SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Siapa yang Menelepon?


__ADS_3

Usai membereskan meja makan, Via menuju teras. Farhan tengah memasukkan koper ke dalam mobil. Zayn tampak ceria dalam gendongan kakeknya.


Azka berdiri di dekat ayahnya sambil meledek Zayn. Ia  begitu gemas dengan polah keponakannya.


“Sudah siap semua?” tanya Via dari pintu.


“Sudah. Tinggal nunggu Bunda,” jawab Farhan tanpa menoleh.


“Yuk, Zayn  ikut Bunda. Kalau Om Azka kangen, biar dia yang datang ke tempat Zayn, ya,” ucap Via sambil mengulurkan tangan kepada anaknya.


Zayn menyambut uluran tangan sang bunda. Dalam sekejap, bayi lucu itu sudah dalam rengkuhan Via.


“Via pulang dulu, Yah, Dek Azka,” kata Via. Ia meraih tangan Pak Haris dan dicium dengan takzim.


“Iya, hati-hati! Sudah pamit bunda?” tanya Pak Haris.


“Sudah, tadi di dapur. Mas Farhan yang belum.”


Farhan bergegas ke dalam untuk berpamitan. Tak lama ia kembali keluar dan berpamitan kepada ayah dan adiknya.


“Nggak usah galau gitu. Sana, salat duha! Perbanyak salawat, ya!” pesan Farhan kepada Azka.


Azka tidak menjawab. Ia hanya memberikan anggukan.


Pak Yudi melajukan mobil perlahan meninggalkan kediaman dokter Haris. Lambaian tangan ayah dan anak mengiringi kepergian meeka.


“Memang masih galau?” tanya Pak Haris setelah mobil yang dinaiki Via dan Farhan tak terlihat.


“Sedikit,” jawab Azka singkat.


Pak Haris tertawa mendengarnya. Ia menepuk bahu putra bungsunya, lalu mendorongnya ke dalam rumah.


“Kau mengantar bunda ke sekolah, kan?” tanya Pak Haris lagi.


“Iya. Azka mau pinjam mobil bunda ke rumah Eyang Probo dan teman Azka.”


“Besok kalau sudah dapat gelar magister, belilah mobil sendiri!”


“Kirain mau dikasih hadiah mobil sama Ayah,” gumam Azka.


Meski lirih, Pak Haris masih mendengarnya. Lelaki yang sudah berkepala 5 itu terkekeh.


“Bukannya tabunganmu sudah banyak, hem?”


“Tapi baru cukup buat beli mobil bekas,” keluh Azka.


“Berarti harus kerja keras lagi, gelembungkan tabungan!” Pak Haris kembali tertawa.


Mereka berhenti bercanda saat Bu Aisyah masuk ruang tamu dengan penampilan yang sudah rapi. Pak Haris menyambutnya dengan senyuman.


“Sudah siap, Bunda?” tanya Pak Haris.


“Sudah. Jam pertama akan ada ulangan di kelas XII, Bunda lupa soalnya belum dikopi.”


“Kalau begitu, Mas sopir segera antarkan Nyonya Haris ke sekolah!” perintah Pak Haris sambil melirik Azka.


“Teganya Ayah mengatai Azka sopir. Ayo, Bunda, kita berangkat!” Azka cemberut.


Pak Haris dan Bu Aisyah terkekeh melihat reaksi Azka. Bu Aisyah mencium tangan Pak Haris yang dibalas dengan pelukan  dan ciuman di wajah.


“Ayah! Teganya bermesraan di depan anak. Azka kan belum punya pasangan halal. Kalau ....” protes Azka terhenti.


“Eh, Ayah kira kamu sudah keluar. Kalau apa, Ka?” Pak Haris tersenyum.


“Nggak, ah. Azka menyiapkan mobil. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


*


Usai mengantar bundanya, Azka mengarahkan mobil ke rumah Eyang Probo. Semenjak liburan, Azka belum mengunjungi kakeknya.

__ADS_1


Sampai di rumah yang asri dengan gaya tradisional, Azka memarkir mobil bundanya di bawah pohon mangga. Setelah itu, ia menuju teras rumah yang terlihat sepi. Ada satu cangkir dan piring berisi singkong goreng di meja. Azka tersenyum, memastikan kakeknya baru saja duduk-duduk di teras.


“Assalamualaikum, Eyang. Cucu Eyang yang ganteng datang.”


