SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Berpisah


__ADS_3

Lagi-lagi Meli mendapat pelajaran berharga dari Azka. Tentu saja Meli sangat senang. Ingin rasanya dia terus berada di dekat Azka. Tidak hanya karena cinta, tetapi kelayakan Azka sebagai imam yang membimbing makmumnya.


“Jangan bengong begitu! Diminum tuh tehmu! Aku yakin sudah nggak panas,” ucap Azka.


Meli tersenyum malu. Ia meminum teh yang sudah hangat.


“Minum itu juga ada sunahnya, Sayang. Jangan langsung tenggak habis secangkir atau segelas minuman. Berhentilah tiap tiga teguk. Kalau sudah cukup, jangan lupa baca doa dan niat puasa ayyamul bidh.”


“Iya, Mas. Makasih atas ilmu yang dibagikan hari ini,” ucap Meli tulus.


“Wah, muridku pinter, ya?” seloroh Azka.


“Siapa dulu gurunya?” balas Meli diikuti tawa renyahnya.


“Hemm…iya deh! Murid dan guru sudah klop. Ayo, kita bereskan piring dan gelas yang kotor! Habis itu Mas mau bersiap ke masjid.”


“Biar Meli saja yang beresin. Mas Azka siap-siap ke masjid sana!”


Kali ini Azka yang menuruti ucapan sang istri. Ia meninggalkan ruang makan. Sementara Meli mengangkut semua peralatan makan dan minum kotor untuk dicuci.


Sambil menunggu Azka pulang dari masjid, Meli menghafalkan surat An Naba’. Ia ingin setor hafalan surat ini saat Azka pulang nanti.


Sisa waktu subuh itu mereka isi dengan hafalan ayat-ayat Al Quran.Mereka sampai tidak menyadari matahari telah kembali menyapa.


“Mas, sudah jam 5.30. Meli bersih-bersih rumah, Mas Azka nyiram tanaman, ya! Habis itu mandi salat duha, lalu ke rumah Mbak Via.”


Tanpa menunggu jawaban Azka, Meli melipat mukena dan keluar dari musala. Azka menuruti instruksi Meli. Ia segera berganti kostum untuk merawat tanaman bundanya.


Pukul 7 lewat beberapa menit, mereka menuju kediaman Via. Karena jalanan lengang, mereka sudah sampai sebelum pukul 7.30.


“Ratna, kamu kok sudah di sini?” Meli berteriak kaget saat disambut Ratna di teras depan.


“Baru saja, kok. Aku pagi-pagi dari rumah, belum sarapan. Maksud hati ingin nebeng sarapan, apa daya nyonya rumah nggak masak. Di meja makan cuma ada nasi tim dan lauk buat Zayn. Mau diembat, ntar aku terlalu kejam,” keluh Ratna.


“Yah, itu deritamu. Kebiasaan njagakke endoge si blorok, jebul si blorok ora ngendog (mengandalkan telur si blorok, ternyata si blorok tidak bertelur)” celetuk Azka.


Ratna cemberut. Ia pura-pura marah. Ia membalikkan badan dan masuk rumah dengan langkah cepat.


“Mas Azka, Ratna ngambek tuh. Gimana, dong?” Meli khawatir.


Azka terkekeh mendengar ungkapan kekhawatiran Meli. Ia tahu betul watak Ratna.


“Biar saja. Mau bertahan berapa lama dia ngambek,” sahut Azka.


“Mas Azka jangan gitu, dong! Bujuk Ratna, ya!” pinta Meli.


“Udah, biar saja! Sini masuk! Kita ngobrol di dalam!” celetuk Via dari dalam.


Meli dan Azka masuk mengikuti Via. Ternyata Ratna sudah menunggu di ruang keluarga. Senyum Ratna mengembang saat melihat Meli yang tampak ragu.


“Itu Ratna kok senyum-senyum gitu? Bukannya tadi marah?” bisik Meli.

__ADS_1


“Halah, Ratna kok marah. Nggak ada kamusnya, Sayang!” sahut Azka sembari menarik tangan Meli ke sofa.


Ratna tertawa mendengar ucapan Azka. Ia senang sekali mengetahui kalau Meli mengira dia marah.


“Kamu beneran nggak marah, Rat?” Meli belum yakin.


“Sudah, Mel, kamu nggak usah takut. Dia marah kalau lapar,” kata Via.


Ratna terbahak. Ia memegangi perutnya yang terguncang.


“Ratna, waktu Meli terbatas. Kita bicarakan bersama rencana resepsimu! Kamu maunya seperti apa?” tegur Via.


“Memangnya kalau aku ingin seperti Pangeran Harry, akan dibuat kayak gitu juga?”


“Boleh, boleh. Tapi  nikahnya nggak sama Rio! Kamu cari saja bangsawan Inggris tajir yang mau nikah sama kamu!” sahut Azka.


Ratna mencebik. Kali ini Meli yang tertawa.


“Ratna, besok saat resepsi kamu pilih seperti yang bapakmu sampaikan, atau ada permintaan khusus?” tanya Via.


“Hem, gimana ya? Baiknya gimana, Mel? Toh masih lama,” jawab Ratna santai.


“Bisa saja dimajukan,” sahut Azka.


Ratna memelototi Azka. Yang dipelototi hanya menjulurkan lidah.


