulu Pak Wirawan pergi dari rumah? Apa Via masih punya keluarga dari pihak mamanya?
Nah, temukan jawabannya di episode selanjutnya.
__ADS_1
Yang pengin hadir di resepsi pernikahan Farhan dan Via harap bersabar. Siapkan vote buat kondangan 😄😄😄
Jangan lupa like dan komen ya! Aku siap dukung balik karya authors lain yang koment kok. Love you 😘😘😘