Azka melangkah masuk tanpa menunggu kakeknya keluar. Ia mencari Eyang Probo ke kamarnya.


“Eyang, Eyang ada di kamar?” Azka mengetuk pintu kamar kakeknya.


“Masuk! Kaukah itu, Azka?”


Azka membuka pintu kamar. Tampak sang kakek sedang duduk di atas ranjang.


“Kakek sakit?” tanya Azka khawatir.


Azka mendekati kakeknya. Dengan takzim, ia cium tangan kanan Eyang Probo.


“Sakit? Dari mana kamu bisa menyimpulkan Eyang sakit?” tanya Eyang Probo balik.


“Eyang jam segini di kamar. Kan nggak biasanya,” sahut Azka.


“Kamu sudah lama nggak mengunjungi Eyang. Mana tau kebiasaan Eyang setelah pensiun?”


“Ah, iya. Maafkan Azka, Eyang. Azka juga jarang pulang. Paling pulangnya kalau libur atau ada acara penting.”


Eyang Probo tersenyum. Ia memberi isyarat agar Azka duduk di tepi ranjang.


“Ayah bundamu sehat?” tanya Eyang Probo.


“Sehat, Eyang. O ya, Eyang sudah makan?”


Eyang Probo menggeleng. Ia memang sedang tidak ingin makan.


“Apa Azka ambilkan?”


“Nggak usah. Nanti saja. Tadi Eyang sudah mnghabiskan tiga potong singkong, masih kenyang,” tolak Eyang Probo.


Azka mengalah. Ia tidak memaksa kakeknya.


Eyang Probo turun dari ranjang diikuti Azka. Mereka berdua menuju ruang kerja Eyang Probo yang berada di dekat ruang tamu.


“Duduklah! Eyang ambil  dokumen yang kita butuhkan.”


Azka menurut, duduk di kursi yang dimaksud kakeknya. Sementara Eyang Probo membuka brankas di susut ruangan mengambil sebuah stopmap.


“Ka, Eyang menyerahkan perusahaan kepada Farhan karena dialah keturunan Eyang yang memiliki latar belakang pendidikan sebagai seorang pemimpin. Bukan berarti Eyang  pilih kasih. Eyang tidak pernah mengabaikan kamu,” kata Eyang Probo.


“Azka juga tidak merasa diabaikan, kok. Azka sangat ikhlas kalau Mas Farhan yang mengambil alih posisi Eyang. Kan Azka masih kuliah. Selain itu, bidang Azka tidak sesuai.”


“Kau seperti ayahmu.”


“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Eyang. Kecuali kalau dibawa terbang kelelawar,” canda Azka.


Eyang Probo terkekeh. Ia mulai membuka stopmap yang diambil dari brankas.


“Ka, sebentar lagi kamu lulus, kan? Kamu sudah punya calon istri belum? Eyang berharap bisa melihatmu menikah dan memberi Eyang cicit.”


“Itu yang akan Azka sampaikan kepada Eyang.”


“Maksud kamu?” Eyang Probo berhenti memperhatikan berkas di depannya. Ia menatap tajam cucunya.


“Azka mau melamar gadis kalau orang tuanya setuju, Eyang,” jawab Azka malu-malu.


Eyang Probo terbelalak. Ini berita yang mengejutkan baginya.


“Benarkah? Haris dan Aisyah sudah tahu? Siapa gadis itu? Temanmu kuliah?” Eyang Probo memberondong Azka dengan pertanyaan bertubi-tubi.


“Aduh, Eyang! Masa pertanyaannya borongan gini? Azka bingung jawabnya,” protes Azka.


Eyang Probo terkekeh. Ia memang begitu antusias mendengar Azka akan melamar gadis.


“Eyang, nama gadis itu Meli Syahrani. Ia dari Jember.”

__ADS_1


“Jember? Jauh juga. Dari mana kamu kenal? Teman kuliahmu?” Eyang Probo kembali mengajukan banyak pertanyaan.


Azka tersenyum melihat keseriusan kakeknya.


“Bukan teman kuliah Azka. Dia justru teman Mbak Via. Kenalnya karena Meli pernah belanja online di toko Mbak Via. Saat Mas Edi menikah, dia datang ke Jogja ....” Penjelasan Azka terjeda.


“Edi kenal juga?”