“Bener tuh, kata Dek Azka. Bisa jadi pernikahanmu dimajukan. Makanya, kita perlu merancang jauh-jauh hari. Calon suamimu juga biar siap-siap,” Via membela Azka.


“Iya, deh. Ratna sih maunya nggak cuma di rumah. Biar rame, gitu. Tapi, mahal. Kasihan Mas Rio.”


“Nggak gitu juga. Ya, di gedung apa kek yang agak murah. Kamu bukannya punya kenalan WO, Vi?”


“Itu urusan nanti. Jadi, intinya kamu ingin yang meriah, begitu?” Azka menimpali.


“Ya, begitulah. Itu pun hanya keinginan, nggak harus dituruti. Yang pokok kan ijab kabul, sah.”


Meli melirik jam tangannya. Hampir pukul 8. Ia sedikit gelisah.


“Kenapa, Sayang? Mau pipis?” tanya Azka.


“Enggak. Ni sudah hampir jam 8. Kita harus jemput ayah dan ibu sebelum ke stasiun,” jawab meli.


“Oh iya, mari kita ke rumah Eyang Probo! Mas Farhan biar saja nyusul nanti sama Zayn,” katta Via.


“Memang Mas Farhan ke mana?” tanya Azka.


“Lagi jalan-jalan sama Zayn. Sebentar, aku ambil tas dulu sekalian kasih kabar ke Mas Farhan.”


Via bergegas ke kamar. Lima menit kemudian, ia sudah siap. Ia juga menenteng 2 kardus yang cukup besar.


Azka meminta kardus itu untuk dimasukkan ke mobil. Ia yakin isinya oleh-oleh untuk keluarga Meli.

__ADS_1


Benar saja. Begitu sampai kediaman Eyang Probo, ayah dan ibu Meli sudah menunggu di teras. Koper sudah berjajar di dekat mereka.


Setelah basa-basi sejenak, Meli minta izin menemui Eyang Probo.


“Ulang, Mel? Apan ke ssinni?” tanya Eyang Probo.


“Meli usahakan sesering mungkin. Kalau Meli libur dan tidak banyak tugas, insya Allah Meli jenguk Eyang, deh,”janji Meli.


Eyang Probo mengangguk. Ada air mata yang menggenang di pelupuk yang telah keriput.


“Eyang jangan nangis, dong! Meli jadi sedih, nih.”


Meli mengusap lengan Eyang Probo. Orang tua itu menyusut air mata dengan jemarinya.


“Eyang jaga kesehatan, ya! Turuti saran dari ayah! Meli maunya Eyang sudah bisa jalan saat Meli ke sini lagi.”


“Aamiin,” ucap Via yang baru saja masuk kamar.


“Ya sudah, Meli pulang dulu. Doakan Meli agar cepat selsesai kuliah,” kata Meli.


Eyang Probo hanya mengangguk. Ia memberi isyarat kepada perawat agar membantunya duduk di kursi roda. Setelah itu, Eyang Probo meminta didorong ke ruang tamu. Dengan senang hati Via melakukannya.


Ternyata Farhan sudah datang. Ia bersama Pak Candra dan Bu Lena, serta Zayn tentunya.


Para orang tua itu berbincang-bincang sejenak. Mereka membicarakan anak mereka.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Azka sudah memasukkan koper ke mobil. Ia juga memasukkan kardus oleh-oleh yang Via bawa. Setelah semua siap, Azka mempersilakan Meli beserta ayah ibu Meli ke mobil.


Meli beserta kedua orang tuanya berpamitan kepada semua orang sebelum memasuki mobil. Ada perasaan haru tatkala mereka sudah meninggalkan kediaman Eyang Probo. Pertemuan keluarga itu terasa begitu singkat.


Bagi Meli, tidak hanya haru. Ingin rasanya dia menangis keras-keras ketika tiba di stasiun. Kebersamaannya dengan Azka makin membuatnya nyaman berada di dekat pria itu. Kondisi ini sangat berbeda dengan saat ia baru sah menjadi istri Azka. Ia masih bisa tegar menghadapi perpisahan kala itu.


“Jaga diri baik-baik, ya! Bersabarlah! Insya Allah tak lama lagi kita bisa bersatu, nggak LDR-an lagi,” bisik Azka.


Meli mengangguk. Ia tak kuasa menjawab. Ia tahu kalau sepatah kata terucap, pertahanan air matanya akan jebol.


“Pak, perlu bawa tisu yang banyak kayaknya. Di mobil ada yang masih utuh, tuh,” ucap Azka kepada Pak Roni.


“Buat apa?” tanya Pak Roni bingung.


“Takutnya Meli nangis terus sepanjang jalan, ntar gerbongnya banjir,” jawab Azka datar.


“Oh, tenang saja. Ibu sudah bawa handuk besar tuh. Nanti tutup saja mukanya pakai handuk,” sahyut Pak Roni santai.


Akhirnya Meli tersenyum meski agak berat. Kekonyolan mertua dan menantu mampu mencairkan suasana.


***


Bersambung


Sudah tahu tentang Anjani yang Meli pikirkan? Bagi yang belum, segera tengok CS1 karya Kak Indri Hapsari yang hari ini tamat. Jangan lupa klik like dan komentar di akhir episode, ya!

__ADS_1



Terima kasih.


__ADS_2