Azka geleng-geleng kepala karena Eyang Probo tak sabar. Setelah meminta kakeknya bersabar, Azka menceritakan awal pertemuannya dengan Meli.


“Kalau ada penulis skenario, ceritamu bisa jadi sinetron, nih,” komentar Eyang Probo.


“Ih, Eyang malah berpikirnya sampai ke situ,” gerutu Azka.


Eyang Probo terkekeh menyadari kekonyolannya.


“Lalu, Bundamu setuju Meli jadi calon menantunya?” tanya Eyang Probo.


“Iya. Bunda sudah menanyai Meli banyak hal. Bunda juga sudah tanya-tanya ke Via. Dan, Bunda sendiri yang meminta Meli jadi calon menantu Bunda.”


“Gadis itu setuju?”


Azka mengangguk mantap. Seulas senyum menghaiasi bibirnya.


“Kamu sudah yakin?”


“Kalau nggak yakin, Bunda nggak akan melamar Meli, Eyang,” kata Azka.


“Baiklah, Eyang percaya kepada bunda dan kakak iparmu. Kapan kalian ke Jember?” tanya Eyang Probo.


“Belum tahu, Eyang. Masih harus menunggu restu dari kedua orang tua Meli. Masa jauh-jauh ke Jember ternyata lamaran tidak diterima. Sakitnya tuh di sini,” tutur Azka diakhiri penggalan lagu dang dut.


Eyang Probo kembali tertawa karena ulah cucunya.


“Kapan gadis itu akan memberi kabar?”


“Ya belum tahu. Kata Mbak Via, orang tuanya mungkin butuh waktu untuk mempertimbangkan banyak hal. Memutuskan menerima pinangan kepada anak gadis merupakan hal yang penting, butuh banyak pertimbangan. Begitu nasiat Mbak Via.”


Eyang Probo mengangguk-angguk. Ia setuju dengan pendapat Via.


“Baiklah Azka. Eyang berharap semua berjalan lancar, mendapat ridho dari Allah.”


“Aamiin,” ucap Azka menyambung kakeknya.


“Nah, kembali ke masalah perusahaan. Meski Eyang menyerahkan kepada Farhan, saham perusahaan milik Eyang tidak sepenuhnya Eyang serahkan kepada kakakmu. Eyang  memberikan sebagian untukmu.”


Eyang Probo membuka kembali stopmap yang sempat ia tutup tadi. Ia menjelaskan banyak hal tentang seluk beluk Kencana Grup kepada Azka. Eyang Probo juga menjelaskan hak Azka nantinya.


Begitu banyak yang Eyang Probo sampaikan, tak terasa waktu beringsut mendekati tengah hari. Eyang Probo mengajak Azka menemaninya makan sebelum waktu zuhur tiba. Azka pun menurut.


Usai salat zuhur, pembicaraan tentang perusahaan dan masa depan Azka masih berlanjut. Azka mengirim pesan kepada temanya, membatalkan pertemuan mereka.


“Eyang berharap pemberian Eyang ini bisa menopang hidup kamu kelak bersama keluarga barumu. Rencana mau tinggal di mana?”


“Kalau kami jadi menikah dalam waktu dekat, sementara kami LDR-an, Eyang. Azka kembali ke Medan menyelesaikan kulaih Azka, Meli tetap kuliah di Jember.  Yang penting sah, kami jadi pasangan halal. Jadi, kami nggak zina pikiran juga. Kata Bunda, memikirkan wanita yang bukan mahram, bukan pasangan halal itu sudah mendekati zina. Makanya, Bunda maunya lamaran langsung nikah. Begitu.”


“Maumu juga, kan?” ledek Eyang Probo.


Azka tersenyum malu. Ia tidak menjawab ledekan kakeknya. Ia justru memperhatikan getaran dari saku celananya. Tangannya segera mengambil benda pipih dari saku.


Ada panggilan dari nomor tak dikenal. Azka menautkan alisnya. Dengan sedikit ragu, ia menggeser tombol hijau.


*


Bersambung


Hayo, siapa yang menelepon Azka? Ada apa ya? Semua ini berkaitan dengan kisah “Cinta Strata 1” karya Kak Indri Hapsari. Silakan kunjungi novelnya untuk tahu lebih lanjut.


Jangan lupa selalu tinggalkan like dan komen di karya kami. Terima kasih 🙏


__ADS_1


__ADS_2